<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mabuk Buat Kertanegara Tak Kuasa Hadapi Serangan Kediri hingga Berakhirnya Singasari   </title><description>Pemberontakan ini selain mengakhiri hidup Kertanegara yang tewas dibunuh oleh Jayakatwang</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/03/14/337/2561048/mabuk-buat-kertanegara-tak-kuasa-hadapi-serangan-kediri-hingga-berakhirnya-singasari</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/03/14/337/2561048/mabuk-buat-kertanegara-tak-kuasa-hadapi-serangan-kediri-hingga-berakhirnya-singasari"/><item><title>Mabuk Buat Kertanegara Tak Kuasa Hadapi Serangan Kediri hingga Berakhirnya Singasari   </title><link>https://news.okezone.com/read/2022/03/14/337/2561048/mabuk-buat-kertanegara-tak-kuasa-hadapi-serangan-kediri-hingga-berakhirnya-singasari</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/03/14/337/2561048/mabuk-buat-kertanegara-tak-kuasa-hadapi-serangan-kediri-hingga-berakhirnya-singasari</guid><pubDate>Senin 14 Maret 2022 07:01 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/03/14/337/2561048/mabuk-buat-kertanegara-tak-kuasa-hadapi-serangan-kediri-hingga-berakhirnya-singasari-NoRCXMnvZs.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/03/14/337/2561048/mabuk-buat-kertanegara-tak-kuasa-hadapi-serangan-kediri-hingga-berakhirnya-singasari-NoRCXMnvZs.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Istimewa)</title></images><description>JAKARTA - Kejayaan Kerajaan Singasari akhirnya berakhir ketika raja Kertanegara harus menghadapi serangan dari Kediri. Serangan Jayakatwang ini memang kurang siap dihadapi Kertanegara, karena sang raja juga tengah melakukan ritual mabuk minuman keras (miras). Alhasil Kertanegara tak bisa lagi menghadapi pemberontakan ketiga yang dilakukan Jayakatwang dari Kediri.
Jayakatwang sendiri memiliki hubungan keluarga dengan Kertanegara yakni sepupu, sekaligus ipar dan besannya. Hal ini dikisahkan dalam buku &quot;Hitam Putih Ken Arok dari Kejayaan hingga Keruntuhan&quot; karya Muhammad Syamsuddin.
Jayakatwang yang masih dibalut dengan dendam karena penaklukan Kediri oleh Singasari, akhirnya melakukan pemberontakan. Dikisahkan pemberontakan Jayakatwang ini diawali dari salah seorang pejabat yang sempat dimutasi oleh Kertanegara yakni Arya Wiraraja. Arya Wiraraja yang saat itu menjadi adipati atau Bupati Sumenep memprovokasi Jayakatwang untuk melakukan pemberontakan.
Baca juga:&amp;nbsp;Misteri Keris Kuno yang Tersimpan di Museum Singhasari Malang
Arya Wiraraja mempengaruhi Jayakatwang bahwa ia merupakan keturunan terakhir dari Kertajaya gang memerintah Kerajaan Kediri, sebelum akhirnya dikalahkan Ken Arok, leluhur Kertanegara.
Ulah Arya Wiraraja ini dilakukan karena ia merasa sakit hati, akibat dimutasi menjadi adipati Sumenep, dan keluar dari istana Kerajaan Singasari. Jayakatwang yang terpengaruh pun akhirnya menyusun kekuatan untuk menyerang Kertanegara.
Baca juga:&amp;nbsp;Kisah Raden Wijaya Iming-imingi Pasukan Mongol Putri-Putri Jawa yang Cantik
Pasukan Jayakatwang saat itu dipimpin oleh Jaran Guyang lalu bergerak menyerang Singasari dari utara dan Patih Kebo Mundarang dari sisi selatan. Menghadapi serangan Jayakatwang ternyata membuat pemerintahan Kerajaan Singasari kewalahan. Kekuatan militer Kerajaan Singasari disinyalir berkurang jauh lantaran banyak pasukan yang dikirimkan ke luar Jawa untuk memperluas kekuasaan Kertanegara.Sebagai upaya untuk menghadapi pemberontakan ini, Kertanegara mengurus kedua menantunya, Raden Wijaya Putra Lembu Tak dan Ardharaja, putra Jayakatwang untuk melakukan perlawanan. Tetapi mungkin kekuatannya sangat lemah dibandingkan kekuatan Kediri.
Tak hanya itu ikatan emosional antara Ardharaja dengan sang ayah Jayakatwang membuat pilihannya tak mungkin berpihak ke Kertanegara. Alhasil Ardharaja yang seharusnya diutus melawan Kediri di bawah pimpinan ayahnya Jayakatwang, balik menyerang ayah mertuanya sendiri.
Jayakatwang sendiri cukup cerdik dalam mengelola strategi perang. Awalnya pasukan Jaran Guyang hanya untuk pancingan untuk mengosongkan ibu kota. Dengan kehadiran pasukan Jaran Guyang, maka seluruh pasukan Singasari yang berjaga akan keluar dari istana. Sehingga pasukan yang berada di dalam istana ini menjadi kosong.
Baca juga:&amp;nbsp;Menelisik Ritual di Kerajaan Singasari, Makan Mayat hingga Bersetubuh Secara Berlebihan
Maka pasukan Patih Kebo Mundarang bisa masuk dari sisi selatan untuk menduduki istana Kerajaan Singasari. Ironisnya dikisahkan saat penguasaan istana Kerajaan Singasari ini Kertanegara tengah mengadakan pesta minuman keras sebagai salah satu ritual agamanya.
Dalam kondisi mabuk dan tak siap, Kertanegara langsung keluar menghadapi serangan musuh. Saat itu pula dengan tanpa kekuatan dan keamanan pasukan yang memadai, Singasari berhasil ditaklukkan oleh Jayakatwang.
Baca juga:&amp;nbsp;Dibalik Kegemilangan Singasari era Kertanegara, Miliki Raja Suka Mabuk Miras
Pemberontakan ini selain mengakhiri hidup Kertanegara yang tewas dibunuh oleh Jayakatwang yang bersekongkol dengan para mantan anak buah Kertanegara seperti, Arya Wiraraja, Mpu Raganata, Patih Kebo Anengah, Panji Angragani, dan Wirakreti. Kekuasaan Kerajaan Singasari pun akhirnya runtuh seiring dengan tewasnya Kertanegara, sang raja.Pascatewasnya Kertanegara, dikisahkan naskah Negarakertagama Kertanegara dan istrirnya dicandikan di Sagala sebagai Wairocana dan Locana, dengan lambang arca tunggal Ardhanareswari.
Namun tak semua anggota keluarga Kertanegara tewas, konon Raden Wijaya yang menjadi pemimpin pasukan bersama menantu Kertanegara Ardharaja, melarikan diri dari Singasari. Raden Wijaya melarikan ke Sumenep, hingga akhirnya di Sumenep diberikan perlindungan oleh Arya Wiraraja sebagai adipati Sumenep.
Tapi Raden Wijaya tak mengetahui bila Arya Wiraraja inilah yang memprovokasi pemberontakan Jayakatwang kepada Singasari. Namun lambat laun justru Arya Wiraraja yang balik mendukung Raden Wijaya untuk menaklukkan Jayakatwang dengan bantuan tentara Kekaisaran Mongol.
Baca juga:&amp;nbsp;Menelisik Ritual di Kerajaan Singasari, Makan Mayat hingga Bersetubuh Secara Berlebihan</description><content:encoded>JAKARTA - Kejayaan Kerajaan Singasari akhirnya berakhir ketika raja Kertanegara harus menghadapi serangan dari Kediri. Serangan Jayakatwang ini memang kurang siap dihadapi Kertanegara, karena sang raja juga tengah melakukan ritual mabuk minuman keras (miras). Alhasil Kertanegara tak bisa lagi menghadapi pemberontakan ketiga yang dilakukan Jayakatwang dari Kediri.
Jayakatwang sendiri memiliki hubungan keluarga dengan Kertanegara yakni sepupu, sekaligus ipar dan besannya. Hal ini dikisahkan dalam buku &quot;Hitam Putih Ken Arok dari Kejayaan hingga Keruntuhan&quot; karya Muhammad Syamsuddin.
Jayakatwang yang masih dibalut dengan dendam karena penaklukan Kediri oleh Singasari, akhirnya melakukan pemberontakan. Dikisahkan pemberontakan Jayakatwang ini diawali dari salah seorang pejabat yang sempat dimutasi oleh Kertanegara yakni Arya Wiraraja. Arya Wiraraja yang saat itu menjadi adipati atau Bupati Sumenep memprovokasi Jayakatwang untuk melakukan pemberontakan.
Baca juga:&amp;nbsp;Misteri Keris Kuno yang Tersimpan di Museum Singhasari Malang
Arya Wiraraja mempengaruhi Jayakatwang bahwa ia merupakan keturunan terakhir dari Kertajaya gang memerintah Kerajaan Kediri, sebelum akhirnya dikalahkan Ken Arok, leluhur Kertanegara.
Ulah Arya Wiraraja ini dilakukan karena ia merasa sakit hati, akibat dimutasi menjadi adipati Sumenep, dan keluar dari istana Kerajaan Singasari. Jayakatwang yang terpengaruh pun akhirnya menyusun kekuatan untuk menyerang Kertanegara.
Baca juga:&amp;nbsp;Kisah Raden Wijaya Iming-imingi Pasukan Mongol Putri-Putri Jawa yang Cantik
Pasukan Jayakatwang saat itu dipimpin oleh Jaran Guyang lalu bergerak menyerang Singasari dari utara dan Patih Kebo Mundarang dari sisi selatan. Menghadapi serangan Jayakatwang ternyata membuat pemerintahan Kerajaan Singasari kewalahan. Kekuatan militer Kerajaan Singasari disinyalir berkurang jauh lantaran banyak pasukan yang dikirimkan ke luar Jawa untuk memperluas kekuasaan Kertanegara.Sebagai upaya untuk menghadapi pemberontakan ini, Kertanegara mengurus kedua menantunya, Raden Wijaya Putra Lembu Tak dan Ardharaja, putra Jayakatwang untuk melakukan perlawanan. Tetapi mungkin kekuatannya sangat lemah dibandingkan kekuatan Kediri.
Tak hanya itu ikatan emosional antara Ardharaja dengan sang ayah Jayakatwang membuat pilihannya tak mungkin berpihak ke Kertanegara. Alhasil Ardharaja yang seharusnya diutus melawan Kediri di bawah pimpinan ayahnya Jayakatwang, balik menyerang ayah mertuanya sendiri.
Jayakatwang sendiri cukup cerdik dalam mengelola strategi perang. Awalnya pasukan Jaran Guyang hanya untuk pancingan untuk mengosongkan ibu kota. Dengan kehadiran pasukan Jaran Guyang, maka seluruh pasukan Singasari yang berjaga akan keluar dari istana. Sehingga pasukan yang berada di dalam istana ini menjadi kosong.
Baca juga:&amp;nbsp;Menelisik Ritual di Kerajaan Singasari, Makan Mayat hingga Bersetubuh Secara Berlebihan
Maka pasukan Patih Kebo Mundarang bisa masuk dari sisi selatan untuk menduduki istana Kerajaan Singasari. Ironisnya dikisahkan saat penguasaan istana Kerajaan Singasari ini Kertanegara tengah mengadakan pesta minuman keras sebagai salah satu ritual agamanya.
Dalam kondisi mabuk dan tak siap, Kertanegara langsung keluar menghadapi serangan musuh. Saat itu pula dengan tanpa kekuatan dan keamanan pasukan yang memadai, Singasari berhasil ditaklukkan oleh Jayakatwang.
Baca juga:&amp;nbsp;Dibalik Kegemilangan Singasari era Kertanegara, Miliki Raja Suka Mabuk Miras
Pemberontakan ini selain mengakhiri hidup Kertanegara yang tewas dibunuh oleh Jayakatwang yang bersekongkol dengan para mantan anak buah Kertanegara seperti, Arya Wiraraja, Mpu Raganata, Patih Kebo Anengah, Panji Angragani, dan Wirakreti. Kekuasaan Kerajaan Singasari pun akhirnya runtuh seiring dengan tewasnya Kertanegara, sang raja.Pascatewasnya Kertanegara, dikisahkan naskah Negarakertagama Kertanegara dan istrirnya dicandikan di Sagala sebagai Wairocana dan Locana, dengan lambang arca tunggal Ardhanareswari.
Namun tak semua anggota keluarga Kertanegara tewas, konon Raden Wijaya yang menjadi pemimpin pasukan bersama menantu Kertanegara Ardharaja, melarikan diri dari Singasari. Raden Wijaya melarikan ke Sumenep, hingga akhirnya di Sumenep diberikan perlindungan oleh Arya Wiraraja sebagai adipati Sumenep.
Tapi Raden Wijaya tak mengetahui bila Arya Wiraraja inilah yang memprovokasi pemberontakan Jayakatwang kepada Singasari. Namun lambat laun justru Arya Wiraraja yang balik mendukung Raden Wijaya untuk menaklukkan Jayakatwang dengan bantuan tentara Kekaisaran Mongol.
Baca juga:&amp;nbsp;Menelisik Ritual di Kerajaan Singasari, Makan Mayat hingga Bersetubuh Secara Berlebihan</content:encoded></item></channel></rss>
