<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Masjid Agung Tuban, Saksi Bisu Kejayaan Islam di Era Majapahit</title><description>Masjid Agung Tuban memiliki sejarah panjang tentang perkembanggan Islam. Terutama saat era keemasan Kerajaan Majapahit.
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/01/09/337/2529390/masjid-agung-tuban-saksi-bisu-kejayaan-islam-di-era-majapahit</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/01/09/337/2529390/masjid-agung-tuban-saksi-bisu-kejayaan-islam-di-era-majapahit"/><item><title>Masjid Agung Tuban, Saksi Bisu Kejayaan Islam di Era Majapahit</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/01/09/337/2529390/masjid-agung-tuban-saksi-bisu-kejayaan-islam-di-era-majapahit</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/01/09/337/2529390/masjid-agung-tuban-saksi-bisu-kejayaan-islam-di-era-majapahit</guid><pubDate>Minggu 09 Januari 2022 07:55 WIB</pubDate><dc:creator>Wasis Wibowo (Koran Sindo)</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/01/09/337/2529390/masjid-agung-tuban-saksi-bisu-kejayaan-islam-di-era-majapahit-Fpntiis59o.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Masjid Agung Tuban (Foto: Sindonews)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/01/09/337/2529390/masjid-agung-tuban-saksi-bisu-kejayaan-islam-di-era-majapahit-Fpntiis59o.jpg</image><title>Masjid Agung Tuban (Foto: Sindonews)</title></images><description>TUBAN - Berada di sekitar Alun-alun, Masjid Agung Tuban memiliki sejarah panjang tentang perkembanggan Islam. Terutama saat era keemasan Kerajaan Majapahit.

Pada bagian dalam masjid banyak menggunakan pola lengkungan untuk menghubungkan tiang penyangga, sehingga menghasilkan pola ruang dengan kolom-kolom. Sepertinya terinspirasi dari ruang dalam Masjid Cordoba, Spanyol.

Gaya arsitektur khas Nusantara dapat ditemui pada pintu dan mimbar yang terbuat dari kayu dengan ornamen ukiran khas Jawa. Di sayap mihrab terdapat tangga dari bahan kuningan mencirikan gaya khas ornamen Jawa Klasik.

Selain pola arsitekturnya, Masjid Agung Tuban memiliki keistimewaan lain. Sekitar sepuluh meter dari masjid, berdiri Museum Kembang Putih yang menyimpan berbagai beres bersejarah seperti kitab Al-Quran kuna terbuat dari kulit, keramik Cina, pusaka, sarkofagus, dan sebagainya.

Masjid Agung Tuban, pada awalnya bernama Masjid Jami&amp;rsquo; Tuban dan menjadi simbol semangat religius masyarakat Tuban. Masjid tersebut didirikan pada masa pemerintahan Adipati Raden Ario Tedjo atau yang dikenal dengan Syeh Abdurrahman, Bupati Tuban ke-7. Kapan pendirian masjid tersebut tidak tercatat secara pasti, namun diperkirakan pada abad ke-15 karena Adipati Raden Ario Tedjo berkuasa sekitar 1401-1419.

Pada masa kerajaan Majapahit, Tuban memiliki peran yang penting sebagai bandar perdagangan Internasional dan banyak dikunjungi pedagang dari penjuru dunia, seperti Persia, Irak, India yang membawa penyebar agama Islam. Pada masa itu, Kabupaten Tuban merupakan kabupaten pertama pada masa kerajaan Majapahit yang bupatinya memeluk agama Islam.

Adipati Raden Ario Tedjo berkuasa menggantikan mertuanya, Raden Aryo Dikara. Raden Ario merupakan putra Syeh Djalaludin dari Gresik dan menikah dengan Raden Ayu Ario Tedjo &amp;ndash;putri pertama Adipati Aryo Dikara.

Dalam perkembangan selanjutnya, bangunan masjid ini diperluas menjadi bangunan masjid yang dikenal sebagai Masjid Agung Tuban saat ini. Masjid tersebut sempat mengalami beberapa kali renovasi.

Renovasi pertama kali dilakukan pada 1894, yakni pada masa  pemerintahan Raden Toemengoeng Koesoemodiko (Bupati ke-34 Tuban). Saat  itu Raden Toemengoeng Koesoemodiko menggunakan jasa arsitek  berkebangsaan Belanda, BOHM Toxopeus. Sebagaimana disebutkan dalam  prasasti yang ada di depan masjid ini yang berbunyi :

&amp;ldquo;Batoe yang pertama dari inie missigit dipasang pada hari Akad  tanggal 29 Djuli 1894 oleh R. Toemengoeng Koesoemodiko Boepati Toeban.  Inie missigit terbikin oleh Toewan Opzicter B.O.H.M. Toxopeus.&amp;rdquo;

Dalam akun twitter potret lawas diposting foto Masjid Tuban disertai  keterangan: &amp;ldquo;Masjid Tuban, ???? ?????, di Jawa Timur. Seperti tertulis  di fasadnya, masjid ini dibangun pada tahun Jawa 1824 atau 1894-95  Masehi. Merupakan salah satu masjid pertama di Jawa yang memakai kubah.&amp;rdquo;

Dalam keterangan selanjutnya dijelaskan, Masjid Tuban dirancang HM  Toxopeus, opsir Burgelijke Openbare Werken. Menurut GF Pijper, cerita  yang berkembang menyebut rujukan rancangan masjid ini adalah Hagia Sofia  Istanbul. Selain antara pertama yang berkubah, Masjid Tuban juga salah  satu masjid terawal yang miliki arcade.

Bila diamati, Masjid Jami Tuban ini memiliki cari khas tersendiri.  Secara garis besar, bentuk bangunannya terdiri atas dua bagian, yaitu  serambi dan ruang shalat utama. Bentuknya tidak terpengaruh dengan  kebiasaan bentuk masjid di Jawa yang atapnya bersusun tiga.

Arsitektur masjid ini justru terpengaruh oleh corak Timur Tengah,   India, dan Eropa. Sekilas tampak ada kemiripan dengan Masjid Raya   Baiturrahman Banda Aceh, terutama bentuk berandanya yang dipertahankan   hingga kini.

Renovasi selanjutnya dilakukan pada 1985. Masjid mengalami perluasan.   Kemudian pada 2004 dilakukan renovasi total terhadap bangunan Masjid   Agung Tuban oleh pemerintah Kabupaten Tuban. Renovasi yang dilakukan   kali ini meliputi pengembangan satu lantai menjadi tiga lantai, menambah   sayap kiri dan kanannya dengan mengadopsi arsitektur bangunan berbagai   masjid terkenal di dunia.

Disertai juga penambahan enam menara masjid dengan luas keseluruhan   mencapai 3.565 meter persegi. Renovasi terakhir diperkirakan menelan   biaya sekitar Rp 17,5 miliar dan saat ini menjadi salah satu masjid   terindah di Jawa Timur.</description><content:encoded>TUBAN - Berada di sekitar Alun-alun, Masjid Agung Tuban memiliki sejarah panjang tentang perkembanggan Islam. Terutama saat era keemasan Kerajaan Majapahit.

Pada bagian dalam masjid banyak menggunakan pola lengkungan untuk menghubungkan tiang penyangga, sehingga menghasilkan pola ruang dengan kolom-kolom. Sepertinya terinspirasi dari ruang dalam Masjid Cordoba, Spanyol.

Gaya arsitektur khas Nusantara dapat ditemui pada pintu dan mimbar yang terbuat dari kayu dengan ornamen ukiran khas Jawa. Di sayap mihrab terdapat tangga dari bahan kuningan mencirikan gaya khas ornamen Jawa Klasik.

Selain pola arsitekturnya, Masjid Agung Tuban memiliki keistimewaan lain. Sekitar sepuluh meter dari masjid, berdiri Museum Kembang Putih yang menyimpan berbagai beres bersejarah seperti kitab Al-Quran kuna terbuat dari kulit, keramik Cina, pusaka, sarkofagus, dan sebagainya.

Masjid Agung Tuban, pada awalnya bernama Masjid Jami&amp;rsquo; Tuban dan menjadi simbol semangat religius masyarakat Tuban. Masjid tersebut didirikan pada masa pemerintahan Adipati Raden Ario Tedjo atau yang dikenal dengan Syeh Abdurrahman, Bupati Tuban ke-7. Kapan pendirian masjid tersebut tidak tercatat secara pasti, namun diperkirakan pada abad ke-15 karena Adipati Raden Ario Tedjo berkuasa sekitar 1401-1419.

Pada masa kerajaan Majapahit, Tuban memiliki peran yang penting sebagai bandar perdagangan Internasional dan banyak dikunjungi pedagang dari penjuru dunia, seperti Persia, Irak, India yang membawa penyebar agama Islam. Pada masa itu, Kabupaten Tuban merupakan kabupaten pertama pada masa kerajaan Majapahit yang bupatinya memeluk agama Islam.

Adipati Raden Ario Tedjo berkuasa menggantikan mertuanya, Raden Aryo Dikara. Raden Ario merupakan putra Syeh Djalaludin dari Gresik dan menikah dengan Raden Ayu Ario Tedjo &amp;ndash;putri pertama Adipati Aryo Dikara.

Dalam perkembangan selanjutnya, bangunan masjid ini diperluas menjadi bangunan masjid yang dikenal sebagai Masjid Agung Tuban saat ini. Masjid tersebut sempat mengalami beberapa kali renovasi.

Renovasi pertama kali dilakukan pada 1894, yakni pada masa  pemerintahan Raden Toemengoeng Koesoemodiko (Bupati ke-34 Tuban). Saat  itu Raden Toemengoeng Koesoemodiko menggunakan jasa arsitek  berkebangsaan Belanda, BOHM Toxopeus. Sebagaimana disebutkan dalam  prasasti yang ada di depan masjid ini yang berbunyi :

&amp;ldquo;Batoe yang pertama dari inie missigit dipasang pada hari Akad  tanggal 29 Djuli 1894 oleh R. Toemengoeng Koesoemodiko Boepati Toeban.  Inie missigit terbikin oleh Toewan Opzicter B.O.H.M. Toxopeus.&amp;rdquo;

Dalam akun twitter potret lawas diposting foto Masjid Tuban disertai  keterangan: &amp;ldquo;Masjid Tuban, ???? ?????, di Jawa Timur. Seperti tertulis  di fasadnya, masjid ini dibangun pada tahun Jawa 1824 atau 1894-95  Masehi. Merupakan salah satu masjid pertama di Jawa yang memakai kubah.&amp;rdquo;

Dalam keterangan selanjutnya dijelaskan, Masjid Tuban dirancang HM  Toxopeus, opsir Burgelijke Openbare Werken. Menurut GF Pijper, cerita  yang berkembang menyebut rujukan rancangan masjid ini adalah Hagia Sofia  Istanbul. Selain antara pertama yang berkubah, Masjid Tuban juga salah  satu masjid terawal yang miliki arcade.

Bila diamati, Masjid Jami Tuban ini memiliki cari khas tersendiri.  Secara garis besar, bentuk bangunannya terdiri atas dua bagian, yaitu  serambi dan ruang shalat utama. Bentuknya tidak terpengaruh dengan  kebiasaan bentuk masjid di Jawa yang atapnya bersusun tiga.

Arsitektur masjid ini justru terpengaruh oleh corak Timur Tengah,   India, dan Eropa. Sekilas tampak ada kemiripan dengan Masjid Raya   Baiturrahman Banda Aceh, terutama bentuk berandanya yang dipertahankan   hingga kini.

Renovasi selanjutnya dilakukan pada 1985. Masjid mengalami perluasan.   Kemudian pada 2004 dilakukan renovasi total terhadap bangunan Masjid   Agung Tuban oleh pemerintah Kabupaten Tuban. Renovasi yang dilakukan   kali ini meliputi pengembangan satu lantai menjadi tiga lantai, menambah   sayap kiri dan kanannya dengan mengadopsi arsitektur bangunan berbagai   masjid terkenal di dunia.

Disertai juga penambahan enam menara masjid dengan luas keseluruhan   mencapai 3.565 meter persegi. Renovasi terakhir diperkirakan menelan   biaya sekitar Rp 17,5 miliar dan saat ini menjadi salah satu masjid   terindah di Jawa Timur.</content:encoded></item></channel></rss>
