<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ridwan Kamil Tinjau Kali Rasmi Bekasi yang Viral Mirip Awan dan Bau Busuk</title><description>Diketahui Kali Rasmi menjadi viral di media sosial karena munculnya fenomena busa mirip awan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/11/09/525/2499290/ridwan-kamil-tinjau-kali-rasmi-bekasi-yang-viral-mirip-awan-dan-bau-busuk</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/11/09/525/2499290/ridwan-kamil-tinjau-kali-rasmi-bekasi-yang-viral-mirip-awan-dan-bau-busuk"/><item><title>Ridwan Kamil Tinjau Kali Rasmi Bekasi yang Viral Mirip Awan dan Bau Busuk</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/11/09/525/2499290/ridwan-kamil-tinjau-kali-rasmi-bekasi-yang-viral-mirip-awan-dan-bau-busuk</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/11/09/525/2499290/ridwan-kamil-tinjau-kali-rasmi-bekasi-yang-viral-mirip-awan-dan-bau-busuk</guid><pubDate>Selasa 09 November 2021 22:34 WIB</pubDate><dc:creator>Agung Bakti Sarasa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/11/09/525/2499290/ridwan-kamil-tinjau-kali-rasmi-bekasi-yang-viral-mirip-awan-dan-bau-busuk-DEE9Hhn7jf.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil tinjau Kali Rasmi di Bekasi (Foto: Pemprov Jabar)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/11/09/525/2499290/ridwan-kamil-tinjau-kali-rasmi-bekasi-yang-viral-mirip-awan-dan-bau-busuk-DEE9Hhn7jf.JPG</image><title>Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil tinjau Kali Rasmi di Bekasi (Foto: Pemprov Jabar)</title></images><description>BEKASI - Selesai menjalani karantina usai lawatan luar negerinya, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil langsung meninjau Kali Rasmi di Desa Wangunharja, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi.

Diketahui Kali Rasmi menjadi viral di media sosial karena munculnya fenomena busa mirip awan. Fenomena yang diakibatkan oleh limbah itu terlihat cantik, namun berbau tak sedap. Peristiwa terjadi bertepatan saat Ridwan Kamil menghadiri Konferensi COP26 di Glasgow, Skotlandia, Selasa (2/11/2021) pagi lalu.

Dalam peninjauannya, Gubernur yang akrab disapa Kang Emil itu meminta warga, khususnya para pemuda sekitar Kali Rasmi dilibatkan dalam tim patroli untuk memantau pencemaran Kali Rasmi.

Menurutnya, pelibatan warga, khususnya para pemuda sangat penting karena dapat membantu kerja petugas dalam memantau kesehatan sungai. Lewat patroli, Kang Emil berharap, sumber pencemaran bisa terungkap.

&quot;Anak-anak muda di desa akan dijadikan patroli sungai. Patrolinya mencari sumber-sumber pencemaran,&quot; ujar Kang Emil dalam peninjauannya, Selasa (9/11/2021).

Baca Juga: Viral Busa Tebal di Kali Rasmi Bekasi, Airnya Bak Oli Baunya Tak Sedap

Menurut Kang Emil, berdasarkan pengalaman penanganan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, pencemaran berasal dari limbah pabrik dan limbah rumah tangga atau domestik.

Oleh karenanya, Kang Emil pun meminta patroli dilakukan pada malam hari dan atau saat hujan turun. Menurutnya, dua momen itulah yang kerap dimanfaatkan para pembuang limbah, agar aksinya tidak ketahuan warga sekitar sungai dan petugas.

&quot;(Patrolinya) Jangan di siang hari, kerjanya saat hujan dan saat malam. Kenapa sarannya terdengar aneh? Karena pencemaran berdasarkan pengalaman selalu dilakukan saat hujan, berharap mengalir dengan air hujan dan berharap gak ada yang lihat pada malam hari,&quot; ungkap Kang Emil.

Dia pun meminta Pemkab Bekasi meniru program Citarum Harum dalam  menangani pencemaran di Kali Rasmi, agar kejadian serupa tak terulang.  Kualitas air Sungai Citarum menurutnya membaik dari asalnya cemar berat  menjadi cemar ringan hanya dalam waktu tiga tahun.

&quot;Meng-copy keberhasilan Citarum. Sungai ini rumit karena melewati 13  kota/kabupaten. Dari yang asalnya hitam tercemar menjadi cemar ringan.  Kalau Citarum skala besar saja bisa kenapa kali yang lebih kecil tidak  bisa. Kuncinya adalah kekompakan itu,&quot; paparnya.

Adapun pola yang bisa diterapkan, yakni pola pentaheliks yang  melibatkan semua stakeholders, mulai dari pemerintahan, akademisi,  pengusaha, komunitas, dan media. Pada program Citarum Harum, kata Kang  Emil, komunitas lingkungan dan pelibatan TNI/Polri sangat mudah  dilakukan dan efektif.

&quot;Diharapkan semakin banyak penjahat lingkungan yang takut membuang  limbah karena tentara dan polisi memiliki karakteristik tegas dan  mengedepankan NKRI. Mari kita mulai tradisi melibatkan TNI/Polri dan  komunitas. Selama ini kalau tidak melibatkan TNI/Polri, yang buang  limbah tidak takut,&quot; jelasnya.

Kang Emil pun mencontohkan kasus dimana salah satu pabrik membuang  limbahnya ke Sungai Citarum selama bertahun-tahun tanpa diolah terlebih  dahulu. Praktik tersebut akhirnya diketahui oleh anggota TNI/Polri dan  saluran pembuangan limbahnya langsung dicor.

&quot;Waktu di Citarum juga sama, bertahun-tahun enggak ada yang takut.  Waktu TNI Polri datang, langsung saluran limbahnya dicor. Tercatat ada  70 pabrik ngeyel kita bawa ke pengadilan,&quot; sebutnya.

Sebelum ke pengadilan, tambah Kang Emil, sanksi sosial akan  diberlakukan dengan meminta maaf secara terbuka kepada publik yang  otomatis akan mempengaruhi citra baik perusahaan. Kemudian, perusahaan  pun akan dihukum dengan membuat berbagai fasilitas pengolah libah atau  infrastruktur anti pencemaran.

&quot;Satu hal lagi yang harus ditiru adalah sosialisasi dan edukasi  kepada masyarakat mulai dari hal terkecil yakni tidak membuat sampah  atau limbah cair ke sungai. Tidak bisa pemerintah membereskan berbagai  urusan sementara sumber yang bikin banjirnya datang dari mereka-mereka  yang buang sampah sembarangan,&quot; beber Kang Emil.

Dengan pola yang sama dengan penanganan Sungai Citarum, Kang Emil  optimistis penanganan Kali Rasmi dapat terselesaikan dengan cepat. Satu  bulan pertama yang perlu dilakukan adalah penguatan organisasi, termasuk  membentuk tim patroli dengan melibatkan pemuda.

&quot;Pola Citarum akan dipakai untuk diterapkan di Kali Rasmi ini. Waktu  satu bulan kita selesaikan organisasinya,&quot; tandas Kang Emil.

Sebelumnya diberitakan, warga dihebohkan dengan munculnya limbah yang  mencemari Kali Rasmi. Limbah itu berbentuk buih yang kemudian  menggunung hingga menyerupai awan. Peristiwa ini pertama kali dilaporkan  oleh warga, Indra Lesmana (36) melalui media sosial.

Saat dikonfirmasi, Indra mengaku kejadian itu berlangsung sekitar  pukul 5.30 WIB, Selasa (2/11/2021) pagi. Ketika hendak memancing di  lokasi, Indra kaget dengan sungai yang telah berbusa. Lebih dari itu,  busanya makin banyak hingga menggunung.

&quot;Jadi pas mau mancing ini, kaget saya. Ini apa, terus pas dideketin  ternyata busa. Banyak banget. Dari jauh sih kaya awan gitu, bagus. Pas  dideketin ya bau. Bau gimana sih kayak limbah gitu,&quot; katanya.
</description><content:encoded>BEKASI - Selesai menjalani karantina usai lawatan luar negerinya, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil langsung meninjau Kali Rasmi di Desa Wangunharja, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi.

Diketahui Kali Rasmi menjadi viral di media sosial karena munculnya fenomena busa mirip awan. Fenomena yang diakibatkan oleh limbah itu terlihat cantik, namun berbau tak sedap. Peristiwa terjadi bertepatan saat Ridwan Kamil menghadiri Konferensi COP26 di Glasgow, Skotlandia, Selasa (2/11/2021) pagi lalu.

Dalam peninjauannya, Gubernur yang akrab disapa Kang Emil itu meminta warga, khususnya para pemuda sekitar Kali Rasmi dilibatkan dalam tim patroli untuk memantau pencemaran Kali Rasmi.

Menurutnya, pelibatan warga, khususnya para pemuda sangat penting karena dapat membantu kerja petugas dalam memantau kesehatan sungai. Lewat patroli, Kang Emil berharap, sumber pencemaran bisa terungkap.

&quot;Anak-anak muda di desa akan dijadikan patroli sungai. Patrolinya mencari sumber-sumber pencemaran,&quot; ujar Kang Emil dalam peninjauannya, Selasa (9/11/2021).

Baca Juga: Viral Busa Tebal di Kali Rasmi Bekasi, Airnya Bak Oli Baunya Tak Sedap

Menurut Kang Emil, berdasarkan pengalaman penanganan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, pencemaran berasal dari limbah pabrik dan limbah rumah tangga atau domestik.

Oleh karenanya, Kang Emil pun meminta patroli dilakukan pada malam hari dan atau saat hujan turun. Menurutnya, dua momen itulah yang kerap dimanfaatkan para pembuang limbah, agar aksinya tidak ketahuan warga sekitar sungai dan petugas.

&quot;(Patrolinya) Jangan di siang hari, kerjanya saat hujan dan saat malam. Kenapa sarannya terdengar aneh? Karena pencemaran berdasarkan pengalaman selalu dilakukan saat hujan, berharap mengalir dengan air hujan dan berharap gak ada yang lihat pada malam hari,&quot; ungkap Kang Emil.

Dia pun meminta Pemkab Bekasi meniru program Citarum Harum dalam  menangani pencemaran di Kali Rasmi, agar kejadian serupa tak terulang.  Kualitas air Sungai Citarum menurutnya membaik dari asalnya cemar berat  menjadi cemar ringan hanya dalam waktu tiga tahun.

&quot;Meng-copy keberhasilan Citarum. Sungai ini rumit karena melewati 13  kota/kabupaten. Dari yang asalnya hitam tercemar menjadi cemar ringan.  Kalau Citarum skala besar saja bisa kenapa kali yang lebih kecil tidak  bisa. Kuncinya adalah kekompakan itu,&quot; paparnya.

Adapun pola yang bisa diterapkan, yakni pola pentaheliks yang  melibatkan semua stakeholders, mulai dari pemerintahan, akademisi,  pengusaha, komunitas, dan media. Pada program Citarum Harum, kata Kang  Emil, komunitas lingkungan dan pelibatan TNI/Polri sangat mudah  dilakukan dan efektif.

&quot;Diharapkan semakin banyak penjahat lingkungan yang takut membuang  limbah karena tentara dan polisi memiliki karakteristik tegas dan  mengedepankan NKRI. Mari kita mulai tradisi melibatkan TNI/Polri dan  komunitas. Selama ini kalau tidak melibatkan TNI/Polri, yang buang  limbah tidak takut,&quot; jelasnya.

Kang Emil pun mencontohkan kasus dimana salah satu pabrik membuang  limbahnya ke Sungai Citarum selama bertahun-tahun tanpa diolah terlebih  dahulu. Praktik tersebut akhirnya diketahui oleh anggota TNI/Polri dan  saluran pembuangan limbahnya langsung dicor.

&quot;Waktu di Citarum juga sama, bertahun-tahun enggak ada yang takut.  Waktu TNI Polri datang, langsung saluran limbahnya dicor. Tercatat ada  70 pabrik ngeyel kita bawa ke pengadilan,&quot; sebutnya.

Sebelum ke pengadilan, tambah Kang Emil, sanksi sosial akan  diberlakukan dengan meminta maaf secara terbuka kepada publik yang  otomatis akan mempengaruhi citra baik perusahaan. Kemudian, perusahaan  pun akan dihukum dengan membuat berbagai fasilitas pengolah libah atau  infrastruktur anti pencemaran.

&quot;Satu hal lagi yang harus ditiru adalah sosialisasi dan edukasi  kepada masyarakat mulai dari hal terkecil yakni tidak membuat sampah  atau limbah cair ke sungai. Tidak bisa pemerintah membereskan berbagai  urusan sementara sumber yang bikin banjirnya datang dari mereka-mereka  yang buang sampah sembarangan,&quot; beber Kang Emil.

Dengan pola yang sama dengan penanganan Sungai Citarum, Kang Emil  optimistis penanganan Kali Rasmi dapat terselesaikan dengan cepat. Satu  bulan pertama yang perlu dilakukan adalah penguatan organisasi, termasuk  membentuk tim patroli dengan melibatkan pemuda.

&quot;Pola Citarum akan dipakai untuk diterapkan di Kali Rasmi ini. Waktu  satu bulan kita selesaikan organisasinya,&quot; tandas Kang Emil.

Sebelumnya diberitakan, warga dihebohkan dengan munculnya limbah yang  mencemari Kali Rasmi. Limbah itu berbentuk buih yang kemudian  menggunung hingga menyerupai awan. Peristiwa ini pertama kali dilaporkan  oleh warga, Indra Lesmana (36) melalui media sosial.

Saat dikonfirmasi, Indra mengaku kejadian itu berlangsung sekitar  pukul 5.30 WIB, Selasa (2/11/2021) pagi. Ketika hendak memancing di  lokasi, Indra kaget dengan sungai yang telah berbusa. Lebih dari itu,  busanya makin banyak hingga menggunung.

&quot;Jadi pas mau mancing ini, kaget saya. Ini apa, terus pas dideketin  ternyata busa. Banyak banget. Dari jauh sih kaya awan gitu, bagus. Pas  dideketin ya bau. Bau gimana sih kayak limbah gitu,&quot; katanya.
</content:encoded></item></channel></rss>
