<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Satu Dusun Rusak Parah Terdampak Erupsi Semeru, Warga Minta Segera Direlokasi</title><description>Warga terdampak erupsi Gunung Semeru mengaku masih trauma dan takut menghuni rumah pasca erupsi hebat.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/12/09/337/2514614/satu-dusun-rusak-parah-terdampak-erupsi-semeru-warga-minta-segera-direlokasi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/12/09/337/2514614/satu-dusun-rusak-parah-terdampak-erupsi-semeru-warga-minta-segera-direlokasi"/><item><title>Satu Dusun Rusak Parah Terdampak Erupsi Semeru, Warga Minta Segera Direlokasi</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/12/09/337/2514614/satu-dusun-rusak-parah-terdampak-erupsi-semeru-warga-minta-segera-direlokasi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/12/09/337/2514614/satu-dusun-rusak-parah-terdampak-erupsi-semeru-warga-minta-segera-direlokasi</guid><pubDate>Kamis 09 Desember 2021 18:19 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/12/09/337/2514614/satu-dusun-rusak-parah-terdampak-erupsi-semeru-warga-minta-segera-direlokasi-ET3STUmgmC.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Dusun Sumbersari luluh lantak akibat erupsi Semeru (Foto: Okezone/Avirista)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/12/09/337/2514614/satu-dusun-rusak-parah-terdampak-erupsi-semeru-warga-minta-segera-direlokasi-ET3STUmgmC.JPG</image><title>Dusun Sumbersari luluh lantak akibat erupsi Semeru (Foto: Okezone/Avirista)</title></images><description>LUMAJANG - Warga terdampak erupsi Gunung Semeru mengaku masih trauma dan takut menghuni rumah pasca erupsi hebat. Mereka meminta untuk dipindahkan, meski tak begitu jauh dari lokasi tempat tinggalnya.

Dusun Sumbersari, Desa Supit Urang, menjadi lokasi terparah terdampak erupsi Gunung Semeru. Hampir seluruh rumah di satu dusun rusak parah dan tak bisa lagi ditinggali. Lokasi kampung mereka juga hanya berjarak 7 kilometer dari puncak gunung.

Tak jauh dari tempat tinggal mereka mengalir Kali Sumbersari yang menjadi aliran lahar dingin dan awan panas Gunung Semeru. Letaknya yang dekat dengan puncak Gunung Semeru, membuat dusun ini masuk dalam wilayah zona kuning bencana yang mana warganya harus direlokasi.

Seorang warga Dusun Sumbersari, Desa Supit Urang, Kecamatan Pronojiwo Sulianto mengatakan, baru kali ini ia mengalami trauma yang begitu berat, meski Gunung Semeru telah beberapa kali erupsi dengan intensitas sedang.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMi8wOS8xLzE0MjYyOS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

&quot;Saya minta ke Pak Bupati, Pak Presiden saya dipindahkan saya terus terang takut tinggal di sini. Masih trauma betul kalau keingat kejadiannya,&quot; kata Sulianto, pemuda berusia 21 tahun ini.

Ia menyebutkan, saat itu dirinya memang tengah beraktivitas sebagai penambang pasir di Sungai Sumbersari tak jauh dari kediamannya. Beruntung sesaat sebelum kejadian guguran awan panas dan abu vulkanik itu ia berhasil pulang, serta menyelamatkan keluarganya yang masih bertahan di rumah.

&quot;Masih takut disini, kalau siang berani karena terang cuacanya, disini tinggal semua sekeluarga, paman keponakan di sini,&quot; tuturnya.

Di hari keenam ini ia masih tak menyangka kejadian letusan dashyat Gunung Semeru bakal meluluhlantakkan kampung halamannya. Mengingat selama ia 20 tahun tinggal di Dusun Sumbersari, tidak pernah mengalami letusan sedahsyat.

&quot;Kalau kemarin selamat semua. Lari semua waktu kejadian. Kalau saya  cari pasir di sana, waktu itu banjir lahar dulu, sebelum awannya dari  atas, 20 menit minta dijemput, saya samperin lihat gunungnya sudah tebal  abunya jam 12 kondisi masih aman saja,&quot; tambahnya

Hal serupa dikatakan Hadi Mulyanto, warga Desa Supit Urang yang  meminta segera dibuatkan hunian sementara agar tidak tinggal lebih lama  di posko pengungsian. Sebab dengan kondisi dirinya juga harus  menyelamatkan beberapa benda berharganya yang ada di rumah, yang dibawa  ke posko pengungsian.

&quot;Kalau bisa segera dicarikan tempat relokasi. Inginnya biar tidak  lama - lama di pengungsian, soalnya ya kalau di pengungsian juga gitu  tahu sendiri,&quot; katanya.

Namun pria berusia 58 tahun ini menuturkan, tak mungkin dirinya  membangun rumahnya yang luluhlantah imbas erupsi Gunung Semeru. Selain  karena lokasinya yang sangat dekat dengan aliran lahar Gunung Semeru.

&quot;Kalau rumah saya, saya bangun lagi juga nggak mungkin. Di sini  katanya terlalu bahaya, kalau dibangun juga mau uang darimana. Saya  sudah tidak punya apa - apa,&quot; beber pria yang berprofesi sebagai petani  ini.

Tetapi jika memang dipindahkan, ia berharap agar lokasi pemindahan  tak jauh - jauh dari tempat tinggalnya saat ini. Hal ini agar dirinya  bisa mengontrol lahan pertanian dan bercocok tanam kembali bila  dimungkinkan.

&quot;Direlokasi mau, kalau di sini juga nggak boleh mendirikan rumah lagi  di sini. Tapi ini belum ditentukan tempatnya, pengennya ya dekat -  dekat sini direlokasi. Kalau di sini bahaya aliran sungai nya untuk  lahar sudah terbuka,&quot; terangnya.

Bupati Lumajang Thoriqul Haq mengungkapkan, segera akan mencari  lokasi yang tepat beberapa dusun yang terdampak terparah erupsi Gunung  Semeru. Pihaknya tengah berpikir dan berbicara dengan sejumlah pihak  termasuk Perhutani, bila memungkinkan menggunakan lahan milik Perhutani.

Terlihat Thoriqul Haq, meninjau kembali beberapa titik di Desa Supit  Urang untuk melihat proses evakuasi korban yang masih terkubur. Cak  Thoriq, sapaan akrabnya juga meninjau beberapa alternatif lahan relokasi  untuk warga beberapa kampung, salah satunya Dusun Sumbersari, Desa  Supit Urang, Pronojiwo.

&quot;Ini tadi makanya melihat (di Dusun Supit Urang), di tempat salah   satu misalnya di Perhutani, di Oro - Oro Ombo,&quot; ucap Cak Thoriq, sapaan   akrabnya.

Sebelumnya diberitakan Gunung Semeru memuntahkan material vulkanik   berupa guguran awan panas dan abu vulkanik saat erupsi pada Sabtu 4   Desember 2021 sore.

Erupsi Gunung Semeru terjadi sekitar pukul 15.00 WIB, dimana awan   panas keluar disertai material vulkanik dimuntahkan mengarah ke Curah   Kobokan sejauh 10 - 11 kilometer dari kawah Gunung Semeru.

Catatan yang dihimpun Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi   (PVMBG), guguran lava pijar teramati dengan jarak luncur kurang lebih   500-800 meter dengan pusat guguran berada kurang lebih 500 meter di   bawah kawah.

Hingga Kamis sore 9 Desember 2021, Badan Nasional Penanggulangan   Bencana (BNPB) mencatat ada 43 warga meninggal dunia, sebanyak 104 orang   32 warga luka berat dan 82 warga luka sedang serta ringan, dimana   mayoritas mengalami luka bakar.

Para warga ini dirawat di empat fasilitas kesehatan di Kabupaten   Lumajang seperti RSUD dr. Haryoto, RS Bhayangkara Lumajang, RS Pasirian,   Puskesmas Penanggal, Puskesmas Candipuro, dan beberapa puskesmas   lainnya.</description><content:encoded>LUMAJANG - Warga terdampak erupsi Gunung Semeru mengaku masih trauma dan takut menghuni rumah pasca erupsi hebat. Mereka meminta untuk dipindahkan, meski tak begitu jauh dari lokasi tempat tinggalnya.

Dusun Sumbersari, Desa Supit Urang, menjadi lokasi terparah terdampak erupsi Gunung Semeru. Hampir seluruh rumah di satu dusun rusak parah dan tak bisa lagi ditinggali. Lokasi kampung mereka juga hanya berjarak 7 kilometer dari puncak gunung.

Tak jauh dari tempat tinggal mereka mengalir Kali Sumbersari yang menjadi aliran lahar dingin dan awan panas Gunung Semeru. Letaknya yang dekat dengan puncak Gunung Semeru, membuat dusun ini masuk dalam wilayah zona kuning bencana yang mana warganya harus direlokasi.

Seorang warga Dusun Sumbersari, Desa Supit Urang, Kecamatan Pronojiwo Sulianto mengatakan, baru kali ini ia mengalami trauma yang begitu berat, meski Gunung Semeru telah beberapa kali erupsi dengan intensitas sedang.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMi8wOS8xLzE0MjYyOS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

&quot;Saya minta ke Pak Bupati, Pak Presiden saya dipindahkan saya terus terang takut tinggal di sini. Masih trauma betul kalau keingat kejadiannya,&quot; kata Sulianto, pemuda berusia 21 tahun ini.

Ia menyebutkan, saat itu dirinya memang tengah beraktivitas sebagai penambang pasir di Sungai Sumbersari tak jauh dari kediamannya. Beruntung sesaat sebelum kejadian guguran awan panas dan abu vulkanik itu ia berhasil pulang, serta menyelamatkan keluarganya yang masih bertahan di rumah.

&quot;Masih takut disini, kalau siang berani karena terang cuacanya, disini tinggal semua sekeluarga, paman keponakan di sini,&quot; tuturnya.

Di hari keenam ini ia masih tak menyangka kejadian letusan dashyat Gunung Semeru bakal meluluhlantakkan kampung halamannya. Mengingat selama ia 20 tahun tinggal di Dusun Sumbersari, tidak pernah mengalami letusan sedahsyat.

&quot;Kalau kemarin selamat semua. Lari semua waktu kejadian. Kalau saya  cari pasir di sana, waktu itu banjir lahar dulu, sebelum awannya dari  atas, 20 menit minta dijemput, saya samperin lihat gunungnya sudah tebal  abunya jam 12 kondisi masih aman saja,&quot; tambahnya

Hal serupa dikatakan Hadi Mulyanto, warga Desa Supit Urang yang  meminta segera dibuatkan hunian sementara agar tidak tinggal lebih lama  di posko pengungsian. Sebab dengan kondisi dirinya juga harus  menyelamatkan beberapa benda berharganya yang ada di rumah, yang dibawa  ke posko pengungsian.

&quot;Kalau bisa segera dicarikan tempat relokasi. Inginnya biar tidak  lama - lama di pengungsian, soalnya ya kalau di pengungsian juga gitu  tahu sendiri,&quot; katanya.

Namun pria berusia 58 tahun ini menuturkan, tak mungkin dirinya  membangun rumahnya yang luluhlantah imbas erupsi Gunung Semeru. Selain  karena lokasinya yang sangat dekat dengan aliran lahar Gunung Semeru.

&quot;Kalau rumah saya, saya bangun lagi juga nggak mungkin. Di sini  katanya terlalu bahaya, kalau dibangun juga mau uang darimana. Saya  sudah tidak punya apa - apa,&quot; beber pria yang berprofesi sebagai petani  ini.

Tetapi jika memang dipindahkan, ia berharap agar lokasi pemindahan  tak jauh - jauh dari tempat tinggalnya saat ini. Hal ini agar dirinya  bisa mengontrol lahan pertanian dan bercocok tanam kembali bila  dimungkinkan.

&quot;Direlokasi mau, kalau di sini juga nggak boleh mendirikan rumah lagi  di sini. Tapi ini belum ditentukan tempatnya, pengennya ya dekat -  dekat sini direlokasi. Kalau di sini bahaya aliran sungai nya untuk  lahar sudah terbuka,&quot; terangnya.

Bupati Lumajang Thoriqul Haq mengungkapkan, segera akan mencari  lokasi yang tepat beberapa dusun yang terdampak terparah erupsi Gunung  Semeru. Pihaknya tengah berpikir dan berbicara dengan sejumlah pihak  termasuk Perhutani, bila memungkinkan menggunakan lahan milik Perhutani.

Terlihat Thoriqul Haq, meninjau kembali beberapa titik di Desa Supit  Urang untuk melihat proses evakuasi korban yang masih terkubur. Cak  Thoriq, sapaan akrabnya juga meninjau beberapa alternatif lahan relokasi  untuk warga beberapa kampung, salah satunya Dusun Sumbersari, Desa  Supit Urang, Pronojiwo.

&quot;Ini tadi makanya melihat (di Dusun Supit Urang), di tempat salah   satu misalnya di Perhutani, di Oro - Oro Ombo,&quot; ucap Cak Thoriq, sapaan   akrabnya.

Sebelumnya diberitakan Gunung Semeru memuntahkan material vulkanik   berupa guguran awan panas dan abu vulkanik saat erupsi pada Sabtu 4   Desember 2021 sore.

Erupsi Gunung Semeru terjadi sekitar pukul 15.00 WIB, dimana awan   panas keluar disertai material vulkanik dimuntahkan mengarah ke Curah   Kobokan sejauh 10 - 11 kilometer dari kawah Gunung Semeru.

Catatan yang dihimpun Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi   (PVMBG), guguran lava pijar teramati dengan jarak luncur kurang lebih   500-800 meter dengan pusat guguran berada kurang lebih 500 meter di   bawah kawah.

Hingga Kamis sore 9 Desember 2021, Badan Nasional Penanggulangan   Bencana (BNPB) mencatat ada 43 warga meninggal dunia, sebanyak 104 orang   32 warga luka berat dan 82 warga luka sedang serta ringan, dimana   mayoritas mengalami luka bakar.

Para warga ini dirawat di empat fasilitas kesehatan di Kabupaten   Lumajang seperti RSUD dr. Haryoto, RS Bhayangkara Lumajang, RS Pasirian,   Puskesmas Penanggal, Puskesmas Candipuro, dan beberapa puskesmas   lainnya.</content:encoded></item></channel></rss>
