<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Strategi Pemerintah Hadapi Omicron Berbeda saat Tanggulangi Delta, Ini Alasannya</title><description>Indonesia saat ini bersiap menghadapi lonjakan kasus Covid-19 atau gelombang ketiga akibat varian Omicron.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/01/28/337/2539076/strategi-pemerintah-hadapi-omicron-berbeda-saat-tanggulangi-delta-ini-alasannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/01/28/337/2539076/strategi-pemerintah-hadapi-omicron-berbeda-saat-tanggulangi-delta-ini-alasannya"/><item><title>Strategi Pemerintah Hadapi Omicron Berbeda saat Tanggulangi Delta, Ini Alasannya</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/01/28/337/2539076/strategi-pemerintah-hadapi-omicron-berbeda-saat-tanggulangi-delta-ini-alasannya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/01/28/337/2539076/strategi-pemerintah-hadapi-omicron-berbeda-saat-tanggulangi-delta-ini-alasannya</guid><pubDate>Jum'at 28 Januari 2022 07:53 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/01/28/337/2539076/strategi-pemerintah-hadapi-omicron-berbeda-saat-tanggulangi-delta-ini-alasannya-gVbb0rLIcI.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/01/28/337/2539076/strategi-pemerintah-hadapi-omicron-berbeda-saat-tanggulangi-delta-ini-alasannya-gVbb0rLIcI.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Indonesia saat ini bersiap menghadapi lonjakan kasus Covid-19 atau gelombang ketiga akibat varian Omicron. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin pun menegaskan bahwa strategi pemerintah dalam menghadapi gelombang Omicron ini sedikit berbeda dengan menghadapi gelombang Delta.

Gelombang Delta memiliki tingkat keparahan tinggi sehingga pemerintah harus mempersiapkan rumah sakit dengan banyak tempat tidur. Sedangkan Omicron ini yang tinggi adalah penularannya tapi keparahannya rendah.

&amp;ldquo;Sebagian besar kasus Omicron adalah OTG atau asimtomatik atau gejala sakitnya ringan. Jadi hanya gejala pilek, batuk, atau demam yang sebenarnya bisa sembuh tanpa perlu dibawa ke rumah sakit,&amp;rdquo; kata Menkes dikutip dari laman resmi Kemenkes, Jumat (28/1/2022).

BACA JUGA:Kasus Omicron Terus Naik, Menkes Minta Kepala Daerah Percepat Vaksinasi Lansia

Menkes pun meminta masyarakat mengetahui ciri-ciri dan langkah untuk mencegah varian Omicron tidak semakin menular. Dia mengatakan bahwa Omicron memicu gejala ringan seperti flu biasa, batuk, dan demam dengan tingkat penularan yang cepat. &amp;ldquo;Nanti kita akan melihat dalam waktu yang singkat kenaikan jumlah kasus yang cukup tinggi,&amp;rdquo; katanya.

Ciri-ciri selanjutnya dari varian Omicron, kata Menkes, adalah tingkat perawatan di rumah sakit lebih rendah, begitupun tingkat keparahannya juga lebih rendah. Sehingga pasien yang masuk ke rumah sakit lebih sedikit daripada pasien yang melaksanakan isolasi mandiri (Isoman).

Pemerintah, kata Menkes juga telah menyiapkan tempat tidur perawatan  di rumah sakit sebanyak 70.641. Kapasitas tempat tidur secara nasional  berjumlah 120 ribu hingga 130 ribu.

Sementara itu, total pasien yang sudah terkonfirmasi Omikron sampai  tanggal 26 Januari 2022 berjumlah 1.988. Dari jumlah itu yang sudah  sembuh atau selesai dirawat berjumlah 765 orang.

Total pasien pernah dirawat sejak awal kasus Omicron pada Desember  2021 sebanyak 854 pasien dengan rincian pasien asimtomatik 461, gejala  jaringan 334 pasien, dan gejala sedang dan berat 59 pasien.

&amp;ldquo;Sebenarnya yang perlu masuk rumah sakit adalah pasien yang 59 itu.  Yang perlu dirawat hanya kalau dia perlu di treatment oksigen,&amp;rdquo; ucap  Menkes.

Dia pun berpesan kepada masyarakat untuk tetap waspada dan hati-hati.  Yang paling penting selalu pakai masker, hindari kerumunan karena  penularan akan semakin tinggi. Kalau bisa kerja di rumah, di rumah saja,  tidak usah pergi kemana-mana karena risiko tertularnya sedang tinggi.

Tapi kalau pun tertular tidak usah panik yang penting disiplin  isolasi sendiri dan minum vitamin, jika ada gejala ringan minum obat.

&amp;ldquo;Yang perlu ke rumah sakit kalau ada Lansia atau komorbid nya banyak,  itu ke rumah sakit. Dan cepat-cepatlah divaksin untuk memperkuat daya  tahan tubuh dalam menghadapi varian baru,&amp;rdquo; tuturnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Indonesia saat ini bersiap menghadapi lonjakan kasus Covid-19 atau gelombang ketiga akibat varian Omicron. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin pun menegaskan bahwa strategi pemerintah dalam menghadapi gelombang Omicron ini sedikit berbeda dengan menghadapi gelombang Delta.

Gelombang Delta memiliki tingkat keparahan tinggi sehingga pemerintah harus mempersiapkan rumah sakit dengan banyak tempat tidur. Sedangkan Omicron ini yang tinggi adalah penularannya tapi keparahannya rendah.

&amp;ldquo;Sebagian besar kasus Omicron adalah OTG atau asimtomatik atau gejala sakitnya ringan. Jadi hanya gejala pilek, batuk, atau demam yang sebenarnya bisa sembuh tanpa perlu dibawa ke rumah sakit,&amp;rdquo; kata Menkes dikutip dari laman resmi Kemenkes, Jumat (28/1/2022).

BACA JUGA:Kasus Omicron Terus Naik, Menkes Minta Kepala Daerah Percepat Vaksinasi Lansia

Menkes pun meminta masyarakat mengetahui ciri-ciri dan langkah untuk mencegah varian Omicron tidak semakin menular. Dia mengatakan bahwa Omicron memicu gejala ringan seperti flu biasa, batuk, dan demam dengan tingkat penularan yang cepat. &amp;ldquo;Nanti kita akan melihat dalam waktu yang singkat kenaikan jumlah kasus yang cukup tinggi,&amp;rdquo; katanya.

Ciri-ciri selanjutnya dari varian Omicron, kata Menkes, adalah tingkat perawatan di rumah sakit lebih rendah, begitupun tingkat keparahannya juga lebih rendah. Sehingga pasien yang masuk ke rumah sakit lebih sedikit daripada pasien yang melaksanakan isolasi mandiri (Isoman).

Pemerintah, kata Menkes juga telah menyiapkan tempat tidur perawatan  di rumah sakit sebanyak 70.641. Kapasitas tempat tidur secara nasional  berjumlah 120 ribu hingga 130 ribu.

Sementara itu, total pasien yang sudah terkonfirmasi Omikron sampai  tanggal 26 Januari 2022 berjumlah 1.988. Dari jumlah itu yang sudah  sembuh atau selesai dirawat berjumlah 765 orang.

Total pasien pernah dirawat sejak awal kasus Omicron pada Desember  2021 sebanyak 854 pasien dengan rincian pasien asimtomatik 461, gejala  jaringan 334 pasien, dan gejala sedang dan berat 59 pasien.

&amp;ldquo;Sebenarnya yang perlu masuk rumah sakit adalah pasien yang 59 itu.  Yang perlu dirawat hanya kalau dia perlu di treatment oksigen,&amp;rdquo; ucap  Menkes.

Dia pun berpesan kepada masyarakat untuk tetap waspada dan hati-hati.  Yang paling penting selalu pakai masker, hindari kerumunan karena  penularan akan semakin tinggi. Kalau bisa kerja di rumah, di rumah saja,  tidak usah pergi kemana-mana karena risiko tertularnya sedang tinggi.

Tapi kalau pun tertular tidak usah panik yang penting disiplin  isolasi sendiri dan minum vitamin, jika ada gejala ringan minum obat.

&amp;ldquo;Yang perlu ke rumah sakit kalau ada Lansia atau komorbid nya banyak,  itu ke rumah sakit. Dan cepat-cepatlah divaksin untuk memperkuat daya  tahan tubuh dalam menghadapi varian baru,&amp;rdquo; tuturnya.</content:encoded></item></channel></rss>
