<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Heboh Joki Vaksinasi Covid-19, Epidemiolog: Di Selandia Baru Juga Ada tapi Tak Sebanyak Ini</title><description>Kata Dicky Budiman menandakan ada yang salah dalam screening nya saat vaksinasi Covid-19.
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/12/22/337/2520943/heboh-joki-vaksinasi-covid-19-epidemiolog-di-selandia-baru-juga-ada-tapi-tak-sebanyak-ini</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/12/22/337/2520943/heboh-joki-vaksinasi-covid-19-epidemiolog-di-selandia-baru-juga-ada-tapi-tak-sebanyak-ini"/><item><title>Heboh Joki Vaksinasi Covid-19, Epidemiolog: Di Selandia Baru Juga Ada tapi Tak Sebanyak Ini</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/12/22/337/2520943/heboh-joki-vaksinasi-covid-19-epidemiolog-di-selandia-baru-juga-ada-tapi-tak-sebanyak-ini</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/12/22/337/2520943/heboh-joki-vaksinasi-covid-19-epidemiolog-di-selandia-baru-juga-ada-tapi-tak-sebanyak-ini</guid><pubDate>Rabu 22 Desember 2021 13:52 WIB</pubDate><dc:creator>Carlos Roy Fajarta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/12/22/337/2520943/heboh-joki-vaksinasi-covid-19-epidemiolog-di-selandia-baru-juga-ada-tapi-tak-sebanyak-ini-cHAnVdZeoo.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/12/22/337/2520943/heboh-joki-vaksinasi-covid-19-epidemiolog-di-selandia-baru-juga-ada-tapi-tak-sebanyak-ini-cHAnVdZeoo.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman menyebutkan terungkapnya kasus joki vaksinasi Covid-19 yang setidaknya sudah 17 kali mendapatkan dosis vaksinasi menandakan masih ada persoalan dalam hal literasi dan administrasi.

&quot;Ini calo vaksinasi Covid-19 juga terjadi di Selandia Baru tapi tidak sebanyak ini. Akan selalu ada potensi memanfaatkan sistem yang tidak sempurna dimanapun itu. Input ada ketidakpercayaan atau keengganan di-vaksin untuk mencari cara menghindari vaksin tapi bisa mendapatkan privilege sertifikat vaksinasi,&quot; ujar Dicky Budiman, Rabu (22/12/2021) ketika dikonfirmasi.

Ia menyebutkan pemerintah setempat dengan menggandeng tokoh agama dan tokoh masyarakat harus semakin meningkat literasi vaksin Covid-19 di daerah yang masih banyak ditemukan calo vaksin Covid-19 tersebut.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMi8yMC8xLzE0MzAxMS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

&quot;Artinya ada sistem yang memungkinkan. Padahal di Indonesia seharusnya lebih ketat dibandingkan di Australia. Di Australia walaupun database kuat, tapi ada hal-hal yang secara klarifikasi fisik tidak ada. Hanya melihat tanggal lahir saja,&quot; kata Dicky Budiman.

Padahal dikatakannya di Indonesia setidaknya ada dokumen Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang menjadi syarat verifikasi vaksinasi Covid-19.

&quot;Dengan cukup banyaknya syarat dokumen untuk melaksanakan vaksinasi Covid-19, seharusnya kasus calo ini bisa dicegah atau ditekan. Harus dicek kembali ini sistem administrasi dari petugas pelaksanaan vaksinasi Covid-19,&quot; tambah Dicky Budiman.

Apalagi calo vaksinasi tersebut dikatakannya telah melaksanakan kegiatan calo sebanyak 17 kali. Hal ini kata Dicky Budiman menandakan ada yang salah dalam screening nya saat vaksinasi Covid-19.

Terkait dampak kesehatan yang akan diakibatkan karena sudah menerima vaksinasi Covid-19 dalam jumlah besar, Dicky Budiman menyebutkan belum ada riset mengenai hal tersebut.

&quot;Ini membuktikan, memberikan literasi, bahwa vaksinasi itu bukan suatu zat berbahaya. Tetapi dampak jangka panjang jika berlebihan seperti itu belum ada riset yang mendukung dampaknya seperti apa,&quot; ucap Dicky Budiman.

Namun ia menyebutkan vaksinasi Covid-19 sudah dibuat sedemikian  mungkin agar tidak berdampak serius pada kesehatan individu yang  menerima suntikan vaksin.

&quot;Kalau dosis berlebihan bukan berarti dampaknya positif atau negatif.  Vaksinasi itu merupakan upaya untuk memperkenalkan antibodi tubuh  dengan virus yang sudah dilemahkan. Ini yang efek sampingnya minimal,&quot;  pungkas Dicky Budiman.

Sebagaimana diketahui sebelumnya, seorang joki vaksinasi Covid-19  bernama Abdul Rahim (49) mengaku sudah 17 kali mendapatkan suntikan  vaksinasi Covid-19 terdiri dari 15 kali suntik dosis pertama dan 2 kali  suntik dosis kedua di Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan  beberapa bulan terakhir.

Abdul Rahim mengaku mendapatkan upah sebesar Rp 80-800 ribu dari  pelanggan yang diwakilinya untuk divaksinasi. Hasil dari jasa calo  suntik vaksin Covid-19 tersebut ia pakai untuk memenuhi kebutuhan hidup  sehari-hari.


</description><content:encoded>JAKARTA - Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman menyebutkan terungkapnya kasus joki vaksinasi Covid-19 yang setidaknya sudah 17 kali mendapatkan dosis vaksinasi menandakan masih ada persoalan dalam hal literasi dan administrasi.

&quot;Ini calo vaksinasi Covid-19 juga terjadi di Selandia Baru tapi tidak sebanyak ini. Akan selalu ada potensi memanfaatkan sistem yang tidak sempurna dimanapun itu. Input ada ketidakpercayaan atau keengganan di-vaksin untuk mencari cara menghindari vaksin tapi bisa mendapatkan privilege sertifikat vaksinasi,&quot; ujar Dicky Budiman, Rabu (22/12/2021) ketika dikonfirmasi.

Ia menyebutkan pemerintah setempat dengan menggandeng tokoh agama dan tokoh masyarakat harus semakin meningkat literasi vaksin Covid-19 di daerah yang masih banyak ditemukan calo vaksin Covid-19 tersebut.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMi8yMC8xLzE0MzAxMS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

&quot;Artinya ada sistem yang memungkinkan. Padahal di Indonesia seharusnya lebih ketat dibandingkan di Australia. Di Australia walaupun database kuat, tapi ada hal-hal yang secara klarifikasi fisik tidak ada. Hanya melihat tanggal lahir saja,&quot; kata Dicky Budiman.

Padahal dikatakannya di Indonesia setidaknya ada dokumen Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang menjadi syarat verifikasi vaksinasi Covid-19.

&quot;Dengan cukup banyaknya syarat dokumen untuk melaksanakan vaksinasi Covid-19, seharusnya kasus calo ini bisa dicegah atau ditekan. Harus dicek kembali ini sistem administrasi dari petugas pelaksanaan vaksinasi Covid-19,&quot; tambah Dicky Budiman.

Apalagi calo vaksinasi tersebut dikatakannya telah melaksanakan kegiatan calo sebanyak 17 kali. Hal ini kata Dicky Budiman menandakan ada yang salah dalam screening nya saat vaksinasi Covid-19.

Terkait dampak kesehatan yang akan diakibatkan karena sudah menerima vaksinasi Covid-19 dalam jumlah besar, Dicky Budiman menyebutkan belum ada riset mengenai hal tersebut.

&quot;Ini membuktikan, memberikan literasi, bahwa vaksinasi itu bukan suatu zat berbahaya. Tetapi dampak jangka panjang jika berlebihan seperti itu belum ada riset yang mendukung dampaknya seperti apa,&quot; ucap Dicky Budiman.

Namun ia menyebutkan vaksinasi Covid-19 sudah dibuat sedemikian  mungkin agar tidak berdampak serius pada kesehatan individu yang  menerima suntikan vaksin.

&quot;Kalau dosis berlebihan bukan berarti dampaknya positif atau negatif.  Vaksinasi itu merupakan upaya untuk memperkenalkan antibodi tubuh  dengan virus yang sudah dilemahkan. Ini yang efek sampingnya minimal,&quot;  pungkas Dicky Budiman.

Sebagaimana diketahui sebelumnya, seorang joki vaksinasi Covid-19  bernama Abdul Rahim (49) mengaku sudah 17 kali mendapatkan suntikan  vaksinasi Covid-19 terdiri dari 15 kali suntik dosis pertama dan 2 kali  suntik dosis kedua di Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan  beberapa bulan terakhir.

Abdul Rahim mengaku mendapatkan upah sebesar Rp 80-800 ribu dari  pelanggan yang diwakilinya untuk divaksinasi. Hasil dari jasa calo  suntik vaksin Covid-19 tersebut ia pakai untuk memenuhi kebutuhan hidup  sehari-hari.


</content:encoded></item></channel></rss>
