<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>KPK Selisik Penerimaan Uang Bupati Buru Selatan dari Para Kontraktor</title><description>Aliran uang itu diduga suap dari para kontraktor yang menggarap proyek di Buru Selatan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/03/09/337/2558677/kpk-selisik-penerimaan-uang-bupati-buru-selatan-dari-para-kontraktor</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/03/09/337/2558677/kpk-selisik-penerimaan-uang-bupati-buru-selatan-dari-para-kontraktor"/><item><title>KPK Selisik Penerimaan Uang Bupati Buru Selatan dari Para Kontraktor</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/03/09/337/2558677/kpk-selisik-penerimaan-uang-bupati-buru-selatan-dari-para-kontraktor</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/03/09/337/2558677/kpk-selisik-penerimaan-uang-bupati-buru-selatan-dari-para-kontraktor</guid><pubDate>Rabu 09 Maret 2022 11:08 WIB</pubDate><dc:creator>Arie Dwi Satrio</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/03/09/337/2558677/kpk-selisik-penerimaan-uang-bupati-buru-selatan-dari-para-kontraktor-wa6mpUrZNL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/03/09/337/2558677/kpk-selisik-penerimaan-uang-bupati-buru-selatan-dari-para-kontraktor-wa6mpUrZNL.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menelisik berbagai aliran uang yang diterima Bupati nonaktif Buru Selatan, Tagop Sudarsono Soulisa (TSS) dari para kontraktor. Aliran uang itu diduga suap dari para kontraktor yang menggarap proyek di Buru Selatan.

Aliran uang itu dikonfirmasi penyidik ke empat saksi yakni, Advokat Law Firm Lima &amp;amp; Bintang, Laurenzius CS Sembiring; pihak Swasta, Muji Nurjaroh; mantan Site Manager PT Dharma Bakti Abadi, Rismawan Andrianto; serta salah satu tersangka, Ivana Kwelju.

&quot;Seluruh saksi hadir dan dikonfirmasi pengetahuannya antara lain terkait adanya dugaan aliran uang untuk tersangka TSS karena memenangkan kontraktor tertentu dalam beberapa kegiatan proyek pekerjaan di Pemkab Buru Selatan,&quot; kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri melalui pesan singkatnya, Rabu (9/3/2022).

BACA JUGA:KPK Tahan Pengusaha yang Menyuap Eks Bupati Buru Selatan

Diketahui sebelumnya, KPK telah menetapkan mantan Bupati Buru Selatan dua periode, Tagop Sudarsono Soulisa (TSS) sebagai tersangka. Dia ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap, gratifikasi, hingga Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Tagop ditetapkan sebagai tersangka KPK bersama dua orang lainnya. Keduanya yakni, orang kepercayaan Tagop, Johny Rynhard Kasman (JRK) dan pihak swasta, Ivana Kwelju (IK). Ketiganya ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi terkait pengadaan barang dan jasa di Buru Selatan.
Tagop diduga telah menerima fee sedikitnya sekira Rp10 miliar dari beberapa rekanan yang mengerjakan proyek pengadaan barang dan jasa di Buru Selatan. Ia diduga menerima fee sebesar Rp10 miliar melalui Johny Rynhard. Uang sebesar Rp10 miliar itu, salah satunya berasal dari Ivana Kwelju.

Berdasarkan hasil penyelidikan dan penyidikan tim KPK, uang sebesar  Rp10 miliar itu diduga telah dialihkan oleh Tagop ke sejumlah aset.  Tagop diduga mencuci uangnya sejumlah Rp10 miliar dengan membeli aset  atas nama orang lain. Hal itu dilakukan Tagop agar aset hasil korupsinya  tidak diketahui KPK.

Atas perbuatannya, Ivana Kwelju sebagai pemberi suap disangkakan  melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang  Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor  20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sedangkan Tagop dan Johny, disangkakan melanggar pasal 12 huruf a  atau b atau Pasal 11 dan Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999  sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang  Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP dan  Pasal 3 dan atau 4 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan  Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.</description><content:encoded>JAKARTA - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menelisik berbagai aliran uang yang diterima Bupati nonaktif Buru Selatan, Tagop Sudarsono Soulisa (TSS) dari para kontraktor. Aliran uang itu diduga suap dari para kontraktor yang menggarap proyek di Buru Selatan.

Aliran uang itu dikonfirmasi penyidik ke empat saksi yakni, Advokat Law Firm Lima &amp;amp; Bintang, Laurenzius CS Sembiring; pihak Swasta, Muji Nurjaroh; mantan Site Manager PT Dharma Bakti Abadi, Rismawan Andrianto; serta salah satu tersangka, Ivana Kwelju.

&quot;Seluruh saksi hadir dan dikonfirmasi pengetahuannya antara lain terkait adanya dugaan aliran uang untuk tersangka TSS karena memenangkan kontraktor tertentu dalam beberapa kegiatan proyek pekerjaan di Pemkab Buru Selatan,&quot; kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri melalui pesan singkatnya, Rabu (9/3/2022).

BACA JUGA:KPK Tahan Pengusaha yang Menyuap Eks Bupati Buru Selatan

Diketahui sebelumnya, KPK telah menetapkan mantan Bupati Buru Selatan dua periode, Tagop Sudarsono Soulisa (TSS) sebagai tersangka. Dia ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap, gratifikasi, hingga Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Tagop ditetapkan sebagai tersangka KPK bersama dua orang lainnya. Keduanya yakni, orang kepercayaan Tagop, Johny Rynhard Kasman (JRK) dan pihak swasta, Ivana Kwelju (IK). Ketiganya ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi terkait pengadaan barang dan jasa di Buru Selatan.
Tagop diduga telah menerima fee sedikitnya sekira Rp10 miliar dari beberapa rekanan yang mengerjakan proyek pengadaan barang dan jasa di Buru Selatan. Ia diduga menerima fee sebesar Rp10 miliar melalui Johny Rynhard. Uang sebesar Rp10 miliar itu, salah satunya berasal dari Ivana Kwelju.

Berdasarkan hasil penyelidikan dan penyidikan tim KPK, uang sebesar  Rp10 miliar itu diduga telah dialihkan oleh Tagop ke sejumlah aset.  Tagop diduga mencuci uangnya sejumlah Rp10 miliar dengan membeli aset  atas nama orang lain. Hal itu dilakukan Tagop agar aset hasil korupsinya  tidak diketahui KPK.

Atas perbuatannya, Ivana Kwelju sebagai pemberi suap disangkakan  melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang  Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor  20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sedangkan Tagop dan Johny, disangkakan melanggar pasal 12 huruf a  atau b atau Pasal 11 dan Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999  sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang  Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP dan  Pasal 3 dan atau 4 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan  Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.</content:encoded></item></channel></rss>
