<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kehancuran Jayakatwang di Bawah Siasat Licik Aria Wiraraja</title><description>Keperkasaan Jayakatwang dimulai setelah kehancuran Singasari tahun 1292, dan menjadi raja Kadiri.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/01/18/337/2533600/kehancuran-jayakatwang-di-bawah-siasat-licik-aria-wiraraja</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/01/18/337/2533600/kehancuran-jayakatwang-di-bawah-siasat-licik-aria-wiraraja"/><item><title>Kehancuran Jayakatwang di Bawah Siasat Licik Aria Wiraraja</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/01/18/337/2533600/kehancuran-jayakatwang-di-bawah-siasat-licik-aria-wiraraja</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/01/18/337/2533600/kehancuran-jayakatwang-di-bawah-siasat-licik-aria-wiraraja</guid><pubDate>Selasa 18 Januari 2022 07:00 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/01/17/337/2533600/kehancuran-jayakatwang-di-bawah-siasat-licik-aria-wiraraja-Fj9K5Lnc3G.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/01/17/337/2533600/kehancuran-jayakatwang-di-bawah-siasat-licik-aria-wiraraja-Fj9K5Lnc3G.jpeg</image><title>Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</title></images><description>KISAH kedigdayaan Jayakatwang dalam Nagarakretagama, Pararaton, Kidung Harsawijaya, dan Kidung Panji Wijayakrama disebut berawal dari pemberontakan terhadap Kertanegara di Singasari yang dibantu siasat Aria Wiraraja.

Keperkasaan Jayakatwang dimulai setelah kehancuran Singasari tahun 1292, dan menjadi raja Kadiri. Namun jatuh oleh siasat licik Aria Wiraraja yang menghancurkannya demi merebut kembali takhta peninggalan mertuanya.

Naskah prasasti Kudadu dan prasasti Penanggungan menyebut Jayakatwang pada saat memberontak masih menjabat sebagai bupati Gelang-Gelang . Setelah Singasari runtuh, baru kemudian ia menjadi raja di Kadiri.

Jayakatwang menyimpan dendam karena leluhurnya (Kertajaya) dikalahkan Ken Arok pendiri Singasari. Suatu hari ia menerima kedatangan Wirondaya putra Aria Wiraraja yang menyampaikan surat dari ayahnya sebagai balasan &quot;formal&quot; terhadap permintaan pertimbangan yang diajukan Jayakatwang sebelumnya, mengingat Aria Wiraraja dianggap sesepuh Jayakatwang.

Dalam surat tersebut berisi pertanyaan yang menyulut ambisi Jayakatwang yang menyebut, mungkinkah Jayakatwang bisa melakukan balas dendam terhadap Kertanegara akibat kekuasaan Kadiri yang merupakan leluhur Jayakatwang telah ditaklukkan Singasari leluhur dari Kertanegara,?

Atas pertanyaan ini, Aria Wiraraja menyarankan supaya Jayakatwang segera menyerang Singasari saat sedang dalam keadaan kosong, ditinggal sebagian besar pasukannya ke luar Jawa.

Adapun Aria Wiraraja adalah mantan pejabat Singasari yang dimutasi ke Sumenep karena dianggap sebagai penentang politik Kertanegara. Yang pada akhirnya di kemudian hari Aria Wiraraja menyayangkan dan sangat menyesali apa yang dilakukan oleh Jayakatwang.

Saran tersebut pun diterima, Jayakatwang mengirim pasukan kecil yang dipimpin Jaran Guyang menyerbu Singasari dari utara. Mendengar hal itu, Kertanegara segera mengirim pasukan untuk menghadapi yang dipimpin oleh menantunya, bernama Raden Wijaya. Pasukan Jaran Guyang berhasil dikalahkan. Namun sesungguhnya pasukan kecil ini hanya bersifat pancingan supaya pertahanan kota Singasari kosong.

Pasukan kedua Jayakatwang menyerang Singasari dari arah selatan  dipimpin oleh Patih Mahisa Mundarang. Dalam serangan tak terduga ini,  Kertanegara tewas di dalam istananya.

Dalam prasasti Kudadu, Ardharaja putra Jayakatwang yang tinggal di  Singasari bersama istrinya, ikut serta dalam pasukan Raden Wijaya. Tentu  saja ia berada dalam posisi sulit karena harus menghadapi pasukan  ayahnya sendiri. Ketika mengetahui kekalahan Singasari, Ardaraja  berbalik meninggalkan Raden Wijaya dan memilih bergabung dengan pasukan  Gelang-Gelang.

Sementara, Aria Wiraraja sesungguhnya telah berbalik melawan  Jayakatwang. Saat itu ia ganti membantu Raden Wijaya untuk merebut  kembali takhta peninggalan mertuanya. Pada tahun 1293 pasukan Mongol  datang untuk menghukum Kertanegara yang telah berani menyakiti utusan  Kubilai Khan tahun 1289.

Pasukan Mongol tersebut diterima Raden Wijaya di desanya yang bernama  Majapahit. Raden Wijaya yang mengaku sebagai ahli waris Kertanagara  bersedia menyerahkan diri kepada Kubilai Khan asalkan terlebih dahulu  dibantu mengalahkan Jayakatwang.

Berita Tiongkok, seperti dikutip Sindonews menyebutkan perang terjadi   pada tanggal 20 Maret 1293. Gabungan pasukan Mongol dan Majapahit   menggempur kota Kadiri sejak pagi hari. Sekitar 5.000 orang Kadiri tewas   menjadi korban. Akhirnya pada sore harinya, Jayakatwang menyerah dan   ditawan di atas kapal Mongol.

Dikisahkan kemudian pasukan Mongol ganti diserang balik oleh pihak   Majapahit untuk diusir keluar dari tanah Jawa. Sebelum meninggalkan   Jawa, pihak Mongol sempat menghukum mati Jayakatwang dan Ardharaja di   atas kapal mereka.

Nama Arya Wiraraja, sangat lekat dengan kerajaan di selatan Gunung   Semeru tersebut. Bahkan, Arya Wiraraja menjadi raja besar di Lamajang   Tigang Juru. Dalam kitab Pararaton, Arya Wiraraja tercatat dengan nama   kecilnya Banyak Wide.

Secara etimologis, Banyak merupakan nama yang disandang oleh kaum   Brahmana . Sedangkan Wide memiliki arti Widya yaitu pengetahuan. Banyak   Wide memiliki makna Brahmana yang memiliki pengetahuan atau kecerdasan   tinggi.

Dalam Pararaton juga disebutkan keterangan penting terkait Lamajang   Tigang Juru dan Arya Wiraraja, yakni &quot;Hana ta wongira, babatanganira   buyuting Nangka, aran Banyak Wide, sinungan pasenggahan Arya Wiraraja,   arupa tan kandel denira, dinohaken, kinon Adipati ing Songenep, anger   ing Madura wetan&quot;.

Kerja sama Raden Wijaya dan Arya Wiraraja ini akhirnya melahirkan   kesepakatan, yakni pembagian tanah Jawa menjadi dua yang sama besar. Hal   ini disebut dalam Perjanjian Sumenep .

Dalam masa pelarian dan pendirian Majapahit , Adipati Arya Wiraraja   memberi bantuan sangat besar terhadap Raden Wijaya. Bahkan, dia pula   yang mengupayakan pengampunan politik untuk Raden Wijaya kepada Prabu   Jayakatwang di Kediri, hingga pembukaan hutan Tarik menjadi Majapahit .

Kecerdikan Arya Wiraraja , juga sangat membantu Raden Wijaya saat   mengelabuhi pasukan besar Mongol untuk menyerang Jayakatwang, dan   kemudian diserang balik hingga pasukan Mongol lari tercerai-berai.

Pasukan besar Mongol Tartar pimpinan Jendral Shih Pi (Shi-bi) yang    mendarat di pelabuhan Tuban. Adipati Arya Wiraraja kemudian menasehati    Raden Wijaya untuk mengirim utusan dan bekerja sama dengan pasukan  besar   ini dan menawarkan bantuan dengan iming-iming harta rampasan  perang  dan  putri-putri Jawa yang cantik.

Setelah dicapai kesepakatan maka diseranglah Prabu Jayakatwang di    Kediri yang kemudian dapat ditaklukkan dalam waktu yang kurang dari    sebulan. Setelah kekalahan Kediri, Jendral Shih Pi meminta janji    putri-putri Jawa tersebut dan kemudian sekali lagi dengan kecerdikan    Adipati Arya Wiraraja utusan Mongol dibawah pimpinan Jendral Kau Tsing    (Gaoxing) menjemput para putri tersebut di Desa Majapahit tanpa membawa    senjata.

Hal ini dikarenakan permintaan Arya Wiraraja dan Raden Wijaya untuk    para penjemput putri Jawa tersebut agar meletakkan senjata dikarenakan    permohonan para putri yang dijanjikan yang masih trauma dengan senjata    dan peperangan yang sering kali terjadi.

Setelah pasukan Mongol Tartar masuk Desa Majapahit tanpa senjata,    tiba-tiba gerbang desa ditutup dan pasukan Ronggolawe maupun Mpu Sora    bertugas membantainya. Hal ini diikuti oleh pengusiran pasukan Mongol    Tartar baik di pelabuhan Ujung Galuh (Surabaya) maupun di Kediri oleh    pasukan Madura dan laskar Majapahit.

Arya Wiraraja yang dalam dongeng rakyat Lumajang, disebut sebagai    Prabu Menak Koncar I , memimpin Kerajaan Lamajang Tigang Juru, di mana    wilayah kekuasaannya meliputi Madura, Lamajang, Patukangan atau    Panarukan, dan Blambangan.

Prabu Menak Koncar I berkuasa pada tahun 1293- 1316 Masehi. Setelah    itu diteruskan oleh Mpu Nambi. Dalam perjalanannya, Mpu Nambi yang juga    merupakan patih di Majapahit, diserang oleh Majapahit hingga gugur  dan   Lamajang Tigang Juru jatuh ke tangan Majapahit.

Dalam versi lain disebutkan pada tahun 1295 salah satu putra Wiraraja    yang bernama Ranggalawe melakukan pemberontakan dan menemui    kematiannya. Peristiwa itu membuat Wiraraja sakit hati dan mengundurkan    diri dari jabatannya.

Dia lalu menuntut janji Raden Wijaya, yaitu setengah wilayah    Majapahit. Raden Wijaya mengabulkannya. Wiraraja akhirnya mendapatkan    Majapahit sebelah timur dengan ibu kota di Lumajang.

</description><content:encoded>KISAH kedigdayaan Jayakatwang dalam Nagarakretagama, Pararaton, Kidung Harsawijaya, dan Kidung Panji Wijayakrama disebut berawal dari pemberontakan terhadap Kertanegara di Singasari yang dibantu siasat Aria Wiraraja.

Keperkasaan Jayakatwang dimulai setelah kehancuran Singasari tahun 1292, dan menjadi raja Kadiri. Namun jatuh oleh siasat licik Aria Wiraraja yang menghancurkannya demi merebut kembali takhta peninggalan mertuanya.

Naskah prasasti Kudadu dan prasasti Penanggungan menyebut Jayakatwang pada saat memberontak masih menjabat sebagai bupati Gelang-Gelang . Setelah Singasari runtuh, baru kemudian ia menjadi raja di Kadiri.

Jayakatwang menyimpan dendam karena leluhurnya (Kertajaya) dikalahkan Ken Arok pendiri Singasari. Suatu hari ia menerima kedatangan Wirondaya putra Aria Wiraraja yang menyampaikan surat dari ayahnya sebagai balasan &quot;formal&quot; terhadap permintaan pertimbangan yang diajukan Jayakatwang sebelumnya, mengingat Aria Wiraraja dianggap sesepuh Jayakatwang.

Dalam surat tersebut berisi pertanyaan yang menyulut ambisi Jayakatwang yang menyebut, mungkinkah Jayakatwang bisa melakukan balas dendam terhadap Kertanegara akibat kekuasaan Kadiri yang merupakan leluhur Jayakatwang telah ditaklukkan Singasari leluhur dari Kertanegara,?

Atas pertanyaan ini, Aria Wiraraja menyarankan supaya Jayakatwang segera menyerang Singasari saat sedang dalam keadaan kosong, ditinggal sebagian besar pasukannya ke luar Jawa.

Adapun Aria Wiraraja adalah mantan pejabat Singasari yang dimutasi ke Sumenep karena dianggap sebagai penentang politik Kertanegara. Yang pada akhirnya di kemudian hari Aria Wiraraja menyayangkan dan sangat menyesali apa yang dilakukan oleh Jayakatwang.

Saran tersebut pun diterima, Jayakatwang mengirim pasukan kecil yang dipimpin Jaran Guyang menyerbu Singasari dari utara. Mendengar hal itu, Kertanegara segera mengirim pasukan untuk menghadapi yang dipimpin oleh menantunya, bernama Raden Wijaya. Pasukan Jaran Guyang berhasil dikalahkan. Namun sesungguhnya pasukan kecil ini hanya bersifat pancingan supaya pertahanan kota Singasari kosong.

Pasukan kedua Jayakatwang menyerang Singasari dari arah selatan  dipimpin oleh Patih Mahisa Mundarang. Dalam serangan tak terduga ini,  Kertanegara tewas di dalam istananya.

Dalam prasasti Kudadu, Ardharaja putra Jayakatwang yang tinggal di  Singasari bersama istrinya, ikut serta dalam pasukan Raden Wijaya. Tentu  saja ia berada dalam posisi sulit karena harus menghadapi pasukan  ayahnya sendiri. Ketika mengetahui kekalahan Singasari, Ardaraja  berbalik meninggalkan Raden Wijaya dan memilih bergabung dengan pasukan  Gelang-Gelang.

Sementara, Aria Wiraraja sesungguhnya telah berbalik melawan  Jayakatwang. Saat itu ia ganti membantu Raden Wijaya untuk merebut  kembali takhta peninggalan mertuanya. Pada tahun 1293 pasukan Mongol  datang untuk menghukum Kertanegara yang telah berani menyakiti utusan  Kubilai Khan tahun 1289.

Pasukan Mongol tersebut diterima Raden Wijaya di desanya yang bernama  Majapahit. Raden Wijaya yang mengaku sebagai ahli waris Kertanagara  bersedia menyerahkan diri kepada Kubilai Khan asalkan terlebih dahulu  dibantu mengalahkan Jayakatwang.

Berita Tiongkok, seperti dikutip Sindonews menyebutkan perang terjadi   pada tanggal 20 Maret 1293. Gabungan pasukan Mongol dan Majapahit   menggempur kota Kadiri sejak pagi hari. Sekitar 5.000 orang Kadiri tewas   menjadi korban. Akhirnya pada sore harinya, Jayakatwang menyerah dan   ditawan di atas kapal Mongol.

Dikisahkan kemudian pasukan Mongol ganti diserang balik oleh pihak   Majapahit untuk diusir keluar dari tanah Jawa. Sebelum meninggalkan   Jawa, pihak Mongol sempat menghukum mati Jayakatwang dan Ardharaja di   atas kapal mereka.

Nama Arya Wiraraja, sangat lekat dengan kerajaan di selatan Gunung   Semeru tersebut. Bahkan, Arya Wiraraja menjadi raja besar di Lamajang   Tigang Juru. Dalam kitab Pararaton, Arya Wiraraja tercatat dengan nama   kecilnya Banyak Wide.

Secara etimologis, Banyak merupakan nama yang disandang oleh kaum   Brahmana . Sedangkan Wide memiliki arti Widya yaitu pengetahuan. Banyak   Wide memiliki makna Brahmana yang memiliki pengetahuan atau kecerdasan   tinggi.

Dalam Pararaton juga disebutkan keterangan penting terkait Lamajang   Tigang Juru dan Arya Wiraraja, yakni &quot;Hana ta wongira, babatanganira   buyuting Nangka, aran Banyak Wide, sinungan pasenggahan Arya Wiraraja,   arupa tan kandel denira, dinohaken, kinon Adipati ing Songenep, anger   ing Madura wetan&quot;.

Kerja sama Raden Wijaya dan Arya Wiraraja ini akhirnya melahirkan   kesepakatan, yakni pembagian tanah Jawa menjadi dua yang sama besar. Hal   ini disebut dalam Perjanjian Sumenep .

Dalam masa pelarian dan pendirian Majapahit , Adipati Arya Wiraraja   memberi bantuan sangat besar terhadap Raden Wijaya. Bahkan, dia pula   yang mengupayakan pengampunan politik untuk Raden Wijaya kepada Prabu   Jayakatwang di Kediri, hingga pembukaan hutan Tarik menjadi Majapahit .

Kecerdikan Arya Wiraraja , juga sangat membantu Raden Wijaya saat   mengelabuhi pasukan besar Mongol untuk menyerang Jayakatwang, dan   kemudian diserang balik hingga pasukan Mongol lari tercerai-berai.

Pasukan besar Mongol Tartar pimpinan Jendral Shih Pi (Shi-bi) yang    mendarat di pelabuhan Tuban. Adipati Arya Wiraraja kemudian menasehati    Raden Wijaya untuk mengirim utusan dan bekerja sama dengan pasukan  besar   ini dan menawarkan bantuan dengan iming-iming harta rampasan  perang  dan  putri-putri Jawa yang cantik.

Setelah dicapai kesepakatan maka diseranglah Prabu Jayakatwang di    Kediri yang kemudian dapat ditaklukkan dalam waktu yang kurang dari    sebulan. Setelah kekalahan Kediri, Jendral Shih Pi meminta janji    putri-putri Jawa tersebut dan kemudian sekali lagi dengan kecerdikan    Adipati Arya Wiraraja utusan Mongol dibawah pimpinan Jendral Kau Tsing    (Gaoxing) menjemput para putri tersebut di Desa Majapahit tanpa membawa    senjata.

Hal ini dikarenakan permintaan Arya Wiraraja dan Raden Wijaya untuk    para penjemput putri Jawa tersebut agar meletakkan senjata dikarenakan    permohonan para putri yang dijanjikan yang masih trauma dengan senjata    dan peperangan yang sering kali terjadi.

Setelah pasukan Mongol Tartar masuk Desa Majapahit tanpa senjata,    tiba-tiba gerbang desa ditutup dan pasukan Ronggolawe maupun Mpu Sora    bertugas membantainya. Hal ini diikuti oleh pengusiran pasukan Mongol    Tartar baik di pelabuhan Ujung Galuh (Surabaya) maupun di Kediri oleh    pasukan Madura dan laskar Majapahit.

Arya Wiraraja yang dalam dongeng rakyat Lumajang, disebut sebagai    Prabu Menak Koncar I , memimpin Kerajaan Lamajang Tigang Juru, di mana    wilayah kekuasaannya meliputi Madura, Lamajang, Patukangan atau    Panarukan, dan Blambangan.

Prabu Menak Koncar I berkuasa pada tahun 1293- 1316 Masehi. Setelah    itu diteruskan oleh Mpu Nambi. Dalam perjalanannya, Mpu Nambi yang juga    merupakan patih di Majapahit, diserang oleh Majapahit hingga gugur  dan   Lamajang Tigang Juru jatuh ke tangan Majapahit.

Dalam versi lain disebutkan pada tahun 1295 salah satu putra Wiraraja    yang bernama Ranggalawe melakukan pemberontakan dan menemui    kematiannya. Peristiwa itu membuat Wiraraja sakit hati dan mengundurkan    diri dari jabatannya.

Dia lalu menuntut janji Raden Wijaya, yaitu setengah wilayah    Majapahit. Raden Wijaya mengabulkannya. Wiraraja akhirnya mendapatkan    Majapahit sebelah timur dengan ibu kota di Lumajang.

</content:encoded></item></channel></rss>
