<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Teladan dari Jenderal Hoegeng: Larang Anaknya Masuk Akabri karena Tak Mau Ada Nepotisme</title><description>Kapolri kelima ini tidak memberikan izin anaknya untuk mendaftar Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri).</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/11/16/337/2502708/teladan-dari-jenderal-hoegeng-larang-anaknya-masuk-akabri-karena-tak-mau-ada-nepotisme</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/11/16/337/2502708/teladan-dari-jenderal-hoegeng-larang-anaknya-masuk-akabri-karena-tak-mau-ada-nepotisme"/><item><title>Teladan dari Jenderal Hoegeng: Larang Anaknya Masuk Akabri karena Tak Mau Ada Nepotisme</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/11/16/337/2502708/teladan-dari-jenderal-hoegeng-larang-anaknya-masuk-akabri-karena-tak-mau-ada-nepotisme</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/11/16/337/2502708/teladan-dari-jenderal-hoegeng-larang-anaknya-masuk-akabri-karena-tak-mau-ada-nepotisme</guid><pubDate>Selasa 16 November 2021 16:54 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/11/16/337/2502708/teladan-dari-jenderal-hoegeng-larang-anaknya-masuk-akabri-karena-tak-mau-ada-nepotisme-j2UmoBulhm.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Jenderal Hoegeng Iman Santoso (Foto: Arsip Nasional)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/11/16/337/2502708/teladan-dari-jenderal-hoegeng-larang-anaknya-masuk-akabri-karena-tak-mau-ada-nepotisme-j2UmoBulhm.jpg</image><title>Jenderal Hoegeng Iman Santoso (Foto: Arsip Nasional)</title></images><description>JAKARTA - Siapa yang tak kenal dengan Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso? Selalu ada hal yang menarik dengan kisah hidup polisi paling jujur ini.

Ternyata, Kapolri kelima ini tidak memberikan izin anaknya untuk mendaftar Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri). Hal ini terungkap dalam buku yang berjudul &quot;Dunia Hoegeng, 100 Tahun Keteladanan&quot; yang ditulis wartawan senior bernama Farouk Arnaz.

Kisah itu berawal ketika, Aditya Soetanto Hoegeng yang merupakan anak kedua dari Hoegeng berniat masuk Akabri. Saat itu, Adit masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA).

Sejak sekolah, Adit ternyata bercita-cita masuk Akabri agar bisa masuk ke dunia milter. Untuk bisa mendaftar, salah satu syaratnya harus melampirkan surat izin dari orang tua.

Dengan penuh semangat dan percaya diri, Adit datang ke Markas Besar (Mabes) Polri untuk meminta surat izin orang tuanya, Jenderal Hoegeng.

Sesampainya di Mabes Polri, dia bukannya disuruh masuk namun diminta tunggu oleh ajudan Hoegeng. Tak lama, dia akhirnya diizinkan masuk.

Di momen pertemuan tersebut, untuk pertama kalinya dia melihat sosok Hoegeng bukan sebagai seorang ayah yang biasanya ramah dan hangat kepada anak-anaknya.

Adit mengenang, saat itu Hoegeng hanya melihat ke arahanya dan bertanya  keperluan apa menemuinya di kantor. Sontak saja hal itu membuatnya gugup karena melihat dua sosok yang berbeda dalam waktu bersamaan.

Di satu sisi, dia melihat Hoegeng sebagai ayah kandungnya namun di sisi lain dia sedang berhadapan dengan seorang Kapolri dan memperlakukan dirinya seperti tamu-tamu lainnya.

Setelah menyampaikan niatan membutuhkan surat izin dari orang tua, Kapolri di periode 1968 hingga 1971 hanya menjawab nanti saja kepada anaknya.

Pembicaraan mereka pun tak berlangsung lama. Bahkan, selepas itu Hoegeng sama sekali tidak menyapa atau mempersilakan anaknya duduk. Dia malah meneruskan pekerjaannya yang menumpuk di meja kerja.

Mengetahui sikap ayahnya seperti itu, Aditya langsung pulang.  Uniknya, ketika Hoegeng kembali ke rumah, dia sudah bersikap layaknya  seperti seorang bapak kepada anak dan suami kepada istri.

&quot;Saya masih ingat saat itu bapak bertanya, hai Dit kamu sudah makan?  Beliau sama sekali tidak membicarakan soal tadi yang di kantor,&quot; kata  Adit.

Setelah kurang lebih tiga hari menunggu, tiba-tiba ajudan Hoegeng  memberitahu Aditya kalau dirinya telah ditunggu oleh bapaknya di Mabes  Polri.

Mengetahui sikap orang tuanya dari pertemuan sebelumnya, Aditya  menyiapkan mental dengan matang. Saat tiba di Mabes Polri, Hoegeng  bertanya kemantapan hati putranya tersebut masuk ke dunia militer.

Anehnya, kala itu Hoegeng berpesan agar anaknya tidak masuk polisi.  Sebab dia tidak ingin ada Hoegeng lainnya di instansi kepolisian.

&quot;Mendengar ucapan itu, saya mau ketawa tapi takut,&quot; kata Adit.

Selepas berbincang, Adit menanyakan perihal surat izin yang diminta   beberapa hari lalu. Akan tetapi, Hoegeng tidak memberikannya malah   meminta anaknya pergi.

Adit mungkin berpikir, jika ayahnya tinggal mengirimkan radiogram   dari Mabes Polri untuk syarat pendaftaran AKABRI. Setelah keluar dari   Mabes Polri, ia baru menyadari bahwa pendaftaran sudah tutup dua hari   yang lalu.

&quot;Jadi beliau monitor sampai hari pendaftaran tutup, baru dia panggil saya,&quot; kenang Adit.

Adit pun kecewa dan marah, bagaimana tidak? Cita-citanya ingin masuk   Akabri tidak kesampaian hanya karena ayahnya tidak memberikan surat  izin  orang tua.

Saking emosinya, Aditya meluapkan kemarahannya kepada kuas-kuas milik   Hoegeng yang digunakan untuk melukis. Tanpa pikir panjang semua kuas   tersebut digunduli.

Ketika Hoegeng pulang bekerja, dia meminta pembantu untuk memanggil   anaknya laki-lakinya itu. Namun, karena sudah terlanjur kesal dan marah   Aditya menolak bertemu dengan bapaknya.

Pada akhirnya, Jenderal Hoegeng sendiri yang datang ke kamarnya dan   mengajak anaknya tersebut berbicara dari hati ke hati. Dengan perasaan   yang masih gondok, akhirnya Adit mau keluar kamar dan berbicara di meja   makan bersama ayahnya.

Selama pembicaraan, dia sama sekali tidak mau melihat wajah ayahnya karena masih kesal atas kejadian sebelumnya.

&quot;Kala itu bapak bilang, Dit sekarang kita bicara antara Hoegeng    dengan dirimu, antara anak dan ayah,&quot; kata Adit mengulangi pembicaraan    saat itu.

Sebelum masuk pada topik utama, Hoegeng terlebih dahulu mengatakan    kepada anaknya tersebut jangan berkomentar atau menyanggah sebelum dia    selesai bicara.

&quot;Dalam hati ku yang paling dalam, jangan ada lagi yang mengikuti    jejak saya di angkatan. Cukup saya saja yang merasakan itu semua,&quot; kata    Hoegeng seperti yang diceritakan ulang oleh anaknya.

Hoegeng juga menjelaskan kenapa tidak mengizinkan anaknya bergabung    di Akabri. Hoegeng sama sekali tidak ingin jabatan yang disandangnya    sebagai Kapolri, akan memudahkan atau setidaknya memengaruhi anaknya    masuk Akabri.

Selepas menjelaskan panjang lebar alasan ia tidak memberi izin    anaknya bergabung di Akabri, dengan kerendahan hati, Hoegeng berdiri    dari kursinya dan menghampiri anaknya sembari meminta maaf.

Di akhir pembicaraan yang berlangsung di meja makan tersebut, Hoegeng    dengan polosnya bertanya kepada anaknya kenapa kuasnya digunduli.    Sontak saja hal itu membuat perasaan anaknya yang tadi penuh amarah    langsung berubah drastis sambil menahan senyum.

Adit mengaku belajar banyak dari ayahnya. Padahal, jika ingin masuk    Akabri apalagi jadi anggota polisi, tentu saja bisa dikatakan  peluangnya   jauh lebih besar dari calon lainnya.

Akan tetapi, sosok Hoegeng melihat satu langkah lebih jauh dari yang    dipikirkan anaknya. Selain itu, ia menilai bapaknya adalah orang yang    sangat humanis dalam mendidik anak-anaknya.</description><content:encoded>JAKARTA - Siapa yang tak kenal dengan Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso? Selalu ada hal yang menarik dengan kisah hidup polisi paling jujur ini.

Ternyata, Kapolri kelima ini tidak memberikan izin anaknya untuk mendaftar Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri). Hal ini terungkap dalam buku yang berjudul &quot;Dunia Hoegeng, 100 Tahun Keteladanan&quot; yang ditulis wartawan senior bernama Farouk Arnaz.

Kisah itu berawal ketika, Aditya Soetanto Hoegeng yang merupakan anak kedua dari Hoegeng berniat masuk Akabri. Saat itu, Adit masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA).

Sejak sekolah, Adit ternyata bercita-cita masuk Akabri agar bisa masuk ke dunia milter. Untuk bisa mendaftar, salah satu syaratnya harus melampirkan surat izin dari orang tua.

Dengan penuh semangat dan percaya diri, Adit datang ke Markas Besar (Mabes) Polri untuk meminta surat izin orang tuanya, Jenderal Hoegeng.

Sesampainya di Mabes Polri, dia bukannya disuruh masuk namun diminta tunggu oleh ajudan Hoegeng. Tak lama, dia akhirnya diizinkan masuk.

Di momen pertemuan tersebut, untuk pertama kalinya dia melihat sosok Hoegeng bukan sebagai seorang ayah yang biasanya ramah dan hangat kepada anak-anaknya.

Adit mengenang, saat itu Hoegeng hanya melihat ke arahanya dan bertanya  keperluan apa menemuinya di kantor. Sontak saja hal itu membuatnya gugup karena melihat dua sosok yang berbeda dalam waktu bersamaan.

Di satu sisi, dia melihat Hoegeng sebagai ayah kandungnya namun di sisi lain dia sedang berhadapan dengan seorang Kapolri dan memperlakukan dirinya seperti tamu-tamu lainnya.

Setelah menyampaikan niatan membutuhkan surat izin dari orang tua, Kapolri di periode 1968 hingga 1971 hanya menjawab nanti saja kepada anaknya.

Pembicaraan mereka pun tak berlangsung lama. Bahkan, selepas itu Hoegeng sama sekali tidak menyapa atau mempersilakan anaknya duduk. Dia malah meneruskan pekerjaannya yang menumpuk di meja kerja.

Mengetahui sikap ayahnya seperti itu, Aditya langsung pulang.  Uniknya, ketika Hoegeng kembali ke rumah, dia sudah bersikap layaknya  seperti seorang bapak kepada anak dan suami kepada istri.

&quot;Saya masih ingat saat itu bapak bertanya, hai Dit kamu sudah makan?  Beliau sama sekali tidak membicarakan soal tadi yang di kantor,&quot; kata  Adit.

Setelah kurang lebih tiga hari menunggu, tiba-tiba ajudan Hoegeng  memberitahu Aditya kalau dirinya telah ditunggu oleh bapaknya di Mabes  Polri.

Mengetahui sikap orang tuanya dari pertemuan sebelumnya, Aditya  menyiapkan mental dengan matang. Saat tiba di Mabes Polri, Hoegeng  bertanya kemantapan hati putranya tersebut masuk ke dunia militer.

Anehnya, kala itu Hoegeng berpesan agar anaknya tidak masuk polisi.  Sebab dia tidak ingin ada Hoegeng lainnya di instansi kepolisian.

&quot;Mendengar ucapan itu, saya mau ketawa tapi takut,&quot; kata Adit.

Selepas berbincang, Adit menanyakan perihal surat izin yang diminta   beberapa hari lalu. Akan tetapi, Hoegeng tidak memberikannya malah   meminta anaknya pergi.

Adit mungkin berpikir, jika ayahnya tinggal mengirimkan radiogram   dari Mabes Polri untuk syarat pendaftaran AKABRI. Setelah keluar dari   Mabes Polri, ia baru menyadari bahwa pendaftaran sudah tutup dua hari   yang lalu.

&quot;Jadi beliau monitor sampai hari pendaftaran tutup, baru dia panggil saya,&quot; kenang Adit.

Adit pun kecewa dan marah, bagaimana tidak? Cita-citanya ingin masuk   Akabri tidak kesampaian hanya karena ayahnya tidak memberikan surat  izin  orang tua.

Saking emosinya, Aditya meluapkan kemarahannya kepada kuas-kuas milik   Hoegeng yang digunakan untuk melukis. Tanpa pikir panjang semua kuas   tersebut digunduli.

Ketika Hoegeng pulang bekerja, dia meminta pembantu untuk memanggil   anaknya laki-lakinya itu. Namun, karena sudah terlanjur kesal dan marah   Aditya menolak bertemu dengan bapaknya.

Pada akhirnya, Jenderal Hoegeng sendiri yang datang ke kamarnya dan   mengajak anaknya tersebut berbicara dari hati ke hati. Dengan perasaan   yang masih gondok, akhirnya Adit mau keluar kamar dan berbicara di meja   makan bersama ayahnya.

Selama pembicaraan, dia sama sekali tidak mau melihat wajah ayahnya karena masih kesal atas kejadian sebelumnya.

&quot;Kala itu bapak bilang, Dit sekarang kita bicara antara Hoegeng    dengan dirimu, antara anak dan ayah,&quot; kata Adit mengulangi pembicaraan    saat itu.

Sebelum masuk pada topik utama, Hoegeng terlebih dahulu mengatakan    kepada anaknya tersebut jangan berkomentar atau menyanggah sebelum dia    selesai bicara.

&quot;Dalam hati ku yang paling dalam, jangan ada lagi yang mengikuti    jejak saya di angkatan. Cukup saya saja yang merasakan itu semua,&quot; kata    Hoegeng seperti yang diceritakan ulang oleh anaknya.

Hoegeng juga menjelaskan kenapa tidak mengizinkan anaknya bergabung    di Akabri. Hoegeng sama sekali tidak ingin jabatan yang disandangnya    sebagai Kapolri, akan memudahkan atau setidaknya memengaruhi anaknya    masuk Akabri.

Selepas menjelaskan panjang lebar alasan ia tidak memberi izin    anaknya bergabung di Akabri, dengan kerendahan hati, Hoegeng berdiri    dari kursinya dan menghampiri anaknya sembari meminta maaf.

Di akhir pembicaraan yang berlangsung di meja makan tersebut, Hoegeng    dengan polosnya bertanya kepada anaknya kenapa kuasnya digunduli.    Sontak saja hal itu membuat perasaan anaknya yang tadi penuh amarah    langsung berubah drastis sambil menahan senyum.

Adit mengaku belajar banyak dari ayahnya. Padahal, jika ingin masuk    Akabri apalagi jadi anggota polisi, tentu saja bisa dikatakan  peluangnya   jauh lebih besar dari calon lainnya.

Akan tetapi, sosok Hoegeng melihat satu langkah lebih jauh dari yang    dipikirkan anaknya. Selain itu, ia menilai bapaknya adalah orang yang    sangat humanis dalam mendidik anak-anaknya.</content:encoded></item></channel></rss>
