<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kala Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga Berbeda Pandangan Tentang Dakwah Wayang </title><description>Sunan Kalijaga dikenal sebagai wali yang berdakwah menggunakan pendekatan budaya masyarakat.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/02/22/337/2550846/kala-sunan-ampel-dan-sunan-kalijaga-berbeda-pandangan-tentang-dakwah-wayang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/02/22/337/2550846/kala-sunan-ampel-dan-sunan-kalijaga-berbeda-pandangan-tentang-dakwah-wayang"/><item><title>Kala Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga Berbeda Pandangan Tentang Dakwah Wayang </title><link>https://news.okezone.com/read/2022/02/22/337/2550846/kala-sunan-ampel-dan-sunan-kalijaga-berbeda-pandangan-tentang-dakwah-wayang</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/02/22/337/2550846/kala-sunan-ampel-dan-sunan-kalijaga-berbeda-pandangan-tentang-dakwah-wayang</guid><pubDate>Selasa 22 Februari 2022 05:01 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/02/21/337/2550846/kala-sunan-ampel-dan-sunan-kalijaga-berbeda-pandangan-tentang-dakwah-wayang-w2zGqVNJ95.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sunan Kalijaga. (Foto: Istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/02/21/337/2550846/kala-sunan-ampel-dan-sunan-kalijaga-berbeda-pandangan-tentang-dakwah-wayang-w2zGqVNJ95.jpg</image><title>Sunan Kalijaga. (Foto: Istimewa)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Wali Songo, sembilan mubaligh yang menyebarkan agama Islam di Nusantara, menggunakan metode yang berbeda-beda dalam berdakwah. Salah satu contohnya adalah cara dakwah tradisi dan budaya masyarakat lokal yang digunakan oleh Raden Mas Said, atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Kalijaga.
Sunan Kalijaga menggunakan tembang dan seni budaya lokal, termasuk wayang untuk menarik minat masyarakat terhadap Islam. Murid Sunan Bonang ini bahkan menciptakan sendiri beberapa tembang dan wayang yang digunakannya dalam berdakwah.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Sosok Sunan Kalijaga, Mubaligh Karismatik yang Hidup Lebih dari 100 Tahun&amp;nbsp;
Dalam pertunjukan wayangnya, Sunan Kalijaga mengadaptasi lakon-lakon kuno seperti Lakon Petruk Jadi Raja dan Dewa Ruci menjadi lakon untuk menyiarkan ajaran Islam. Dia juga menambahkan karakter-karakter baru seperti karakter punakawan, Bagong, Petruk, dan Gareng.
Melalui cara ini Sunan Kalijaga berhasil menarik orang-orang untuk berlajar agama Islam, dan akhirnya memeluknya.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Kisah Karomah Sunan Kalijaga: 3 Tahun Tidur Menjaga Tongkat Sunan Bonang
Namun, terlepas dari kesuksesan dakwahnya, metode Sunan Kalijaga ini ternyata mendapat pandangan berbeda di kalangan Wali Songo.
Dilansir dari NU Online, pada salah satu rapat dewan wali untuk membahas strategi dakwah, Sunan Ampel, yang dipandang sebagai pemimpin dari para wali menyatakan ketidaksetujuannya akan penggunaan instrumen tradisi dan budaya masyarakat dalam menyebarkan Islam.Sunan Kalijaga memahami ketidaksetujuan Sunan Ampel, yang khawatir ajaran Islam terlalu bercampur dengan budaya dan tradisi masyarakat lokal. Tetapi dia kemudian memberi argumentasi bahwa Islam tidak akan bercampur dengan tradisi lokal, melainkan Islam-lah yang akan mempengaruhi kebiasaan lokal tersebut.
Ajaran Islam tetap murni sementara masyarakat akan tetap dapat menjalankan tradisinya, selama tidak bertentangan dengan martabat kemanusiaan. Argumentasi Sunan Kalijaga ini akhirnya mendapat respon positif dari para wali dan agama Islam terus berkembang di tengah masyarakat.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Wali Songo, sembilan mubaligh yang menyebarkan agama Islam di Nusantara, menggunakan metode yang berbeda-beda dalam berdakwah. Salah satu contohnya adalah cara dakwah tradisi dan budaya masyarakat lokal yang digunakan oleh Raden Mas Said, atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Kalijaga.
Sunan Kalijaga menggunakan tembang dan seni budaya lokal, termasuk wayang untuk menarik minat masyarakat terhadap Islam. Murid Sunan Bonang ini bahkan menciptakan sendiri beberapa tembang dan wayang yang digunakannya dalam berdakwah.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Sosok Sunan Kalijaga, Mubaligh Karismatik yang Hidup Lebih dari 100 Tahun&amp;nbsp;
Dalam pertunjukan wayangnya, Sunan Kalijaga mengadaptasi lakon-lakon kuno seperti Lakon Petruk Jadi Raja dan Dewa Ruci menjadi lakon untuk menyiarkan ajaran Islam. Dia juga menambahkan karakter-karakter baru seperti karakter punakawan, Bagong, Petruk, dan Gareng.
Melalui cara ini Sunan Kalijaga berhasil menarik orang-orang untuk berlajar agama Islam, dan akhirnya memeluknya.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Kisah Karomah Sunan Kalijaga: 3 Tahun Tidur Menjaga Tongkat Sunan Bonang
Namun, terlepas dari kesuksesan dakwahnya, metode Sunan Kalijaga ini ternyata mendapat pandangan berbeda di kalangan Wali Songo.
Dilansir dari NU Online, pada salah satu rapat dewan wali untuk membahas strategi dakwah, Sunan Ampel, yang dipandang sebagai pemimpin dari para wali menyatakan ketidaksetujuannya akan penggunaan instrumen tradisi dan budaya masyarakat dalam menyebarkan Islam.Sunan Kalijaga memahami ketidaksetujuan Sunan Ampel, yang khawatir ajaran Islam terlalu bercampur dengan budaya dan tradisi masyarakat lokal. Tetapi dia kemudian memberi argumentasi bahwa Islam tidak akan bercampur dengan tradisi lokal, melainkan Islam-lah yang akan mempengaruhi kebiasaan lokal tersebut.
Ajaran Islam tetap murni sementara masyarakat akan tetap dapat menjalankan tradisinya, selama tidak bertentangan dengan martabat kemanusiaan. Argumentasi Sunan Kalijaga ini akhirnya mendapat respon positif dari para wali dan agama Islam terus berkembang di tengah masyarakat.</content:encoded></item></channel></rss>
