<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>3 Pemberontakan yang Pernah Terjadi di Pulau Jawa, Nomor 1 Begitu Mencekam</title><description>Berikut pemberontakan yang pernah terjadi di Pulau Jawa:</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/02/09/337/2544245/3-pemberontakan-yang-pernah-terjadi-di-pulau-jawa-nomor-1-begitu-mencekam</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/02/09/337/2544245/3-pemberontakan-yang-pernah-terjadi-di-pulau-jawa-nomor-1-begitu-mencekam"/><item><title>3 Pemberontakan yang Pernah Terjadi di Pulau Jawa, Nomor 1 Begitu Mencekam</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/02/09/337/2544245/3-pemberontakan-yang-pernah-terjadi-di-pulau-jawa-nomor-1-begitu-mencekam</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/02/09/337/2544245/3-pemberontakan-yang-pernah-terjadi-di-pulau-jawa-nomor-1-begitu-mencekam</guid><pubDate>Rabu 09 Februari 2022 05:08 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Litbang MPI</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/02/08/337/2544245/3-pemberontakan-yang-pernah-terjadi-di-pulau-jawa-nomor-1-begitu-mencekam-bU1HC175tb.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi peristiwa Madiun. (Foto: Istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/02/08/337/2544245/3-pemberontakan-yang-pernah-terjadi-di-pulau-jawa-nomor-1-begitu-mencekam-bU1HC175tb.jpeg</image><title>Ilustrasi peristiwa Madiun. (Foto: Istimewa)</title></images><description>SEJUMLAH pemberontakan pernah terjadi di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Pemberontakan dapat terjadi karena berbagai hal. Mulai dari pembangkangan sipil hingga ingin meruntuhkan pemerintahan yang sedang berkuasa.

Berikut pemberontakan yang pernah terjadi di Pulau Jawa:

1. Pemberontakan PKI di Madiun
Pemberontakan PKI (Partai Komunis Indonesia) di Madiun terjadi pada 18 September 1948 di Madiun, Jawa Timur. Pemberontakan ini bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan yang sah yakni Republik Indonesia dan mengganti landasan negara. Musso dan Amir Sjarifuddin merupakan tokoh pimpinan pemberontakan PKI Madiun ini.

Adapun latar belakang dari pemberontakan PKI di Madiun adalah jatuhnya Kabinet Amir Sjarifuddin. Usai tidak menjabat sebagai perdana menteri, Amir membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang kemudian bekerja sama dengan organisasi berpaham kiri, seperti Partai Komunis Indonesia, Barisan Tani Indonesia (BTI), dan lain-lain. Selain itu, Amir mempunyai kedekatan dengan Musso serta bercita-cita menyebarkan komunisme di Indonesia.

Pemberontakan PKI di Madiun tak hanya ingin menggulingkan pemerintah namun juga membentuk negara Republik Indonesia Soviet serta mengganti dasar negara Pancasila dengan Komunisme. Untuk mengatasi pemberontakan PKI Madiun, Panglima Besar memerintahkan Kolonel Gatot Subroto di Jawa Tengah dan Kolonel Sungkono di Jawa Timur guna  menjalankan operasi penumpasan yang  dibantu para santri.
Baca juga:&amp;nbsp;Kesaksian Algojo Pembantai Ratusan PKI di Kota Sigli
2. Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat
Pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dipimpin oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo pada 7 Agustus 1949. Pemberontakan ini terjadi di beberapa daerah, salah satunya adalah Jawa Barat. Latar belakang terjadinya pemberontakan ini adalah karena ketidakpuasan Kartosoewirjo terhadap kemerdekaan Indonesia yang masih dibayang-bayangi kehadiran Belanda.

Pada 1948, Kartosoewirjo bersama Raden Oni Syahroni dan Panglima Laskar Sabilillah menentang adanya Perjanjian Renville. Mereka bertiga menganggap bahwa Perjanjian Renville tidak melindungi warga Jawa Barat. Kartosoewirjo mewujudkan penolakannya itu dengan membentuk negara Islam yaitu Negara Islam Indonesia (NII) yang dipimpin oleh dirinya sendiri. Pada 5 September 1962, Kartosoewirjo dihukum mati sesuai vonis yang diberikan Pengadilan Mahkamah Militer.3. Pemberontakan APRA di Bandung
Pemberontakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) terjadi di Bandung, 23 Januari 1950. APRA merupakan kelompok milisi pro-Belanda yang muncul di era revolusi. Pemberontakan APRA dibentuk serta dipimpin oleh mantan kapten KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger) atau yang biasa disebut Tentara Hindia Belanda, Raymond Westerling.

Alasan yang menjadi pemicu pecahnya pemberontakan adalah hasil keputusan Konferensi Meja Bundar (KMB). Konferensi yang berlangsung sejak 23 Agustus hingga 2 November 1949 di Den Haag, Belanda ini menghasilkan beberapa keputusan, di antaranya Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat pada akhir Desember 1949. Para Tentara Hindia Belanda juga didera kekhawatiran lantaran akan mendapatkan hukuman serta dikucilkan dalam kesatuan.

Kemudian Kapten Raymond Westerling ditugaskan untuk mengumpulkan anggota KNIL yang sudah dibubarkan. Sebanyak 8.000 pasukan berhasil terkumpul. Pada 5 Januari 1950, Westerling mengirimkan ultimatum kepada RIS (Republik Indonesia Serikat) yang berisi tuntutan agar RIS menghargai negara-negara bagian, terutama Pasundan. Bahkan pemerintah RIS juga diminta untuk mengakui APRA sebagai tentara Pasundan. Pada Februari 1950, APRA tidak berfungsi lagi karena Raymond Westerling melarikan diri, meninggalkan APRA tanpa pemimpin.

Diolah dari berbagai sumber:
Tika Vidya Utami/Litbang MPI</description><content:encoded>SEJUMLAH pemberontakan pernah terjadi di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Pemberontakan dapat terjadi karena berbagai hal. Mulai dari pembangkangan sipil hingga ingin meruntuhkan pemerintahan yang sedang berkuasa.

Berikut pemberontakan yang pernah terjadi di Pulau Jawa:

1. Pemberontakan PKI di Madiun
Pemberontakan PKI (Partai Komunis Indonesia) di Madiun terjadi pada 18 September 1948 di Madiun, Jawa Timur. Pemberontakan ini bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan yang sah yakni Republik Indonesia dan mengganti landasan negara. Musso dan Amir Sjarifuddin merupakan tokoh pimpinan pemberontakan PKI Madiun ini.

Adapun latar belakang dari pemberontakan PKI di Madiun adalah jatuhnya Kabinet Amir Sjarifuddin. Usai tidak menjabat sebagai perdana menteri, Amir membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang kemudian bekerja sama dengan organisasi berpaham kiri, seperti Partai Komunis Indonesia, Barisan Tani Indonesia (BTI), dan lain-lain. Selain itu, Amir mempunyai kedekatan dengan Musso serta bercita-cita menyebarkan komunisme di Indonesia.

Pemberontakan PKI di Madiun tak hanya ingin menggulingkan pemerintah namun juga membentuk negara Republik Indonesia Soviet serta mengganti dasar negara Pancasila dengan Komunisme. Untuk mengatasi pemberontakan PKI Madiun, Panglima Besar memerintahkan Kolonel Gatot Subroto di Jawa Tengah dan Kolonel Sungkono di Jawa Timur guna  menjalankan operasi penumpasan yang  dibantu para santri.
Baca juga:&amp;nbsp;Kesaksian Algojo Pembantai Ratusan PKI di Kota Sigli
2. Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat
Pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dipimpin oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo pada 7 Agustus 1949. Pemberontakan ini terjadi di beberapa daerah, salah satunya adalah Jawa Barat. Latar belakang terjadinya pemberontakan ini adalah karena ketidakpuasan Kartosoewirjo terhadap kemerdekaan Indonesia yang masih dibayang-bayangi kehadiran Belanda.

Pada 1948, Kartosoewirjo bersama Raden Oni Syahroni dan Panglima Laskar Sabilillah menentang adanya Perjanjian Renville. Mereka bertiga menganggap bahwa Perjanjian Renville tidak melindungi warga Jawa Barat. Kartosoewirjo mewujudkan penolakannya itu dengan membentuk negara Islam yaitu Negara Islam Indonesia (NII) yang dipimpin oleh dirinya sendiri. Pada 5 September 1962, Kartosoewirjo dihukum mati sesuai vonis yang diberikan Pengadilan Mahkamah Militer.3. Pemberontakan APRA di Bandung
Pemberontakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) terjadi di Bandung, 23 Januari 1950. APRA merupakan kelompok milisi pro-Belanda yang muncul di era revolusi. Pemberontakan APRA dibentuk serta dipimpin oleh mantan kapten KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger) atau yang biasa disebut Tentara Hindia Belanda, Raymond Westerling.

Alasan yang menjadi pemicu pecahnya pemberontakan adalah hasil keputusan Konferensi Meja Bundar (KMB). Konferensi yang berlangsung sejak 23 Agustus hingga 2 November 1949 di Den Haag, Belanda ini menghasilkan beberapa keputusan, di antaranya Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat pada akhir Desember 1949. Para Tentara Hindia Belanda juga didera kekhawatiran lantaran akan mendapatkan hukuman serta dikucilkan dalam kesatuan.

Kemudian Kapten Raymond Westerling ditugaskan untuk mengumpulkan anggota KNIL yang sudah dibubarkan. Sebanyak 8.000 pasukan berhasil terkumpul. Pada 5 Januari 1950, Westerling mengirimkan ultimatum kepada RIS (Republik Indonesia Serikat) yang berisi tuntutan agar RIS menghargai negara-negara bagian, terutama Pasundan. Bahkan pemerintah RIS juga diminta untuk mengakui APRA sebagai tentara Pasundan. Pada Februari 1950, APRA tidak berfungsi lagi karena Raymond Westerling melarikan diri, meninggalkan APRA tanpa pemimpin.

Diolah dari berbagai sumber:
Tika Vidya Utami/Litbang MPI</content:encoded></item></channel></rss>
