<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cegah Banjir di Permukiman Padat Penduduk, DPRD DKI Sarankan Perbaikan Saluran Air</title><description>Permasalahan ini menjadi salah satu penyebab banjir di permukiman penduduk.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/11/20/338/2504901/cegah-banjir-di-permukiman-padat-penduduk-dprd-dki-sarankan-perbaikan-saluran-air</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/11/20/338/2504901/cegah-banjir-di-permukiman-padat-penduduk-dprd-dki-sarankan-perbaikan-saluran-air"/><item><title>Cegah Banjir di Permukiman Padat Penduduk, DPRD DKI Sarankan Perbaikan Saluran Air</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/11/20/338/2504901/cegah-banjir-di-permukiman-padat-penduduk-dprd-dki-sarankan-perbaikan-saluran-air</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/11/20/338/2504901/cegah-banjir-di-permukiman-padat-penduduk-dprd-dki-sarankan-perbaikan-saluran-air</guid><pubDate>Sabtu 20 November 2021 19:26 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Sindonews.com</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/11/20/338/2504901/cegah-banjir-di-permukiman-padat-penduduk-dprd-dki-sarankan-pembersihan-saluran-air-aab370jEl1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Anggota DPRD DKI, Hardiyanto Kenneth (Foto: DPRD DKI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/11/20/338/2504901/cegah-banjir-di-permukiman-padat-penduduk-dprd-dki-sarankan-pembersihan-saluran-air-aab370jEl1.jpg</image><title>Anggota DPRD DKI, Hardiyanto Kenneth (Foto: DPRD DKI)</title></images><description>JAKARTA - Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan Hardiyanto Kenneth menemukan banyaknya saluran air kecil dan tidak proporsional, serta mampet karena banyaknya sampah yang menyumbat tali air di Jakarta Barat. Permasalahan ini menjadi salah satu penyebab banjir di permukiman penduduk.
Hal itu diungkapkan Kent saat melakukan kunjungan ke Jalan Penyelesaian Tomang 3, Gang Kutilang Blok 101 RT 01/10, Meruya Utara, Kembangan, Jakarta Barat. Kent menuturkan, permasalahan di wilayah tersebut banjir yang sudah berpuluh puluh tahun dan tidak ada solusinya.
Kent pun turun ke lapangan dan ternyata di wilayah tersebut saluran air kecil dan tidak proporsional, serta mampet karena banyaknya sampah yang menyumbat tali air. &quot;Jadi hasil reses saya kemarin, banyak aduan masyarakat soal saluran air tidak tersentuh oleh Pemkot maupun Pemprov DKI Jakarta,&quot; ujar Kent dalam keterangannya, Sabtu (20/11/2021).



Menurut Kent, saluran air merupakan salah satu kebutuhan vital bagi warga di permukiman padat penduduk. Sebab berfungsi sebagai wadah penampungan, pembuangan air yang sudah dipergunakan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian dapat juga berfungsi mengantarkan air hujan yang turun menuju ke tempat yang lebih rendah.
&quot;Jadi bayangkan kalau saluran air ini mampet dan tidak berfungsi dengan baik. Permasalahan untuk penanggulangan banjir akan menemukan jalan buntu. Permasalahan saluran air di permukiman padat penduduk ini saya perhatikan jarang sekali mendapatkan perhatian khusus dari Pemprov DKI, padahal ini bisa menjadi salah satu kunci untuk menanggulangi banjir yang melanda DKI Jakarta.&quot; kata Kent.
Lalu, lanjut Kent, banyak sekali permohonan Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan), dan juga laporan Cepat Respons Masyarakat atau Citizen Relation Management (CRM), tidak pernah terakomodir dengan baik oleh Pemkot maupun Pemprov DKI Jakarta.Hal yang paling terparah, kata Kent, hasil temuannya banyak sekali  warga di permukiman padat penduduk maupun di perumahan elite membangun  pekarangannya atau pagar rumah di atas saluran air, menutup saluran air  dengan coran beton yang luput dari pengawasan Pemprov DKI. Hal ini  membuat kesulitan petugas untuk melakukan pembersihan atau melakukan  pengerukan lumpur.
&quot;Di lapangan banyak juga warga yang membangun pagarnya atau  pekarangannya itu sampai menutup saluran air, untuk dijadikan parkiran  mobil atau halaman rumah. Ini yang menjadi kendala atau permasalahan  besar di lapangan jika kita ingin melakukan perbaikan atau pembersihan  saluran. Memangnya boleh ya kalau saluran air ditutup atau dimatikan  fungsinya seperti itu?,&quot; tuturnya.
Tak itu saja, Kent juga menemukan saluran air dimatikan fungsinya  dengan cara dicor beton. Jika saluran air tidak berfungsi dengan baik,  dan banyak beralih fungsi menjadi hunian, maka sampah yang ada jelas  sulit dibersihkan.
&quot;Akibatnya bila hujan, air tidak dapat mengalir dengan lancar  sehingga meluap ke jalan dan ke rumah-rumah warga. Problem-problem  seperti itu seharusnya menjadi perhatian khusus bagi Pemprov DKI,&quot; tegas  Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BAGUNA) DPD PDI Perjuangan Jakarta  itu.
Oleh karena itu, Kent meminta kepada Pemprov DKI, Pemkot, bahkan  kecamatan dan kelurahan, harus terjun ke lapangan untuk mengawasi dan  menertibkan adanya penutupan saluran air untuk kepentingan pribadi.
Menurut Kent, dibutuhkan solusi yang konkret untuk mengatasi sejumlah  masalah saluran, mulai dari saluran tersumbat sampah, pendangkalan,  hingga tertutup bangunan. Selain itu juga, pihak pemkot mesti tegas dan  berani untuk melakukan penertiban terkait hal tersebut.
Diketahui sebelumnya, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengungkapkan,  sebagian besar wilayah Indonesia saat ini sedang memasuki musim  penghujan yang puncaknya diprediksi pada bulan Januari dan Februari  2022.</description><content:encoded>JAKARTA - Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan Hardiyanto Kenneth menemukan banyaknya saluran air kecil dan tidak proporsional, serta mampet karena banyaknya sampah yang menyumbat tali air di Jakarta Barat. Permasalahan ini menjadi salah satu penyebab banjir di permukiman penduduk.
Hal itu diungkapkan Kent saat melakukan kunjungan ke Jalan Penyelesaian Tomang 3, Gang Kutilang Blok 101 RT 01/10, Meruya Utara, Kembangan, Jakarta Barat. Kent menuturkan, permasalahan di wilayah tersebut banjir yang sudah berpuluh puluh tahun dan tidak ada solusinya.
Kent pun turun ke lapangan dan ternyata di wilayah tersebut saluran air kecil dan tidak proporsional, serta mampet karena banyaknya sampah yang menyumbat tali air. &quot;Jadi hasil reses saya kemarin, banyak aduan masyarakat soal saluran air tidak tersentuh oleh Pemkot maupun Pemprov DKI Jakarta,&quot; ujar Kent dalam keterangannya, Sabtu (20/11/2021).



Menurut Kent, saluran air merupakan salah satu kebutuhan vital bagi warga di permukiman padat penduduk. Sebab berfungsi sebagai wadah penampungan, pembuangan air yang sudah dipergunakan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian dapat juga berfungsi mengantarkan air hujan yang turun menuju ke tempat yang lebih rendah.
&quot;Jadi bayangkan kalau saluran air ini mampet dan tidak berfungsi dengan baik. Permasalahan untuk penanggulangan banjir akan menemukan jalan buntu. Permasalahan saluran air di permukiman padat penduduk ini saya perhatikan jarang sekali mendapatkan perhatian khusus dari Pemprov DKI, padahal ini bisa menjadi salah satu kunci untuk menanggulangi banjir yang melanda DKI Jakarta.&quot; kata Kent.
Lalu, lanjut Kent, banyak sekali permohonan Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan), dan juga laporan Cepat Respons Masyarakat atau Citizen Relation Management (CRM), tidak pernah terakomodir dengan baik oleh Pemkot maupun Pemprov DKI Jakarta.Hal yang paling terparah, kata Kent, hasil temuannya banyak sekali  warga di permukiman padat penduduk maupun di perumahan elite membangun  pekarangannya atau pagar rumah di atas saluran air, menutup saluran air  dengan coran beton yang luput dari pengawasan Pemprov DKI. Hal ini  membuat kesulitan petugas untuk melakukan pembersihan atau melakukan  pengerukan lumpur.
&quot;Di lapangan banyak juga warga yang membangun pagarnya atau  pekarangannya itu sampai menutup saluran air, untuk dijadikan parkiran  mobil atau halaman rumah. Ini yang menjadi kendala atau permasalahan  besar di lapangan jika kita ingin melakukan perbaikan atau pembersihan  saluran. Memangnya boleh ya kalau saluran air ditutup atau dimatikan  fungsinya seperti itu?,&quot; tuturnya.
Tak itu saja, Kent juga menemukan saluran air dimatikan fungsinya  dengan cara dicor beton. Jika saluran air tidak berfungsi dengan baik,  dan banyak beralih fungsi menjadi hunian, maka sampah yang ada jelas  sulit dibersihkan.
&quot;Akibatnya bila hujan, air tidak dapat mengalir dengan lancar  sehingga meluap ke jalan dan ke rumah-rumah warga. Problem-problem  seperti itu seharusnya menjadi perhatian khusus bagi Pemprov DKI,&quot; tegas  Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BAGUNA) DPD PDI Perjuangan Jakarta  itu.
Oleh karena itu, Kent meminta kepada Pemprov DKI, Pemkot, bahkan  kecamatan dan kelurahan, harus terjun ke lapangan untuk mengawasi dan  menertibkan adanya penutupan saluran air untuk kepentingan pribadi.
Menurut Kent, dibutuhkan solusi yang konkret untuk mengatasi sejumlah  masalah saluran, mulai dari saluran tersumbat sampah, pendangkalan,  hingga tertutup bangunan. Selain itu juga, pihak pemkot mesti tegas dan  berani untuk melakukan penertiban terkait hal tersebut.
Diketahui sebelumnya, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengungkapkan,  sebagian besar wilayah Indonesia saat ini sedang memasuki musim  penghujan yang puncaknya diprediksi pada bulan Januari dan Februari  2022.</content:encoded></item></channel></rss>
