<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bencana Paling Banyak Terjadi di Jawa Sepanjang 2021, BNPB : Penanggulangan Harus Ditingkatkan</title><description>Sepanjang 2021, kejadian bencana paling banyak terjadi di Jawa dibandingkan wilayah lainnya sehingga BNPB minta penanggulangan ditingkatkan.&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/12/29/337/2524439/bencana-paling-banyak-terjadi-di-jawa-sepanjang-2021-bnpb-penanggulangan-harus-ditingkatkan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/12/29/337/2524439/bencana-paling-banyak-terjadi-di-jawa-sepanjang-2021-bnpb-penanggulangan-harus-ditingkatkan"/><item><title>Bencana Paling Banyak Terjadi di Jawa Sepanjang 2021, BNPB : Penanggulangan Harus Ditingkatkan</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/12/29/337/2524439/bencana-paling-banyak-terjadi-di-jawa-sepanjang-2021-bnpb-penanggulangan-harus-ditingkatkan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/12/29/337/2524439/bencana-paling-banyak-terjadi-di-jawa-sepanjang-2021-bnpb-penanggulangan-harus-ditingkatkan</guid><pubDate>Rabu 29 Desember 2021 16:30 WIB</pubDate><dc:creator>Muhammad Refi Sandi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/12/29/337/2524439/bencana-paling-banyak-terjadi-di-jawa-sepanjang-2021-bnpb-penanggulangan-harus-ditingkatkan-WtjTMvpzRN.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Rumah warga hancur akibat terdampak erupsi Gunung Semeru. (MPI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/12/29/337/2524439/bencana-paling-banyak-terjadi-di-jawa-sepanjang-2021-bnpb-penanggulangan-harus-ditingkatkan-WtjTMvpzRN.jpg</image><title>Rumah warga hancur akibat terdampak erupsi Gunung Semeru. (MPI)</title></images><description>JAKARTA - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Suharyanto menyebut bencana alam paling banyak terjadi di wilayah Jawa dibandingkan wilayah lainnya. Karena itu, diperlukan peningkatan tahap penanggulangan bencana.

&quot;Kemudian daerah yang paling banyak bencana didominasi di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur kemudian disusul oleh Aceh, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah. Daerah yang merah ini perlu peningkatan tahap penanggulangan bencana dari mulai mitigasi, edukasi dan penanganan darurat dan ini PR kita bersama,&quot; kata Suharyanto dalam Youtube Kemenko PMK, Rabu (29/12/2021).

Suharyanto menyebut, jumlah frekuensi bencana di Indonesia yang tercatat pada 2021 menurun dibandingkan tiga tahun terakhir. Adapun data jumlah bencana tahun 2018 sebanyak 3.397, tahun 2019 sebanyak 3.814, dan tahun 2020 sebanyak 4.649.

&quot;Melihat dan jumlah frekuensi bencana saat ini Indonesia di penghujung tahun ini ada 3.058 bencana ini merupakan angka yang menurun dalam tiga tahun terakhir,&quot; ujarnya.

Suharyanto membeberkan, dari 3.058 bencana sepanjang 2021 didominasi banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, dan gelombang pasang.

&quot;Itu menyumbang 89,7 persen atau 2.702 kejadian bencana,&quot; ujarnya.

Baca Juga : Jumlah Bencana pada 2021 Menurun Dibandingkan 3 Tahun Terakhir, tapi Jumlah Korban Meningkat

Ia melanjutkan, meskipun terjadi penurunan frekuensi bencana, dampaknya meningkat cukup signifikan. Ia pun merinci dampak rumah rusak dominan dan korban luka dalam satu tahun.

&quot;Meskipun terjadi penurunan dari jumlah kejadian bencana, tetapi terjadi peningkatan mulai dari meninggal dunia, luka-luka, terdampak dan mengungsi serta rumah rusak meningkat. Artinya semakin tahun ini dampak terjadinya bencana baik yang berdampak jiwa manusia dan harta benda mengalami peningkatan yang signifikan,&quot; ucapnya.

&quot;Rinciannya untuk dampak rumah rusak dominan terjadi di bulan Januari kejadian gempa Mamuju Sulbar dan April kejadian Siklon Tropis Seroja. Korban luka dominan di bulan Januari kejadian gempa Mamuju Sulawesi Barat dan Desember kejadian Awan Panas Guguran Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur,&quot; tuturnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Suharyanto menyebut bencana alam paling banyak terjadi di wilayah Jawa dibandingkan wilayah lainnya. Karena itu, diperlukan peningkatan tahap penanggulangan bencana.

&quot;Kemudian daerah yang paling banyak bencana didominasi di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur kemudian disusul oleh Aceh, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah. Daerah yang merah ini perlu peningkatan tahap penanggulangan bencana dari mulai mitigasi, edukasi dan penanganan darurat dan ini PR kita bersama,&quot; kata Suharyanto dalam Youtube Kemenko PMK, Rabu (29/12/2021).

Suharyanto menyebut, jumlah frekuensi bencana di Indonesia yang tercatat pada 2021 menurun dibandingkan tiga tahun terakhir. Adapun data jumlah bencana tahun 2018 sebanyak 3.397, tahun 2019 sebanyak 3.814, dan tahun 2020 sebanyak 4.649.

&quot;Melihat dan jumlah frekuensi bencana saat ini Indonesia di penghujung tahun ini ada 3.058 bencana ini merupakan angka yang menurun dalam tiga tahun terakhir,&quot; ujarnya.

Suharyanto membeberkan, dari 3.058 bencana sepanjang 2021 didominasi banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, dan gelombang pasang.

&quot;Itu menyumbang 89,7 persen atau 2.702 kejadian bencana,&quot; ujarnya.

Baca Juga : Jumlah Bencana pada 2021 Menurun Dibandingkan 3 Tahun Terakhir, tapi Jumlah Korban Meningkat

Ia melanjutkan, meskipun terjadi penurunan frekuensi bencana, dampaknya meningkat cukup signifikan. Ia pun merinci dampak rumah rusak dominan dan korban luka dalam satu tahun.

&quot;Meskipun terjadi penurunan dari jumlah kejadian bencana, tetapi terjadi peningkatan mulai dari meninggal dunia, luka-luka, terdampak dan mengungsi serta rumah rusak meningkat. Artinya semakin tahun ini dampak terjadinya bencana baik yang berdampak jiwa manusia dan harta benda mengalami peningkatan yang signifikan,&quot; ucapnya.

&quot;Rinciannya untuk dampak rumah rusak dominan terjadi di bulan Januari kejadian gempa Mamuju Sulbar dan April kejadian Siklon Tropis Seroja. Korban luka dominan di bulan Januari kejadian gempa Mamuju Sulawesi Barat dan Desember kejadian Awan Panas Guguran Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur,&quot; tuturnya.</content:encoded></item></channel></rss>
