<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jateng Jadi Wilayah dengan Frekuensi Bencana Paling Tinggi dalam 5 Tahun Terakhir</title><description>Abdul Muhari melaporkan frekuensi kejadian bencana paling tinggi dalam 5 tahun terakhir yakni di Jawa Tengah.
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/12/03/337/2511445/jateng-jadi-wilayah-dengan-frekuensi-bencana-paling-tinggi-dalam-5-tahun-terakhir</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/12/03/337/2511445/jateng-jadi-wilayah-dengan-frekuensi-bencana-paling-tinggi-dalam-5-tahun-terakhir"/><item><title>Jateng Jadi Wilayah dengan Frekuensi Bencana Paling Tinggi dalam 5 Tahun Terakhir</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/12/03/337/2511445/jateng-jadi-wilayah-dengan-frekuensi-bencana-paling-tinggi-dalam-5-tahun-terakhir</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/12/03/337/2511445/jateng-jadi-wilayah-dengan-frekuensi-bencana-paling-tinggi-dalam-5-tahun-terakhir</guid><pubDate>Jum'at 03 Desember 2021 15:13 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/12/03/337/2511445/jateng-jadi-wilayah-dengan-frekuensi-bencana-paling-tinggi-dalam-5-tahun-terakhir-U1949dET3G.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/12/03/337/2511445/jateng-jadi-wilayah-dengan-frekuensi-bencana-paling-tinggi-dalam-5-tahun-terakhir-U1949dET3G.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari melaporkan frekuensi kejadian bencana paling tinggi dalam 5 tahun terakhir yakni di Jawa Tengah.

&amp;ldquo;Kita melihat ke belakang sedikit data 5 tahun terakhir, yang terpenting di sini yang mau saya highlight adalah kita sudah mengidentifikasi hotspot atau provinsi-provinsi dengan kejadian bencana paling sering dalam 5 tahun terakhir,&amp;rdquo; kata Aam panggilan akrabnya dalam Konferensi Pers secara virtual, Jumat (3/12/2021).

Artinya, kata Aam, seharusnya intervensi dan fokus perhatian saat ini adalah kepada daerah-daerah yang memiliki frekuensi kejadian bencana tertinggi ini. &amp;ldquo;Memang sudah kita fokuskan disini. Tetapi mungkin banyak beberapa kondisi yang perlu kita optimalkan.&amp;rdquo;

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMS8yOS8xLzE0MjI3NS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Aam mengatakan kejadian bencana tertinggi untuk Sumatera itu adalah Aceh dan Sumatera Barat. Kemudian untuk Jawa adalah di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Kalimantan adalah Kalimantan Selatan. Sulawesi adalah di Sulawesi Selatan.

&amp;ldquo;7 kawasan ini adalah hotspot dengan frekuensi kejadian paling tinggi dalam 5 tahun terakhir dengan frekuensi paling banyak itu ada di Jawa Tengah 4.201 kali kejadian. Di mana hampir 95% dari seluruh kejadiannya adalah bencana hidrometeorologi,&amp;rdquo; papar Aam.

Namun, kata Aam, jika melihat periode 2021 ada pergeseran frekuensi  kejadian bencana di wilayah Pulau Jawa yakni dari Jawa Tengah menjadi  Jawa Barat. &amp;ldquo;Kalau kita lihat selama tahun 2021 ada sedikit pergeseran,  jadi kalau tadi dalam 5 tahun yang paling tinggi frekuensi kejadian  bencana adalah Jawa Tengah. Sekarang kalau kita selama 2021 itu bergeser  ke Jawa Barat 651 kejadian. Meskipun untuk Sumatera tetap Aceh.  Kemudian Jawa tetap Jawa Barat Jawa Timur Jawa Tengah. Sulawesi Selatan  tetap.&amp;rdquo;

Di Kalimantan, kata Aam juga ada pergeseran. Jika di data 5 tahunan  dari 2016-2020, konsentrasi kejadian bencana itu terfokus di Kalimantan  Selatan. Sedangkan dalam kurun 2021, dari Januari hingga 1 Desember  mulai ada pergeseran tidak hanya di Kalimantan Selatan, tetapi juga  Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

&amp;ldquo;Ini didominasi oleh kejadian banjir di 4 Kabupaten Kalimantan Barat,  4 Kabupaten Kalimantan Tengah. Jadi mulai ada pergeseran hotspot di  Kalimantan. Ini mungkin dan juga di Jawa, ini menjadi perhatian kami  juga di BNPB,&amp;rdquo; papar Aam.BNPB: Frekuensi Kejadian Bencana Paling Tinggi 5  Tahun Terakhir di Jawa Tengah

JAKARTA, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan  Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari melaporkan  frekuensi kejadian bencana paling tinggi dalam 5 tahun terakhir yakni di  Jawa Tengah.

&amp;ldquo;Kita melihat kebelakang sedikit data 5 tahun terakhir, yang  terpenting di sini yang mau saya hilight adalah kita sudah  mengidentifikasi hotspot atau provinsi-provinsi dengan kejadian bencana  paling sering dalam 5 tahun terakhir,&amp;rdquo; kata Aam panggilan akrabnya dalam  Konferensi Pers secara virtual, Jumat (3/12/2021).

Artinya, kata Aam, seharusnya intervensi dan fokus perhatian saat ini  adalah kepada daerah-daerah yang memiliki frekuensi kejadian bencana  tertinggi ini. &amp;ldquo;Memang sudah kita fokuskan disini. Tetapi mungkin banyak  beberapa kondisi yang perlu kita optimalkan.&amp;rdquo;

Aam mengatakan kejadian bencana tertinggi untuk Sumatera itu adalah  Aceh dan Sumatera Barat. Kemudian untuk Jawa adalah di Jawa Barat, Jawa  Tengah, dan Jawa Timur. Kalimantan adalah Kalimantan Selatan. Sulawesi  adalah di Sulawesi Selatan.

&amp;ldquo;7 kawasan ini adalah hotspot dengan frekuensi kejadian paling tinggi  dalam 5 tahun terakhir dengan frekuensi paling banyak itu ada di Jawa  Tengah 4.201 kali kejadian. Di mana hampir 95% dari seluruh kejadiannya  adalah bencana hidrometeorologi,&amp;rdquo; papar Aam.

Namun, kata Aam, jika melihat periode 2021 ada pergeseran frekuensi   kejadian bencana di wilayah Pulau Jawa yakni dari Jawa Tengah menjadi   Jawa Barat. &amp;ldquo;Kalau kita lihat selama tahun 2021 ada sedikit pergeseran,   jadi kalau tadi dalam 5 tahun yang paling tinggi frekuensi kejadian   bencana adalah Jawa Tengah. Sekarang kalau kita selama 2021 itu bergeser   ke Jawa Barat 651 kejadian. Meskipun untuk Sumatera tetap Aceh.   Kemudian Jawa tetap Jawa Barat Jawa Timur Jawa Tengah. Sulawesi Selatan   tetap.&amp;rdquo;

Di Kalimantan, kata Aam juga ada pergeseran. Jika di data 5 tahunan   dari 2016-2020, konsentrasi kejadian bencana itu terfokus di Kalimantan   Selatan. Sedangkan dalam kurun 2021, dari Januari hingga 1 Desember   mulai ada pergeseran tidak hanya di Kalimantan Selatan, tetapi juga   Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

&amp;ldquo;Ini didominasi oleh kejadian banjir di 4 Kabupaten Kalimantan Barat,   4 Kabupaten Kalimantan Tengah. Jadi mulai ada pergeseran hotspot di   Kalimantan. Ini mungkin dan juga di Jawa, ini menjadi perhatian kami   juga di BNPB,&amp;rdquo; papar Aam.</description><content:encoded>JAKARTA - Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari melaporkan frekuensi kejadian bencana paling tinggi dalam 5 tahun terakhir yakni di Jawa Tengah.

&amp;ldquo;Kita melihat ke belakang sedikit data 5 tahun terakhir, yang terpenting di sini yang mau saya highlight adalah kita sudah mengidentifikasi hotspot atau provinsi-provinsi dengan kejadian bencana paling sering dalam 5 tahun terakhir,&amp;rdquo; kata Aam panggilan akrabnya dalam Konferensi Pers secara virtual, Jumat (3/12/2021).

Artinya, kata Aam, seharusnya intervensi dan fokus perhatian saat ini adalah kepada daerah-daerah yang memiliki frekuensi kejadian bencana tertinggi ini. &amp;ldquo;Memang sudah kita fokuskan disini. Tetapi mungkin banyak beberapa kondisi yang perlu kita optimalkan.&amp;rdquo;

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMS8yOS8xLzE0MjI3NS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Aam mengatakan kejadian bencana tertinggi untuk Sumatera itu adalah Aceh dan Sumatera Barat. Kemudian untuk Jawa adalah di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Kalimantan adalah Kalimantan Selatan. Sulawesi adalah di Sulawesi Selatan.

&amp;ldquo;7 kawasan ini adalah hotspot dengan frekuensi kejadian paling tinggi dalam 5 tahun terakhir dengan frekuensi paling banyak itu ada di Jawa Tengah 4.201 kali kejadian. Di mana hampir 95% dari seluruh kejadiannya adalah bencana hidrometeorologi,&amp;rdquo; papar Aam.

Namun, kata Aam, jika melihat periode 2021 ada pergeseran frekuensi  kejadian bencana di wilayah Pulau Jawa yakni dari Jawa Tengah menjadi  Jawa Barat. &amp;ldquo;Kalau kita lihat selama tahun 2021 ada sedikit pergeseran,  jadi kalau tadi dalam 5 tahun yang paling tinggi frekuensi kejadian  bencana adalah Jawa Tengah. Sekarang kalau kita selama 2021 itu bergeser  ke Jawa Barat 651 kejadian. Meskipun untuk Sumatera tetap Aceh.  Kemudian Jawa tetap Jawa Barat Jawa Timur Jawa Tengah. Sulawesi Selatan  tetap.&amp;rdquo;

Di Kalimantan, kata Aam juga ada pergeseran. Jika di data 5 tahunan  dari 2016-2020, konsentrasi kejadian bencana itu terfokus di Kalimantan  Selatan. Sedangkan dalam kurun 2021, dari Januari hingga 1 Desember  mulai ada pergeseran tidak hanya di Kalimantan Selatan, tetapi juga  Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

&amp;ldquo;Ini didominasi oleh kejadian banjir di 4 Kabupaten Kalimantan Barat,  4 Kabupaten Kalimantan Tengah. Jadi mulai ada pergeseran hotspot di  Kalimantan. Ini mungkin dan juga di Jawa, ini menjadi perhatian kami  juga di BNPB,&amp;rdquo; papar Aam.BNPB: Frekuensi Kejadian Bencana Paling Tinggi 5  Tahun Terakhir di Jawa Tengah

JAKARTA, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan  Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari melaporkan  frekuensi kejadian bencana paling tinggi dalam 5 tahun terakhir yakni di  Jawa Tengah.

&amp;ldquo;Kita melihat kebelakang sedikit data 5 tahun terakhir, yang  terpenting di sini yang mau saya hilight adalah kita sudah  mengidentifikasi hotspot atau provinsi-provinsi dengan kejadian bencana  paling sering dalam 5 tahun terakhir,&amp;rdquo; kata Aam panggilan akrabnya dalam  Konferensi Pers secara virtual, Jumat (3/12/2021).

Artinya, kata Aam, seharusnya intervensi dan fokus perhatian saat ini  adalah kepada daerah-daerah yang memiliki frekuensi kejadian bencana  tertinggi ini. &amp;ldquo;Memang sudah kita fokuskan disini. Tetapi mungkin banyak  beberapa kondisi yang perlu kita optimalkan.&amp;rdquo;

Aam mengatakan kejadian bencana tertinggi untuk Sumatera itu adalah  Aceh dan Sumatera Barat. Kemudian untuk Jawa adalah di Jawa Barat, Jawa  Tengah, dan Jawa Timur. Kalimantan adalah Kalimantan Selatan. Sulawesi  adalah di Sulawesi Selatan.

&amp;ldquo;7 kawasan ini adalah hotspot dengan frekuensi kejadian paling tinggi  dalam 5 tahun terakhir dengan frekuensi paling banyak itu ada di Jawa  Tengah 4.201 kali kejadian. Di mana hampir 95% dari seluruh kejadiannya  adalah bencana hidrometeorologi,&amp;rdquo; papar Aam.

Namun, kata Aam, jika melihat periode 2021 ada pergeseran frekuensi   kejadian bencana di wilayah Pulau Jawa yakni dari Jawa Tengah menjadi   Jawa Barat. &amp;ldquo;Kalau kita lihat selama tahun 2021 ada sedikit pergeseran,   jadi kalau tadi dalam 5 tahun yang paling tinggi frekuensi kejadian   bencana adalah Jawa Tengah. Sekarang kalau kita selama 2021 itu bergeser   ke Jawa Barat 651 kejadian. Meskipun untuk Sumatera tetap Aceh.   Kemudian Jawa tetap Jawa Barat Jawa Timur Jawa Tengah. Sulawesi Selatan   tetap.&amp;rdquo;

Di Kalimantan, kata Aam juga ada pergeseran. Jika di data 5 tahunan   dari 2016-2020, konsentrasi kejadian bencana itu terfokus di Kalimantan   Selatan. Sedangkan dalam kurun 2021, dari Januari hingga 1 Desember   mulai ada pergeseran tidak hanya di Kalimantan Selatan, tetapi juga   Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

&amp;ldquo;Ini didominasi oleh kejadian banjir di 4 Kabupaten Kalimantan Barat,   4 Kabupaten Kalimantan Tengah. Jadi mulai ada pergeseran hotspot di   Kalimantan. Ini mungkin dan juga di Jawa, ini menjadi perhatian kami   juga di BNPB,&amp;rdquo; papar Aam.</content:encoded></item></channel></rss>
