<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Runtuhnya Kerajan Singasari, Kertanegara Dibunuh saat Mabuk dan Diserang Dua Arah</title><description>Singasari didirikan ken Arok, usai menghabisi Raja Kadiri, Kertajaya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/01/18/337/2533593/runtuhnya-kerajan-singasari-kertanegara-dibunuh-saat-mabuk-dan-diserang-dua-arah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/01/18/337/2533593/runtuhnya-kerajan-singasari-kertanegara-dibunuh-saat-mabuk-dan-diserang-dua-arah"/><item><title>Runtuhnya Kerajan Singasari, Kertanegara Dibunuh saat Mabuk dan Diserang Dua Arah</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/01/18/337/2533593/runtuhnya-kerajan-singasari-kertanegara-dibunuh-saat-mabuk-dan-diserang-dua-arah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/01/18/337/2533593/runtuhnya-kerajan-singasari-kertanegara-dibunuh-saat-mabuk-dan-diserang-dua-arah</guid><pubDate>Selasa 18 Januari 2022 05:06 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/01/17/337/2533593/runtuhnya-kerajan-singasari-kertanegara-dibunuh-saat-mabuk-dan-diserang-dua-arah-JDnmTkDXg4.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/01/17/337/2533593/runtuhnya-kerajan-singasari-kertanegara-dibunuh-saat-mabuk-dan-diserang-dua-arah-JDnmTkDXg4.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>KERTANEGARA naik tahta sebagai raja ke lima Singasari, menggantikan ayahnya Wisnuwardhana. Dia akhirnya menjadi raja terakhir dari kerajaan yang didirikan oleh Ken Arok tersebut. Singasari didirikan ken Arok, usai menghabisi Raja Kadiri, Kertajaya.

Kartanegara dihabisi di tengah pesta minum-minuman keras, Raja Kertanagara tak sadar pasukan Jayakatwang telah memasuki keratonnya di pusat Kerajaan Singasari. Dengan mudah, pasukan Gelang-gelang yang merupakan bagian dari kebangkitan Kerajaan Kadiri, membunuh Kertanagara.

Kematian memilukan Kertanagara di dalam istananya sendiri tersebut, tak lepas dari siasat jitu Jayakatwang yang kala itu memimpin Gelang-gelang. Atas saran dari Aria Wiraraja, Jayakatwang menyerang Singasari dari dua arah.

Pada awalnya, Jayakatwang mengirimkan pasukan kecil dari sisi utara yang dipimpin Jaran Guyang. Tak ingin pemberontakan Jayakatwang meluas, Kertanagara mengirimkan pasukan yang dipimpin menantunya, Raden Wijaya.

Menurut Riboet Darmosoetopo dalam tulisannya yang berjudul &quot;Sejarah Perkembangan Majapahit&quot;, dan termuat dalam &quot;700 Tahun Majapahit, Sebuah Bunga Rampai&quot; seperti dikutip dari Sindonews, disebutkan Raden Wijaya menghadang pasukan Jayakatwang, bersama para panglima yang memiliki pengalaman dalam perang.

Para panglima yang turut serta menghadang pasukan Jayakatwang, antara lain Banyak Kapuk, Ranggalawe, Pedang, Sora, Dangdi, Gajahpanggon, Nambi yang merupakan anak Aria Wiraraja, Peteng, dan Wirot.

Saat Raden Wijaya dapat memporakporandakan pasukan Jayakatwang di sisi utara Singasari. Ternyata, pasukan yang lebih besar datang menyerang dari sisi selatan, dan langsung masuk ke jantung Kerajaan Singasari.

Pusat kerajaan yang tidak terjaga, dengan mudah ditakhlukkan pasukan Jayakatwang yang datang dari arah selatan. Pasukan yang dipimpin Patih Mahisa Mundarang, langsung masuk mengobrak-abrik istana, dan membunuh Raja Kertanagara.

Raja Kertanagara disebut sedang pesta minum-minum saat pasukan Jayakatwang datang menyerang ke dalam istana. Namun, Negarakartagama menyebut, Raja Kertanagara sedang melakukan ritual keagamaan.

Strategi serangan dari dua arah, dan dilakukan pada saat yang tepat  tersebut, dilakukan Jayakatwang, berkat saran dari Aria Wiraraja yang  saat itu sudah digeser oleh Raja Kertanagara menjadi Bupati Sumenep.

Diduga, pergeseran menjadi Bupati Sumenep tersebut, memicu rasa sakit  hati Aria Wiraraja terhadap Raja Kertanagara. Aria Wiraraja yang  mengetahui kondisi Singasari sedang kosong, karena sebagian besar  pasukannya melakukan penyerangan ke Melayu, meminta Jayakatwang membagi  pasukannya menjadi dua. Satu sebagai pengecoh, dan satu kekuatan besar  untuk memukul.

Pemberontakan dan perang penuh darah dalam perebutan kekuasaan antara  Singasari, dengan Kadiri tersebut, sebenarnya terjadi antar keluarga  dan kerabat kerajaan. Secara silsilah keluarga, Kertanagara merupakan  kakak dari Turukbali yang merupakan istri Jayakatwang. Sementara di  pasukan Raden Wijaya, ada Nambi yang merupakan anak Aria Wiraraja.

Selain itu, Raja Kertanagara yang sudah mencium gelagat perlawanan  dari Jayakatwang, mencoba meredamnya dengan menikahkan putrinya dengan  putra Jayakatwang, Ardharaja. Namun, strategi ini tak berjalan mulus dan  Jayakatwang yang kala itu menjabat sebagai Bupati Gelang-gelang, tetap  melakukan pemberontakan hingga menewaskan Raja Kertanagara.

Ardharaja yang saat terjadi serangan pasukan Jayakatwang, sedang  berada dalam pasukan Raden Wijaya. Akhirnya turut berkhianat kepada  Kertanagara yang tak lain merupakan mertuanya sendiri. Dia lebih memilih  ikut pasukan ayahnya sendiri.

Kematian Raja Kertanagara, membuat Singasari runtuh. Jayakatwang   akhirnya naik tahta menjadi Raja Kadiri. Jayakatwang menyimpan dendam   kesumat terhadap Singasari, karena Raja Kadiri, Kertajaya yang merupakan   leluhur Jayakatwang, tewas dibunung Ken Arok.

Riboet Darmosoetopo menyebutkan, menurut prasasti Mula-Malurung 1177   Saka, Wisnuwardhana menikah dengan Naraya Waning Hyung, putri pamannya.   Dari pernikahan itu, memiliki anak, Kertanagara, Naraya Murddhaja, dan   Turubalik. Turukbali diperistri Jayakatwang.

Hubungan Raden Wijaya dengan Singasari juga sangat dekat. Saat   Singasari dipimpin ayah Wisnuwardhana, Ranggawungi. Mahisa Cempaka   memberikan dukungan penuh kepada Ranggawungi. Mahisa Cempaka memiliki   anak bernama Lembu Tal. Lembu Tal memiliki anak Raden Wijaya.

Saat Singasari telah ditakhlukkan oleh Jayakatwang, datang pasukan   Mogol yang hendak menyerang Singasari. Kedatangan pasukan Mongol ini,   dimanfaatkan Raden Wijaya menjadi kekuatan untuk menyerang balik Kadiri.

Serangan balik dari Raden Wijaya, yang memanfaatkan pasukan Mongol   tersebut, mampu menakhlukkan Jayakatwang. Kerajaan Kadiri yang baru saja   dibangkitkan Jayakatwang melalui perang besar melawan Singasari,   akhirnya pupus kembali.

Sementara Raden Wijaya dengan para panglimanya, balik menyerang   pasukan Mongol yang telah kelelehan berperang melawan pasukan Kadiri.   Pasukan mongol akhirnya lari tunggang langgang, dan Raden Wijaya   berhasil mendirikan Majapahit, lalu naik tahta menjadi raja pertama.
</description><content:encoded>KERTANEGARA naik tahta sebagai raja ke lima Singasari, menggantikan ayahnya Wisnuwardhana. Dia akhirnya menjadi raja terakhir dari kerajaan yang didirikan oleh Ken Arok tersebut. Singasari didirikan ken Arok, usai menghabisi Raja Kadiri, Kertajaya.

Kartanegara dihabisi di tengah pesta minum-minuman keras, Raja Kertanagara tak sadar pasukan Jayakatwang telah memasuki keratonnya di pusat Kerajaan Singasari. Dengan mudah, pasukan Gelang-gelang yang merupakan bagian dari kebangkitan Kerajaan Kadiri, membunuh Kertanagara.

Kematian memilukan Kertanagara di dalam istananya sendiri tersebut, tak lepas dari siasat jitu Jayakatwang yang kala itu memimpin Gelang-gelang. Atas saran dari Aria Wiraraja, Jayakatwang menyerang Singasari dari dua arah.

Pada awalnya, Jayakatwang mengirimkan pasukan kecil dari sisi utara yang dipimpin Jaran Guyang. Tak ingin pemberontakan Jayakatwang meluas, Kertanagara mengirimkan pasukan yang dipimpin menantunya, Raden Wijaya.

Menurut Riboet Darmosoetopo dalam tulisannya yang berjudul &quot;Sejarah Perkembangan Majapahit&quot;, dan termuat dalam &quot;700 Tahun Majapahit, Sebuah Bunga Rampai&quot; seperti dikutip dari Sindonews, disebutkan Raden Wijaya menghadang pasukan Jayakatwang, bersama para panglima yang memiliki pengalaman dalam perang.

Para panglima yang turut serta menghadang pasukan Jayakatwang, antara lain Banyak Kapuk, Ranggalawe, Pedang, Sora, Dangdi, Gajahpanggon, Nambi yang merupakan anak Aria Wiraraja, Peteng, dan Wirot.

Saat Raden Wijaya dapat memporakporandakan pasukan Jayakatwang di sisi utara Singasari. Ternyata, pasukan yang lebih besar datang menyerang dari sisi selatan, dan langsung masuk ke jantung Kerajaan Singasari.

Pusat kerajaan yang tidak terjaga, dengan mudah ditakhlukkan pasukan Jayakatwang yang datang dari arah selatan. Pasukan yang dipimpin Patih Mahisa Mundarang, langsung masuk mengobrak-abrik istana, dan membunuh Raja Kertanagara.

Raja Kertanagara disebut sedang pesta minum-minum saat pasukan Jayakatwang datang menyerang ke dalam istana. Namun, Negarakartagama menyebut, Raja Kertanagara sedang melakukan ritual keagamaan.

Strategi serangan dari dua arah, dan dilakukan pada saat yang tepat  tersebut, dilakukan Jayakatwang, berkat saran dari Aria Wiraraja yang  saat itu sudah digeser oleh Raja Kertanagara menjadi Bupati Sumenep.

Diduga, pergeseran menjadi Bupati Sumenep tersebut, memicu rasa sakit  hati Aria Wiraraja terhadap Raja Kertanagara. Aria Wiraraja yang  mengetahui kondisi Singasari sedang kosong, karena sebagian besar  pasukannya melakukan penyerangan ke Melayu, meminta Jayakatwang membagi  pasukannya menjadi dua. Satu sebagai pengecoh, dan satu kekuatan besar  untuk memukul.

Pemberontakan dan perang penuh darah dalam perebutan kekuasaan antara  Singasari, dengan Kadiri tersebut, sebenarnya terjadi antar keluarga  dan kerabat kerajaan. Secara silsilah keluarga, Kertanagara merupakan  kakak dari Turukbali yang merupakan istri Jayakatwang. Sementara di  pasukan Raden Wijaya, ada Nambi yang merupakan anak Aria Wiraraja.

Selain itu, Raja Kertanagara yang sudah mencium gelagat perlawanan  dari Jayakatwang, mencoba meredamnya dengan menikahkan putrinya dengan  putra Jayakatwang, Ardharaja. Namun, strategi ini tak berjalan mulus dan  Jayakatwang yang kala itu menjabat sebagai Bupati Gelang-gelang, tetap  melakukan pemberontakan hingga menewaskan Raja Kertanagara.

Ardharaja yang saat terjadi serangan pasukan Jayakatwang, sedang  berada dalam pasukan Raden Wijaya. Akhirnya turut berkhianat kepada  Kertanagara yang tak lain merupakan mertuanya sendiri. Dia lebih memilih  ikut pasukan ayahnya sendiri.

Kematian Raja Kertanagara, membuat Singasari runtuh. Jayakatwang   akhirnya naik tahta menjadi Raja Kadiri. Jayakatwang menyimpan dendam   kesumat terhadap Singasari, karena Raja Kadiri, Kertajaya yang merupakan   leluhur Jayakatwang, tewas dibunung Ken Arok.

Riboet Darmosoetopo menyebutkan, menurut prasasti Mula-Malurung 1177   Saka, Wisnuwardhana menikah dengan Naraya Waning Hyung, putri pamannya.   Dari pernikahan itu, memiliki anak, Kertanagara, Naraya Murddhaja, dan   Turubalik. Turukbali diperistri Jayakatwang.

Hubungan Raden Wijaya dengan Singasari juga sangat dekat. Saat   Singasari dipimpin ayah Wisnuwardhana, Ranggawungi. Mahisa Cempaka   memberikan dukungan penuh kepada Ranggawungi. Mahisa Cempaka memiliki   anak bernama Lembu Tal. Lembu Tal memiliki anak Raden Wijaya.

Saat Singasari telah ditakhlukkan oleh Jayakatwang, datang pasukan   Mogol yang hendak menyerang Singasari. Kedatangan pasukan Mongol ini,   dimanfaatkan Raden Wijaya menjadi kekuatan untuk menyerang balik Kadiri.

Serangan balik dari Raden Wijaya, yang memanfaatkan pasukan Mongol   tersebut, mampu menakhlukkan Jayakatwang. Kerajaan Kadiri yang baru saja   dibangkitkan Jayakatwang melalui perang besar melawan Singasari,   akhirnya pupus kembali.

Sementara Raden Wijaya dengan para panglimanya, balik menyerang   pasukan Mongol yang telah kelelehan berperang melawan pasukan Kadiri.   Pasukan mongol akhirnya lari tunggang langgang, dan Raden Wijaya   berhasil mendirikan Majapahit, lalu naik tahta menjadi raja pertama.
</content:encoded></item></channel></rss>
