<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mengenal Batu Palangka Warisan Prabu Siliwangi yang Melegenda</title><description>Batu tersebut berukuran panjang 200 sentimeter, lebar 160 sentimeter, dan 20 sentimeter dari tingginya dibawa ke Banten.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/01/06/337/2528015/mengenal-batu-palangka-warisan-prabu-siliwangi-yang-melegenda</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/01/06/337/2528015/mengenal-batu-palangka-warisan-prabu-siliwangi-yang-melegenda"/><item><title>Mengenal Batu Palangka Warisan Prabu Siliwangi yang Melegenda</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/01/06/337/2528015/mengenal-batu-palangka-warisan-prabu-siliwangi-yang-melegenda</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/01/06/337/2528015/mengenal-batu-palangka-warisan-prabu-siliwangi-yang-melegenda</guid><pubDate>Kamis 06 Januari 2022 07:05 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/01/05/337/2528015/mengenal-batu-palangka-warisan-prabu-siliwangi-yang-melegenda-KuyIB3Nnes.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Prabu Siliwangi (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/01/05/337/2528015/mengenal-batu-palangka-warisan-prabu-siliwangi-yang-melegenda-KuyIB3Nnes.jpg</image><title>Prabu Siliwangi (Foto: Ist)</title></images><description>BATU Palangka Sriman Sriwicana, yang secara umum memiliki arti tempat duduk. Semasa Kerajaan Pajajaran, sejak Prabu Siliwangi difungsikan sebagai tempat duduk saat dinobatkan sebagai Raja Pajajaran.&amp;nbsp;
Batu tersebut berukuran panjang 200 sentimeter, lebar 160 sentimeter, dan 20 sentimeter dari tingginya dibawa ke Banten. Pada akhirnya batu tersebut harus dipindahkan sekaligus menandakan tak ada lagi penobatan raja baru di Pajajaran.
Baca Juga:&amp;nbsp;Pajajaran Jalin Kerjasama dengan Portugis Akibat Melemahnya Pertahanan Pasca Prabu Siliwangi
Bermula dari serangan ketiga Kesultanan Banten yang meruntuhkan Kerajaan Pajajaran. Berakhirnya masa Kerajaan Pajajaran ditandai dengan pemindahan batu yang merupakan simbol dari kerajaan saat bertahta, sekaligus tamatnya riwayat Pajajaran. Pemindahan batu ini dilakukan oleh Maulana Yusuf penguasa Banten, yang melakukan ekspansi ke ibu kota Pakuan, Pajajaran.
Kisah pemindahan batu ini tercantum pada buku &quot;Hitam Putih Pajajaran : Dari Kejayaan hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran&quot; tulisan Fery Taufiq El Jaquenne. Di mana dikisahkan batu yang dipindahkan oleh Maulana Yusuf bernama Palangka Sriman Sriwacana.
Istilah batu Palangka sendiri secara umum memiliki arti tempat duduk, yang dalam bahasa Sunda berarti pangcalikan, yang secara kontekstual bagi Kerajaan Pajajaran, adalah tahta. Padahal ini tahta tersebut melambangkan tempat duduk khusus, yang diperkenankan pada upacara penobatan seorang raja.
Di atas Palangka itulah, calon raja diberkati dengan berbagai prosesi upacara oleh pendeta tertinggi. Tempat Palangka berada di kabuyutan kerajaan, bukan di dalam istana. Sesuai dengan budaya Pajajaran, tahta tersebut dibuat dari batu dan diasah hingga halus mengkilap.
Baca Juga:&amp;nbsp;3 Serangan Kesultanan Banten yang Luluh Lantahkan Kerajaan PajajaranKemudian, diberi bahan tertentu yang fungsinya menjadikan batu tersebut serasa memiliki kesakralan tersendiri. Dari penduduk asli Sunda, menyebut batu Ini sebagai batu pangcalikan atau batu ranjang.
Batu Pangcalikan sekarang bisa ditemukan di makam kuno dekat Situ Sangiang di Desa Cibalanarik, Kecamatan Sukaraja, Tasikmalaya dan di Karang Kamulyan, bekas pusat Kerajaan Galuh di Ciamis.
Sedangkan batu ranjang dengan kaki yang diukir dapat ditemukan di Desa Batu Ranjang, Kecamatan Cimanuk, Pandeglang. Letaknya di kawasan petakan sawah, yang terjepit pohon.
Pemindahan itu sengaja dilakukan oleh Banten guna memperkuat legitimasi Sultan Banten Maulana Yusuf yang menahbiskan menjadi penerus kekuasaan Pajajaran yang sah. Apalagi, buyut perempuan Maulana Yusuf adalah putri dari Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.
Sementara itu di sisi lain, seluruh atribut dan perangkat Kerajaan Pajajaran secara resmi telah diserahkan kepada Kerajaan Sumedang Larang, melalui empat Kandaga Lante. Palangka Sriman Sriwacana sendiri saat ini berada di depan keraton Surawosan di Banten.
Karena wujudnya yang mengkilap, dan berbeda dengan batu lainnya, banyak orang Banten menyebutnya watu gigilang. Istilah gigilang artinya berseri atau mengkilap, sama dengan arti kata sriman.</description><content:encoded>BATU Palangka Sriman Sriwicana, yang secara umum memiliki arti tempat duduk. Semasa Kerajaan Pajajaran, sejak Prabu Siliwangi difungsikan sebagai tempat duduk saat dinobatkan sebagai Raja Pajajaran.&amp;nbsp;
Batu tersebut berukuran panjang 200 sentimeter, lebar 160 sentimeter, dan 20 sentimeter dari tingginya dibawa ke Banten. Pada akhirnya batu tersebut harus dipindahkan sekaligus menandakan tak ada lagi penobatan raja baru di Pajajaran.
Baca Juga:&amp;nbsp;Pajajaran Jalin Kerjasama dengan Portugis Akibat Melemahnya Pertahanan Pasca Prabu Siliwangi
Bermula dari serangan ketiga Kesultanan Banten yang meruntuhkan Kerajaan Pajajaran. Berakhirnya masa Kerajaan Pajajaran ditandai dengan pemindahan batu yang merupakan simbol dari kerajaan saat bertahta, sekaligus tamatnya riwayat Pajajaran. Pemindahan batu ini dilakukan oleh Maulana Yusuf penguasa Banten, yang melakukan ekspansi ke ibu kota Pakuan, Pajajaran.
Kisah pemindahan batu ini tercantum pada buku &quot;Hitam Putih Pajajaran : Dari Kejayaan hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran&quot; tulisan Fery Taufiq El Jaquenne. Di mana dikisahkan batu yang dipindahkan oleh Maulana Yusuf bernama Palangka Sriman Sriwacana.
Istilah batu Palangka sendiri secara umum memiliki arti tempat duduk, yang dalam bahasa Sunda berarti pangcalikan, yang secara kontekstual bagi Kerajaan Pajajaran, adalah tahta. Padahal ini tahta tersebut melambangkan tempat duduk khusus, yang diperkenankan pada upacara penobatan seorang raja.
Di atas Palangka itulah, calon raja diberkati dengan berbagai prosesi upacara oleh pendeta tertinggi. Tempat Palangka berada di kabuyutan kerajaan, bukan di dalam istana. Sesuai dengan budaya Pajajaran, tahta tersebut dibuat dari batu dan diasah hingga halus mengkilap.
Baca Juga:&amp;nbsp;3 Serangan Kesultanan Banten yang Luluh Lantahkan Kerajaan PajajaranKemudian, diberi bahan tertentu yang fungsinya menjadikan batu tersebut serasa memiliki kesakralan tersendiri. Dari penduduk asli Sunda, menyebut batu Ini sebagai batu pangcalikan atau batu ranjang.
Batu Pangcalikan sekarang bisa ditemukan di makam kuno dekat Situ Sangiang di Desa Cibalanarik, Kecamatan Sukaraja, Tasikmalaya dan di Karang Kamulyan, bekas pusat Kerajaan Galuh di Ciamis.
Sedangkan batu ranjang dengan kaki yang diukir dapat ditemukan di Desa Batu Ranjang, Kecamatan Cimanuk, Pandeglang. Letaknya di kawasan petakan sawah, yang terjepit pohon.
Pemindahan itu sengaja dilakukan oleh Banten guna memperkuat legitimasi Sultan Banten Maulana Yusuf yang menahbiskan menjadi penerus kekuasaan Pajajaran yang sah. Apalagi, buyut perempuan Maulana Yusuf adalah putri dari Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.
Sementara itu di sisi lain, seluruh atribut dan perangkat Kerajaan Pajajaran secara resmi telah diserahkan kepada Kerajaan Sumedang Larang, melalui empat Kandaga Lante. Palangka Sriman Sriwacana sendiri saat ini berada di depan keraton Surawosan di Banten.
Karena wujudnya yang mengkilap, dan berbeda dengan batu lainnya, banyak orang Banten menyebutnya watu gigilang. Istilah gigilang artinya berseri atau mengkilap, sama dengan arti kata sriman.</content:encoded></item></channel></rss>
