<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Hukuman Mati di Kasus Asabri, TPDI Prediksi Hakim Bakal Tolak Tuntuan JPU</title><description>JPU menuntut Heru Hidayat dengan pasal dakwaan yang tidak terdapat dalam surat dakwaan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/12/22/337/2521194/hukuman-mati-di-kasus-asabri-tpdi-prediksi-hakim-bakal-tolak-tuntuan-jpu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/12/22/337/2521194/hukuman-mati-di-kasus-asabri-tpdi-prediksi-hakim-bakal-tolak-tuntuan-jpu"/><item><title>Hukuman Mati di Kasus Asabri, TPDI Prediksi Hakim Bakal Tolak Tuntuan JPU</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/12/22/337/2521194/hukuman-mati-di-kasus-asabri-tpdi-prediksi-hakim-bakal-tolak-tuntuan-jpu</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/12/22/337/2521194/hukuman-mati-di-kasus-asabri-tpdi-prediksi-hakim-bakal-tolak-tuntuan-jpu</guid><pubDate>Rabu 22 Desember 2021 23:00 WIB</pubDate><dc:creator>Arie Dwi Satrio</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/12/22/337/2521194/hukuman-mati-di-kasus-asabri-tpdi-prediksi-hakim-bakal-tolak-tuntuan-jpu-yGVdDPdo63.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/12/22/337/2521194/hukuman-mati-di-kasus-asabri-tpdi-prediksi-hakim-bakal-tolak-tuntuan-jpu-yGVdDPdo63.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Petrus Selestinus menilai Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak tepat menuntut terdakwa kasus dugaan korupsi Asabri Heru Hidayat dengan pidana hukuman mati.

Pasalnya, kata Petrus, JPU menuntut Heru Hidayat dengan pasal dakwaan yang tidak terdapat dalam surat dakwaan. Dia pun memprediksi kuat hakim akan menolak tuntutan JPU tersebut.

&amp;ldquo;Jaksa tidak boleh ngawur dan semena-mena dalam menuntut terdakwa termasuk dalam kasus Asabri. Mengapa, karena tuntutan jaksa tidak boleh keluar dari pasal dakwaan yang sudah dicantumkan dalam surat dakwaan. Begitu juga majelis hakim, hanya boleh membuat putusan sesuai dengan surat dakwaan&amp;rdquo; ujar Petrus kepada wartawan, Rabu (22/12/2021).

Petrus mengingatkan penting surat dakwaan dalam perkara apapun termasuk perkara korupsi karena surat dakwaan tersebut akan menjadi koridor dan dasar dalam proses-proses persidangan. Bahkan, kata dia, surat dakwaan menjadi dasar bagi hakim dalam memutuskan perkara. Karenanya, kata Petrus, sekarang JPU tidak perlu ngotot tuntut pidana mati Heru Hidayat karena sejak awal mereka tidak memasukan Pasal 2 ayat (2) UU Tipikor yang mengatur ancaman pidana mati, dalam surat dakwaan.

&amp;ldquo;Apalagi kalau jaksa membenarkan tuntutannya dengan menggunakan dalil putusan pengadilan yang sudah dibatalkan. Kalau pun ada satu dua putusan pengadilan memutuskan perkara di luar dakwaan, itu tidak bisa serta merta membenarkan apa yang ditutut jaksa dalam perkara Asabri karena aturannya sudah jelas, harus sesuai dengan surat dakwaan,&amp;rdquo; tandas Petrus.

Menurut Petrus, hakim bakal menolak tuntutan JPU terhadap Heru Hidayat dalam kasus Asabri karena hakim akan memutuskan perkara sesuai dengan koridor hukum yang secara jelas diatur dalam Pasal 182 ayat (4) KUHAP. Pasal ini menyebutkan musyawarah tersebut (majelis hakim) pada ayat (3) harus didasarkan atas surat dakwaan dan segala sesuatu yang terbukti dalam pemeriksaan di sidang.

&amp;ldquo;Dalam ketentuan Pasal 182 ayat (4) KUHAP ini, diatur &amp;lsquo;&amp;hellip; surat dakwaan DAN segala sesuatu yang terbukti dalam pemeriksaan di sidang&amp;rsquo;, jadi, kata penghubung yang dipakai adalah DAN bukan ATAU. Jadi, tuntutan jaksa atau putusan hakim tidak boleh keluar dari surat dakwaan dan fakta-fakta persidangan. Kalau pakai kata ATAU, maka hakim bisa memilih salah satunya, tetapi ini pakai kata DAN,&amp;rdquo; jelas Advokat Senior Peradi ini.

&amp;ldquo;Hal inilah yang membuat JPU diberikan kesempatan yang seluas-luasnya  memasukkan berbagai pasal, bisa dakwaan komulatif, alternatif,  kombinasi, dan lain-lain saat membuat dakwaan. Nah, pertanyaannya  mengapa tidak dilakukan sejak awal oleh JPU memasukkan pasal ancaman  pidana mati dalam kasus Asabri ini,&amp;rdquo; ungkap dia.

Lebih lanjut, Petrus mengakui bahwa pidana mati bisa diterapkan bagi  terdakwa yang melakukan  korupsi dalam keadaan tertentu (bencana  nasional, krisis moneter dan pengulangan tindak pidana) karena pidana  mati telah diatur dalam hukum positif, yakni Pasal 2 ayat (2) UU  Tipikor. Hanya saja, kata dia, penerapannya harus sesuai dengan aturan  yang berlaku, yakni harus masuk dalam surat dakwaan.

&amp;ldquo;Dulu kan juga ada kasus Tipikor dengan tuntutan JPU pidana mati,  yakni terhadap Dicky Iskandardinata, terdakwa pembobol bank BNI melalui  transaksi fiktif senilai Rp 1,7 triliun. Namun, tuntutan jaksa ditolak  majelis hakim karena pasal dakwaan hukum matinya tidak masuk dalam surat  dakwaan. Di tingkat kasasi, perkara ini diputuskan oleh majelis hakim  yang ketuanya adalah Alm. Artidjo Alkostar. Nah, ini hampir sama dengan  tuntutan pidana mati terhadap Heru Hidayat, yang pasal dakwaan terkait  ancaman pidana mati tidak masuk dalam surat dakwaan,&amp;rdquo; pungkas Petrus.

Diketahui, dalam kasus tipikor yang menjerat Dicky Iskandardinata,  JPU menuntut pidana mati terhadap Dicky atas pembobol bank BNI melalui  transaksi fiktif senilai Rp 1,7 triliun. Jaksa menuntut Dicky dengan  Pasal 2 ayat (2) UU Tipikor, namun pasal tersebut tidak masuk dalam  surat dakwaan. Hasilnya, tuntutan jaksa tersebut ditolak oleh majelis  hakim tingkat PN sampai kasasi dengan alasan putusan harus sesuai  dakwaan. Dicky pun diputuskan dengan pidana penjara 20 tahun dan  tambahan hukuman denda Rp 500 juta subsider 5 bulan kurungan.
</description><content:encoded>JAKARTA - Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Petrus Selestinus menilai Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak tepat menuntut terdakwa kasus dugaan korupsi Asabri Heru Hidayat dengan pidana hukuman mati.

Pasalnya, kata Petrus, JPU menuntut Heru Hidayat dengan pasal dakwaan yang tidak terdapat dalam surat dakwaan. Dia pun memprediksi kuat hakim akan menolak tuntutan JPU tersebut.

&amp;ldquo;Jaksa tidak boleh ngawur dan semena-mena dalam menuntut terdakwa termasuk dalam kasus Asabri. Mengapa, karena tuntutan jaksa tidak boleh keluar dari pasal dakwaan yang sudah dicantumkan dalam surat dakwaan. Begitu juga majelis hakim, hanya boleh membuat putusan sesuai dengan surat dakwaan&amp;rdquo; ujar Petrus kepada wartawan, Rabu (22/12/2021).

Petrus mengingatkan penting surat dakwaan dalam perkara apapun termasuk perkara korupsi karena surat dakwaan tersebut akan menjadi koridor dan dasar dalam proses-proses persidangan. Bahkan, kata dia, surat dakwaan menjadi dasar bagi hakim dalam memutuskan perkara. Karenanya, kata Petrus, sekarang JPU tidak perlu ngotot tuntut pidana mati Heru Hidayat karena sejak awal mereka tidak memasukan Pasal 2 ayat (2) UU Tipikor yang mengatur ancaman pidana mati, dalam surat dakwaan.

&amp;ldquo;Apalagi kalau jaksa membenarkan tuntutannya dengan menggunakan dalil putusan pengadilan yang sudah dibatalkan. Kalau pun ada satu dua putusan pengadilan memutuskan perkara di luar dakwaan, itu tidak bisa serta merta membenarkan apa yang ditutut jaksa dalam perkara Asabri karena aturannya sudah jelas, harus sesuai dengan surat dakwaan,&amp;rdquo; tandas Petrus.

Menurut Petrus, hakim bakal menolak tuntutan JPU terhadap Heru Hidayat dalam kasus Asabri karena hakim akan memutuskan perkara sesuai dengan koridor hukum yang secara jelas diatur dalam Pasal 182 ayat (4) KUHAP. Pasal ini menyebutkan musyawarah tersebut (majelis hakim) pada ayat (3) harus didasarkan atas surat dakwaan dan segala sesuatu yang terbukti dalam pemeriksaan di sidang.

&amp;ldquo;Dalam ketentuan Pasal 182 ayat (4) KUHAP ini, diatur &amp;lsquo;&amp;hellip; surat dakwaan DAN segala sesuatu yang terbukti dalam pemeriksaan di sidang&amp;rsquo;, jadi, kata penghubung yang dipakai adalah DAN bukan ATAU. Jadi, tuntutan jaksa atau putusan hakim tidak boleh keluar dari surat dakwaan dan fakta-fakta persidangan. Kalau pakai kata ATAU, maka hakim bisa memilih salah satunya, tetapi ini pakai kata DAN,&amp;rdquo; jelas Advokat Senior Peradi ini.

&amp;ldquo;Hal inilah yang membuat JPU diberikan kesempatan yang seluas-luasnya  memasukkan berbagai pasal, bisa dakwaan komulatif, alternatif,  kombinasi, dan lain-lain saat membuat dakwaan. Nah, pertanyaannya  mengapa tidak dilakukan sejak awal oleh JPU memasukkan pasal ancaman  pidana mati dalam kasus Asabri ini,&amp;rdquo; ungkap dia.

Lebih lanjut, Petrus mengakui bahwa pidana mati bisa diterapkan bagi  terdakwa yang melakukan  korupsi dalam keadaan tertentu (bencana  nasional, krisis moneter dan pengulangan tindak pidana) karena pidana  mati telah diatur dalam hukum positif, yakni Pasal 2 ayat (2) UU  Tipikor. Hanya saja, kata dia, penerapannya harus sesuai dengan aturan  yang berlaku, yakni harus masuk dalam surat dakwaan.

&amp;ldquo;Dulu kan juga ada kasus Tipikor dengan tuntutan JPU pidana mati,  yakni terhadap Dicky Iskandardinata, terdakwa pembobol bank BNI melalui  transaksi fiktif senilai Rp 1,7 triliun. Namun, tuntutan jaksa ditolak  majelis hakim karena pasal dakwaan hukum matinya tidak masuk dalam surat  dakwaan. Di tingkat kasasi, perkara ini diputuskan oleh majelis hakim  yang ketuanya adalah Alm. Artidjo Alkostar. Nah, ini hampir sama dengan  tuntutan pidana mati terhadap Heru Hidayat, yang pasal dakwaan terkait  ancaman pidana mati tidak masuk dalam surat dakwaan,&amp;rdquo; pungkas Petrus.

Diketahui, dalam kasus tipikor yang menjerat Dicky Iskandardinata,  JPU menuntut pidana mati terhadap Dicky atas pembobol bank BNI melalui  transaksi fiktif senilai Rp 1,7 triliun. Jaksa menuntut Dicky dengan  Pasal 2 ayat (2) UU Tipikor, namun pasal tersebut tidak masuk dalam  surat dakwaan. Hasilnya, tuntutan jaksa tersebut ditolak oleh majelis  hakim tingkat PN sampai kasasi dengan alasan putusan harus sesuai  dakwaan. Dicky pun diputuskan dengan pidana penjara 20 tahun dan  tambahan hukuman denda Rp 500 juta subsider 5 bulan kurungan.
</content:encoded></item></channel></rss>
