<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kasus Positif Covid-19 Tidak Terskrining 100%, Satgas Ungkap Penyebabnya</title><description>Seseorang tanpa gejala yang tidak diisolasi berkemungkinan besar menularkan Covid-19 kepada orang lain.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/02/11/337/2545479/kasus-positif-covid-19-tidak-terskrining-100-satgas-ungkap-penyebabnya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/02/11/337/2545479/kasus-positif-covid-19-tidak-terskrining-100-satgas-ungkap-penyebabnya"/><item><title>Kasus Positif Covid-19 Tidak Terskrining 100%, Satgas Ungkap Penyebabnya</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/02/11/337/2545479/kasus-positif-covid-19-tidak-terskrining-100-satgas-ungkap-penyebabnya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/02/11/337/2545479/kasus-positif-covid-19-tidak-terskrining-100-satgas-ungkap-penyebabnya</guid><pubDate>Jum'at 11 Februari 2022 01:26 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/02/10/337/2545479/kasus-positif-covid-19-tidak-dapat-terskrining-100-satgas-ungkap-penyebabnya-VAVGaWvL9b.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Wiku Adisasmito. (Foto: Satgas Covid-19)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/02/10/337/2545479/kasus-positif-covid-19-tidak-dapat-terskrining-100-satgas-ungkap-penyebabnya-VAVGaWvL9b.jpg</image><title>Wiku Adisasmito. (Foto: Satgas Covid-19)</title></images><description>JAKARTA - Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito menyebutkan bahwa tidak semua kasus positif Covid-19 dapat terskrining atau terdeteksi 100%. Pasalnya, seseorang tanpa gejala yang tidak diisolasi berkemungkinan besar menularkan Covid-19 kepada orang lain.
&amp;ldquo;Faktanya, tidak semua kasus positif di lapangan dapat terskrining 100%,&amp;rdquo; kata Wiku saat Konferensi Pers secara virtual, Kamis (10/2/2022). &amp;nbsp;
Wiku mengatakan dalam kondisi pandemi, testing menjadi tolak ukur tunggal penentuan diagnostik sebuah penyakit. Kenyataannya, tidak semua orang melakukan tes untuk mendeteksi Covid-19.
Baca juga:&amp;nbsp;Satgas Sebut Jakarta Pusat Jadi Wilayah dengan Laju Penularan Covid-19 Tertinggi
Wiku menjelaskan bahwa berdasarkan gejala klinisnya, kasus positif Covid-19 dapat dibagi menjadi kasus bergejala dan kasus tanpa gejala atau asimtomatik. Hal ini berarti orang yang tampak sehat-sehat saja belum tentu terbebas dari infeksi Covid-19.
Secara global, kata Wiku, jumlah kasus positif tanpa gejala lebih sedikit persentasenya daripada kasus yang bergejala. &amp;ldquo;Selain itu mayoritas ahli sepakat bahwa kasus dengan gejala yang jelas masih lebih infeksius atau menular dibandingkan kasus tanpa gejala,&amp;rdquo; paparnya.
&amp;ldquo;Studi lainnya, juga menunjukkan bahwa peluang timbulnya kasus positif pada kontak erat, kasus positif tanpa gejala akan sekitar 3 sampai 25% lebih rendah daripada kontak erat kasus positif yang bergejala,&amp;rdquo; tambahnya.Wiku mengatakan gejala Covid-19 seperti batu dan bersin dapat memperbesar peluang penularan dibandingkan pada orang yang tidak batuk dan tidak bersin.
&amp;ldquo;Walau begitu lebih sedikit dan lebih tidak menular dibandingkan kasus bergejala jika tidak diantisipasi dengan baik maka risiko ini akan menimbulkan kenaikan kasus secara signifikan,&amp;rdquo; jelasnya.&amp;nbsp;</description><content:encoded>JAKARTA - Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito menyebutkan bahwa tidak semua kasus positif Covid-19 dapat terskrining atau terdeteksi 100%. Pasalnya, seseorang tanpa gejala yang tidak diisolasi berkemungkinan besar menularkan Covid-19 kepada orang lain.
&amp;ldquo;Faktanya, tidak semua kasus positif di lapangan dapat terskrining 100%,&amp;rdquo; kata Wiku saat Konferensi Pers secara virtual, Kamis (10/2/2022). &amp;nbsp;
Wiku mengatakan dalam kondisi pandemi, testing menjadi tolak ukur tunggal penentuan diagnostik sebuah penyakit. Kenyataannya, tidak semua orang melakukan tes untuk mendeteksi Covid-19.
Baca juga:&amp;nbsp;Satgas Sebut Jakarta Pusat Jadi Wilayah dengan Laju Penularan Covid-19 Tertinggi
Wiku menjelaskan bahwa berdasarkan gejala klinisnya, kasus positif Covid-19 dapat dibagi menjadi kasus bergejala dan kasus tanpa gejala atau asimtomatik. Hal ini berarti orang yang tampak sehat-sehat saja belum tentu terbebas dari infeksi Covid-19.
Secara global, kata Wiku, jumlah kasus positif tanpa gejala lebih sedikit persentasenya daripada kasus yang bergejala. &amp;ldquo;Selain itu mayoritas ahli sepakat bahwa kasus dengan gejala yang jelas masih lebih infeksius atau menular dibandingkan kasus tanpa gejala,&amp;rdquo; paparnya.
&amp;ldquo;Studi lainnya, juga menunjukkan bahwa peluang timbulnya kasus positif pada kontak erat, kasus positif tanpa gejala akan sekitar 3 sampai 25% lebih rendah daripada kontak erat kasus positif yang bergejala,&amp;rdquo; tambahnya.Wiku mengatakan gejala Covid-19 seperti batu dan bersin dapat memperbesar peluang penularan dibandingkan pada orang yang tidak batuk dan tidak bersin.
&amp;ldquo;Walau begitu lebih sedikit dan lebih tidak menular dibandingkan kasus bergejala jika tidak diantisipasi dengan baik maka risiko ini akan menimbulkan kenaikan kasus secara signifikan,&amp;rdquo; jelasnya.&amp;nbsp;</content:encoded></item></channel></rss>
