<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Eijkman Dileburkan ke BRIN, Pelacakan Covid-19 Tetap Berjalan</title><description>Pandemi Covid-19 hingga kini belum juga usai bahkan semakin menyebar dengan berbagai varian.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/01/17/337/2533128/eijkman-dileburkan-ke-brin-pelacakan-covid-19-tetap-berjalan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/01/17/337/2533128/eijkman-dileburkan-ke-brin-pelacakan-covid-19-tetap-berjalan"/><item><title>Eijkman Dileburkan ke BRIN, Pelacakan Covid-19 Tetap Berjalan</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/01/17/337/2533128/eijkman-dileburkan-ke-brin-pelacakan-covid-19-tetap-berjalan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/01/17/337/2533128/eijkman-dileburkan-ke-brin-pelacakan-covid-19-tetap-berjalan</guid><pubDate>Senin 17 Januari 2022 07:02 WIB</pubDate><dc:creator>Lutfia Dwi Kurniasih</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/01/17/337/2533128/eijkman-dileburkan-ke-brin-pelacakan-covid-19-tetap-berjalan-dNi24LfVdK.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/01/17/337/2533128/eijkman-dileburkan-ke-brin-pelacakan-covid-19-tetap-berjalan-dNi24LfVdK.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Pandemi Covid-19 hingga kini belum juga usai bahkan semakin menyebar dengan berbagai varian. Hal itu menyebabkan munculnya kata-kata Whole Genome Sequencing (WGS) yang sudah mulai umum diutarakan oleh banyak pihak.

WGS sendiri menjadi hal yang sangat berperan dan digunakan sebagai alat untuk mendapatkan cetak biru genetik (genetic blueprint) dari genom virus SARS-CoV-2, identifikasi mutasi baru , pelacakan asal virus, dan pencegahan penularan virus.

Hal ini ada kaitannya pula dengan Lembaga Eijkman yang melakukan fokus penelitian biologi yang meliputi bidang biomedis, keanekaragaman hayati, bioteknologi, biosekuriti dan menerjemahkan hasil penelitian demi kepentingan masyarakat termasuk WGS.

Setelah peleburan Eijkman ke BRIN pada 2021 lalu. BRIN mengatakan tetap memberikan layanan ditengah pandemi Covid-19. Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko dalam Special Dialogue Okezone mengungkapkan langsung peran BRIN selama pandemi.

&quot;Selain riset kita juga tetap melanjutkan layanan surveilans yang berbasis WGS dan juga uji virus termasuknya jalan terus, karena itu penting sekali. Ini kontenksnya kita mendukung Kementerian Kesehatan, karena pelakunya kan Kementerian Kesehatan tapi kita bantu kan dari awal ya. Kalau dulu timnya Eijkman dan LIPI ya sekarang jadi satu timnya BRIN begitu lah. Nah didalam surveilans whole genome sequencing itu memamg kita otomatis mempelajari berbagai variasi dan mutasi dari virus SARS-CoV-2 ini termasuk Omicron,&quot; ungkapnya dalam Special Dialogue Okezone.

Ia juga mengatakan BRIN sampai saat ini pun tetap fokus untuk kesehatan terutama Covid-19.

&amp;ldquo;Sejak awal-awal covid masih Kemenristek, ya kita menjadi tulang  punggung utama. Itu termasuk perkembangan vaksin merah putih oleh 7 tim  dan masih belanjut sampai tahun ini. Fokus kita hingga saat ini pun  untuk Kesehatan yaitu riset penanganan Covid, meskipun fokusnya lebih  kita tekankan pada dua hal yaitu pengembangan vaksin merah putih karena  banyak masalah keterlambatan dan yang kedua terkait perkembangan alat  deketksi non pcr yang bisa lebih murah,&quot; katanya.

&quot;Ini kenapa penting? Karena ini tidak hanya penting untuk Covid, jadi  misalnya untuk vaksin, di Indonesia itu belum pernah ada satu tim  periset pun yang punya pengalaman mengembangkan vaksin, mau vaksin hewan  ataupun vaksin manusia itu kita baru tahu gara-gara pandemi itu,  meskipun kita produsen vaksin besar di dunia gitu ya, tetapi kita selalu  beli lisensi,&amp;rdquo; tutupnya menjelaskan.

</description><content:encoded>JAKARTA - Pandemi Covid-19 hingga kini belum juga usai bahkan semakin menyebar dengan berbagai varian. Hal itu menyebabkan munculnya kata-kata Whole Genome Sequencing (WGS) yang sudah mulai umum diutarakan oleh banyak pihak.

WGS sendiri menjadi hal yang sangat berperan dan digunakan sebagai alat untuk mendapatkan cetak biru genetik (genetic blueprint) dari genom virus SARS-CoV-2, identifikasi mutasi baru , pelacakan asal virus, dan pencegahan penularan virus.

Hal ini ada kaitannya pula dengan Lembaga Eijkman yang melakukan fokus penelitian biologi yang meliputi bidang biomedis, keanekaragaman hayati, bioteknologi, biosekuriti dan menerjemahkan hasil penelitian demi kepentingan masyarakat termasuk WGS.

Setelah peleburan Eijkman ke BRIN pada 2021 lalu. BRIN mengatakan tetap memberikan layanan ditengah pandemi Covid-19. Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko dalam Special Dialogue Okezone mengungkapkan langsung peran BRIN selama pandemi.

&quot;Selain riset kita juga tetap melanjutkan layanan surveilans yang berbasis WGS dan juga uji virus termasuknya jalan terus, karena itu penting sekali. Ini kontenksnya kita mendukung Kementerian Kesehatan, karena pelakunya kan Kementerian Kesehatan tapi kita bantu kan dari awal ya. Kalau dulu timnya Eijkman dan LIPI ya sekarang jadi satu timnya BRIN begitu lah. Nah didalam surveilans whole genome sequencing itu memamg kita otomatis mempelajari berbagai variasi dan mutasi dari virus SARS-CoV-2 ini termasuk Omicron,&quot; ungkapnya dalam Special Dialogue Okezone.

Ia juga mengatakan BRIN sampai saat ini pun tetap fokus untuk kesehatan terutama Covid-19.

&amp;ldquo;Sejak awal-awal covid masih Kemenristek, ya kita menjadi tulang  punggung utama. Itu termasuk perkembangan vaksin merah putih oleh 7 tim  dan masih belanjut sampai tahun ini. Fokus kita hingga saat ini pun  untuk Kesehatan yaitu riset penanganan Covid, meskipun fokusnya lebih  kita tekankan pada dua hal yaitu pengembangan vaksin merah putih karena  banyak masalah keterlambatan dan yang kedua terkait perkembangan alat  deketksi non pcr yang bisa lebih murah,&quot; katanya.

&quot;Ini kenapa penting? Karena ini tidak hanya penting untuk Covid, jadi  misalnya untuk vaksin, di Indonesia itu belum pernah ada satu tim  periset pun yang punya pengalaman mengembangkan vaksin, mau vaksin hewan  ataupun vaksin manusia itu kita baru tahu gara-gara pandemi itu,  meskipun kita produsen vaksin besar di dunia gitu ya, tetapi kita selalu  beli lisensi,&amp;rdquo; tutupnya menjelaskan.

</content:encoded></item></channel></rss>
