<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Gus Yahya Awal Mula Jadi Kader NU, Diajak Ayah dan Bertemu Langsung Gus Dur</title><description>KH Yahya Cholil Stafuq resmi terpilih sebagai Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2021-2026.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/12/25/337/2522367/cerita-gus-yahya-awal-mula-jadi-kader-nu-diajak-ayah-dan-bertemu-langsung-gus-dur</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/12/25/337/2522367/cerita-gus-yahya-awal-mula-jadi-kader-nu-diajak-ayah-dan-bertemu-langsung-gus-dur"/><item><title>Cerita Gus Yahya Awal Mula Jadi Kader NU, Diajak Ayah dan Bertemu Langsung Gus Dur</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/12/25/337/2522367/cerita-gus-yahya-awal-mula-jadi-kader-nu-diajak-ayah-dan-bertemu-langsung-gus-dur</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/12/25/337/2522367/cerita-gus-yahya-awal-mula-jadi-kader-nu-diajak-ayah-dan-bertemu-langsung-gus-dur</guid><pubDate>Sabtu 25 Desember 2021 07:09 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/12/25/337/2522367/cerita-gus-yahya-awal-mula-jadi-kader-nu-diajak-ayah-dan-bertemu-langsung-gus-dur-faJKgkFxSP.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ketum PBNU, Yahya Cholil Staquf (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/12/25/337/2522367/cerita-gus-yahya-awal-mula-jadi-kader-nu-diajak-ayah-dan-bertemu-langsung-gus-dur-faJKgkFxSP.jpg</image><title>Ketum PBNU, Yahya Cholil Staquf (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - KH Yahya Cholil Staquf resmi terpilih sebagai Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2021-2026. Gus Yahya terpilih sebagai Ketum PBNU setelah berhasil mengalahkan pesaingnya, petahana KH Said Aqil Siroj berdasarkan hasil penghitungan suara pada Muktamar ke-34 NU.

Gus Yahya pun menceritakan cara orang terdekatnya mengadernya dalam berorganisasi di Nahdlatul Ulama (NU). Hal ini disampaikannya saat wawancara eksklusif Lebih dekat ke KH Yahya Cholil Staquf bersama tim dari NU Online yang dirilis ke publik via akun Youtube NU Online.

&quot;Secara tidak resmi saya dikader oleh ayah. SMP kelas 1, Muktamar ke-26 NU tahun 1979 di Semarang diajak ikut Muktamar. Saya memakai ID card sebagai peninjau,&quot; jelasnya.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMi8yNC8xLzE0MzE0Ny8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Ia menambahkan, di Muktamar ke-26 tersebut ia bertemu dengan banyak tokoh-tokoh NU dan hadir di forum debat dari pagi hingga sore. Momentum ini menjadi awal pertama kali Gus Yahya melihat Gus Dur.

Ia juga menginap di lokasi peserta muktamar lainnya bersama sang ayah. Dari sana, ia mulai ikut secara pasif diskusi internal peserta muktamar.

&quot;Di Muktamar ke-26 pertama kali lihat Gus Dur secara langsung. Ayah saya itu ketua cabang Ansor Rembang, lalu Ketua PCNU Rembang,&quot; ujar putra dari KH Cholil Bisri ini.

Kemudian tahun 1981, saat kelas III SMP, di Kaliurang, Yogyakarta ada acara pertemuan ulama NU. Ketika itu Gus Yahya belajar di pesantren milik Kiai Ali Maksum Krapyak.

Kemudian ia diminta memimpin menyanyikan lagu Indonesia raya. Hadir dalam acara tersebut KH Ali Maksum, Kiai Hamid Pasuruan, Kiai Mahrus Ali, Kiai Ahmad Shiddiq, Kiai As'ad Syamsul Arifin.

Muktamar ke-28, Gus Yahya menjadi panitia Muktamar di Krapyak Yogyakarta. Gus Yahya belajar di Pesantren Krapyak selama 15 tahun. Setelah sebelumnya belajar ngaji kepada orang tua di Rembang.

&quot;Saat pembukaan acara, saya memimpin lagu Indonesia raya. Saya kira sejak itu NU jadi pusat pergulatan mental saya,&quot; imbuhnya.

Selain sang ayah dan Kiai Ali Maksum, Gus Yahya juga dikenalkan  dengan lingkungan kegiatan NU oleh pamannya yang bernama KH Mustofa  Bisri (Gus Mus). Saat kuliah di Universitas Gajah Mada, Gus Yahya sering  diajak sama paman dan ayahnya untuk ikut acara NU.

Tahun 1987, Gus Mus mengajak Gus Yahya untuk ikut pertemuan para  ulama di Jakarta. Di forum ini, Gus Yahya ketemu langsung dengan Gus Dur  dan ngobrol panjang lebar.

&quot;Saya beruntung, karena paman dekat dengan Gus Dur. Setiap ketemu  paman, ngobrol tentang Gus Dur. Terutama saat Gus Dur jadi ketua umum.  Obrolan saya dengan paman ini diceritakannya ke Gus Dur. Akhirnya Gus  Dur juga tahu tentang saya,&quot; katanya.

Pertemuan Gus Yahya dan Gus Dur semakin membuat ia lebih intens  bergelut dengan kegiatan NU. Karena saat itu Gus Dur menjadi ketua NU.  Menjadi lebih dekat lagi dengan Gus Dur ketika cucu Kiai Hasyim Asy'ari  ini terpilih jadi presiden dan Gus Yahya jadi jubirnya.

Gus Yahya sering bertugas menemani Gus Dur saat tidak ada tamu  negara. Gus Dur bicara menjelaskan banyak hal. Kadang bicara tentang  fikih, kaidah fikih, ushul fikih, politik, dan kadang strategi perang.

&quot;Gus Dur sangat fikih semisal dalam membuat kebijakan selalu  menyampaikan ke saya bahwa kebijakan ini karena kaidah ini. Saya belajar  banyak dengannya,&quot; ujar pria asal Rembang ini.

Gus Yahya menjelaskan, pertemuannya dengan Gus Dur secara tidak  langsung mengadernya menjadi kader NU yang moderat dan demokratis. Gus  Dur mampu mempengaruhi pola pikirnya hingga saat ini.

Ia menggambarkan, jika tidak bertemu Gus Dur mungkin saja ia sudah  ikut FPI. Karena wawasan dan cara berpikirnya saat itu hampir sama  dengan organisasi tersebut.

Bagi Gus Yahya, Gus Dur dengan artikulasinya dan pemikirannya tidak  hanya mengubahnya, tapi generasi sezaman dengannya  juga berubah.

&quot;Saya kira seluruh kepribadian saya hari ini dibentuk oleh Kiai Ali  Maksum dan Gus Dur. Secara wawasan saya merasa dibentuk dan dirubah Gus  Dur,&quot; tambahnya.

Pola pengkaderan Gus Dur yang secara terus menerus membuat Gus Yahya  menanggapi dan menyelesaikan masalah maka Gus Dur dijadikan rujukan  serta teladannya. Bahkan Gus Yahya memiliki panggilan khusus kepada Gus  Dur yaitu dengan sebutan Pak Dur.

&quot;Awal 1990-an diajak GUs Dur ke Jakarta tapi tidak boleh sama ayah.  Sekarang mau satu abad NU, semua orang berpikir harus istimewa maka  harus bekerja istimewa,&quot; pinta Gus Dur.

Pandangan Gus Dur juga mempengaruhi pemikiran Gus Yahya tentang  keislaman dan kebangsaan. Baginya, umat Islam Indonesia dibandingkan  umat Islam di negara lain adalah yang terbaik. Keadaan paling kondusif  untuk merancang masa depan.

Kunci mempertahankan ini kita harus hidup berdampingan. Pra syaratnya  Untuk berdampingan, keutuhan NKRI, Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka  tunggal Ika, ini harus dipertahankan. Perbedaan boleh asal tidak  mengutik empat hal ini.

Banyak hal yang harus dilakukan, tapi terkait dinamika saat ini yang  perlu dilakukan menurut Gus Yahya  yaitu mengembangkan demokrasi yang  lebih rasional dan tinggalkan politik identitas.

&quot;Jika masalah ekonomi mari bicara ekonomi. Jika masalah hukum kita  bicara hukum. Tidak usah bawa ini beriman dan tidak beriman. Berbahaya  untuk kehidupan berbangsa dan bertanah air,&quot; tandas Gus Yahya.</description><content:encoded>JAKARTA - KH Yahya Cholil Staquf resmi terpilih sebagai Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2021-2026. Gus Yahya terpilih sebagai Ketum PBNU setelah berhasil mengalahkan pesaingnya, petahana KH Said Aqil Siroj berdasarkan hasil penghitungan suara pada Muktamar ke-34 NU.

Gus Yahya pun menceritakan cara orang terdekatnya mengadernya dalam berorganisasi di Nahdlatul Ulama (NU). Hal ini disampaikannya saat wawancara eksklusif Lebih dekat ke KH Yahya Cholil Staquf bersama tim dari NU Online yang dirilis ke publik via akun Youtube NU Online.

&quot;Secara tidak resmi saya dikader oleh ayah. SMP kelas 1, Muktamar ke-26 NU tahun 1979 di Semarang diajak ikut Muktamar. Saya memakai ID card sebagai peninjau,&quot; jelasnya.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMi8yNC8xLzE0MzE0Ny8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Ia menambahkan, di Muktamar ke-26 tersebut ia bertemu dengan banyak tokoh-tokoh NU dan hadir di forum debat dari pagi hingga sore. Momentum ini menjadi awal pertama kali Gus Yahya melihat Gus Dur.

Ia juga menginap di lokasi peserta muktamar lainnya bersama sang ayah. Dari sana, ia mulai ikut secara pasif diskusi internal peserta muktamar.

&quot;Di Muktamar ke-26 pertama kali lihat Gus Dur secara langsung. Ayah saya itu ketua cabang Ansor Rembang, lalu Ketua PCNU Rembang,&quot; ujar putra dari KH Cholil Bisri ini.

Kemudian tahun 1981, saat kelas III SMP, di Kaliurang, Yogyakarta ada acara pertemuan ulama NU. Ketika itu Gus Yahya belajar di pesantren milik Kiai Ali Maksum Krapyak.

Kemudian ia diminta memimpin menyanyikan lagu Indonesia raya. Hadir dalam acara tersebut KH Ali Maksum, Kiai Hamid Pasuruan, Kiai Mahrus Ali, Kiai Ahmad Shiddiq, Kiai As'ad Syamsul Arifin.

Muktamar ke-28, Gus Yahya menjadi panitia Muktamar di Krapyak Yogyakarta. Gus Yahya belajar di Pesantren Krapyak selama 15 tahun. Setelah sebelumnya belajar ngaji kepada orang tua di Rembang.

&quot;Saat pembukaan acara, saya memimpin lagu Indonesia raya. Saya kira sejak itu NU jadi pusat pergulatan mental saya,&quot; imbuhnya.

Selain sang ayah dan Kiai Ali Maksum, Gus Yahya juga dikenalkan  dengan lingkungan kegiatan NU oleh pamannya yang bernama KH Mustofa  Bisri (Gus Mus). Saat kuliah di Universitas Gajah Mada, Gus Yahya sering  diajak sama paman dan ayahnya untuk ikut acara NU.

Tahun 1987, Gus Mus mengajak Gus Yahya untuk ikut pertemuan para  ulama di Jakarta. Di forum ini, Gus Yahya ketemu langsung dengan Gus Dur  dan ngobrol panjang lebar.

&quot;Saya beruntung, karena paman dekat dengan Gus Dur. Setiap ketemu  paman, ngobrol tentang Gus Dur. Terutama saat Gus Dur jadi ketua umum.  Obrolan saya dengan paman ini diceritakannya ke Gus Dur. Akhirnya Gus  Dur juga tahu tentang saya,&quot; katanya.

Pertemuan Gus Yahya dan Gus Dur semakin membuat ia lebih intens  bergelut dengan kegiatan NU. Karena saat itu Gus Dur menjadi ketua NU.  Menjadi lebih dekat lagi dengan Gus Dur ketika cucu Kiai Hasyim Asy'ari  ini terpilih jadi presiden dan Gus Yahya jadi jubirnya.

Gus Yahya sering bertugas menemani Gus Dur saat tidak ada tamu  negara. Gus Dur bicara menjelaskan banyak hal. Kadang bicara tentang  fikih, kaidah fikih, ushul fikih, politik, dan kadang strategi perang.

&quot;Gus Dur sangat fikih semisal dalam membuat kebijakan selalu  menyampaikan ke saya bahwa kebijakan ini karena kaidah ini. Saya belajar  banyak dengannya,&quot; ujar pria asal Rembang ini.

Gus Yahya menjelaskan, pertemuannya dengan Gus Dur secara tidak  langsung mengadernya menjadi kader NU yang moderat dan demokratis. Gus  Dur mampu mempengaruhi pola pikirnya hingga saat ini.

Ia menggambarkan, jika tidak bertemu Gus Dur mungkin saja ia sudah  ikut FPI. Karena wawasan dan cara berpikirnya saat itu hampir sama  dengan organisasi tersebut.

Bagi Gus Yahya, Gus Dur dengan artikulasinya dan pemikirannya tidak  hanya mengubahnya, tapi generasi sezaman dengannya  juga berubah.

&quot;Saya kira seluruh kepribadian saya hari ini dibentuk oleh Kiai Ali  Maksum dan Gus Dur. Secara wawasan saya merasa dibentuk dan dirubah Gus  Dur,&quot; tambahnya.

Pola pengkaderan Gus Dur yang secara terus menerus membuat Gus Yahya  menanggapi dan menyelesaikan masalah maka Gus Dur dijadikan rujukan  serta teladannya. Bahkan Gus Yahya memiliki panggilan khusus kepada Gus  Dur yaitu dengan sebutan Pak Dur.

&quot;Awal 1990-an diajak GUs Dur ke Jakarta tapi tidak boleh sama ayah.  Sekarang mau satu abad NU, semua orang berpikir harus istimewa maka  harus bekerja istimewa,&quot; pinta Gus Dur.

Pandangan Gus Dur juga mempengaruhi pemikiran Gus Yahya tentang  keislaman dan kebangsaan. Baginya, umat Islam Indonesia dibandingkan  umat Islam di negara lain adalah yang terbaik. Keadaan paling kondusif  untuk merancang masa depan.

Kunci mempertahankan ini kita harus hidup berdampingan. Pra syaratnya  Untuk berdampingan, keutuhan NKRI, Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka  tunggal Ika, ini harus dipertahankan. Perbedaan boleh asal tidak  mengutik empat hal ini.

Banyak hal yang harus dilakukan, tapi terkait dinamika saat ini yang  perlu dilakukan menurut Gus Yahya  yaitu mengembangkan demokrasi yang  lebih rasional dan tinggalkan politik identitas.

&quot;Jika masalah ekonomi mari bicara ekonomi. Jika masalah hukum kita  bicara hukum. Tidak usah bawa ini beriman dan tidak beriman. Berbahaya  untuk kehidupan berbangsa dan bertanah air,&quot; tandas Gus Yahya.</content:encoded></item></channel></rss>
