<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Humor Gus Dur: 4 Tipe Kiai yang Akan Selalu Ada di NU</title><description>Selepas tahlilan, beberapa kiai dan tokoh publik menyampaikan testimoni tentang Gus Dur.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/01/11/337/2529912/humor-gus-dur-4-tipe-kiai-yang-akan-selalu-ada-di-nu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/01/11/337/2529912/humor-gus-dur-4-tipe-kiai-yang-akan-selalu-ada-di-nu"/><item><title>Humor Gus Dur: 4 Tipe Kiai yang Akan Selalu Ada di NU</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/01/11/337/2529912/humor-gus-dur-4-tipe-kiai-yang-akan-selalu-ada-di-nu</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/01/11/337/2529912/humor-gus-dur-4-tipe-kiai-yang-akan-selalu-ada-di-nu</guid><pubDate>Selasa 11 Januari 2022 05:09 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/01/10/337/2529912/humor-gus-dur-4-tipe-kiai-yang-akan-selalu-ada-di-nu-Yrq1jNWVd6.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gus Dur (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/01/10/337/2529912/humor-gus-dur-4-tipe-kiai-yang-akan-selalu-ada-di-nu-Yrq1jNWVd6.jpg</image><title>Gus Dur (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Pada awal Januari 2010, salahh satu tokoh NU yang juga penulis di NU Jabar, Abdullah Alawi menghadiri tahlilan tujuh harinya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang wafat pada 30 Desember 2009.
Selepas tahlilan, beberapa kiai dan tokoh publik menyampaikan testimoni tentang Gus Dur. Salah satunya adalah penceramah kondang yang juga sahabat Gus Dur, yaitu KH Manarul Hidayat.
Pada saat menyampaikan testimoni, Kiai Manarul menyampaikan kisah Gus Dur yang tiba-tiba datang ke kediamannya pada saat yang tidak umum untuk bertamu, yaitu dini hari. Sayang waktu itu, Kiai Manarul tidak melengkapi data pertemuan tersebut dengan menyebut bulan dan tahun.
Kiai Manarul tidak tahu Gus Dur datang secara sengaja atau tiba-tiba saja mampir karena kebetulan lewat di dekat rumahnya. Namun yang jelas, pada dini hari itu Gus Dur datang bersama sopirnya.
Dengan tiba-tiba pula, tanpa ditanyakan, Gus Dur kemudian bercerita tentang empat tipe kiai di lingkungan NU. Empat tipe itu akan ada dan harus selalu ada di tengah-tengah Nahdliyin.
Pertama, kiai tandur. Kiai tipe ini mengabdikan hidupnya untuk mengajari dan mendidik santri di pesantrennya, dan membimbing masyarakat di musala atau majelis taklim.
Kedua, kiai sembur. Kiai tipe ini memiliki titik tekan pada dunia spiritual dan pengobatan, di kalangan pesantren dikenal sebagai ahli suwuk atau ahli dalam segala jenis doa.Ketiga, kiai tutur. Kiai jenis ini memilik titik tekan berceramah  dari satu panggung ke panggung lain. Bergaul luas dengan berbagai  kalangan, termasuk para pejabat dan artis. Menurut Gus Dur, kiai yang  pandai membuat proposal dan sering nongkrong di kantor pejabat, juga  termasuk dalam kategori jenis ini.
Keempat, kiai catur. Kiai jenis ini memiliki kecenderungan besar  terhadap politik dan kekuasaan. Gus Dur mengaku sebagai kiai dalam tipe  yang ini.
Dari keempat jenis kiai itu, menurut Gus Dur, harus berbagi tugas,  bukan saling menyalahkan apalagi menjelek-jelekkan. Dua tipe kiai  pertama, yaitu kiai tandur dan kiai sembur, harus tetap bersama  masyarakat untuk menjaga akidah mereka. Mereka menjaga NU di wilayah  itu. Sementara dua tipe kiai sisanya, yaitu kiai tutur dan kiai catur,  menjaga NU pada level kebijakan.
&amp;ldquo;Kiai tandur dan kiai sembur, jangan dibawa ke politik,&amp;rdquo; ungkap Kiai  Manarul menirukan Gus Dur. &amp;ldquo;Nah, kiai tutur dan catur boleh diajak ke  politik,&amp;rdquo; katanya.
Kiai Manarul hendak menanggapi apa yang dikatakan Gus Dur, tapi  sebelum itu dilakukannya, Gus Dur tiba-tiba beranjak pergi bersama  sopirnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Pada awal Januari 2010, salahh satu tokoh NU yang juga penulis di NU Jabar, Abdullah Alawi menghadiri tahlilan tujuh harinya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang wafat pada 30 Desember 2009.
Selepas tahlilan, beberapa kiai dan tokoh publik menyampaikan testimoni tentang Gus Dur. Salah satunya adalah penceramah kondang yang juga sahabat Gus Dur, yaitu KH Manarul Hidayat.
Pada saat menyampaikan testimoni, Kiai Manarul menyampaikan kisah Gus Dur yang tiba-tiba datang ke kediamannya pada saat yang tidak umum untuk bertamu, yaitu dini hari. Sayang waktu itu, Kiai Manarul tidak melengkapi data pertemuan tersebut dengan menyebut bulan dan tahun.
Kiai Manarul tidak tahu Gus Dur datang secara sengaja atau tiba-tiba saja mampir karena kebetulan lewat di dekat rumahnya. Namun yang jelas, pada dini hari itu Gus Dur datang bersama sopirnya.
Dengan tiba-tiba pula, tanpa ditanyakan, Gus Dur kemudian bercerita tentang empat tipe kiai di lingkungan NU. Empat tipe itu akan ada dan harus selalu ada di tengah-tengah Nahdliyin.
Pertama, kiai tandur. Kiai tipe ini mengabdikan hidupnya untuk mengajari dan mendidik santri di pesantrennya, dan membimbing masyarakat di musala atau majelis taklim.
Kedua, kiai sembur. Kiai tipe ini memiliki titik tekan pada dunia spiritual dan pengobatan, di kalangan pesantren dikenal sebagai ahli suwuk atau ahli dalam segala jenis doa.Ketiga, kiai tutur. Kiai jenis ini memilik titik tekan berceramah  dari satu panggung ke panggung lain. Bergaul luas dengan berbagai  kalangan, termasuk para pejabat dan artis. Menurut Gus Dur, kiai yang  pandai membuat proposal dan sering nongkrong di kantor pejabat, juga  termasuk dalam kategori jenis ini.
Keempat, kiai catur. Kiai jenis ini memiliki kecenderungan besar  terhadap politik dan kekuasaan. Gus Dur mengaku sebagai kiai dalam tipe  yang ini.
Dari keempat jenis kiai itu, menurut Gus Dur, harus berbagi tugas,  bukan saling menyalahkan apalagi menjelek-jelekkan. Dua tipe kiai  pertama, yaitu kiai tandur dan kiai sembur, harus tetap bersama  masyarakat untuk menjaga akidah mereka. Mereka menjaga NU di wilayah  itu. Sementara dua tipe kiai sisanya, yaitu kiai tutur dan kiai catur,  menjaga NU pada level kebijakan.
&amp;ldquo;Kiai tandur dan kiai sembur, jangan dibawa ke politik,&amp;rdquo; ungkap Kiai  Manarul menirukan Gus Dur. &amp;ldquo;Nah, kiai tutur dan catur boleh diajak ke  politik,&amp;rdquo; katanya.
Kiai Manarul hendak menanggapi apa yang dikatakan Gus Dur, tapi  sebelum itu dilakukannya, Gus Dur tiba-tiba beranjak pergi bersama  sopirnya.</content:encoded></item></channel></rss>
