<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Indonesia Pelajari Dokumen untuk Maknai Permintaan Maaf PM Belanda</title><description>PM Belanda Mark Rutte telah meminta maaf atas kekerasan ekstrem yang dilakukan militer nearanya selama Perang Kemerdekaan Indonesia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/02/19/18/2549903/indonesia-pelajari-dokumen-untuk-maknai-permintaan-maaf-pm-belanda</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/02/19/18/2549903/indonesia-pelajari-dokumen-untuk-maknai-permintaan-maaf-pm-belanda"/><item><title>Indonesia Pelajari Dokumen untuk Maknai Permintaan Maaf PM Belanda</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/02/19/18/2549903/indonesia-pelajari-dokumen-untuk-maknai-permintaan-maaf-pm-belanda</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/02/19/18/2549903/indonesia-pelajari-dokumen-untuk-maknai-permintaan-maaf-pm-belanda</guid><pubDate>Sabtu 19 Februari 2022 17:42 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/02/19/18/2549903/indonesia-pelajari-dokumen-untuk-maknai-permintaan-maaf-pm-belanda-J2I5lkQZZg.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Perdana Menteri Belanda Mark Rutte. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/02/19/18/2549903/indonesia-pelajari-dokumen-untuk-maknai-permintaan-maaf-pm-belanda-J2I5lkQZZg.jpg</image><title>Perdana Menteri Belanda Mark Rutte. (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Pemerintah RI sedang mempelajari dokumen-dokumen hasil penelitian sejarah perang kemerdekaan Indonesia untuk dapat memaknai dengan benar permintaan maaf yang disampaikan oleh Perdana Menteri Belanda Mark Rutte.&amp;nbsp;
BACA JUGA:&amp;nbsp;Belanda Minta Maaf Mendalam ke Indonesia Atas Kekerasan Ekstrem saat Perang Penjajahan
&quot;Kami tengah mempelajari dokumen tersebut agar bisa memaknai secara utuh statement (pernyataan) yang disampaikan PM Rutte tersebut,&quot; kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Teuku Faizasyah dalam pernyataan melalui pesan singkat yang diterima di Jakarta, Sabtu (19/2/2022).
Dia mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia mengikuti secara saksama publikasi hasil penelitian sejarah &quot;Kemerdekaan, Dekolonisasi, Kekerasan dan Perang di Indonesia 1945-1950&quot;.
Studi tersebut dilakukan oleh tiga lembaga peneliti Belanda, KITLV, NIMH dan NIOD, serta beberapa peneliti Indonesia.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Penelitian Ungkap Belanda Gunakan Kekerasan Berlebihan pada Perang Kemerdekaan RI
Sebelumnya, Perdana Menteri Belanda Mark Rutte pada Kamis (17/2/2022) meminta maaf kepada Indonesia atas penggunaan kekerasan oleh militer Belanda selama masa Perang Kemerdekaan 1945-1949.Permintaan maaf itu disampaikan Rutte pada konferensi pers di Brussels, ibu kota Belgia.
Rutte mengatakan pemerintahnya mengakui seluruh temuan yang dihasilkan sebuah tinjauan sejarah yang sangat penting itu.
Menurut studi tersebut, Belanda melakukan kekerasan secara sistematik, melampaui batas, dan tidak etis dalam upayanya mengambil kembali kendali atas Indonesia, bekas jajahannya, pasca-Perang Dunia II.</description><content:encoded>JAKARTA - Pemerintah RI sedang mempelajari dokumen-dokumen hasil penelitian sejarah perang kemerdekaan Indonesia untuk dapat memaknai dengan benar permintaan maaf yang disampaikan oleh Perdana Menteri Belanda Mark Rutte.&amp;nbsp;
BACA JUGA:&amp;nbsp;Belanda Minta Maaf Mendalam ke Indonesia Atas Kekerasan Ekstrem saat Perang Penjajahan
&quot;Kami tengah mempelajari dokumen tersebut agar bisa memaknai secara utuh statement (pernyataan) yang disampaikan PM Rutte tersebut,&quot; kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Teuku Faizasyah dalam pernyataan melalui pesan singkat yang diterima di Jakarta, Sabtu (19/2/2022).
Dia mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia mengikuti secara saksama publikasi hasil penelitian sejarah &quot;Kemerdekaan, Dekolonisasi, Kekerasan dan Perang di Indonesia 1945-1950&quot;.
Studi tersebut dilakukan oleh tiga lembaga peneliti Belanda, KITLV, NIMH dan NIOD, serta beberapa peneliti Indonesia.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Penelitian Ungkap Belanda Gunakan Kekerasan Berlebihan pada Perang Kemerdekaan RI
Sebelumnya, Perdana Menteri Belanda Mark Rutte pada Kamis (17/2/2022) meminta maaf kepada Indonesia atas penggunaan kekerasan oleh militer Belanda selama masa Perang Kemerdekaan 1945-1949.Permintaan maaf itu disampaikan Rutte pada konferensi pers di Brussels, ibu kota Belgia.
Rutte mengatakan pemerintahnya mengakui seluruh temuan yang dihasilkan sebuah tinjauan sejarah yang sangat penting itu.
Menurut studi tersebut, Belanda melakukan kekerasan secara sistematik, melampaui batas, dan tidak etis dalam upayanya mengambil kembali kendali atas Indonesia, bekas jajahannya, pasca-Perang Dunia II.</content:encoded></item></channel></rss>
