<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Suku Dayak Dijaga Buaya Kuning dari Serangan Kelompok Lain, Ini Kisahnya</title><description>Dari kisah yang kami dapat, di salah satu aliran sungai ada buaya berwarna kuning yang menjaga.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/02/03/340/2541821/suku-dayak-dijaga-buaya-kuning-dari-serangan-kelompok-lain-ini-kisahnya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/02/03/340/2541821/suku-dayak-dijaga-buaya-kuning-dari-serangan-kelompok-lain-ini-kisahnya"/><item><title>Suku Dayak Dijaga Buaya Kuning dari Serangan Kelompok Lain, Ini Kisahnya</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/02/03/340/2541821/suku-dayak-dijaga-buaya-kuning-dari-serangan-kelompok-lain-ini-kisahnya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/02/03/340/2541821/suku-dayak-dijaga-buaya-kuning-dari-serangan-kelompok-lain-ini-kisahnya</guid><pubDate>Kamis 03 Februari 2022 13:21 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/02/03/340/2541821/kisah-buaya-kuning-penjaga-suku-dayak-dari-searang-kelompok-lain-BIWPVSqCDC.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Rumah adat SUku Dayak (Foto : iNews)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/02/03/340/2541821/kisah-buaya-kuning-penjaga-suku-dayak-dari-searang-kelompok-lain-BIWPVSqCDC.jpg</image><title>Rumah adat SUku Dayak (Foto : iNews)</title></images><description>PONTIANAK - Dulu, masyarakat Suku Dayak kerap berperang memperebutkan wilayah hingga tanah ladang. Sejarah itu pun dialami Suku Dayak Tanjung yang mendiami kawasan danau dan rawa gambut dengan sungai-sungai kecil di Kalimantan Timur yang hidup di sepanjang alur Sungai Enggelam yang bermuara ke Danau Melintang akibat perang dan penaklukan wilayah.
Dilansir dari iNews.id, mereka mendiami lokasi tersebut karena terpaksa berpindah-pindah tempat akibat perang antarsuku.
&quot;Nenek moyang kami sudah pindah beberapa kali sebelum mendiami Desa Enggelam untuk mencari tempat aman dari serbuan kelompok lain,&quot; kata Kepala Desa Enggelam, Mong.
Setelah membangun permukiman yang sekarang dikenal sebagai Desa Enggelam, warga tentu tetap cemas. Upaya membangun pertahanan dengan memasang titik pemantau di setiap sisi sungai tetap dilakukan.
BACA JUGA:Mengenal Motif Tato Suku Dayak dan Filosofinya
Dari kisah terdahulu, ada buaya kuning yang menjaga kampung mereka. &quot;Dari kisah yang kami dapat, di salah satu aliran sungai ada buaya berwarna kuning yang menjaga kampung kami. Buaya ini tidak bisa dikalahkan oleh para penyerang itu,&quot; katanya.
Lokasi buaya kuning berada di salah satu sudut sungai. Lokasinya seolah menjadi gerbang masuk ke desa. Dahulu sejumlah warga kerap melihat kemunculan buaya ini, meski beberapa tidak mempercayainya.
&quot;Warga menamakan tempat ini sebagai Batu Berhala yang kemudian dijadikan simbol untuk memohon sesuatu. Buaya ini diyakini sebagai makhluk gaib penunggu desa,&quot; katanya.&quot;Kalau mau membangun usaha, penduduk desa ke sini dengan membawa sesuatu seperti makanan kemudian memohon sesuatu. Permohonan harus disertai dengan nazar, jika berhasil, harus kembali memberikan sesuatu,&quot; ujarnya.
Namun Batu Berhala ini sudah jarang dilirik masyarakat di zaman sekrang, karena adanya keyakinan agama yang dipercayai. Beberapa yang masih berkunjung hanya orang-orang tua saja.</description><content:encoded>PONTIANAK - Dulu, masyarakat Suku Dayak kerap berperang memperebutkan wilayah hingga tanah ladang. Sejarah itu pun dialami Suku Dayak Tanjung yang mendiami kawasan danau dan rawa gambut dengan sungai-sungai kecil di Kalimantan Timur yang hidup di sepanjang alur Sungai Enggelam yang bermuara ke Danau Melintang akibat perang dan penaklukan wilayah.
Dilansir dari iNews.id, mereka mendiami lokasi tersebut karena terpaksa berpindah-pindah tempat akibat perang antarsuku.
&quot;Nenek moyang kami sudah pindah beberapa kali sebelum mendiami Desa Enggelam untuk mencari tempat aman dari serbuan kelompok lain,&quot; kata Kepala Desa Enggelam, Mong.
Setelah membangun permukiman yang sekarang dikenal sebagai Desa Enggelam, warga tentu tetap cemas. Upaya membangun pertahanan dengan memasang titik pemantau di setiap sisi sungai tetap dilakukan.
BACA JUGA:Mengenal Motif Tato Suku Dayak dan Filosofinya
Dari kisah terdahulu, ada buaya kuning yang menjaga kampung mereka. &quot;Dari kisah yang kami dapat, di salah satu aliran sungai ada buaya berwarna kuning yang menjaga kampung kami. Buaya ini tidak bisa dikalahkan oleh para penyerang itu,&quot; katanya.
Lokasi buaya kuning berada di salah satu sudut sungai. Lokasinya seolah menjadi gerbang masuk ke desa. Dahulu sejumlah warga kerap melihat kemunculan buaya ini, meski beberapa tidak mempercayainya.
&quot;Warga menamakan tempat ini sebagai Batu Berhala yang kemudian dijadikan simbol untuk memohon sesuatu. Buaya ini diyakini sebagai makhluk gaib penunggu desa,&quot; katanya.&quot;Kalau mau membangun usaha, penduduk desa ke sini dengan membawa sesuatu seperti makanan kemudian memohon sesuatu. Permohonan harus disertai dengan nazar, jika berhasil, harus kembali memberikan sesuatu,&quot; ujarnya.
Namun Batu Berhala ini sudah jarang dilirik masyarakat di zaman sekrang, karena adanya keyakinan agama yang dipercayai. Beberapa yang masih berkunjung hanya orang-orang tua saja.</content:encoded></item></channel></rss>
