<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Minggu Negara Prajurit Kopassus, Terancam Disiksa bak Tahan Perang</title><description>Pramono Edhie membeberkan pengalamannya saat mengikuti seleksi masuk prajurit Kopassus yang dikenal memiliki kemampuan di atas rata-rata.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/12/28/337/2523433/minggu-negara-prajurit-kopassus-terancam-disiksa-bak-tahan-perang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/12/28/337/2523433/minggu-negara-prajurit-kopassus-terancam-disiksa-bak-tahan-perang"/><item><title>Minggu Negara Prajurit Kopassus, Terancam Disiksa bak Tahan Perang</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/12/28/337/2523433/minggu-negara-prajurit-kopassus-terancam-disiksa-bak-tahan-perang</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/12/28/337/2523433/minggu-negara-prajurit-kopassus-terancam-disiksa-bak-tahan-perang</guid><pubDate>Selasa 28 Desember 2021 06:01 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/12/27/337/2523433/minggu-negara-prajurit-kopassus-terancam-disiksa-bak-tahan-perang-46cBSIVdva.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Mendiang Pramono Edhie Wibowo (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/12/27/337/2523433/minggu-negara-prajurit-kopassus-terancam-disiksa-bak-tahan-perang-46cBSIVdva.jpg</image><title>Mendiang Pramono Edhie Wibowo (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Berasal dari keluarga TNI, darah militer Pramono Edhie Wibowo mengalir dari ayahnya, Sarwo Edhie Wibowo salah satu tokoh yang dikenal saat penumpasan Gerakan 30 S/PKI.

Saat itu, ia menjabat sebagai Komandan RPKAD (kini Kopassus). Latar belakang dari keluarga militer inilah yang membuat Pramono Edhie memutuskan untuk menjadi pasukan baret merah, Kopassus mengikuti jejak sang ayah.

Pramono Edhie pun membeberkan pengalamannya saat mengikuti seleksi masuk prajurit Kopassus yang dikenal memiliki kemampuan di atas rata-rata. Semua prajurit baret merah mempunyai kemampuan khusus gerak cepat dalam setiap medan, menembak cepat, pengintaian dan anti-teror. Mereka dilatih untuk bisa menguasai kemampuan darat, laut serta udara.

Selepas menempuh pendidikan dari Lembah Tidar tahun 1980, Pramono Edhi mengikuti seleksi prajurit Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha), cikal bakal korps baret merah, Kopassus.

Sebagai calon prajurit baret merah, Pramono Edhie harus melalui Tahap Basis di Pusat Pendidikan Pelatihan Khusus, Batujajar, Bandung. Tahapan tersebut berupa keterampilan dasar, seperti menembak, teknik dan taktik tempur, operasi raid, perebutan cepat, serangan unit komando, dan navigasi darat.

Selepas Tahap Basis, dia berlanjut mengikuti Tahapan Hutan Gunung hutan kawasan Citatah, Bandung. Disana dia digembleng untuk menjadi pendaki serbu, penjejakan dan survival di tengah hutan. Tahapan tersebut diakhiri dengan berjalan kaki ke Situ Lembang-Cilacap dengan membawa sejumlah amunisi dan peralatan yang beratnya bisa mencapai belasan kilogram.

Sesampai di Cilacap, prajurit kembali mendapat latihan yang cukup berat, yaitu Tahap Rawa Laut atau kemampuan berinfiltrasi melalui rawa laut.

&quot;Latihan di Nusakambangan ini merupakan latihan tahap akhir, tak heran bila disebut Hell Week atau Minggu Neraka,&quot; ujar Pramono Edhie dikutip dari buku Pramono Edhie Wibowo dan Cetak Biru Indonesia ke Depan.

Selama seminggu, kata Pramono Edhie, prajurit mendapatkan materi  navigasi laut, survival laut, pelolosan, renang ponco dan pendaratan  menggunakan perahu karet. Calon prajurit komando harus mampu berenang  melintasi selat dari Cilacap ke Nusakambangan.

Calon prajurit Kopassus dilepas sejak pagi hari tanpa bekal, dan  harus sampai di suatu titik pada pukul 10 malam. Mereka juga harus  menghindari segala rintangan alam maupun tembakan musuh selama dalam  tahap pelolosan. Jika tertangkap, prajurit akan mendapat interogasi dan  siksaan layaknya dalam medan perang sungguhan. Prajurit juga tak boleh  membocorkan informasi meski mendapatkan siksaan fisik oleh selama tiga  hari.

&amp;ldquo;Dalam Konvensi Jenewa, semua tawanan perang dilarang untuk disiksa,  namun para calon prajurit Komando itu dilatih menghadapi semua hal  terburuk di medan operasi,&amp;rdquo; tulis Pramono Edhie.

Begitu berat syarat dan tes menjadi prajurit komando, sehingga tak  sembarang prajurit mampu mencapai nilai standar yang telah ditetapkan,  seperti standar fisik 61, tes psikologis prajurit bernilai 70, dan  kemampuan menembak dan berenang tanpa henti sejauh 2.000 meter. &amp;ldquo;Hanya  mereka yang memiliki mental baja yang mampu melalui pelatihan komando,&amp;rdquo;  tutupnya.

Karir militer Pramono Edhie banyak dihabiskan di Korps Baret Merah,  Kopassus sama seperti ayahnya Sarwo Edhie Wibowo. Dia mengawali karir  sebagai Komandan Peleton Grup I Kopassandha (1980), tahun 1995 dia  dipercaya menjadi Komandan Grup I/Kopassus .

Karirnya pun semakin gemilang setelah masa reformasi. Terpilihnya  Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden menggantikan Abdurrahman Wahid  alias Gus Dur, membuat dia ditunjuk sebagai ajudan Presiden Megawati  Soekarnoputri pada 2001. Di tahun yang sama, Pramono melanjutkab Sekolah  Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia (Sesko TNI).

Berbagai jabatan strategis pernah dia duduki. Diantaranya Wakil  Danjen Kopassus pada 2005, Kepala Staf Kodam IV/Diponegoro pada tahun  2007, dan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD  pada tahun 2008 hingga tahun 2009.

Dia juga pernah menjabat sebagai Pangdam III/Siliwangi dan Panglima  Kostrad(Pangkostrad) pada tahun 2010. Puncak karir lulusan Akabri 1980  ini pada saat Presiden SBY mendapuknya sebagai Kepala Staf Angkatan  Darat (KSAD) menggantikan Jenderal George Toisutta yang telah memasuki  masa pensiun.

</description><content:encoded>JAKARTA - Berasal dari keluarga TNI, darah militer Pramono Edhie Wibowo mengalir dari ayahnya, Sarwo Edhie Wibowo salah satu tokoh yang dikenal saat penumpasan Gerakan 30 S/PKI.

Saat itu, ia menjabat sebagai Komandan RPKAD (kini Kopassus). Latar belakang dari keluarga militer inilah yang membuat Pramono Edhie memutuskan untuk menjadi pasukan baret merah, Kopassus mengikuti jejak sang ayah.

Pramono Edhie pun membeberkan pengalamannya saat mengikuti seleksi masuk prajurit Kopassus yang dikenal memiliki kemampuan di atas rata-rata. Semua prajurit baret merah mempunyai kemampuan khusus gerak cepat dalam setiap medan, menembak cepat, pengintaian dan anti-teror. Mereka dilatih untuk bisa menguasai kemampuan darat, laut serta udara.

Selepas menempuh pendidikan dari Lembah Tidar tahun 1980, Pramono Edhi mengikuti seleksi prajurit Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha), cikal bakal korps baret merah, Kopassus.

Sebagai calon prajurit baret merah, Pramono Edhie harus melalui Tahap Basis di Pusat Pendidikan Pelatihan Khusus, Batujajar, Bandung. Tahapan tersebut berupa keterampilan dasar, seperti menembak, teknik dan taktik tempur, operasi raid, perebutan cepat, serangan unit komando, dan navigasi darat.

Selepas Tahap Basis, dia berlanjut mengikuti Tahapan Hutan Gunung hutan kawasan Citatah, Bandung. Disana dia digembleng untuk menjadi pendaki serbu, penjejakan dan survival di tengah hutan. Tahapan tersebut diakhiri dengan berjalan kaki ke Situ Lembang-Cilacap dengan membawa sejumlah amunisi dan peralatan yang beratnya bisa mencapai belasan kilogram.

Sesampai di Cilacap, prajurit kembali mendapat latihan yang cukup berat, yaitu Tahap Rawa Laut atau kemampuan berinfiltrasi melalui rawa laut.

&quot;Latihan di Nusakambangan ini merupakan latihan tahap akhir, tak heran bila disebut Hell Week atau Minggu Neraka,&quot; ujar Pramono Edhie dikutip dari buku Pramono Edhie Wibowo dan Cetak Biru Indonesia ke Depan.

Selama seminggu, kata Pramono Edhie, prajurit mendapatkan materi  navigasi laut, survival laut, pelolosan, renang ponco dan pendaratan  menggunakan perahu karet. Calon prajurit komando harus mampu berenang  melintasi selat dari Cilacap ke Nusakambangan.

Calon prajurit Kopassus dilepas sejak pagi hari tanpa bekal, dan  harus sampai di suatu titik pada pukul 10 malam. Mereka juga harus  menghindari segala rintangan alam maupun tembakan musuh selama dalam  tahap pelolosan. Jika tertangkap, prajurit akan mendapat interogasi dan  siksaan layaknya dalam medan perang sungguhan. Prajurit juga tak boleh  membocorkan informasi meski mendapatkan siksaan fisik oleh selama tiga  hari.

&amp;ldquo;Dalam Konvensi Jenewa, semua tawanan perang dilarang untuk disiksa,  namun para calon prajurit Komando itu dilatih menghadapi semua hal  terburuk di medan operasi,&amp;rdquo; tulis Pramono Edhie.

Begitu berat syarat dan tes menjadi prajurit komando, sehingga tak  sembarang prajurit mampu mencapai nilai standar yang telah ditetapkan,  seperti standar fisik 61, tes psikologis prajurit bernilai 70, dan  kemampuan menembak dan berenang tanpa henti sejauh 2.000 meter. &amp;ldquo;Hanya  mereka yang memiliki mental baja yang mampu melalui pelatihan komando,&amp;rdquo;  tutupnya.

Karir militer Pramono Edhie banyak dihabiskan di Korps Baret Merah,  Kopassus sama seperti ayahnya Sarwo Edhie Wibowo. Dia mengawali karir  sebagai Komandan Peleton Grup I Kopassandha (1980), tahun 1995 dia  dipercaya menjadi Komandan Grup I/Kopassus .

Karirnya pun semakin gemilang setelah masa reformasi. Terpilihnya  Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden menggantikan Abdurrahman Wahid  alias Gus Dur, membuat dia ditunjuk sebagai ajudan Presiden Megawati  Soekarnoputri pada 2001. Di tahun yang sama, Pramono melanjutkab Sekolah  Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia (Sesko TNI).

Berbagai jabatan strategis pernah dia duduki. Diantaranya Wakil  Danjen Kopassus pada 2005, Kepala Staf Kodam IV/Diponegoro pada tahun  2007, dan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD  pada tahun 2008 hingga tahun 2009.

Dia juga pernah menjabat sebagai Pangdam III/Siliwangi dan Panglima  Kostrad(Pangkostrad) pada tahun 2010. Puncak karir lulusan Akabri 1980  ini pada saat Presiden SBY mendapuknya sebagai Kepala Staf Angkatan  Darat (KSAD) menggantikan Jenderal George Toisutta yang telah memasuki  masa pensiun.

</content:encoded></item></channel></rss>
