<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ketika Pangeran Diponegoro Serang Besar-besaran Sejumlah Daerah di Pulau Jawa   </title><description>Serangan Pangeran Diponegoro ini menjadi serangan besar kedua di daerah Dekso, Kulon Progo.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/02/27/337/2553528/ketika-pangeran-diponegoro-serang-besar-besaran-sejumlah-daerah-di-pulau-jawa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/02/27/337/2553528/ketika-pangeran-diponegoro-serang-besar-besaran-sejumlah-daerah-di-pulau-jawa"/><item><title>Ketika Pangeran Diponegoro Serang Besar-besaran Sejumlah Daerah di Pulau Jawa   </title><link>https://news.okezone.com/read/2022/02/27/337/2553528/ketika-pangeran-diponegoro-serang-besar-besaran-sejumlah-daerah-di-pulau-jawa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/02/27/337/2553528/ketika-pangeran-diponegoro-serang-besar-besaran-sejumlah-daerah-di-pulau-jawa</guid><pubDate>Minggu 27 Februari 2022 09:01 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/02/26/337/2553528/ketika-pangeran-diponegoro-serang-besar-besaran-sejumlah-daerah-di-pulau-jawa-6JZ5vIxz0l.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pangeran Diponegoro (foto: ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/02/26/337/2553528/ketika-pangeran-diponegoro-serang-besar-besaran-sejumlah-daerah-di-pulau-jawa-6JZ5vIxz0l.jpg</image><title>Pangeran Diponegoro (foto: ist)</title></images><description>PANGERAN DIPONEGORO dan prajuritnya melakukan penyerangan besar-besaran ke beberapa daerah di Kulon Progo. Serangan Pangeran Diponegoro ini menjadi serangan besar kedua di daerah Dekso, Kulon Progo. Serangan yang gilang gemilang itu mereka merebut kemenangan beruntun di beberapa daerah yang ada di Kulon Progo lainnya.

Serangan Pangeran Diponegoro ke tangsi - tangsi pertahanan Belanda juga membuat banyak elite bangsawan Yogyakarta menemui ajalnya. Dikisahkan pada buku &quot;Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro (1785 - 1855) tulisan Peter Carey, pasukan Diponegoro yang di bawah komando Sentot berhasil meraih kemenangan beruntun di Kasuran, Lengkong, dimana banyak elite bangsawan yang tewas akibat serangan di Bantul, Kejiwan, dan Delangu.
BACA JUGA:Terserang Wabah Penyakit, Prajurit Belanda Kewalahan Hadapi Pangeran Diponegoro&amp;nbsp;
Semua kemenangan ini membawa mereka dari Kali Progo sampai ke pinggiran barat Surakarta. Para perwira Belanda menyebut bila tentara Diponegoro, yang berhasil merebut garis pertahanan Belanda layaknya mengamuk dengan kepala tertunduk sambil menyuarakan pekikan yang mengiris hati.

Dengan rasa putus asa, Belanda mulai mengosongkan garinisun - garnisun mereka di luar Jawa, sambil mengerahkan serdadu - serdadu yang baru didatangkan dari Eropa. Kedudukan Belanda tampaknya tidak memberikan harapan, tetapi hanya karena terbantu oleh perdebatan panjang soal taktik antara Kiai Mojo dan Pangeran Diponegoro, memungkinkan Belanda dapat mengkonsentrasikan pasukan dalam jumlah cukup besar untuk merebut kemenangan atas pasukan Pangeran Diponegoro di Gawok, pada 15 Oktober 1826.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Wajah Dingin Raden Saleh saat Diminta Belanda Menguji Keaslian Keris Pangeran Diponegoro
Pertempuran baru juga tercipta di Rembang dan Jipang - Rajekwesi (saat daerah Bojonegoro) pada akhir 1827. Saat itu saudara ipar Pangeran Diponegoro, Sosrodilogo, ikut dalam perang. Selama beberapa minggu, peperangan menegangkan terjadi awal Desember 1827 hingga pertengahan Januari 1828.
Bahkan imbas peperangan itu, jalur komunikasi pemerintah Belanda antara Semarang dan Surabaya terputus. De Kock sang jenderal terpaksa menunda rencana keberangkatannya ke Belanda dan menyerahkan kepemimpinan komando tentara ke tangan Van Geen. Hal ini menunjukkan keputusan tepat, mengingat watak Van Geen yang tidak kenal kasihan dengan melakukan taktik bumi hangus dan menghukum tawanan, dengan cara siksaan yang begitu dikenal luas, dipendam sebatas leher agar dimakan rayap dan semut.

Sebelum peperangan pecahnya di Rembang, militer Belanda dan pejabat-pejabat sipilnya sudah mulai memikirkan bagaimana mengakhiri perang. Kondisi keuangan begitu sulit, ekonomi di Jawa tengah bagian selatan macet, tidak berputar, dan pemerintah kolonial terancam bangkrut.

Bahkan raja yang dianggap loyal seperti Sunan Pakubuwana VI tidak dapat diandalkan. Kemungkinan sang Sunan Pakubuwana VI yang angin-anginan itu bersumpah setia kepada Belanda, di sisi lain sang ia bersiap-siap memihak Pangeran Diponegoro bila nanti menang.
</description><content:encoded>PANGERAN DIPONEGORO dan prajuritnya melakukan penyerangan besar-besaran ke beberapa daerah di Kulon Progo. Serangan Pangeran Diponegoro ini menjadi serangan besar kedua di daerah Dekso, Kulon Progo. Serangan yang gilang gemilang itu mereka merebut kemenangan beruntun di beberapa daerah yang ada di Kulon Progo lainnya.

Serangan Pangeran Diponegoro ke tangsi - tangsi pertahanan Belanda juga membuat banyak elite bangsawan Yogyakarta menemui ajalnya. Dikisahkan pada buku &quot;Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro (1785 - 1855) tulisan Peter Carey, pasukan Diponegoro yang di bawah komando Sentot berhasil meraih kemenangan beruntun di Kasuran, Lengkong, dimana banyak elite bangsawan yang tewas akibat serangan di Bantul, Kejiwan, dan Delangu.
BACA JUGA:Terserang Wabah Penyakit, Prajurit Belanda Kewalahan Hadapi Pangeran Diponegoro&amp;nbsp;
Semua kemenangan ini membawa mereka dari Kali Progo sampai ke pinggiran barat Surakarta. Para perwira Belanda menyebut bila tentara Diponegoro, yang berhasil merebut garis pertahanan Belanda layaknya mengamuk dengan kepala tertunduk sambil menyuarakan pekikan yang mengiris hati.

Dengan rasa putus asa, Belanda mulai mengosongkan garinisun - garnisun mereka di luar Jawa, sambil mengerahkan serdadu - serdadu yang baru didatangkan dari Eropa. Kedudukan Belanda tampaknya tidak memberikan harapan, tetapi hanya karena terbantu oleh perdebatan panjang soal taktik antara Kiai Mojo dan Pangeran Diponegoro, memungkinkan Belanda dapat mengkonsentrasikan pasukan dalam jumlah cukup besar untuk merebut kemenangan atas pasukan Pangeran Diponegoro di Gawok, pada 15 Oktober 1826.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Wajah Dingin Raden Saleh saat Diminta Belanda Menguji Keaslian Keris Pangeran Diponegoro
Pertempuran baru juga tercipta di Rembang dan Jipang - Rajekwesi (saat daerah Bojonegoro) pada akhir 1827. Saat itu saudara ipar Pangeran Diponegoro, Sosrodilogo, ikut dalam perang. Selama beberapa minggu, peperangan menegangkan terjadi awal Desember 1827 hingga pertengahan Januari 1828.
Bahkan imbas peperangan itu, jalur komunikasi pemerintah Belanda antara Semarang dan Surabaya terputus. De Kock sang jenderal terpaksa menunda rencana keberangkatannya ke Belanda dan menyerahkan kepemimpinan komando tentara ke tangan Van Geen. Hal ini menunjukkan keputusan tepat, mengingat watak Van Geen yang tidak kenal kasihan dengan melakukan taktik bumi hangus dan menghukum tawanan, dengan cara siksaan yang begitu dikenal luas, dipendam sebatas leher agar dimakan rayap dan semut.

Sebelum peperangan pecahnya di Rembang, militer Belanda dan pejabat-pejabat sipilnya sudah mulai memikirkan bagaimana mengakhiri perang. Kondisi keuangan begitu sulit, ekonomi di Jawa tengah bagian selatan macet, tidak berputar, dan pemerintah kolonial terancam bangkrut.

Bahkan raja yang dianggap loyal seperti Sunan Pakubuwana VI tidak dapat diandalkan. Kemungkinan sang Sunan Pakubuwana VI yang angin-anginan itu bersumpah setia kepada Belanda, di sisi lain sang ia bersiap-siap memihak Pangeran Diponegoro bila nanti menang.
</content:encoded></item></channel></rss>
