<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Deretan Tokoh NU yang Diangkat Jadi Pahlawan Nasional</title><description>Hadratusshekh KH Hasyim As'yari adalah tokoh utama dan pendiri Nahdatul Ulama.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/01/31/337/2540191/deretan-tokoh-nu-yang-diangkat-jadi-pahlawan-nasional</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/01/31/337/2540191/deretan-tokoh-nu-yang-diangkat-jadi-pahlawan-nasional"/><item><title>Deretan Tokoh NU yang Diangkat Jadi Pahlawan Nasional</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/01/31/337/2540191/deretan-tokoh-nu-yang-diangkat-jadi-pahlawan-nasional</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/01/31/337/2540191/deretan-tokoh-nu-yang-diangkat-jadi-pahlawan-nasional</guid><pubDate>Senin 31 Januari 2022 07:04 WIB</pubDate><dc:creator>Mohammad Adrianto S</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/01/30/337/2540191/deretan-tokoh-nu-yang-diangkat-jadi-pahlawan-nasional-SdH1y3msJN.jpg" expression="full" type="image/jpeg">KH Hasyim Asyari (Foto: Kemendikbud)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/01/30/337/2540191/deretan-tokoh-nu-yang-diangkat-jadi-pahlawan-nasional-SdH1y3msJN.jpg</image><title>KH Hasyim Asyari (Foto: Kemendikbud)</title></images><description>JAKARTA - Jam'iyyah Nahdlatul Ulama melahirkan para pejuang yang memenangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Meski banyak pahlawan dari NU yang berasal dari pesantren, hanya beberapa nama yang kemudian mendapat gelar Pahlawan Nasional.
Melansir situs nu.or.id, berikut beberapa nama dengan sejarah NU yang menerima gelar tersebut dalam rangka memperingati hari berdirinya NU tanggal 31 Januari besok.
Hadratusshekh KH Hasyim Asyari
Hadratusshekh KH Hasyim As'yari adalah tokoh utama dan pendiri Nahdatul Ulama. Dialah satu-satunya pemilik gelar Rais Akbar NU sampai akhir hayatnya. Ia dinyatakan sebagai pahlawan nasional pada 17 November 1964 berkat jasa-jasanya yang berperan besar melawan penjajah.
Salah satu pengabdiannya untuk negeri ini adalah memutuskan NU untuk mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Tanggal itu kemudian dijadikan sebagai Hari Santri Nasional.
Baca juga:&amp;nbsp;Cerita Mbah Moen Heran Banyak Orang Kagumi Gus Dur, Ternyata 4 Hal Ini Alasannya
KH Abdul Wahid Hasyim
KH Abdul Wahid Hasyim adalah putra dari Hadratusyekh KH Hasyim As'yari dan ayah dari presiden keempat Republik Indonesia KH Abdurrahmann Wahid.
Ia juga anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Baca juga:&amp;nbsp;Sepak Terjang NU Perjuangkan Kemerdekaan Indonesia
Di Pondok Pesantren Tebuireng ia merintis masuknya ilmu-ilmu umum ke dalam dunia pondok pesantren. Ia dinyatakan sebagai pahlawan nasional pada 17 November 1960.KH Zainul Arifin
KH Zainul Arifin, adalah seorang tokoh NU asal Sumatera Utara. Dirinya aktif di NU sejak usia belia. Ia juga berjasa dalam pembentukan kekuatan semi-militer Hizbullah, dan menjadi panglima tertinggi.
Ia pernah menjadi perdana menteri Indonesia, yaitu Ketua DPR-GR. Selain itu, ia juga berperan dalam menjadi anggota badan kerja Komite Nasional Pusat. Pemerintah mendeklarasikan dirinya sebagai pahlawan nasional pada 4 Maret 1963.
KH Zainal Mustofa
KH Zainal Mustofa, tokoh NU asal Tasikmalaya, menjadi salah satu perwakilan Rais Syuriyah. Ia adalah salah satu kiai yang terang-terangan menentang penjajah Belanda.
Ketika Belanda lengser dan digantikan penjajah &amp;#8203;&amp;#8203;Jepang, KH Zainal Mustafa tetap menolak kehadiran mereka, dan mengajak murid-muridnya berperang dengan Jepang. Untuk jasanya ia dianugerahi pahlawan nasional pada tahun 1972.
Baca juga:&amp;nbsp;4 Tokoh Muslim Perempuan Pejuang dalam Proses Kemerdekaan RI
KH Idham Chalid
Beliau pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II dan Kabinet Djuanda. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua MPR dan Ketua DPR.
Selain sebagai politikus, ia pernah menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada tahun 1956-1984. Hingga saat ini, dia adalah ketua organisasi massa yang dibentuk oleh kiai dengan masa jabatan terlama.
Baca juga:&amp;nbsp;Kisah KH Noer Ali, Pendakwah dari Bekasi sekaligus Pahlawan Nasional Pengusir Penjajah
Atas jasa-jasanya, ia dinyatakan sebagai pahlawan pada 8 November 2011. Kemudian pada 19 Desember 2016, Pemerintah mengabadikannya dalam uang kertas rupiah baru, Rp. 5.000,- .KH Abdul Wahab Chasbullah
KH Abdul Wahab Chasbullah adalah salah satu pendiri NU. Sebelumnya beliau adalah pendiri kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Berpikir), pendiri Madrasah Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Negara), pendiri Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Pedagang).
Sejak tahun 1924, telah diusulkan bahwa sebuah asosiasi ulama dibentuk untuk melindungi kepentingan kaum tradisionalis. Usulnya diwujudkan dengan mendirikan NU pada tahun 1926 bersama kiai lainnya.
Ia juga salah satu penggagas MIAI dan pernah menjadi Rais 'Aam PBNU. Kiai yang wafat pada 29 Desember 1971 itu mendapat gelar pahlawan pada 8 November 2014.
Baca juga:&amp;nbsp;Dosen-Dosen yang Raih Gelar Pahlawan Nasional, dari Bung Hatta hingga Pendiri HMI
KH As'ad Syamsul Arifin
KH As'ad Syamsul Arifin salah satu kiai yang berperang melawan penjajah. Ia menjadi pemimpin para pejuang di Situbondo, Jember dan Bondowoso, Jawa Timur.
Pada masa revolusi fisik, Kiai As'ad menjadi motor penggerak massa dalam pertempuran melawan penjajah pada 10 November 1945. Setelah kemerdekaan, Kiai As'ad menjadi penggerak sosial ekonomi masyarakat.
Baca juga:&amp;nbsp;Biografi Raden Aria Wangsakara, Tokoh Tangerang yang Diberikan Gelar Pahlawan Nasional Tahun Ini
Dia menyerap aspirasi warga dan kemudian mendorong pemerintah daerah, menteri, dan presiden untuk mewujudkan pemerataan pembangunan.
Kiai As'ad juga berperan menjelaskan bahwa kedudukan Pancasila tidak akan mengganggu nilai-nilai Islam. Atas jasa-jasanya, ia menerima Penghargaan Pahlawan pada 9 November 2016.</description><content:encoded>JAKARTA - Jam'iyyah Nahdlatul Ulama melahirkan para pejuang yang memenangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Meski banyak pahlawan dari NU yang berasal dari pesantren, hanya beberapa nama yang kemudian mendapat gelar Pahlawan Nasional.
Melansir situs nu.or.id, berikut beberapa nama dengan sejarah NU yang menerima gelar tersebut dalam rangka memperingati hari berdirinya NU tanggal 31 Januari besok.
Hadratusshekh KH Hasyim Asyari
Hadratusshekh KH Hasyim As'yari adalah tokoh utama dan pendiri Nahdatul Ulama. Dialah satu-satunya pemilik gelar Rais Akbar NU sampai akhir hayatnya. Ia dinyatakan sebagai pahlawan nasional pada 17 November 1964 berkat jasa-jasanya yang berperan besar melawan penjajah.
Salah satu pengabdiannya untuk negeri ini adalah memutuskan NU untuk mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Tanggal itu kemudian dijadikan sebagai Hari Santri Nasional.
Baca juga:&amp;nbsp;Cerita Mbah Moen Heran Banyak Orang Kagumi Gus Dur, Ternyata 4 Hal Ini Alasannya
KH Abdul Wahid Hasyim
KH Abdul Wahid Hasyim adalah putra dari Hadratusyekh KH Hasyim As'yari dan ayah dari presiden keempat Republik Indonesia KH Abdurrahmann Wahid.
Ia juga anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Baca juga:&amp;nbsp;Sepak Terjang NU Perjuangkan Kemerdekaan Indonesia
Di Pondok Pesantren Tebuireng ia merintis masuknya ilmu-ilmu umum ke dalam dunia pondok pesantren. Ia dinyatakan sebagai pahlawan nasional pada 17 November 1960.KH Zainul Arifin
KH Zainul Arifin, adalah seorang tokoh NU asal Sumatera Utara. Dirinya aktif di NU sejak usia belia. Ia juga berjasa dalam pembentukan kekuatan semi-militer Hizbullah, dan menjadi panglima tertinggi.
Ia pernah menjadi perdana menteri Indonesia, yaitu Ketua DPR-GR. Selain itu, ia juga berperan dalam menjadi anggota badan kerja Komite Nasional Pusat. Pemerintah mendeklarasikan dirinya sebagai pahlawan nasional pada 4 Maret 1963.
KH Zainal Mustofa
KH Zainal Mustofa, tokoh NU asal Tasikmalaya, menjadi salah satu perwakilan Rais Syuriyah. Ia adalah salah satu kiai yang terang-terangan menentang penjajah Belanda.
Ketika Belanda lengser dan digantikan penjajah &amp;#8203;&amp;#8203;Jepang, KH Zainal Mustafa tetap menolak kehadiran mereka, dan mengajak murid-muridnya berperang dengan Jepang. Untuk jasanya ia dianugerahi pahlawan nasional pada tahun 1972.
Baca juga:&amp;nbsp;4 Tokoh Muslim Perempuan Pejuang dalam Proses Kemerdekaan RI
KH Idham Chalid
Beliau pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II dan Kabinet Djuanda. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua MPR dan Ketua DPR.
Selain sebagai politikus, ia pernah menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada tahun 1956-1984. Hingga saat ini, dia adalah ketua organisasi massa yang dibentuk oleh kiai dengan masa jabatan terlama.
Baca juga:&amp;nbsp;Kisah KH Noer Ali, Pendakwah dari Bekasi sekaligus Pahlawan Nasional Pengusir Penjajah
Atas jasa-jasanya, ia dinyatakan sebagai pahlawan pada 8 November 2011. Kemudian pada 19 Desember 2016, Pemerintah mengabadikannya dalam uang kertas rupiah baru, Rp. 5.000,- .KH Abdul Wahab Chasbullah
KH Abdul Wahab Chasbullah adalah salah satu pendiri NU. Sebelumnya beliau adalah pendiri kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Berpikir), pendiri Madrasah Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Negara), pendiri Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Pedagang).
Sejak tahun 1924, telah diusulkan bahwa sebuah asosiasi ulama dibentuk untuk melindungi kepentingan kaum tradisionalis. Usulnya diwujudkan dengan mendirikan NU pada tahun 1926 bersama kiai lainnya.
Ia juga salah satu penggagas MIAI dan pernah menjadi Rais 'Aam PBNU. Kiai yang wafat pada 29 Desember 1971 itu mendapat gelar pahlawan pada 8 November 2014.
Baca juga:&amp;nbsp;Dosen-Dosen yang Raih Gelar Pahlawan Nasional, dari Bung Hatta hingga Pendiri HMI
KH As'ad Syamsul Arifin
KH As'ad Syamsul Arifin salah satu kiai yang berperang melawan penjajah. Ia menjadi pemimpin para pejuang di Situbondo, Jember dan Bondowoso, Jawa Timur.
Pada masa revolusi fisik, Kiai As'ad menjadi motor penggerak massa dalam pertempuran melawan penjajah pada 10 November 1945. Setelah kemerdekaan, Kiai As'ad menjadi penggerak sosial ekonomi masyarakat.
Baca juga:&amp;nbsp;Biografi Raden Aria Wangsakara, Tokoh Tangerang yang Diberikan Gelar Pahlawan Nasional Tahun Ini
Dia menyerap aspirasi warga dan kemudian mendorong pemerintah daerah, menteri, dan presiden untuk mewujudkan pemerataan pembangunan.
Kiai As'ad juga berperan menjelaskan bahwa kedudukan Pancasila tidak akan mengganggu nilai-nilai Islam. Atas jasa-jasanya, ia menerima Penghargaan Pahlawan pada 9 November 2016.</content:encoded></item></channel></rss>
