<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Dewi Kian Merasa Asing dengan Kebudayaan Islam di Palembang</title><description>Ia pun langsung bertanya denga Arya Damar terkait kebiasaan orang-orang disini.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/02/05/337/2542800/kisah-dewi-kian-merasa-asing-dengan-kebudayaan-islam-di-palembang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/02/05/337/2542800/kisah-dewi-kian-merasa-asing-dengan-kebudayaan-islam-di-palembang"/><item><title>Kisah Dewi Kian Merasa Asing dengan Kebudayaan Islam di Palembang</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/02/05/337/2542800/kisah-dewi-kian-merasa-asing-dengan-kebudayaan-islam-di-palembang</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/02/05/337/2542800/kisah-dewi-kian-merasa-asing-dengan-kebudayaan-islam-di-palembang</guid><pubDate>Minggu 06 Februari 2022 07:33 WIB</pubDate><dc:creator>Alvin Agung Sanjaya</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/02/05/337/2542800/kisah-dewi-kian-merasa-asing-dengan-kebudayaan-islam-di-palembang-1jUmZIEsF6.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Raja Majapahit (Foto: sangpencerah.id)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/02/05/337/2542800/kisah-dewi-kian-merasa-asing-dengan-kebudayaan-islam-di-palembang-1jUmZIEsF6.jpeg</image><title>Raja Majapahit (Foto: sangpencerah.id)</title></images><description>JAKARTA - Disadari atau tidak, setelah Dewi Kian, selir dari Bhre Kertabhumi Raja Majapahit terakhir yang saat ini bertempat tinggal di tengah-tengah keluarga muslim di Palembang, rupanya telah membuat dia tertarik untuk memeluk agama Islam.

Dikutip dari buku 'Brawijaya Moksa Detik-Detik Akhir Perjalanan Hidup Prabu Majapahit', awalnya, ia benar-benar merasakan alienasi atau sangat terasingkan ketika bersama keluarga Raden Arya Damar di Palembang.

Bagaimana tidak, pada saat-saat waktunya shalat, ia selalu mendengar kumandang azan dari masjid yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Ia pun juga sering mendengarkan orang-orang membaca Al-Quran, baik di masjid maupun di istana Palembang.
Baca juga:&amp;nbsp;Ketika Raja Majapahit Hadiahkan Selir Cantik Jelita kepada Putranya, Diminta Nikahi Setelah Melahirkan
Nampaknya Dewi Kian mulai penasaran dengan kebudayaan dan kebiasaan baru yang ia alami saat di Kutharaja Palembang. Ia pun langsung bertanya denga Arya Damar terkait kebiasaan orang-orang disini.
Baca juga:&amp;nbsp;Kisah Raja Majapahit Nikahi Putri Campa Lalu Masuk Islam, Abaikan Nasihat Sabda Palon
&quot;Sebenarnya Al-Quran itu apa Raden? mengapa orang-orang Islam begitu seringnya membacanya dan mengapa aku harus ikut mendengarkan pula?&quot; tanya Dewi Kian dengan nekat.
Dengan bijaksana, Arya Damar menjelaskan kepada Sang Dewi &quot;Al-Quran itu adalah firman atau perkataan Gusti Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw dari Makkah Arab sana, meski berjumlah 30 juz namun jangan heran kalau ada banyak orang Islam yang dapat menghafal Al-Quran (hafiz) itulah sebabnya banyak kaum muslimin yang membaca Al-Quran karena ia adalah wahyu dari Tuhan!&amp;rdquo;.



&quot;Bukankah kalau begitu Al-Quran untuk umat Islam saja, lalu kenapa Raden meminta kepadaku supaya ikut mendengarkan Al-Quran yang dibaca oleh orang Islam?&quot; Dewi Kian kembali bertanya.



&quot;Katanya menginginkan si jabang bayi Tuan Putri kelak menjadi orang yang cerdas? Ya kalau bercita-cita begitu syaratnya harus sering mendengarkan orang Islam yang membaca Al-Quran!&quot; jelas Raden Arya Damar seraya menambahkan, &quot;Dan lagi pula sebenarnya Al-Quran itu untuk seluruh umat manusia, bukan hanya untuk orang Islam saja!&quot;.



&quot;Jadi kalau begitu aku juga boleh belajar bacanya?&quot; Dewi Kian mulai penasaran.



Suasana terdiam sejenak. Dewi Kian terlihat mengerutkan dahinya pertanda memikirkan sesuatu.


Dewi Kian lambat laun mulai memahami apa yang dijelaskan Arya Damar.







&quot;Apakah isi kandungan Al-Quran itu luar biasa sehingga orang Islam senang membacanya?&quot; Dewi Kian kembali bertanya.







Al-Quran itu selain bacaan yang mulia dan kitab suci bagi kaum muslimin, ia juga mengandung banyak hikmah bagi manusia, berisi perintah dan larangan, kisah para Nabi/Rasul terdahulu, petunjuk bagi orang yang bertakwa&quot; ujar Arya Damar.







Arya Damar sangat senang meladeni pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Dewi Kian. Tetapi, ia harus ingat untuk membatasi diri mengingat kondisi Dewi Kian pun sedang hamil besar sehingga Arya Damar menyarankan Dewi Kian untuk banyak beristirahat dan melanjutkan percakapan ini di lain waktu.







Dalam benaknya, Dewi Kian juga harus membandingkan dengan pandangan orang Islam lainnya, sehingga ia tidak sekadar menelan mentah-mentah penjelasan Raden Arya Damar.






</description><content:encoded>JAKARTA - Disadari atau tidak, setelah Dewi Kian, selir dari Bhre Kertabhumi Raja Majapahit terakhir yang saat ini bertempat tinggal di tengah-tengah keluarga muslim di Palembang, rupanya telah membuat dia tertarik untuk memeluk agama Islam.

Dikutip dari buku 'Brawijaya Moksa Detik-Detik Akhir Perjalanan Hidup Prabu Majapahit', awalnya, ia benar-benar merasakan alienasi atau sangat terasingkan ketika bersama keluarga Raden Arya Damar di Palembang.

Bagaimana tidak, pada saat-saat waktunya shalat, ia selalu mendengar kumandang azan dari masjid yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Ia pun juga sering mendengarkan orang-orang membaca Al-Quran, baik di masjid maupun di istana Palembang.
Baca juga:&amp;nbsp;Ketika Raja Majapahit Hadiahkan Selir Cantik Jelita kepada Putranya, Diminta Nikahi Setelah Melahirkan
Nampaknya Dewi Kian mulai penasaran dengan kebudayaan dan kebiasaan baru yang ia alami saat di Kutharaja Palembang. Ia pun langsung bertanya denga Arya Damar terkait kebiasaan orang-orang disini.
Baca juga:&amp;nbsp;Kisah Raja Majapahit Nikahi Putri Campa Lalu Masuk Islam, Abaikan Nasihat Sabda Palon
&quot;Sebenarnya Al-Quran itu apa Raden? mengapa orang-orang Islam begitu seringnya membacanya dan mengapa aku harus ikut mendengarkan pula?&quot; tanya Dewi Kian dengan nekat.
Dengan bijaksana, Arya Damar menjelaskan kepada Sang Dewi &quot;Al-Quran itu adalah firman atau perkataan Gusti Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw dari Makkah Arab sana, meski berjumlah 30 juz namun jangan heran kalau ada banyak orang Islam yang dapat menghafal Al-Quran (hafiz) itulah sebabnya banyak kaum muslimin yang membaca Al-Quran karena ia adalah wahyu dari Tuhan!&amp;rdquo;.



&quot;Bukankah kalau begitu Al-Quran untuk umat Islam saja, lalu kenapa Raden meminta kepadaku supaya ikut mendengarkan Al-Quran yang dibaca oleh orang Islam?&quot; Dewi Kian kembali bertanya.



&quot;Katanya menginginkan si jabang bayi Tuan Putri kelak menjadi orang yang cerdas? Ya kalau bercita-cita begitu syaratnya harus sering mendengarkan orang Islam yang membaca Al-Quran!&quot; jelas Raden Arya Damar seraya menambahkan, &quot;Dan lagi pula sebenarnya Al-Quran itu untuk seluruh umat manusia, bukan hanya untuk orang Islam saja!&quot;.



&quot;Jadi kalau begitu aku juga boleh belajar bacanya?&quot; Dewi Kian mulai penasaran.



Suasana terdiam sejenak. Dewi Kian terlihat mengerutkan dahinya pertanda memikirkan sesuatu.


Dewi Kian lambat laun mulai memahami apa yang dijelaskan Arya Damar.







&quot;Apakah isi kandungan Al-Quran itu luar biasa sehingga orang Islam senang membacanya?&quot; Dewi Kian kembali bertanya.







Al-Quran itu selain bacaan yang mulia dan kitab suci bagi kaum muslimin, ia juga mengandung banyak hikmah bagi manusia, berisi perintah dan larangan, kisah para Nabi/Rasul terdahulu, petunjuk bagi orang yang bertakwa&quot; ujar Arya Damar.







Arya Damar sangat senang meladeni pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Dewi Kian. Tetapi, ia harus ingat untuk membatasi diri mengingat kondisi Dewi Kian pun sedang hamil besar sehingga Arya Damar menyarankan Dewi Kian untuk banyak beristirahat dan melanjutkan percakapan ini di lain waktu.







Dalam benaknya, Dewi Kian juga harus membandingkan dengan pandangan orang Islam lainnya, sehingga ia tidak sekadar menelan mentah-mentah penjelasan Raden Arya Damar.






</content:encoded></item></channel></rss>
