<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Waspada Varian Covid AY.4.2, Epidemiolog Ingatkan Indonesia Jangan Bereuforia</title><description>Dicky menuturkan hingga kini Badan Kesehatan Dunia atau WHO masih terus memantau perkembangan varian AY.4.2.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/11/03/337/2495819/waspada-varian-covid-ay-4-2-epidemiolog-ingatkan-indonesia-jangan-bereuforia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/11/03/337/2495819/waspada-varian-covid-ay-4-2-epidemiolog-ingatkan-indonesia-jangan-bereuforia"/><item><title>Waspada Varian Covid AY.4.2, Epidemiolog Ingatkan Indonesia Jangan Bereuforia</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/11/03/337/2495819/waspada-varian-covid-ay-4-2-epidemiolog-ingatkan-indonesia-jangan-bereuforia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/11/03/337/2495819/waspada-varian-covid-ay-4-2-epidemiolog-ingatkan-indonesia-jangan-bereuforia</guid><pubDate>Rabu 03 November 2021 05:04 WIB</pubDate><dc:creator>Fahreza Rizky</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/11/03/337/2495819/waspada-varian-covid-ay-4-2-epidemiolog-ingatkan-indonesia-jangan-bereuforia-8Ym2F3tlJJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/11/03/337/2495819/waspada-varian-covid-ay-4-2-epidemiolog-ingatkan-indonesia-jangan-bereuforia-8Ym2F3tlJJ.jpg</image><title>Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;mdash; Belakangan ini varian baru Covid-19 yang dinamakan AY.4.2 disebut-sebut dapat berpotensi mengkhawatirkan jika tidak segera dicegah.

Menurut Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, varian AY.4.2 ini sudah menyebar di 42 negara dengan durasi yang sangat cepat.

&quot;Sama dengan varian Delta yang merupakan leluhurnya varian (AY.4.2) itu sendiri,&quot; ucap Dicky, Rabu (3/11/2021).

Dicky menuturkan hingga kini Badan Kesehatan Dunia atau WHO masih terus memantau perkembangan varian AY.4.2. Varian ini juga disebut meningkatkan kasus infeksi, rawatan rumah sakit dan kematian di Inggris.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8wOS8xMS8xLzEzOTAwNS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Inggris bisa mendeteksi varian AY.42 karena memiliki kemampuan genome sequencing yang sangat terdepan dibanding negara lainnya. Karena itu setiap ada mutasi atau varian baru negara tersebut bisa dengan cepat mendeteksinya.

Dicky pun menyoroti varian AY.4.2 bisa masuk ke Inggris yang cakupan vaksinasinya terbilang tinggi. Karenanya, Indonesia mesti waspada terhadap varian tersebut tetapi tidak boleh khawatir berlebihan.

&quot;Dia ini bisa masuk ya di negara yang cakupan vaksinasinya tinggi  seperti Israel, Inggris, AS, dan ini jadi catatan serius, berarti dia  ada potensi selain efektif, walaupun ini harus dibuktikan, apakah dia  menururnkan efikasi dari antibodi, atau tidak, ini harus jadi  perhatian,&quot; jelasnya.

Dicky menyarankan pemerintah Indonesia memperkuat screening di pintu  masuk internasional. Kemudian perkuat pula testing RT-PCR, vaksinasi,  serta tidak boleh bereuforia karena wabah belum berakhir.

Diwartakan sebelumnya, Satgas Covid-19 menyebut pihaknya masih  melakukan studi karakteristik terhadap varian Covid AY.4.2 yang  disebut-sebut sangat mengkhawatirkan.

&quot;Kita belum bisa mengetahui apakah berbagai jenis varian Delta ini  memiliki karakteristik khusus yang dapat mempengaruhi laju penularan,  keparahan gejala, maupun vaksinasi karena studi terkait hal tersebut  masih berlangsung,&quot; ucap Jubir Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;mdash; Belakangan ini varian baru Covid-19 yang dinamakan AY.4.2 disebut-sebut dapat berpotensi mengkhawatirkan jika tidak segera dicegah.

Menurut Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, varian AY.4.2 ini sudah menyebar di 42 negara dengan durasi yang sangat cepat.

&quot;Sama dengan varian Delta yang merupakan leluhurnya varian (AY.4.2) itu sendiri,&quot; ucap Dicky, Rabu (3/11/2021).

Dicky menuturkan hingga kini Badan Kesehatan Dunia atau WHO masih terus memantau perkembangan varian AY.4.2. Varian ini juga disebut meningkatkan kasus infeksi, rawatan rumah sakit dan kematian di Inggris.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8wOS8xMS8xLzEzOTAwNS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Inggris bisa mendeteksi varian AY.42 karena memiliki kemampuan genome sequencing yang sangat terdepan dibanding negara lainnya. Karena itu setiap ada mutasi atau varian baru negara tersebut bisa dengan cepat mendeteksinya.

Dicky pun menyoroti varian AY.4.2 bisa masuk ke Inggris yang cakupan vaksinasinya terbilang tinggi. Karenanya, Indonesia mesti waspada terhadap varian tersebut tetapi tidak boleh khawatir berlebihan.

&quot;Dia ini bisa masuk ya di negara yang cakupan vaksinasinya tinggi  seperti Israel, Inggris, AS, dan ini jadi catatan serius, berarti dia  ada potensi selain efektif, walaupun ini harus dibuktikan, apakah dia  menururnkan efikasi dari antibodi, atau tidak, ini harus jadi  perhatian,&quot; jelasnya.

Dicky menyarankan pemerintah Indonesia memperkuat screening di pintu  masuk internasional. Kemudian perkuat pula testing RT-PCR, vaksinasi,  serta tidak boleh bereuforia karena wabah belum berakhir.

Diwartakan sebelumnya, Satgas Covid-19 menyebut pihaknya masih  melakukan studi karakteristik terhadap varian Covid AY.4.2 yang  disebut-sebut sangat mengkhawatirkan.

&quot;Kita belum bisa mengetahui apakah berbagai jenis varian Delta ini  memiliki karakteristik khusus yang dapat mempengaruhi laju penularan,  keparahan gejala, maupun vaksinasi karena studi terkait hal tersebut  masih berlangsung,&quot; ucap Jubir Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito.</content:encoded></item></channel></rss>
