<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Klaim Zero Kasus Covid-19 Korea Utara Belum Lepas dari Krisis, Ada Apa?</title><description>Lockdown total diberlakukan sejak 25 Januari 2020 tidak lama setelah virus corona mewabah di Wuhan, Tiongkok.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/12/24/337/2522304/klaim-zero-kasus-covid-19-korea-utara-belum-lepas-dari-krisis-ada-apa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/12/24/337/2522304/klaim-zero-kasus-covid-19-korea-utara-belum-lepas-dari-krisis-ada-apa"/><item><title>Klaim Zero Kasus Covid-19 Korea Utara Belum Lepas dari Krisis, Ada Apa?</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/12/24/337/2522304/klaim-zero-kasus-covid-19-korea-utara-belum-lepas-dari-krisis-ada-apa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/12/24/337/2522304/klaim-zero-kasus-covid-19-korea-utara-belum-lepas-dari-krisis-ada-apa</guid><pubDate>Jum'at 24 Desember 2021 21:58 WIB</pubDate><dc:creator>Opini</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/12/24/337/2522304/klaim-zero-kasus-covid-19-korea-utara-belum-lepas-dari-krisis-ada-apa-IhNi9S8z3E.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kim Jong Un (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/12/24/337/2522304/klaim-zero-kasus-covid-19-korea-utara-belum-lepas-dari-krisis-ada-apa-IhNi9S8z3E.jpg</image><title>Kim Jong Un (Foto: Ist)</title></images><description>KOREA Utara adalah satu di antara sedikit negara yang memberlakukan lockdown total dan superketat dalam menghadapi penyebaran pandemi Covid-19. Di saat negara-negara lain di hampir semua belahan bumi berkomitmen bahwa wabah mematikan ini tidak dapat dihadapi dengan berjalan sendiri, Korea Utara justru tetap dalam keputusannya, menghadapi endemi di negaranya dengan mengisolasi diri.

Korea Utara atau Democratic People's Republic of Korea (DPRK) sebuah negara kecil di Kawasan Asia Timur yang selama beberapa dekade tetap berkomitmen mempertahankan kepemilikan senjata nuklir pemusnah massal meski dikecam dunia internasional.

Lockdown total diberlakukan sejak 25 Januari 2020 tidak lama setelah virus corona mewabah di Wuhan, Tiongkok. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk mempertahankan diri dari serangan virus yang telah menewaskan lebih dari 5 juta penduduk dunia tersebut.

Bukan tanpa sebab, jika negara berhaluan komunis ini  disebut sebagai negara yang menerapkan lockdown super ketat di dunia.Hal itu lantaran dilihat dari berbagai kebijakan yang diambil pemerintahnya.

Semua moda transportasi darat, laut dan udara ditutup. Oritas negara ini juga melakukan karantina bagi warga negara maupun warga asing yang baru bepergian dari luar negeri. Karantina bahkan dipusatkan di suatu tempat yang diawasi secara ketat.

Pergerakan setiap orang dilakukan secara ketat bahkan tidak segan untuk menembak siapa saja yang berusaha meninggalkan wilayah negara itu.

Selain itu, protokol kesehatan diberlakukan bagi warga dalam beraktivitas sehari-hari seperti menggunakan masker, deteksi suhu tubuh dan hand sanitizer hingga melarang adanya kerumunan orang.

Kebijakan penting yang dikendalikan langsung dari pusat hingga satuan wilayah terkecil di masyarakat juga turut diberlakukan.

Kebijakan itu antara lain dengan sigap membentuk Komite Kesehatan Rakyat Pusat atau Central People&amp;rsquo;s Committee for Health (CPCH) yang langsung dikendalikan secara terpusat dan terintegarsi oleh pemerintah pusat serta dan mendirikan pusat komando darurat untuk tanggap epidemi (ECCER) di tingkat provinsi, kabupaten, hingga wilayah paling bawah.

Dilansir dari jurnal yang dirilis oleh Department of Preventive  Medicine, Hanyang University School of Medicine, Seoul, Ada tiga fase  yang dilakukan Korea Utara dalam menangkis pandemi di negaranya yaitu :

Fase pertama berlangsung ketika respons awal pandemi yaitu antara  Januari hingga Februari 2020 yang ditandai dengan penangguhan pariwisata  asing, transisi kedalam kondisi darurat nasional, penutupan perbatasan,  menarik personel dari kantor penghubung antar Korea, pembentukan  Central People&amp;rsquo;s Committee for Health (CPCH),  hingga perpanjangan masa  karantina dari semua warga yang baru tiba dari luar negeri dari 14 hari  menjadi 30 hari penuh.

Pada fase ini Korea Utara juga mengintruksikan semua diplomat negara  yang memiliki kantor perwakilan, kedutaan maupun konsulat jendral untuk  meninggalkan Korea Utara, termasuk para diplomat Indonesia dari Kedutaan  RI untuk Korut di Pyongyang.

Berikutnya adalah fase kedua atau disebut juga fase mitigasi parsial  yang berlangsung pada Maret hingga September 2020 dengan mengeluarkan  berbagai kebijakan. Namun yang paling signifikan adalah kebijakan  memblokir seluruh wilayah Kaesong dan menyatakan &quot;darurat maksimum&quot;  dengan menerapkan Level khusus, Level 2 dengan memperketat pengawasan  setelah seorang pembelot Korea Utara secara ilegal melintasi DMZ  dan  kembali ke Kaesong Korea Utara. Fase ketiga adalah fase manajemen  melalui pengujian intensif dan penetapan Level Super-spesial yang  berlangsung sejak 3 Desember 2020 hingga saat ini.

Dengan sistem isolasi yang sangat ketat tersebut itulah kemudian  Korea Utara dalam laporannya kepada WHO pada 23 September 2021  menyatakan bahwa tidak satupun dari total 25.778.816 jiwa penduduknya  terkonfirmasi kasus virus Covid-19.

Negara yang terletak di semenanjung Korea kawasan Asia Timur ini juga  melaporkan kepada WHO bahwa mereka telah melakukan test kepada 40.700  orang dan hasilnya semua negatif. Test virus corona itu juga termasuk  dilakukan kepada 94 orang yang mengalami influenza atau gejala lain dan  573 petugas medis.

Namun, banyak ahli yang meragukan laporan tersebut. Keraguan itu   didasari oleh kondisi rendahnya kualitas sistem kesehatan dan  kurangnya   pasokan medis yang kronis dalam menangani epidemi. Bahkan situasi ini,   justru dapat menimbulkan akibat fatal sekaligus mengkhawatirkan.   Keraguan lainnya muncul lantaran eratnya hubungan Korea Utara dengan   Tiongkok, negara yang disebut sebagai asal munculnya virus corona.

Meski mengklaim zero kasus terkonfirmasi Covid-19, tidak membuat   Korea Utara luput dari masalah serius. Kebijakan menutup diri secara   total ditambah situasi sulit akibat pandemi secara global serta sanksi   ekonomi internasional membuat negara ini justru kian terpuruk dengan   adanya ancaman kelaparan hebat. Sehingga bukan ancaman Covid-19 akan   tetapi bahaya kelaparan akibat terisolasi pun menjadi ancaman yang lebih   mengerikan.

Apalagi, jauh sebelum pandemi pun, seperti dikutip dari Asia and the   Pacific Regional Overview of Food Security and Nutrition 2020 yang   dirilis WFP, FAO, UNICEF and WHO pada 2021, negara yang berada di   Semenanjung Korea ini kerap dilanda isu kelaparan, namun sikap menutup   diri terhadap dunia luar sudah terlanjur menjadi pilihan.

Penyelidik Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan ancaman krisis   pangan dan kelaparan yang dihadapi warga Korea Utara. Anak-anak dan kaum   lanjut usia paling rentan kelaparan. Banyak keluarga di Korea Utara   bahkan tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Korea   membutuhkan setidaknya 1 juta ton beras untuk memasok kebutuhan pangan   warga negaranya.

Tomas Oeja Quintana, Utusan Khusus PBB yang ditugaskan mengawasi   situasi hak asasi manusia di Korea Utara, dalam laporan kepada Majelis   Umum PBB, pada Oktober 2021 menyebutkan bahwa tekanan berat dialami   sektor pertanian Korea Utara sehingga berdampak terhadap penurunan   produksi pangan.

Sektor tanaman pangan ikut terdampak penurunan impor pupuk dan barang   pertanian lain dari Tiongkok karena sanksi PBB dan komunitas   internasional terkait dengan program nuklir.

Situasi yang sulit membuat Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un bahkan   sempat menangis dan menyampaikan permintaan maaf kepada ribuan   pendukungnya. &quot;Rakyat  kita menaruh kepercayaan setinggi langit dan   sedalam laut pada saya, tetapi saya telah gagal untuk selalu memenuhinya   dengan memuaskan. Saya benar-benar minta maaf untuk itu.&amp;rdquo; tutur Kim   Jong-un sambil menyeka air mata. Sebuah kesempatan yang menurut pengamat   sebagai sebuah peristiwa langka.

Pengakuan kegagalan menanggulangi endemi Covid-19 itu disampaikannya   dalam pidato resmi saat menghadiri ulang tahun partai buruh yang ke-75   tahun sebagaimana dipublikasikan oleh kantor berita resmi Korea Utara   KCNA pada 12 Oktober 2020.

Para pengamat berpendapat bahwa pidato emosional menunjukkan Kim    merasakan tekanan pada kepemimpinannya terkait dengan Covid-19 dan    sanksi nuklir. Korea Utara memang menjalin hubungan perdagangan dengan    Tiongkok namun volume transaksi perdagangan dengan mitra ekonomi    terbesarnya ini  jatuh secara dramatis sejak Korea Utara mengeluarkan    kbijakan penutupan perbatasan sebagai aksi tanggap terhadap pandemi,    meskipun Pyongyang bersikeras belum mencatat satu pun kasus virus.

Selain bencana non alam seperti Covid-19, seprti dikutip dari laporan    media resmi pemerintah Korea, KCNA badai topan Maysak ke-9 di negara    itu telah menyebabkan kondisi darurat, melumpuhkan sistem transportasi    dan menghancurkan lebih dari 2.000 rumah, membuat banjir  gedung-gedung   dan jalan-jalan umum dan menyebabkan runtuhnya 59  jembatan. Bencana alam    yang berlangsung pada pada September 2020 itu  terus berdampak hingga   saat ini memperburuk situasi akibat kebijakan  lockdown ketat yang   dilakukan Korea Utara.

Meski dalam kondisi terhimpit, Korea Utara tetap tegas menolak    bantuan vaksin dari PBB dan COVAC asosiasi produsen vaksin dan juga    negara-negara lainnya. Korea Utara menyatakan keraguan atas keampuhan    vaksinasi Covid-19 seiring dengan banyaknya lapor di AS dan Eropa di    mana individu memiliki reaksi negatif terhadap suntikan vaksinasi virus    corona.

Pada Juli 2021, Korea Utara menolak pengiriman sekitar dua juta dosis    suntikan AstraZeneca dari Inggris, dengan alasan kekhawatiran atas    potensi efek samping, sebuah think-tank Korea Selatan yang terkait    dengan dinas intelijen negara itu mengatakan. Penolakan juga disampaikan    oleh Korea Utara ketika Rusia bermaksud mengulurkan bantuan vaksin    Sputnik yang diproduksinya.

Edwin Salvador, perwakilan WHO untuk Korea Utara mengatakan sudah    mulai mengirimkan bantuan dan pasokan medis Covid-19 melalui pelabuhan    Dalian, Tiongkok pada 7 Oktober 2021. Dikutip dari Reuters, WHO tidak    langsung mengirimkan bantuan ke Korea Utara secara langsung dan    sebagaimana diketahui Tiongkok merupakan sekutu tradisional yang setia    bagi Korea Utara.

Sulitnya akses bagi PBB menembus Korea Utara menyebabkan PBB    mmasukkan Korea Utara dari daftar negara penerima bantuan Korea Utara    juga tidak dapat menerima bantuan kemanusiaan dari Perserikatan    Bangsa-Bangsa pada tahun depan. Pejabat PBB mengaku sulit melakukan    pemeriksaan lapangan dan pengelolaan serta pengawasan proyek karena    sikap menutup diri Korea Utara.

Sikap kemandirian Korea Utara tidak lepas dari Ideologi Juche yang     telah ditanamkan oleh founding father Korea Utara Kim II Sung kepada    jiwa rakyat Korea Utara sejak Kim Il Sung sejak era 1950-an. Juche bagi    rakyat Korea Utara merupakan wujud dari sosialisme nasionalis khas   Korea  Utara yang berjuang untuk mencapai kemerdekaan dan self-reliance   di  bidang politik, ekonomi dan keamanan. Dalam menerapkan kepemimpinan   di  negara ini, bahwa Juche sangat penting untuk hubungan luar negeri   dan  merupakan pembenaran untuk semua kebijakan yang diambil. Ideologi   Juche  sendiri secara konseptual mengandung pengertian yaitu otonom dan    independen (Self Reliance)  ideologi ini dipopulerkan pertama kali  oleh   Kim II Sung pada tahun 1955.

Melakukan lockdown total sebagai tindakan pengamanan dan penyelamatan     terhadap warga negaranya, Pemerintah Korea Utara tentunya tetap     membutuhkan bantuan negara lain. Tiongkok bersama sekutu tradisionalnya     Rusia, sebenarnya telah menunjukkan perhatian terhadap Korut dengan     mengusulkan agar Dewan Keamanan  PBB yang memiliki anggota 15 negara     segera mencabut sanksi terhadap Korea Utara.

Hal itu bertujuan untuk meningkatkan mata pencaharian warga negara     Korea Utara yang selaama ini terisolasi. Kedua negara tersebut juga     mendesak agar Korea Utara diizinkan mengimpor minyak olahan. Selan itu     agar larangan ekspor makanan laut, patung, dan tekstil dari Korea  Utara    yang diberlakukan PBB sejak 2019, dicabut.

Namun, Korea Utara sendiri tetap bersikeras dengan kepemilikan senjata nuklir meskipun harus menghadapi sanksi internasional.

Sejarah suram masa lalu perang Korea yang berlangsung pada 1950     sampai dengan 1953 telah meninggalkan pengalaman suram yang tidak     terlupakan bagi negara ini. Amerika Serika yang mendukung Korea Selatan     waktu itu membombardir Korea Utara dengan sekitar 635.000 ton bom.     Jumlah ini bahkan lebih banyak dari bom yang dijatuhkan pasukan tentara     Amerika Serikat di kawasan Pasifik selama Perang Dunia II. Jumlah  itu    termasuk napalm sebanyak 32.000 ton

Korea Utara, yang saat itu berpenduduk 9,6 juta jiwa harus kehilangan     1,3 juta warga sipil dan tentara dalam perang horizontal  tersebut.     Sementara itu, Korea Selatan kehilangan lebih dari 3 juta warga sipil     dan 225.000 tentara dari total populasi 20,2 juta pada tahun 1950.

Kerugian yang diderita akibat Perang Korea itulah menjadikan Korea     Utara menjadi salah satu negara yang memiliki persenjataan nuklir     sebagai sebuah kebijakan untuk membela diri (self defense). Kebijakan     itu tetap dipertahankan hingga kini meski mendapatkan sanksi ekonomi  dai    AS dan PBB dan kian diperparah akibat terdampak pandemi Covid-19    secara  global. Yaomi Suhayatmi


Penulis: Yaomi Suhayatmi</description><content:encoded>KOREA Utara adalah satu di antara sedikit negara yang memberlakukan lockdown total dan superketat dalam menghadapi penyebaran pandemi Covid-19. Di saat negara-negara lain di hampir semua belahan bumi berkomitmen bahwa wabah mematikan ini tidak dapat dihadapi dengan berjalan sendiri, Korea Utara justru tetap dalam keputusannya, menghadapi endemi di negaranya dengan mengisolasi diri.

Korea Utara atau Democratic People's Republic of Korea (DPRK) sebuah negara kecil di Kawasan Asia Timur yang selama beberapa dekade tetap berkomitmen mempertahankan kepemilikan senjata nuklir pemusnah massal meski dikecam dunia internasional.

Lockdown total diberlakukan sejak 25 Januari 2020 tidak lama setelah virus corona mewabah di Wuhan, Tiongkok. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk mempertahankan diri dari serangan virus yang telah menewaskan lebih dari 5 juta penduduk dunia tersebut.

Bukan tanpa sebab, jika negara berhaluan komunis ini  disebut sebagai negara yang menerapkan lockdown super ketat di dunia.Hal itu lantaran dilihat dari berbagai kebijakan yang diambil pemerintahnya.

Semua moda transportasi darat, laut dan udara ditutup. Oritas negara ini juga melakukan karantina bagi warga negara maupun warga asing yang baru bepergian dari luar negeri. Karantina bahkan dipusatkan di suatu tempat yang diawasi secara ketat.

Pergerakan setiap orang dilakukan secara ketat bahkan tidak segan untuk menembak siapa saja yang berusaha meninggalkan wilayah negara itu.

Selain itu, protokol kesehatan diberlakukan bagi warga dalam beraktivitas sehari-hari seperti menggunakan masker, deteksi suhu tubuh dan hand sanitizer hingga melarang adanya kerumunan orang.

Kebijakan penting yang dikendalikan langsung dari pusat hingga satuan wilayah terkecil di masyarakat juga turut diberlakukan.

Kebijakan itu antara lain dengan sigap membentuk Komite Kesehatan Rakyat Pusat atau Central People&amp;rsquo;s Committee for Health (CPCH) yang langsung dikendalikan secara terpusat dan terintegarsi oleh pemerintah pusat serta dan mendirikan pusat komando darurat untuk tanggap epidemi (ECCER) di tingkat provinsi, kabupaten, hingga wilayah paling bawah.

Dilansir dari jurnal yang dirilis oleh Department of Preventive  Medicine, Hanyang University School of Medicine, Seoul, Ada tiga fase  yang dilakukan Korea Utara dalam menangkis pandemi di negaranya yaitu :

Fase pertama berlangsung ketika respons awal pandemi yaitu antara  Januari hingga Februari 2020 yang ditandai dengan penangguhan pariwisata  asing, transisi kedalam kondisi darurat nasional, penutupan perbatasan,  menarik personel dari kantor penghubung antar Korea, pembentukan  Central People&amp;rsquo;s Committee for Health (CPCH),  hingga perpanjangan masa  karantina dari semua warga yang baru tiba dari luar negeri dari 14 hari  menjadi 30 hari penuh.

Pada fase ini Korea Utara juga mengintruksikan semua diplomat negara  yang memiliki kantor perwakilan, kedutaan maupun konsulat jendral untuk  meninggalkan Korea Utara, termasuk para diplomat Indonesia dari Kedutaan  RI untuk Korut di Pyongyang.

Berikutnya adalah fase kedua atau disebut juga fase mitigasi parsial  yang berlangsung pada Maret hingga September 2020 dengan mengeluarkan  berbagai kebijakan. Namun yang paling signifikan adalah kebijakan  memblokir seluruh wilayah Kaesong dan menyatakan &quot;darurat maksimum&quot;  dengan menerapkan Level khusus, Level 2 dengan memperketat pengawasan  setelah seorang pembelot Korea Utara secara ilegal melintasi DMZ  dan  kembali ke Kaesong Korea Utara. Fase ketiga adalah fase manajemen  melalui pengujian intensif dan penetapan Level Super-spesial yang  berlangsung sejak 3 Desember 2020 hingga saat ini.

Dengan sistem isolasi yang sangat ketat tersebut itulah kemudian  Korea Utara dalam laporannya kepada WHO pada 23 September 2021  menyatakan bahwa tidak satupun dari total 25.778.816 jiwa penduduknya  terkonfirmasi kasus virus Covid-19.

Negara yang terletak di semenanjung Korea kawasan Asia Timur ini juga  melaporkan kepada WHO bahwa mereka telah melakukan test kepada 40.700  orang dan hasilnya semua negatif. Test virus corona itu juga termasuk  dilakukan kepada 94 orang yang mengalami influenza atau gejala lain dan  573 petugas medis.

Namun, banyak ahli yang meragukan laporan tersebut. Keraguan itu   didasari oleh kondisi rendahnya kualitas sistem kesehatan dan  kurangnya   pasokan medis yang kronis dalam menangani epidemi. Bahkan situasi ini,   justru dapat menimbulkan akibat fatal sekaligus mengkhawatirkan.   Keraguan lainnya muncul lantaran eratnya hubungan Korea Utara dengan   Tiongkok, negara yang disebut sebagai asal munculnya virus corona.

Meski mengklaim zero kasus terkonfirmasi Covid-19, tidak membuat   Korea Utara luput dari masalah serius. Kebijakan menutup diri secara   total ditambah situasi sulit akibat pandemi secara global serta sanksi   ekonomi internasional membuat negara ini justru kian terpuruk dengan   adanya ancaman kelaparan hebat. Sehingga bukan ancaman Covid-19 akan   tetapi bahaya kelaparan akibat terisolasi pun menjadi ancaman yang lebih   mengerikan.

Apalagi, jauh sebelum pandemi pun, seperti dikutip dari Asia and the   Pacific Regional Overview of Food Security and Nutrition 2020 yang   dirilis WFP, FAO, UNICEF and WHO pada 2021, negara yang berada di   Semenanjung Korea ini kerap dilanda isu kelaparan, namun sikap menutup   diri terhadap dunia luar sudah terlanjur menjadi pilihan.

Penyelidik Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan ancaman krisis   pangan dan kelaparan yang dihadapi warga Korea Utara. Anak-anak dan kaum   lanjut usia paling rentan kelaparan. Banyak keluarga di Korea Utara   bahkan tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Korea   membutuhkan setidaknya 1 juta ton beras untuk memasok kebutuhan pangan   warga negaranya.

Tomas Oeja Quintana, Utusan Khusus PBB yang ditugaskan mengawasi   situasi hak asasi manusia di Korea Utara, dalam laporan kepada Majelis   Umum PBB, pada Oktober 2021 menyebutkan bahwa tekanan berat dialami   sektor pertanian Korea Utara sehingga berdampak terhadap penurunan   produksi pangan.

Sektor tanaman pangan ikut terdampak penurunan impor pupuk dan barang   pertanian lain dari Tiongkok karena sanksi PBB dan komunitas   internasional terkait dengan program nuklir.

Situasi yang sulit membuat Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un bahkan   sempat menangis dan menyampaikan permintaan maaf kepada ribuan   pendukungnya. &quot;Rakyat  kita menaruh kepercayaan setinggi langit dan   sedalam laut pada saya, tetapi saya telah gagal untuk selalu memenuhinya   dengan memuaskan. Saya benar-benar minta maaf untuk itu.&amp;rdquo; tutur Kim   Jong-un sambil menyeka air mata. Sebuah kesempatan yang menurut pengamat   sebagai sebuah peristiwa langka.

Pengakuan kegagalan menanggulangi endemi Covid-19 itu disampaikannya   dalam pidato resmi saat menghadiri ulang tahun partai buruh yang ke-75   tahun sebagaimana dipublikasikan oleh kantor berita resmi Korea Utara   KCNA pada 12 Oktober 2020.

Para pengamat berpendapat bahwa pidato emosional menunjukkan Kim    merasakan tekanan pada kepemimpinannya terkait dengan Covid-19 dan    sanksi nuklir. Korea Utara memang menjalin hubungan perdagangan dengan    Tiongkok namun volume transaksi perdagangan dengan mitra ekonomi    terbesarnya ini  jatuh secara dramatis sejak Korea Utara mengeluarkan    kbijakan penutupan perbatasan sebagai aksi tanggap terhadap pandemi,    meskipun Pyongyang bersikeras belum mencatat satu pun kasus virus.

Selain bencana non alam seperti Covid-19, seprti dikutip dari laporan    media resmi pemerintah Korea, KCNA badai topan Maysak ke-9 di negara    itu telah menyebabkan kondisi darurat, melumpuhkan sistem transportasi    dan menghancurkan lebih dari 2.000 rumah, membuat banjir  gedung-gedung   dan jalan-jalan umum dan menyebabkan runtuhnya 59  jembatan. Bencana alam    yang berlangsung pada pada September 2020 itu  terus berdampak hingga   saat ini memperburuk situasi akibat kebijakan  lockdown ketat yang   dilakukan Korea Utara.

Meski dalam kondisi terhimpit, Korea Utara tetap tegas menolak    bantuan vaksin dari PBB dan COVAC asosiasi produsen vaksin dan juga    negara-negara lainnya. Korea Utara menyatakan keraguan atas keampuhan    vaksinasi Covid-19 seiring dengan banyaknya lapor di AS dan Eropa di    mana individu memiliki reaksi negatif terhadap suntikan vaksinasi virus    corona.

Pada Juli 2021, Korea Utara menolak pengiriman sekitar dua juta dosis    suntikan AstraZeneca dari Inggris, dengan alasan kekhawatiran atas    potensi efek samping, sebuah think-tank Korea Selatan yang terkait    dengan dinas intelijen negara itu mengatakan. Penolakan juga disampaikan    oleh Korea Utara ketika Rusia bermaksud mengulurkan bantuan vaksin    Sputnik yang diproduksinya.

Edwin Salvador, perwakilan WHO untuk Korea Utara mengatakan sudah    mulai mengirimkan bantuan dan pasokan medis Covid-19 melalui pelabuhan    Dalian, Tiongkok pada 7 Oktober 2021. Dikutip dari Reuters, WHO tidak    langsung mengirimkan bantuan ke Korea Utara secara langsung dan    sebagaimana diketahui Tiongkok merupakan sekutu tradisional yang setia    bagi Korea Utara.

Sulitnya akses bagi PBB menembus Korea Utara menyebabkan PBB    mmasukkan Korea Utara dari daftar negara penerima bantuan Korea Utara    juga tidak dapat menerima bantuan kemanusiaan dari Perserikatan    Bangsa-Bangsa pada tahun depan. Pejabat PBB mengaku sulit melakukan    pemeriksaan lapangan dan pengelolaan serta pengawasan proyek karena    sikap menutup diri Korea Utara.

Sikap kemandirian Korea Utara tidak lepas dari Ideologi Juche yang     telah ditanamkan oleh founding father Korea Utara Kim II Sung kepada    jiwa rakyat Korea Utara sejak Kim Il Sung sejak era 1950-an. Juche bagi    rakyat Korea Utara merupakan wujud dari sosialisme nasionalis khas   Korea  Utara yang berjuang untuk mencapai kemerdekaan dan self-reliance   di  bidang politik, ekonomi dan keamanan. Dalam menerapkan kepemimpinan   di  negara ini, bahwa Juche sangat penting untuk hubungan luar negeri   dan  merupakan pembenaran untuk semua kebijakan yang diambil. Ideologi   Juche  sendiri secara konseptual mengandung pengertian yaitu otonom dan    independen (Self Reliance)  ideologi ini dipopulerkan pertama kali  oleh   Kim II Sung pada tahun 1955.

Melakukan lockdown total sebagai tindakan pengamanan dan penyelamatan     terhadap warga negaranya, Pemerintah Korea Utara tentunya tetap     membutuhkan bantuan negara lain. Tiongkok bersama sekutu tradisionalnya     Rusia, sebenarnya telah menunjukkan perhatian terhadap Korut dengan     mengusulkan agar Dewan Keamanan  PBB yang memiliki anggota 15 negara     segera mencabut sanksi terhadap Korea Utara.

Hal itu bertujuan untuk meningkatkan mata pencaharian warga negara     Korea Utara yang selaama ini terisolasi. Kedua negara tersebut juga     mendesak agar Korea Utara diizinkan mengimpor minyak olahan. Selan itu     agar larangan ekspor makanan laut, patung, dan tekstil dari Korea  Utara    yang diberlakukan PBB sejak 2019, dicabut.

Namun, Korea Utara sendiri tetap bersikeras dengan kepemilikan senjata nuklir meskipun harus menghadapi sanksi internasional.

Sejarah suram masa lalu perang Korea yang berlangsung pada 1950     sampai dengan 1953 telah meninggalkan pengalaman suram yang tidak     terlupakan bagi negara ini. Amerika Serika yang mendukung Korea Selatan     waktu itu membombardir Korea Utara dengan sekitar 635.000 ton bom.     Jumlah ini bahkan lebih banyak dari bom yang dijatuhkan pasukan tentara     Amerika Serikat di kawasan Pasifik selama Perang Dunia II. Jumlah  itu    termasuk napalm sebanyak 32.000 ton

Korea Utara, yang saat itu berpenduduk 9,6 juta jiwa harus kehilangan     1,3 juta warga sipil dan tentara dalam perang horizontal  tersebut.     Sementara itu, Korea Selatan kehilangan lebih dari 3 juta warga sipil     dan 225.000 tentara dari total populasi 20,2 juta pada tahun 1950.

Kerugian yang diderita akibat Perang Korea itulah menjadikan Korea     Utara menjadi salah satu negara yang memiliki persenjataan nuklir     sebagai sebuah kebijakan untuk membela diri (self defense). Kebijakan     itu tetap dipertahankan hingga kini meski mendapatkan sanksi ekonomi  dai    AS dan PBB dan kian diperparah akibat terdampak pandemi Covid-19    secara  global. Yaomi Suhayatmi


Penulis: Yaomi Suhayatmi</content:encoded></item></channel></rss>
