<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Utusan China ke PBB: Stop Bicara Invasi Rusia ke Ukraina</title><description>Para pihak yang terlibat harus berusaha menyelesaikan perbedaan mereka melalui dialog dan negosiasi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/02/02/18/2541328/utusan-china-ke-pbb-stop-bicara-invasi-rusia-ke-ukraina</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/02/02/18/2541328/utusan-china-ke-pbb-stop-bicara-invasi-rusia-ke-ukraina"/><item><title>Utusan China ke PBB: Stop Bicara Invasi Rusia ke Ukraina</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/02/02/18/2541328/utusan-china-ke-pbb-stop-bicara-invasi-rusia-ke-ukraina</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/02/02/18/2541328/utusan-china-ke-pbb-stop-bicara-invasi-rusia-ke-ukraina</guid><pubDate>Rabu 02 Februari 2022 13:18 WIB</pubDate><dc:creator>Susi Susanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/02/02/18/2541328/utusan-china-ke-pbb-stop-bicara-invasi-rusia-ke-ukraina-LecPnhAqPP.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Utusan China untuk PBB Zhang Jun (Foto: AP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/02/02/18/2541328/utusan-china-ke-pbb-stop-bicara-invasi-rusia-ke-ukraina-LecPnhAqPP.jpg</image><title>Utusan China untuk PBB Zhang Jun (Foto: AP)</title></images><description>CHINA &amp;ndash; Utusan China di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Zhang Jun mengatakan menggunakan Dewan Keamanan (DK) PBB&amp;nbsp;untuk memperdebatkan kebuntuan di perbatasan antara Rusia dan Ukraina tidak tepat, dan lebih baik mengedepankan jalur negosiasi atau konsultasi kedua negara.
Hal ini diungkapkan Jun saat berbicara di pertemuan badan keamanan utama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang diminta oleh Amerika Serikat (AS), pada Senin (31/1). Dia menegaskan membahas situasi di majelis terbuka tidak berkontribusi untuk mengurangi ketegangan.
&amp;ldquo;Rusia telah berulang kali menyatakan bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk meluncurkan aksi militer apa pun. Dan Ukraina telah menjelaskan bahwa itu tidak membutuhkan perang,&amp;rdquo; tambah duta besar itu.
Baca juga:&amp;nbsp;Anak-Anak Ukraina Dilatih Menggunakan Senapan Lawan Rusia
&amp;ldquo;Dalam keadaan seperti itu, apa dasar bagi negara-negara yang bersangkutan untuk bersikeras bahwa akan ada perang?,&amp;rdquo; lanjutnya.
Menurut utusan itu, para pihak yang terlibat harus berusaha menyelesaikan perbedaan mereka melalui dialog dan negosiasi.
&amp;nbsp;Baca juga:&amp;nbsp;Putin: AS Coba Tarik Rusia ke Dalam Perang Ukraina
&amp;ldquo;Kami sangat membutuhkan diplomasi yang tenang sekarang, bukan diplomasi megafon,&amp;rdquo; tegasnya.&amp;ldquo;Sayangnya, AS tidak menerima proposal konstruktif seperti itu,&amp;rdquo; tambahnya.
Seperti diketahui, para pemimpin Barat telah membunyikan alarm beberapa kali dalam beberapa bulan terakhir, mengklaim bahwa Moskow mungkin berencana untuk segera meluncurkan invasi ke Ukraina, yang telah berulang kali dibantah Kremlin.
Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Ukraina Dmitry Kuleba mengatakan meski Moskow belum memerintahkan serangan terhadap tetangganya, namun Kiev sudah menderita secara ekonomi dan menjadi lebih lemah karena kepanikan yang menyebar ke masyarakat.
Pada akhir Januari lalu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan kepada warga dalam pidato yang disiarkan televisi bahwa risiko invasi tidak meningkat.
&amp;ldquo;Ada lebih banyak hype tentang itu sekarang,&amp;rdquo; jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Kiev, Alexey Danilov, juga berusaha untuk mengecilkan ancaman tersebut, menambahkan bahwa penumpukan pasukan Rusia tidak secepat yang diklaim beberapa orang.</description><content:encoded>CHINA &amp;ndash; Utusan China di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Zhang Jun mengatakan menggunakan Dewan Keamanan (DK) PBB&amp;nbsp;untuk memperdebatkan kebuntuan di perbatasan antara Rusia dan Ukraina tidak tepat, dan lebih baik mengedepankan jalur negosiasi atau konsultasi kedua negara.
Hal ini diungkapkan Jun saat berbicara di pertemuan badan keamanan utama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang diminta oleh Amerika Serikat (AS), pada Senin (31/1). Dia menegaskan membahas situasi di majelis terbuka tidak berkontribusi untuk mengurangi ketegangan.
&amp;ldquo;Rusia telah berulang kali menyatakan bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk meluncurkan aksi militer apa pun. Dan Ukraina telah menjelaskan bahwa itu tidak membutuhkan perang,&amp;rdquo; tambah duta besar itu.
Baca juga:&amp;nbsp;Anak-Anak Ukraina Dilatih Menggunakan Senapan Lawan Rusia
&amp;ldquo;Dalam keadaan seperti itu, apa dasar bagi negara-negara yang bersangkutan untuk bersikeras bahwa akan ada perang?,&amp;rdquo; lanjutnya.
Menurut utusan itu, para pihak yang terlibat harus berusaha menyelesaikan perbedaan mereka melalui dialog dan negosiasi.
&amp;nbsp;Baca juga:&amp;nbsp;Putin: AS Coba Tarik Rusia ke Dalam Perang Ukraina
&amp;ldquo;Kami sangat membutuhkan diplomasi yang tenang sekarang, bukan diplomasi megafon,&amp;rdquo; tegasnya.&amp;ldquo;Sayangnya, AS tidak menerima proposal konstruktif seperti itu,&amp;rdquo; tambahnya.
Seperti diketahui, para pemimpin Barat telah membunyikan alarm beberapa kali dalam beberapa bulan terakhir, mengklaim bahwa Moskow mungkin berencana untuk segera meluncurkan invasi ke Ukraina, yang telah berulang kali dibantah Kremlin.
Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Ukraina Dmitry Kuleba mengatakan meski Moskow belum memerintahkan serangan terhadap tetangganya, namun Kiev sudah menderita secara ekonomi dan menjadi lebih lemah karena kepanikan yang menyebar ke masyarakat.
Pada akhir Januari lalu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan kepada warga dalam pidato yang disiarkan televisi bahwa risiko invasi tidak meningkat.
&amp;ldquo;Ada lebih banyak hype tentang itu sekarang,&amp;rdquo; jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Kiev, Alexey Danilov, juga berusaha untuk mengecilkan ancaman tersebut, menambahkan bahwa penumpukan pasukan Rusia tidak secepat yang diklaim beberapa orang.</content:encoded></item></channel></rss>
