<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Indonesia Jalin Kerjasama dengan Brazil dan Republik Demokratik Kongo di Bidang Kehutanan</title><description>Tiga negara yang dikenal sebagai pemilik hutan tropis terbesar di dunia, telah menggelar pertemuan trilateral</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/11/12/337/2501051/indonesia-jalin-kerjasama-dengan-brazil-dan-republik-demokratik-kongo-di-bidang-kehutanan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/11/12/337/2501051/indonesia-jalin-kerjasama-dengan-brazil-dan-republik-demokratik-kongo-di-bidang-kehutanan"/><item><title>Indonesia Jalin Kerjasama dengan Brazil dan Republik Demokratik Kongo di Bidang Kehutanan</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/11/12/337/2501051/indonesia-jalin-kerjasama-dengan-brazil-dan-republik-demokratik-kongo-di-bidang-kehutanan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/11/12/337/2501051/indonesia-jalin-kerjasama-dengan-brazil-dan-republik-demokratik-kongo-di-bidang-kehutanan</guid><pubDate>Jum'at 12 November 2021 22:13 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/11/12/337/2501051/indonesia-jalin-kerjasama-dengan-brazil-dan-republik-demokratik-kongo-di-bidang-kehutanan-EB7voLtYB0.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Wamen LHK, Alue Dohong di Glasgow (Foto: KLHK)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/11/12/337/2501051/indonesia-jalin-kerjasama-dengan-brazil-dan-republik-demokratik-kongo-di-bidang-kehutanan-EB7voLtYB0.jpg</image><title>Wamen LHK, Alue Dohong di Glasgow (Foto: KLHK)</title></images><description>JAKARTA - Tiga negara yang dikenal sebagai pemilik hutan tropis terbesar  di dunia, telah menggelar pertemuan trilateral guna menjalin kerja sama strategis dan sinergis.

Kerja sama mencakup sejumlah hal, baik dalam pengelolaan hutan, dan pengalaman lainnya yang berhasil dijalankan tiga negara ini dalam upaya pengendalian perubahan iklim.

&amp;ldquo;Pertemuan telah di gelar di Sekretariat Delegasi Republik Indonesia di arena COP 26 UNFCCC di Glasgow, Skotlandia, awal pekan ini. Banyak potensi kolaborasi yang bisa dilakukan Indonesia, Brazil, dan Kongo,&amp;rdquo; ujar Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Dr. Alue Dohong yang memimpin pertemuan trilateral ini dalam pernyataan tertulis dari arena COP 26 UNFCCC, Glasgow, Skotlandia, Jumat (12/11/2021)

Alue Dohong menjelaskan, dalam pertemuan trilateral tersebut kita mengemukakan gagasan dan  pandangan tentang pentingnya kerja sama ini dan juga mengidentifikasi kira-kira area kerjasama apa saja yang dapat dilakukan oleh ketiga negara secara bersama-sama (trilateral) atau secara bilateral. Menteri Lingkungan Brazil dan Republik Demokratik Kongo juga menyampaikan pandangan serta gagasan mengenai kerjasama ini.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMS8wMi8xLzE0MTE2OS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Pada saat pertemuan, tiga negara mempunyai pandangan yang sama  tentang pentingnya kerja sama dalam kerangka memperkuat pengaruh tiga negara pemilik hutan tropis  terbesar  di duni ini dalam negosiasi iklim di COP26 UNFCCC.

Kemudian kita sepakati perlunya melakukan inisitif kolaboratif melalui pembentukan kelompok-kelompok kerja (Working Groups) yang solid berdasarkan kesamaan kepentingan (mutual common interests) dan prinsip saling mengisi kebutuhan (filling the gap).

Diharapkan kerja sama ini makin memperkuat posisi  3 negara di arena  negosiasi pengendalian iklim global seperti di COP 26 UNFCCC, sehingga  dapat bersama-sama memperjuangkan solusi yang paling efektif dan tepat  termasuk upaya-upaya kita mendorong peningkatan pendanaan yang berbasis  hasil atau Result-based Payment untuk pengurangan emisi dari pengurangan  deforestasi dan degradasi hutan plus (REDD+) serta kedua, mekanisme  pembayaran  atas jasa ekosistem   (Payment for Ecosystem Services &amp;ndash;  PES).

Dalam pertemuan ini  memang ada beberapa potensi kerja sama dari tiga  negara tersebut. Indonesia menawarkan sharing pengalaman dan keahlian  kepada Republik Demokratik Kongo dan Brazil  terkait pengurangan  deforestasi, pengendalian dan penanganan kebakaran hutan dan lahan  (karhutla) serta dalam hal pengelolaan hutan sosial untuk masyarakat.

Brazil yang memiliki pengalaman luas dalam pelaksanaan pembayaran  jasa ekosistem (PES), pengelolaan dana iklim lewat lembaga Amazon Fund,  juga kerjasama kegiatan pengelolaan praktek pertanian dan peternakan  yang rendah emisi, pengelolaan sampah dan sanitasi.

Sementara Republik Demokratik Kongo, ingin banyak belajar dari  Indonesia dan Brazil. Sehingga meminta dukungan dan bimbingan tehnis  dari Indonesia dan Brazil dalam program REDD+, pengelolaan hutan secara  berkelanjutan, termasuk  gambut. Ketiga negara juga membicarakan terkait  program keanekaragaman hayati dan bioprospeksi serta rehabilitasi dan  konservasi mangrove.</description><content:encoded>JAKARTA - Tiga negara yang dikenal sebagai pemilik hutan tropis terbesar  di dunia, telah menggelar pertemuan trilateral guna menjalin kerja sama strategis dan sinergis.

Kerja sama mencakup sejumlah hal, baik dalam pengelolaan hutan, dan pengalaman lainnya yang berhasil dijalankan tiga negara ini dalam upaya pengendalian perubahan iklim.

&amp;ldquo;Pertemuan telah di gelar di Sekretariat Delegasi Republik Indonesia di arena COP 26 UNFCCC di Glasgow, Skotlandia, awal pekan ini. Banyak potensi kolaborasi yang bisa dilakukan Indonesia, Brazil, dan Kongo,&amp;rdquo; ujar Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Dr. Alue Dohong yang memimpin pertemuan trilateral ini dalam pernyataan tertulis dari arena COP 26 UNFCCC, Glasgow, Skotlandia, Jumat (12/11/2021)

Alue Dohong menjelaskan, dalam pertemuan trilateral tersebut kita mengemukakan gagasan dan  pandangan tentang pentingnya kerja sama ini dan juga mengidentifikasi kira-kira area kerjasama apa saja yang dapat dilakukan oleh ketiga negara secara bersama-sama (trilateral) atau secara bilateral. Menteri Lingkungan Brazil dan Republik Demokratik Kongo juga menyampaikan pandangan serta gagasan mengenai kerjasama ini.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMS8wMi8xLzE0MTE2OS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Pada saat pertemuan, tiga negara mempunyai pandangan yang sama  tentang pentingnya kerja sama dalam kerangka memperkuat pengaruh tiga negara pemilik hutan tropis  terbesar  di duni ini dalam negosiasi iklim di COP26 UNFCCC.

Kemudian kita sepakati perlunya melakukan inisitif kolaboratif melalui pembentukan kelompok-kelompok kerja (Working Groups) yang solid berdasarkan kesamaan kepentingan (mutual common interests) dan prinsip saling mengisi kebutuhan (filling the gap).

Diharapkan kerja sama ini makin memperkuat posisi  3 negara di arena  negosiasi pengendalian iklim global seperti di COP 26 UNFCCC, sehingga  dapat bersama-sama memperjuangkan solusi yang paling efektif dan tepat  termasuk upaya-upaya kita mendorong peningkatan pendanaan yang berbasis  hasil atau Result-based Payment untuk pengurangan emisi dari pengurangan  deforestasi dan degradasi hutan plus (REDD+) serta kedua, mekanisme  pembayaran  atas jasa ekosistem   (Payment for Ecosystem Services &amp;ndash;  PES).

Dalam pertemuan ini  memang ada beberapa potensi kerja sama dari tiga  negara tersebut. Indonesia menawarkan sharing pengalaman dan keahlian  kepada Republik Demokratik Kongo dan Brazil  terkait pengurangan  deforestasi, pengendalian dan penanganan kebakaran hutan dan lahan  (karhutla) serta dalam hal pengelolaan hutan sosial untuk masyarakat.

Brazil yang memiliki pengalaman luas dalam pelaksanaan pembayaran  jasa ekosistem (PES), pengelolaan dana iklim lewat lembaga Amazon Fund,  juga kerjasama kegiatan pengelolaan praktek pertanian dan peternakan  yang rendah emisi, pengelolaan sampah dan sanitasi.

Sementara Republik Demokratik Kongo, ingin banyak belajar dari  Indonesia dan Brazil. Sehingga meminta dukungan dan bimbingan tehnis  dari Indonesia dan Brazil dalam program REDD+, pengelolaan hutan secara  berkelanjutan, termasuk  gambut. Ketiga negara juga membicarakan terkait  program keanekaragaman hayati dan bioprospeksi serta rehabilitasi dan  konservasi mangrove.</content:encoded></item></channel></rss>
