<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Paus Fransiskus Kecam Praktik Sunat dan Perdagangan Perempuan</title><description>Paus Fransiskus menyerukan praktik sunat perempuan untuk segera diakhiri.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/02/07/18/2543668/paus-fransiskus-kecam-praktik-sunat-dan-perdagangan-perempuan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/02/07/18/2543668/paus-fransiskus-kecam-praktik-sunat-dan-perdagangan-perempuan"/><item><title>Paus Fransiskus Kecam Praktik Sunat dan Perdagangan Perempuan</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/02/07/18/2543668/paus-fransiskus-kecam-praktik-sunat-dan-perdagangan-perempuan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/02/07/18/2543668/paus-fransiskus-kecam-praktik-sunat-dan-perdagangan-perempuan</guid><pubDate>Senin 07 Februari 2022 18:30 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi VOA</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/02/07/18/2543668/paus-fransiskus-kecam-praktik-sunat-dan-perdagangan-perempuan-TOznkREn6D.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Paus Fransiskus. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/02/07/18/2543668/paus-fransiskus-kecam-praktik-sunat-dan-perdagangan-perempuan-TOznkREn6D.JPG</image><title>Paus Fransiskus. (Foto: Reuters)</title></images><description>VATIKAN - Paus Fransiskus pada Minggu (6/2/2022) mengecam praktik sunat terhadap jutaan gadis dan perdagangan perempuan untuk seks, termasuk yang dilakukan secara terbuka di jalan-jalan kota, sehingga orang lain dapat menangguk keuntungan dari mereka.
Dalam sambutan di Lapangan Santo Petrus, Paus mengatakan hari Minggu ini didedikasikan untuk menyudahi praktik sunat perempuan. Dengan lirih Paus mengatakan bahwa sekitra tiga juta gadis di dunia menjalani praktik ritual ini setiap tahun, &amp;ldquo;seringkali dalam kondisi yang sangat berbahaya bagi kesehatan&amp;rdquo;.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Raja Hingga Paus Berbelasungkawa Atas Kematian Rayan, Bocah yang Terjebak dalam Sumur

&amp;ldquo;Sayangnya praktik ini sudah tersebar luas di berbagai belahan dunia, merendahkan martabat perempuan dan menyerang integritas fisik mereka secara serius,&amp;rdquo; tambahnya.
Sunat perempuan mencakup semua prosedur yang melibatkan cara mengubah atau melukai alat kelamin perempuan karena alasan non-medis dan melanggar hak asasi manusia, merugikan kesehatan dan integritas anak perempuan dan perempuan, demikian petikan pernyataan PBB ketika mendesak diakhirinya praktik itu.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Ngerinya Sunat ala Suku Mardudjara Aborigin, Kulit Kemaluan Main Potong lalu Ditelan

Meskipun sebagian besar praktik sunat perempuan terkonsentrasi di sekira 30 negara di Afrika dan Timur Tengah, praktik ini juga merupakan masalah bagi anak perempuan dan perempuan yang tinggal di tempat lain, termasuk di antara populasi para imigran.Menurut angka PBB, setidaknya 200 juta anak perempuan dan perempuan yang saat ini telah menjalani praktik itu. Meskipun demikian lewat Twitter PBB mengakui bahwa &amp;ldquo;dibanding tiga puluh tahun lalu, saat ini anak perempuan sepertiga kali lebih kecil kemungkinannya menjadi sasaran sunat.&amp;rdquo;
Paus juga mengatakan bahwa pada Selasa (8/2/2022) akan dilangsungkan doa dan refleksi di seluruh dunia melawan perdagangan manusia. &amp;ldquo;Ini adalah luka sangat dalam karenanya adanya pencarian keuntungan secara ekonomi yang memalukan, tanpa menghormati manusia,&amp;rdquo; ujarnya.
Ditambahkannya, &amp;ldquo;Begitu banyak gadis yang berada di jalan, yang tidak bebas karena menjadi budak para pedagang, yang mengirim mereka untuk bekerja dan memukuli mereka ketika tidak berhasil mendapatkan uang.&amp;rdquo;
&amp;ldquo;Ini yang terjadi saat ini di kota-kota kita,&amp;rdquo; ujarnya.</description><content:encoded>VATIKAN - Paus Fransiskus pada Minggu (6/2/2022) mengecam praktik sunat terhadap jutaan gadis dan perdagangan perempuan untuk seks, termasuk yang dilakukan secara terbuka di jalan-jalan kota, sehingga orang lain dapat menangguk keuntungan dari mereka.
Dalam sambutan di Lapangan Santo Petrus, Paus mengatakan hari Minggu ini didedikasikan untuk menyudahi praktik sunat perempuan. Dengan lirih Paus mengatakan bahwa sekitra tiga juta gadis di dunia menjalani praktik ritual ini setiap tahun, &amp;ldquo;seringkali dalam kondisi yang sangat berbahaya bagi kesehatan&amp;rdquo;.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Raja Hingga Paus Berbelasungkawa Atas Kematian Rayan, Bocah yang Terjebak dalam Sumur

&amp;ldquo;Sayangnya praktik ini sudah tersebar luas di berbagai belahan dunia, merendahkan martabat perempuan dan menyerang integritas fisik mereka secara serius,&amp;rdquo; tambahnya.
Sunat perempuan mencakup semua prosedur yang melibatkan cara mengubah atau melukai alat kelamin perempuan karena alasan non-medis dan melanggar hak asasi manusia, merugikan kesehatan dan integritas anak perempuan dan perempuan, demikian petikan pernyataan PBB ketika mendesak diakhirinya praktik itu.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Ngerinya Sunat ala Suku Mardudjara Aborigin, Kulit Kemaluan Main Potong lalu Ditelan

Meskipun sebagian besar praktik sunat perempuan terkonsentrasi di sekira 30 negara di Afrika dan Timur Tengah, praktik ini juga merupakan masalah bagi anak perempuan dan perempuan yang tinggal di tempat lain, termasuk di antara populasi para imigran.Menurut angka PBB, setidaknya 200 juta anak perempuan dan perempuan yang saat ini telah menjalani praktik itu. Meskipun demikian lewat Twitter PBB mengakui bahwa &amp;ldquo;dibanding tiga puluh tahun lalu, saat ini anak perempuan sepertiga kali lebih kecil kemungkinannya menjadi sasaran sunat.&amp;rdquo;
Paus juga mengatakan bahwa pada Selasa (8/2/2022) akan dilangsungkan doa dan refleksi di seluruh dunia melawan perdagangan manusia. &amp;ldquo;Ini adalah luka sangat dalam karenanya adanya pencarian keuntungan secara ekonomi yang memalukan, tanpa menghormati manusia,&amp;rdquo; ujarnya.
Ditambahkannya, &amp;ldquo;Begitu banyak gadis yang berada di jalan, yang tidak bebas karena menjadi budak para pedagang, yang mengirim mereka untuk bekerja dan memukuli mereka ketika tidak berhasil mendapatkan uang.&amp;rdquo;
&amp;ldquo;Ini yang terjadi saat ini di kota-kota kita,&amp;rdquo; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
