<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Catat! Bencana Gunung Semeru Bukan Erupsi tapi Awan Panas Guguran</title><description>Bencana yang sebenarnya terjadi yakni Awan Panas Guguran (APG).</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/12/13/337/2516037/catat-bencana-gunung-semeru-bukan-erupsi-tapi-awan-panas-guguran</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/12/13/337/2516037/catat-bencana-gunung-semeru-bukan-erupsi-tapi-awan-panas-guguran"/><item><title>Catat! Bencana Gunung Semeru Bukan Erupsi tapi Awan Panas Guguran</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/12/13/337/2516037/catat-bencana-gunung-semeru-bukan-erupsi-tapi-awan-panas-guguran</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/12/13/337/2516037/catat-bencana-gunung-semeru-bukan-erupsi-tapi-awan-panas-guguran</guid><pubDate>Senin 13 Desember 2021 08:09 WIB</pubDate><dc:creator>Lutfia Dwi Kurniasih</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/12/13/337/2516037/catat-bencana-gunung-semeru-bukan-erupsi-tapi-awan-panas-guguran-T3OpucGBY7.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kondisi Gunung Semeru saat Awan Panas Guguran (Foto: BNPB)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/12/13/337/2516037/catat-bencana-gunung-semeru-bukan-erupsi-tapi-awan-panas-guguran-T3OpucGBY7.jpg</image><title>Kondisi Gunung Semeru saat Awan Panas Guguran (Foto: BNPB)</title></images><description>JAKARTA - Bencana Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur disebut sebagai bencana erupsi yang telah beredar luas sejak Sabtu (4/12) lalu. Padahal hal tersebut merupakan istilah yang salah.

Bencana yang sebenarnya terjadi yakni Awan Panas Guguran (APG). Kabar tersebut juga sudah diluruskan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi PVMBG yang menyebut apa yang terjadi pada Gunung Semeru pada Sabtu (4/12/2021) lalu, bukanlah erupsi melainkan awan panas guguran (APG).

Istilah salah kaprah soal erupsi Gunung Semeru itu akhirnya mengundang kekhawatiran Ahli.

Ahli Geologi dan Vulkanologi, Surono dalam Special Dialogue Okezone mengatakan ia khawatir dengan istilah yang keliru soal bencana Awan Panas Guguran (APG) yang dianggap masyarakat sebagai bencana erupsi.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMi8xMy8xLzE0Mjc0OC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

&quot;Banyak istilah-istilah gunung api yang lahir dari Indonesia, tapi banyak juga kesalahan yang justru ditimbulkan oleh orang Indonesia. Kata lahar itu sudah menjadi kata-kata yang diadopsi secara internasional dan ilmiah internasional, tetapi di Indonesia membuat kesalahan dengan menyebut lahar dingin dan lahar panas. Tidak ada lahar dingin dan lahar panas adanya lahar hujan dan lahar letusan,&quot; ungkapnya dalam Special Dialogue Okezone memberikan contoh.

&quot;Termasuk juga Semeru &quot;Bencana Erupsi Gunung Semeru&quot; erupsi gunung Semeru itu baik-baik saja. Sedangkan muncul pertanyaan &quot;Bagaimana mengantisipasi erupsi Gunung Semeru?&quot; ya gaperlu diantisipasi wong erupsi Gunung Semeru ga ngapa-ngapain dari dulu, yang ngapa ngapain ya awan panas gugurannya itu,&quot; tegasnya.

Ia merasa khawatir apabila istilah erupsi terus didiskusikan dalam  bencana Gunung Semeru dan akan menjadi hal yang tidak baik apalagi bila  dipandang oleh negara lain.

&quot;Saya khawatir kalau yang didiskusikan erupsi ini diketawain oleh  orang luar negeri, kalau ini didengarkan. Negara yang paling banyak  gunung apinya dan beberapa tipe letusan gunung apinya telah diadopsi  secara akademis. Tapi semua masyarakatnya tidak tahu. Hampir semua media  mengatakan &quot;Bencana Erupsi Gunung Semeru&quot; pasti akan diterjemahkan  begitu yang ada diluar negeri atau yang tahu. &quot;Ini Indonesia yang paling  banyak gunung apinya istilahnya aja gatau&quot;. Terjadi yang benernya aja  gatau gitu loh, bagaimana kalau kita tidak tahu ancamannya bisa  mengantisipasi,&quot; katanya lebih lanjut.

Ia juga berharap media sebagai tuntunan seharusnya bisa mendidik  masyarakat dan jangan terus-menerus membiarkan informasi yang salah  terus diserap oleh masyarakat.

&quot;Media ini kan sebenarnya bukan hanya sebagai tontonan saja tapi  sebagai tuntunan, andaikan tuntunannya salah terus-menerus ya susah gitu  ya, bagaimana mendidikan masyarakat kecil untuk tahu, karena apabila  masyarakat tahu terbentuknya ancaman bahaya diharapkan tahu juga tata  cara mengantisipasi,&quot; tutupnya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Bencana Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur disebut sebagai bencana erupsi yang telah beredar luas sejak Sabtu (4/12) lalu. Padahal hal tersebut merupakan istilah yang salah.

Bencana yang sebenarnya terjadi yakni Awan Panas Guguran (APG). Kabar tersebut juga sudah diluruskan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi PVMBG yang menyebut apa yang terjadi pada Gunung Semeru pada Sabtu (4/12/2021) lalu, bukanlah erupsi melainkan awan panas guguran (APG).

Istilah salah kaprah soal erupsi Gunung Semeru itu akhirnya mengundang kekhawatiran Ahli.

Ahli Geologi dan Vulkanologi, Surono dalam Special Dialogue Okezone mengatakan ia khawatir dengan istilah yang keliru soal bencana Awan Panas Guguran (APG) yang dianggap masyarakat sebagai bencana erupsi.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMi8xMy8xLzE0Mjc0OC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

&quot;Banyak istilah-istilah gunung api yang lahir dari Indonesia, tapi banyak juga kesalahan yang justru ditimbulkan oleh orang Indonesia. Kata lahar itu sudah menjadi kata-kata yang diadopsi secara internasional dan ilmiah internasional, tetapi di Indonesia membuat kesalahan dengan menyebut lahar dingin dan lahar panas. Tidak ada lahar dingin dan lahar panas adanya lahar hujan dan lahar letusan,&quot; ungkapnya dalam Special Dialogue Okezone memberikan contoh.

&quot;Termasuk juga Semeru &quot;Bencana Erupsi Gunung Semeru&quot; erupsi gunung Semeru itu baik-baik saja. Sedangkan muncul pertanyaan &quot;Bagaimana mengantisipasi erupsi Gunung Semeru?&quot; ya gaperlu diantisipasi wong erupsi Gunung Semeru ga ngapa-ngapain dari dulu, yang ngapa ngapain ya awan panas gugurannya itu,&quot; tegasnya.

Ia merasa khawatir apabila istilah erupsi terus didiskusikan dalam  bencana Gunung Semeru dan akan menjadi hal yang tidak baik apalagi bila  dipandang oleh negara lain.

&quot;Saya khawatir kalau yang didiskusikan erupsi ini diketawain oleh  orang luar negeri, kalau ini didengarkan. Negara yang paling banyak  gunung apinya dan beberapa tipe letusan gunung apinya telah diadopsi  secara akademis. Tapi semua masyarakatnya tidak tahu. Hampir semua media  mengatakan &quot;Bencana Erupsi Gunung Semeru&quot; pasti akan diterjemahkan  begitu yang ada diluar negeri atau yang tahu. &quot;Ini Indonesia yang paling  banyak gunung apinya istilahnya aja gatau&quot;. Terjadi yang benernya aja  gatau gitu loh, bagaimana kalau kita tidak tahu ancamannya bisa  mengantisipasi,&quot; katanya lebih lanjut.

Ia juga berharap media sebagai tuntunan seharusnya bisa mendidik  masyarakat dan jangan terus-menerus membiarkan informasi yang salah  terus diserap oleh masyarakat.

&quot;Media ini kan sebenarnya bukan hanya sebagai tontonan saja tapi  sebagai tuntunan, andaikan tuntunannya salah terus-menerus ya susah gitu  ya, bagaimana mendidikan masyarakat kecil untuk tahu, karena apabila  masyarakat tahu terbentuknya ancaman bahaya diharapkan tahu juga tata  cara mengantisipasi,&quot; tutupnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
