<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Nyai Djulaesih, Perempuan Pertama yang Berpidato di Muktamar NU</title><description>Nadlatul Ulama (NU) terkenal sebagai organisasi yang menjunjung tinggi kaum perempuan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/12/26/337/2522683/nyai-djulaesih-perempuan-pertama-yang-berpidato-di-muktamar-nu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/12/26/337/2522683/nyai-djulaesih-perempuan-pertama-yang-berpidato-di-muktamar-nu"/><item><title>Nyai Djulaesih, Perempuan Pertama yang Berpidato di Muktamar NU</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/12/26/337/2522683/nyai-djulaesih-perempuan-pertama-yang-berpidato-di-muktamar-nu</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/12/26/337/2522683/nyai-djulaesih-perempuan-pertama-yang-berpidato-di-muktamar-nu</guid><pubDate>Minggu 26 Desember 2021 05:59 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/12/26/337/2522683/nyai-djulaesih-perempuan-pertama-yang-berpidato-di-muktamar-nu-xXIyn2iOGJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Nyai Djulaesihh (Foto: Dok. NU)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/12/26/337/2522683/nyai-djulaesih-perempuan-pertama-yang-berpidato-di-muktamar-nu-xXIyn2iOGJ.jpg</image><title>Nyai Djulaesihh (Foto: Dok. NU)</title></images><description>JAKARTA - Nadlatul Ulama (NU) terkenal sebagai organisasi yang menjunjung tinggi kaum perempuan. Di mana perempuan diberikan porsi yang besar dalam keikutsertaannya dalam organisasi. Salah satunya adalah Nyai Djulaesih.

Pada tahun 1946 ibu-ibu di kalangan Nahdlatul Ulama yang didorong para kiai mendirikan organisasi, Muslimat. Nyai Djuaesih adalah ketuanya pada periode 1950-1952. Meski menjadi sosok perintis Muslimat NU, ia tak begitu menonjol sebagai organisator. Dia lebih populer sebagai mubalighah dalam kepengurusan Muslimat NU Jawa Barat.

Dinukil dari lama NU Online, ia memiliki reputasi yang tak dimiliki banyak perempuan NU karena dialah perempuan pertama yang naik ke mimbar resmi organisasi NU, tepatnya dalam forum persidangan Muktamar ke-13 NU di Menes, Banten tahun 1938. Disusul kemudian Nyai Siti Syarah, tokoh perempuan NU dari Menes.

Berikut ini laporan Berita Nahdlatoel Oelama No 6 tahun ke-10 edisi 19 Januari 1941, hal.4/86

&amp;ldquo;Kemudian dari pada itu, tampillah ke muka, Ny Djunaesih, voorzitter (ketua) Muslimat NU Bandung yang telah memerlukan datang di kongres ini, berhubung kecintaan dan tertarik beliau kepadanya.
 
&amp;nbsp;
 
Dengan panjang lebar menerangkan akan asas dan tujuan dari NU adalah suatu perkumpulan yang sengaja mendidik umat Islam ke jurusan agamanya dengan seluas-luasnya.
 
&amp;nbsp;
 
Di dalam agama Islam bukan saja kaum laki-laki yang harus dididik tentang soal-soal yang berkenaan dengan agamanya, bahkan kaum perempuan juga harus mendapat didikan yang selaras dengan kehendak dan tuntunan agama, sebagaimana lakinya. Inilah natinya yang akan dapat membawa keamanan dunia dan akhirat.&amp;rdquo;

Djuaesih lahir pada Juni 1901 di Sukabumi. Ia tidak mengikuti  pendidikan formal dan hanya belajar kepada orang tuanya R.O. Abbas dan  R. Omara S yang membekalinya dengan ilmu agama.

Djuaesih memiliki kemampuan alamiah sebagai mubalighah dan cukup  terkenal di Jawa Barat. la sering memberikan ceramah agama bagi ibu-ibu  di berbagai pelosok Jawa Barat seperti di Pandeglang, Tasikmalaya,  Sukabumi, Ciamis, dan Bekasi.

Persentuhannya dengan NU muncul setelah menikah dengan Danuatmadja  alias H. Bustomi, seorang pengurus NU Jawa Barat. Dalam berbagai acara  organisasi ia menyertai suaminya. Ia pun merasa bahwa NU perlu  mengorganisasi para perempuannya agar bisa ikut bersama-sama berdakwah.

Djuaesih mempunyai sumbangan besar dalam gerakan perempuan di  lingkungan NU dengan gagasannya mendirikan organisasi khusus bagi kaum  hawa di lingkungan NU.

Menurutnya, NU mempunyai kewajiban untuk berdakwah menyebarkan ajaran  Islam, dan itu bukan hanya tanggung jawab kaum pria. Karena itu, ia  mengusulkan agar perempuan NU dapat menjadl anggota dan aktif serta  memiliki wadah organisasi sendiri.

Dalam forum Muktamar NU di Menes tersebut, sebagaimana dilukiskan  Mahbib Khoiron yang mengutip &quot;50 Tahun Muslimat NU, Berkhidmat untuk  Agama, Negara &amp;amp; Bangsa&quot;, 1996 (Jakarta: PP Muslimat NU), Djuaesih  menyatakan,

&amp;rdquo;Di dalam agama Islam, bukan saja kaum laki-laki yang harus dididik  mengenai pengetahuan agama dan pengetahuan lain. Kaum wanita juga wajib  mendapatkan didikan yang selaras dengan kehendak dan tuntutan agama.  Karena itu, kaum wanita yang tergabung dalam Nahdlatul Ulama mesti  bangkit....&quot;

Meskipun menjadi salah satu perintis organisasi perempuan NU, ia  tidak menduduki jabatan tertentu pada kepengurusan pertama Muslimat NU  Jawa Barat. Baru pada periode 1950-1952 Djuaesih menjabat sebagai ketua.

&quot;Di dalam Islam bukan saja kaum laki-laki yang harus dididik mengenai  pengetahuan agama dan pengetahuan lain. Kaum wanita pun wajib  mendapatkan didikan yang selaras dengan kehendak dan tuntutan agama.  Karena itu, kami wanita yang tergabung dalam NU mesti bangkit.&quot;

</description><content:encoded>JAKARTA - Nadlatul Ulama (NU) terkenal sebagai organisasi yang menjunjung tinggi kaum perempuan. Di mana perempuan diberikan porsi yang besar dalam keikutsertaannya dalam organisasi. Salah satunya adalah Nyai Djulaesih.

Pada tahun 1946 ibu-ibu di kalangan Nahdlatul Ulama yang didorong para kiai mendirikan organisasi, Muslimat. Nyai Djuaesih adalah ketuanya pada periode 1950-1952. Meski menjadi sosok perintis Muslimat NU, ia tak begitu menonjol sebagai organisator. Dia lebih populer sebagai mubalighah dalam kepengurusan Muslimat NU Jawa Barat.

Dinukil dari lama NU Online, ia memiliki reputasi yang tak dimiliki banyak perempuan NU karena dialah perempuan pertama yang naik ke mimbar resmi organisasi NU, tepatnya dalam forum persidangan Muktamar ke-13 NU di Menes, Banten tahun 1938. Disusul kemudian Nyai Siti Syarah, tokoh perempuan NU dari Menes.

Berikut ini laporan Berita Nahdlatoel Oelama No 6 tahun ke-10 edisi 19 Januari 1941, hal.4/86

&amp;ldquo;Kemudian dari pada itu, tampillah ke muka, Ny Djunaesih, voorzitter (ketua) Muslimat NU Bandung yang telah memerlukan datang di kongres ini, berhubung kecintaan dan tertarik beliau kepadanya.
 
&amp;nbsp;
 
Dengan panjang lebar menerangkan akan asas dan tujuan dari NU adalah suatu perkumpulan yang sengaja mendidik umat Islam ke jurusan agamanya dengan seluas-luasnya.
 
&amp;nbsp;
 
Di dalam agama Islam bukan saja kaum laki-laki yang harus dididik tentang soal-soal yang berkenaan dengan agamanya, bahkan kaum perempuan juga harus mendapat didikan yang selaras dengan kehendak dan tuntunan agama, sebagaimana lakinya. Inilah natinya yang akan dapat membawa keamanan dunia dan akhirat.&amp;rdquo;

Djuaesih lahir pada Juni 1901 di Sukabumi. Ia tidak mengikuti  pendidikan formal dan hanya belajar kepada orang tuanya R.O. Abbas dan  R. Omara S yang membekalinya dengan ilmu agama.

Djuaesih memiliki kemampuan alamiah sebagai mubalighah dan cukup  terkenal di Jawa Barat. la sering memberikan ceramah agama bagi ibu-ibu  di berbagai pelosok Jawa Barat seperti di Pandeglang, Tasikmalaya,  Sukabumi, Ciamis, dan Bekasi.

Persentuhannya dengan NU muncul setelah menikah dengan Danuatmadja  alias H. Bustomi, seorang pengurus NU Jawa Barat. Dalam berbagai acara  organisasi ia menyertai suaminya. Ia pun merasa bahwa NU perlu  mengorganisasi para perempuannya agar bisa ikut bersama-sama berdakwah.

Djuaesih mempunyai sumbangan besar dalam gerakan perempuan di  lingkungan NU dengan gagasannya mendirikan organisasi khusus bagi kaum  hawa di lingkungan NU.

Menurutnya, NU mempunyai kewajiban untuk berdakwah menyebarkan ajaran  Islam, dan itu bukan hanya tanggung jawab kaum pria. Karena itu, ia  mengusulkan agar perempuan NU dapat menjadl anggota dan aktif serta  memiliki wadah organisasi sendiri.

Dalam forum Muktamar NU di Menes tersebut, sebagaimana dilukiskan  Mahbib Khoiron yang mengutip &quot;50 Tahun Muslimat NU, Berkhidmat untuk  Agama, Negara &amp;amp; Bangsa&quot;, 1996 (Jakarta: PP Muslimat NU), Djuaesih  menyatakan,

&amp;rdquo;Di dalam agama Islam, bukan saja kaum laki-laki yang harus dididik  mengenai pengetahuan agama dan pengetahuan lain. Kaum wanita juga wajib  mendapatkan didikan yang selaras dengan kehendak dan tuntutan agama.  Karena itu, kaum wanita yang tergabung dalam Nahdlatul Ulama mesti  bangkit....&quot;

Meskipun menjadi salah satu perintis organisasi perempuan NU, ia  tidak menduduki jabatan tertentu pada kepengurusan pertama Muslimat NU  Jawa Barat. Baru pada periode 1950-1952 Djuaesih menjabat sebagai ketua.

&quot;Di dalam Islam bukan saja kaum laki-laki yang harus dididik mengenai  pengetahuan agama dan pengetahuan lain. Kaum wanita pun wajib  mendapatkan didikan yang selaras dengan kehendak dan tuntutan agama.  Karena itu, kami wanita yang tergabung dalam NU mesti bangkit.&quot;

</content:encoded></item></channel></rss>
