<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>24% Penularan Covid-19 dari Pasien OTG</title><description>Menurut studi di China, orang tanpa gejala dapat menyumbangkan sekitar 24% dari keseluruhan penularan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/02/10/337/2545407/24-penularan-covid-19-dari-pasien-otg</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/02/10/337/2545407/24-penularan-covid-19-dari-pasien-otg"/><item><title>24% Penularan Covid-19 dari Pasien OTG</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/02/10/337/2545407/24-penularan-covid-19-dari-pasien-otg</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/02/10/337/2545407/24-penularan-covid-19-dari-pasien-otg</guid><pubDate>Kamis 10 Februari 2022 19:01 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/02/10/337/2545407/24-penularan-covid-19-dari-pasien-otg-cxapZ0UYUE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto : Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/02/10/337/2545407/24-penularan-covid-19-dari-pasien-otg-cxapZ0UYUE.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto : Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mengungkapkan dari studi ilmiah di China bahwa orang tanpa gejala (OTG) menyumbang sekira 24% dari penularan Covid-19.

&amp;ldquo;Menurut studi di China, orang tanpa gejala dapat menyumbangkan sekitar 24% dari keseluruhan penularan yang terjadi di populasi,&amp;rdquo; kata Wiku saat Konferensi Pers secara virtual, Kamis (10/2/2022).

Wiku mengatakan tantangan yang harus dihadapi dalam penanganan Covid-19 saat ini bahwa dengan teknologi yang ada, kemampuan orang positif termasuk OTG untuk menulari orang lain belum dapat diukur dengan pasti.

&amp;ldquo;Metode testing seperti PCR yang dapat mengukur CT value sendiri hanya sekedar mengukur jumlah virus yang terdapat di dalam tubuh seseorang, bukan jumlah virus yang mampu ditularkan dari orang tersebut ke orang lain,&amp;rdquo; ungkap Wiku.

Hal yang paling penting, kata Wiku, adalah terdapat kecenderungan sikap kehati-hatian yang lebih rendah pada kasus tidak bergejala daripada yang bergejala karena orang yang tampak sakit akan cenderung mengisolasikan dirinya.

&amp;ldquo;Dengan fakta ini, sikap yang paling bijak adalah menerapkan prokes 3M secara menyeluruh baik kepada orang yang sehat maupun sakit,&amp;rdquo; paparnya.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wMi8wOS8xLzE0NDg2Ni8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
BACA JUGA:Breaking News! Plasma Konvalesen hingga Ivermectin Dilarang untuk Pengobatan Covid-19&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Sementara itu, kata Wiku, strategi lain yang dapat lakukan dalam menanggulangi penularan yang semakin masif termasuk mengantisipasi kasus tanpa gejala yaitu dengan cara meningkatkan rasio kontak erat atau jumlah orang yang diidentifikasi oleh suspek kasus.

&amp;ldquo;Perlu diperhatikan juga, ambang waktu yang tepat dan metode testing yang lebih akurat untuk metode testing sejak pertama kali terpapar untuk menjamin hasil tes yang keluar benar-benar akurat,&amp;rdquo; katanya.Berikutnya, kata Wiku, adalah surveilans aktif khususnya pada tempat-tempat yang berisiko tinggi terhadap penularan atau berisiko penularan seperti rumah sakit, kantor, atau sekolah.

&amp;ldquo;Kemudian, memprioritaskan vaksinasi kepada kelompok rentan seperti lansia, komorbid, atau orang yang belum divaksin sama sekali untuk mencegah kematian yang tinggi,&amp;rdquo; ujarnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mengungkapkan dari studi ilmiah di China bahwa orang tanpa gejala (OTG) menyumbang sekira 24% dari penularan Covid-19.

&amp;ldquo;Menurut studi di China, orang tanpa gejala dapat menyumbangkan sekitar 24% dari keseluruhan penularan yang terjadi di populasi,&amp;rdquo; kata Wiku saat Konferensi Pers secara virtual, Kamis (10/2/2022).

Wiku mengatakan tantangan yang harus dihadapi dalam penanganan Covid-19 saat ini bahwa dengan teknologi yang ada, kemampuan orang positif termasuk OTG untuk menulari orang lain belum dapat diukur dengan pasti.

&amp;ldquo;Metode testing seperti PCR yang dapat mengukur CT value sendiri hanya sekedar mengukur jumlah virus yang terdapat di dalam tubuh seseorang, bukan jumlah virus yang mampu ditularkan dari orang tersebut ke orang lain,&amp;rdquo; ungkap Wiku.

Hal yang paling penting, kata Wiku, adalah terdapat kecenderungan sikap kehati-hatian yang lebih rendah pada kasus tidak bergejala daripada yang bergejala karena orang yang tampak sakit akan cenderung mengisolasikan dirinya.

&amp;ldquo;Dengan fakta ini, sikap yang paling bijak adalah menerapkan prokes 3M secara menyeluruh baik kepada orang yang sehat maupun sakit,&amp;rdquo; paparnya.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wMi8wOS8xLzE0NDg2Ni8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
BACA JUGA:Breaking News! Plasma Konvalesen hingga Ivermectin Dilarang untuk Pengobatan Covid-19&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Sementara itu, kata Wiku, strategi lain yang dapat lakukan dalam menanggulangi penularan yang semakin masif termasuk mengantisipasi kasus tanpa gejala yaitu dengan cara meningkatkan rasio kontak erat atau jumlah orang yang diidentifikasi oleh suspek kasus.

&amp;ldquo;Perlu diperhatikan juga, ambang waktu yang tepat dan metode testing yang lebih akurat untuk metode testing sejak pertama kali terpapar untuk menjamin hasil tes yang keluar benar-benar akurat,&amp;rdquo; katanya.Berikutnya, kata Wiku, adalah surveilans aktif khususnya pada tempat-tempat yang berisiko tinggi terhadap penularan atau berisiko penularan seperti rumah sakit, kantor, atau sekolah.

&amp;ldquo;Kemudian, memprioritaskan vaksinasi kepada kelompok rentan seperti lansia, komorbid, atau orang yang belum divaksin sama sekali untuk mencegah kematian yang tinggi,&amp;rdquo; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
