<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Indonesia Pernah Miliki Intelijen dengan Penyamaran Luar Biasa Bernama Hans Hamzah</title><description>Militer Indonesia, terutama TNI AD, pernah punya agen intelijen dengan kemampuan penyamaran yang luar biasa.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/12/05/337/2512244/indonesia-pernah-miliki-intelijen-dengan-penyamaran-luar-biasa-bernama-hans-hamzah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/12/05/337/2512244/indonesia-pernah-miliki-intelijen-dengan-penyamaran-luar-biasa-bernama-hans-hamzah"/><item><title>Indonesia Pernah Miliki Intelijen dengan Penyamaran Luar Biasa Bernama Hans Hamzah</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/12/05/337/2512244/indonesia-pernah-miliki-intelijen-dengan-penyamaran-luar-biasa-bernama-hans-hamzah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/12/05/337/2512244/indonesia-pernah-miliki-intelijen-dengan-penyamaran-luar-biasa-bernama-hans-hamzah</guid><pubDate>Minggu 05 Desember 2021 16:19 WIB</pubDate><dc:creator>Riezky Maulana</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/12/05/337/2512244/indonesia-pernah-miliki-intelijen-dengan-penyamaran-luar-biasa-bernama-hans-hamzah-nHeIWcu5z8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/12/05/337/2512244/indonesia-pernah-miliki-intelijen-dengan-penyamaran-luar-biasa-bernama-hans-hamzah-nHeIWcu5z8.jpg</image><title>Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Militer Indonesia, terutama TNI AD, pernah punya agen intelijen dengan kemampuan penyamaran yang luar biasa. Dia adalah Hans Hamzah, prajurit TNI AD keturunan Tionghoa yang pernah menjadi anak buah Benny Moerdani. Sosoknya misterius, bahkan di kalangan militer sendiri.

Tetapi siapa dan bagaimana sosok Han Hamzah bisa ditelusuri dari tulisan Ken Conboy, penulis buku-buku tentang sejarah militer Asia dan operasi-operasi intelijen.

&amp;ldquo;Hamzah, salah seorang dari sedikit etnis Tionghoa di Satsus Intel, mempunyai bakat berbahasa. Dia berbicara dalam enam bahasa dan ahli dalam hal membuka kunci,&amp;rdquo; kata Ken dalam buku berjudul Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia, dikutip Minggu (5/12/2021).

Menurut Ken, Hans Hamzah adalah anggota Satsus Intel yang terlibat dalam operasi bersandi Flamboyan bentukan Benny Moerdani. Operasi yang dipimpin Kolonel Dading Kalbuadi ini secara khusus menargetkan koper Atase Militer Portugal Mayor Antonio Joao Soares yang datang ke Indonesia menuju Timor Timur (kini Timor Leste). Kala itu, Timor Timur merupakan koloni Portugal.

Hans Hamzah berperan krusial dalam Operasi Flamboyan pada 1975 itu. Setelah gagal membongkar isi koper Soers di Jakarta, Dading merancang siasat. Hans Hamzah menyamar sebagai Kepala Cabang Maskapai Merpati Airlines ketika Soares berada di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, bersiap terbang ke Kupang. Saat Soares melapor, Hamzah berimprovisasi bahwa visa sang atase harus mendapat persetujuan dari imigrasi.

&amp;ldquo;Mayor Antonio Joao Soares diminta untuk melapor ke kantor imigrasi setempat untuk pengecekan rutin. Hal ini sebenarnya merupakan tugas yang diemban oleh Kolonel Dading Kalbuadi atas perintah Brigjen Benny Moerdani dalam rangka mengetahui dokumen yang dibawa oleh perutusan Portugal,&amp;rdquo; tulis Julius Pour dalam Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan.

Soares tentu saja berang. Namun Hamzah dengan cerdik mengantarnya ke  kantor Imigrasi di Denpasar. Saat Soares akhirnya dipertemukan dengan  kepala Imigrasi di ruangannya, koper yang dibawa ditinggalkan di luar.  Saat itulah Hamzah secepat kilat membuka kunci koper. Dokumen-dokumen  rahasia Soares lantas dipotret prajurit intel lainnya yang bertugas  sebagai fotografer.

Operasi Puyuh

Di luar operasi yang sangat sukses di Bali itu, Hans Hamzah juga  sukses memimpin sebuah operasi mata-mata bersandi Puyuh. Operasi ini  dibuat ketika Bakin mencuriga kedatangan Hugo Tinguely, mahasiswa asal  Swiss ke Jakarta pada April 1977.

Bakin sebelumnya telah menerima memo dari CIA tentang kemungkinan  serangan terhadap kampanye Golkar yang akan berlangsung di Stadion  Senayan. Namun CIA menyebut informasi itu dari sumber yang masih  diragukan.

Belakangan Bakin juga mendapat informasi dari mitra asingnya. Sebelum  masuk Indonesia, Tinguely sebulan tinggal di Jepang. Di negara itu dia  menjadi buruan polisi karena dianggap bersimpati dengan Tentara Merah  Jepang. Bekal informasi itu menyimpulkan Tinguely sebagai target yang  harus diawasi dan dikorek informasinya.

&amp;ldquo;Satsus Intel bergegas melakukan pengintaian terhadap mahasiswa yang  dicurigai ini. Dengan bersandi Puyuh, tim ini dipimpin Hans Hamzah,&amp;rdquo;  tutur Ken.

Di hotel tempat Tinguely menginap, Hamzah yang berpura-pura sebagai  guru dari Singapura berkenalan di lobi. Dengan cepat mereka akrab.  Kepada mahasiswa yang pernah belajar di Jerman Barat itu, Hamzah  menunjukkan ada penginapan lebih murah. Tinguely setuju untuk melihat  besoknya.

Seperti dijanjikan keesokan harinya mereka bertemu. Hamzah membawa   Tinguely ke guest house di Jalan Raden Saleh, Cikini yang berharga lebih   murah. Tinguely setuju untuk tinggal di situ.

Begitu akrabnya, Hamzah juga mengajak Tinguely jalan-jalan ke Taman   Mini Indonesia Indah (TMII). Saat itu, Tinguely sadar dirinya diintai   oleh para spionase. Namun dia tidak pernah curiga sedikit pun kepada   Hamzah.

&amp;ldquo;Indonesia banyak mata-mata,&amp;rdquo; katanya kepada Hamzah. Tinguely tahu   diintai karena banyak tukang foto yang memotretnya dari kejauhan. Para   tukang foto itu tak lain agen-agen intelijen di bawah komando Benny   Moerdani langsung.

Kendati demikian, Operasi Puyuh ini ternyata tak &amp;lsquo;semenakutkan&amp;rsquo; yang   diperkirakan. Tinguely yang terlalu percaya kepada Hamzah dan banyak   mengobral cerita tentang sepak terjangnya baik di Jepang maupun Jerman   Barat, dianggap bukan sosok yang mengancam. &amp;ldquo;Dia tak lebih dari seorang   tukang sorak ideologis daripada seorang operator teroris sejati,&amp;rdquo; kata   Ken.
</description><content:encoded>JAKARTA - Militer Indonesia, terutama TNI AD, pernah punya agen intelijen dengan kemampuan penyamaran yang luar biasa. Dia adalah Hans Hamzah, prajurit TNI AD keturunan Tionghoa yang pernah menjadi anak buah Benny Moerdani. Sosoknya misterius, bahkan di kalangan militer sendiri.

Tetapi siapa dan bagaimana sosok Han Hamzah bisa ditelusuri dari tulisan Ken Conboy, penulis buku-buku tentang sejarah militer Asia dan operasi-operasi intelijen.

&amp;ldquo;Hamzah, salah seorang dari sedikit etnis Tionghoa di Satsus Intel, mempunyai bakat berbahasa. Dia berbicara dalam enam bahasa dan ahli dalam hal membuka kunci,&amp;rdquo; kata Ken dalam buku berjudul Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia, dikutip Minggu (5/12/2021).

Menurut Ken, Hans Hamzah adalah anggota Satsus Intel yang terlibat dalam operasi bersandi Flamboyan bentukan Benny Moerdani. Operasi yang dipimpin Kolonel Dading Kalbuadi ini secara khusus menargetkan koper Atase Militer Portugal Mayor Antonio Joao Soares yang datang ke Indonesia menuju Timor Timur (kini Timor Leste). Kala itu, Timor Timur merupakan koloni Portugal.

Hans Hamzah berperan krusial dalam Operasi Flamboyan pada 1975 itu. Setelah gagal membongkar isi koper Soers di Jakarta, Dading merancang siasat. Hans Hamzah menyamar sebagai Kepala Cabang Maskapai Merpati Airlines ketika Soares berada di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, bersiap terbang ke Kupang. Saat Soares melapor, Hamzah berimprovisasi bahwa visa sang atase harus mendapat persetujuan dari imigrasi.

&amp;ldquo;Mayor Antonio Joao Soares diminta untuk melapor ke kantor imigrasi setempat untuk pengecekan rutin. Hal ini sebenarnya merupakan tugas yang diemban oleh Kolonel Dading Kalbuadi atas perintah Brigjen Benny Moerdani dalam rangka mengetahui dokumen yang dibawa oleh perutusan Portugal,&amp;rdquo; tulis Julius Pour dalam Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan.

Soares tentu saja berang. Namun Hamzah dengan cerdik mengantarnya ke  kantor Imigrasi di Denpasar. Saat Soares akhirnya dipertemukan dengan  kepala Imigrasi di ruangannya, koper yang dibawa ditinggalkan di luar.  Saat itulah Hamzah secepat kilat membuka kunci koper. Dokumen-dokumen  rahasia Soares lantas dipotret prajurit intel lainnya yang bertugas  sebagai fotografer.

Operasi Puyuh

Di luar operasi yang sangat sukses di Bali itu, Hans Hamzah juga  sukses memimpin sebuah operasi mata-mata bersandi Puyuh. Operasi ini  dibuat ketika Bakin mencuriga kedatangan Hugo Tinguely, mahasiswa asal  Swiss ke Jakarta pada April 1977.

Bakin sebelumnya telah menerima memo dari CIA tentang kemungkinan  serangan terhadap kampanye Golkar yang akan berlangsung di Stadion  Senayan. Namun CIA menyebut informasi itu dari sumber yang masih  diragukan.

Belakangan Bakin juga mendapat informasi dari mitra asingnya. Sebelum  masuk Indonesia, Tinguely sebulan tinggal di Jepang. Di negara itu dia  menjadi buruan polisi karena dianggap bersimpati dengan Tentara Merah  Jepang. Bekal informasi itu menyimpulkan Tinguely sebagai target yang  harus diawasi dan dikorek informasinya.

&amp;ldquo;Satsus Intel bergegas melakukan pengintaian terhadap mahasiswa yang  dicurigai ini. Dengan bersandi Puyuh, tim ini dipimpin Hans Hamzah,&amp;rdquo;  tutur Ken.

Di hotel tempat Tinguely menginap, Hamzah yang berpura-pura sebagai  guru dari Singapura berkenalan di lobi. Dengan cepat mereka akrab.  Kepada mahasiswa yang pernah belajar di Jerman Barat itu, Hamzah  menunjukkan ada penginapan lebih murah. Tinguely setuju untuk melihat  besoknya.

Seperti dijanjikan keesokan harinya mereka bertemu. Hamzah membawa   Tinguely ke guest house di Jalan Raden Saleh, Cikini yang berharga lebih   murah. Tinguely setuju untuk tinggal di situ.

Begitu akrabnya, Hamzah juga mengajak Tinguely jalan-jalan ke Taman   Mini Indonesia Indah (TMII). Saat itu, Tinguely sadar dirinya diintai   oleh para spionase. Namun dia tidak pernah curiga sedikit pun kepada   Hamzah.

&amp;ldquo;Indonesia banyak mata-mata,&amp;rdquo; katanya kepada Hamzah. Tinguely tahu   diintai karena banyak tukang foto yang memotretnya dari kejauhan. Para   tukang foto itu tak lain agen-agen intelijen di bawah komando Benny   Moerdani langsung.

Kendati demikian, Operasi Puyuh ini ternyata tak &amp;lsquo;semenakutkan&amp;rsquo; yang   diperkirakan. Tinguely yang terlalu percaya kepada Hamzah dan banyak   mengobral cerita tentang sepak terjangnya baik di Jepang maupun Jerman   Barat, dianggap bukan sosok yang mengancam. &amp;ldquo;Dia tak lebih dari seorang   tukang sorak ideologis daripada seorang operator teroris sejati,&amp;rdquo; kata   Ken.
</content:encoded></item></channel></rss>
