<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perludem Soroti Rekrutmen Partai Politik, Dianggap Terlalu Elitis dan Tak Akuntabel</title><description>Anggota Dewan Pembina Perludem Titi Anggraini menyoroti beberapa realitas rekrutmen partai politik di Indonesia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/12/03/337/2511624/perludem-soroti-rekrutmen-partai-politik-dianggap-terlalu-elitis-dan-tak-akuntabel</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/12/03/337/2511624/perludem-soroti-rekrutmen-partai-politik-dianggap-terlalu-elitis-dan-tak-akuntabel"/><item><title>Perludem Soroti Rekrutmen Partai Politik, Dianggap Terlalu Elitis dan Tak Akuntabel</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/12/03/337/2511624/perludem-soroti-rekrutmen-partai-politik-dianggap-terlalu-elitis-dan-tak-akuntabel</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/12/03/337/2511624/perludem-soroti-rekrutmen-partai-politik-dianggap-terlalu-elitis-dan-tak-akuntabel</guid><pubDate>Jum'at 03 Desember 2021 19:55 WIB</pubDate><dc:creator>Riezky Maulana</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/12/03/337/2511624/perludem-soroti-rekrutmen-partai-politik-dianggap-terlalu-elitis-dan-tak-akuntabel-ljq8lf6OcI.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/12/03/337/2511624/perludem-soroti-rekrutmen-partai-politik-dianggap-terlalu-elitis-dan-tak-akuntabel-ljq8lf6OcI.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Anggota Dewan Pembina Perludem Titi Anggraini menyoroti beberapa realitas rekrutmen partai politik di Indonesia. Menurut dia, anggota partai politik tidak memiliki kedaulatan.

Dia menjelaskan, anggota parpol dan pemilih hanya diingat partai saat momentum tertentu, seperti pendaftaran partai politik politik untuk menjadi peserta pemilu dan ketika pemungutan suara di TPS berlangsung.

&quot;Karena kalau partai ingin jadi peserta pemilu, dia harus punya 1.000 anggota ketika proses verifikasi faktual di KPU atau kemudian dia ingin menang pemilu lolos ambang batas parlemen maka dia harus mampu mengumpulkan suara pemilih,&quot; ujar Titi dalam webinar bertajuk Konvensi Rakyat: Jalan Baru Menuju Demokrasi yang Lebih Sehat, Jumat (3/12/2021).

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMS8yNy8xLzE0MjIxOS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Kemudian, kata Titi, Caleg bekerja secara instan hanya pada saat masa kampanye. Menurutnya, pendekatan itu menggunakan cara yang terbatas dan singkat.

&quot;Massa kampanye kan tidak panjang, kurang dari 1 tahun hanya kurun 8 hingga 9 bulan,&quot; ungkapnya.


Dia menjelaskan, dalam proses rekrutmen politik di Indonesia  dilakukan secara tertutup elitis dan tidak akuntabel. Proses itulah yang  nantinya dapat membuat jarak bagi anggota dan pemilih.

&quot;Hal ini akhirnya membuat rekrutmen politik citranya sangat jauh dari  politik gagasan, tetapi politik elitis, politik yang dekat dengan siapa  yang berkuasa di partai,&quot; jelasnya.

Menurut Titi, hal itu nantinya berimplikasi pada sebuah tendensi  terjadinya praktik politik transaksional. Sebab, banyak terdengar kabar  burung bahwa untuk melanggeng ke dunia politik membutuhkan mahar.

&quot;Kita mendengar untuk mendapat nomor 1 harus sekian ratus juta bahkan  miliar. Nah hal-hal ini justru membuat kredibilitas rekrutmen politik  yang demokratis tadi akhirnya menjadi tidak tercipta,&quot; katanya.

Oleh karenanya, sambung Titi, rekrutmen politik harus kembali pada  esensi dasar sebagai sebuah proses yang merefleksikan kaderisasi secara  demokratis serta tidak menutup ruang partisipasi politik.

&quot;Dia harus didesain terukur dan mampu dinilai akuntabilitasnya secara  terbuka oleh publik. Tidak lagi kemudian ukuran-ukura  rekrutmen  berbasis kaderisasi secara demokratis itu menjadi ukuran yang tidak  punya standar penilaian yang terbuka,&quot; katanya.</description><content:encoded>JAKARTA - Anggota Dewan Pembina Perludem Titi Anggraini menyoroti beberapa realitas rekrutmen partai politik di Indonesia. Menurut dia, anggota partai politik tidak memiliki kedaulatan.

Dia menjelaskan, anggota parpol dan pemilih hanya diingat partai saat momentum tertentu, seperti pendaftaran partai politik politik untuk menjadi peserta pemilu dan ketika pemungutan suara di TPS berlangsung.

&quot;Karena kalau partai ingin jadi peserta pemilu, dia harus punya 1.000 anggota ketika proses verifikasi faktual di KPU atau kemudian dia ingin menang pemilu lolos ambang batas parlemen maka dia harus mampu mengumpulkan suara pemilih,&quot; ujar Titi dalam webinar bertajuk Konvensi Rakyat: Jalan Baru Menuju Demokrasi yang Lebih Sehat, Jumat (3/12/2021).

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMS8yNy8xLzE0MjIxOS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Kemudian, kata Titi, Caleg bekerja secara instan hanya pada saat masa kampanye. Menurutnya, pendekatan itu menggunakan cara yang terbatas dan singkat.

&quot;Massa kampanye kan tidak panjang, kurang dari 1 tahun hanya kurun 8 hingga 9 bulan,&quot; ungkapnya.


Dia menjelaskan, dalam proses rekrutmen politik di Indonesia  dilakukan secara tertutup elitis dan tidak akuntabel. Proses itulah yang  nantinya dapat membuat jarak bagi anggota dan pemilih.

&quot;Hal ini akhirnya membuat rekrutmen politik citranya sangat jauh dari  politik gagasan, tetapi politik elitis, politik yang dekat dengan siapa  yang berkuasa di partai,&quot; jelasnya.

Menurut Titi, hal itu nantinya berimplikasi pada sebuah tendensi  terjadinya praktik politik transaksional. Sebab, banyak terdengar kabar  burung bahwa untuk melanggeng ke dunia politik membutuhkan mahar.

&quot;Kita mendengar untuk mendapat nomor 1 harus sekian ratus juta bahkan  miliar. Nah hal-hal ini justru membuat kredibilitas rekrutmen politik  yang demokratis tadi akhirnya menjadi tidak tercipta,&quot; katanya.

Oleh karenanya, sambung Titi, rekrutmen politik harus kembali pada  esensi dasar sebagai sebuah proses yang merefleksikan kaderisasi secara  demokratis serta tidak menutup ruang partisipasi politik.

&quot;Dia harus didesain terukur dan mampu dinilai akuntabilitasnya secara  terbuka oleh publik. Tidak lagi kemudian ukuran-ukura  rekrutmen  berbasis kaderisasi secara demokratis itu menjadi ukuran yang tidak  punya standar penilaian yang terbuka,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
