<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gas 3 Kilogram Langka dan Mahal, Warga Kalsel Kembali Gunakan Kayu Bakar</title><description>Warga hanya mendapatkan pasokan 1 sampai 2 kali dalam satu bulan dari pangkalan</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/03/23/340/2566598/gas-3-kilogram-langka-dan-mahal-warga-kalsel-kembali-gunakan-kayu-bakar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/03/23/340/2566598/gas-3-kilogram-langka-dan-mahal-warga-kalsel-kembali-gunakan-kayu-bakar"/><item><title>Gas 3 Kilogram Langka dan Mahal, Warga Kalsel Kembali Gunakan Kayu Bakar</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/03/23/340/2566598/gas-3-kilogram-langka-dan-mahal-warga-kalsel-kembali-gunakan-kayu-bakar</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/03/23/340/2566598/gas-3-kilogram-langka-dan-mahal-warga-kalsel-kembali-gunakan-kayu-bakar</guid><pubDate>Rabu 23 Maret 2022 16:57 WIB</pubDate><dc:creator>Zulkifli Yunus </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/03/23/340/2566598/gas-3-kilogram-langka-dan-mahal-warga-kalsel-kembali-gunakan-kayu-bakar-0XhqNYJsS1.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Warga Kalsel kembali gunakan kayu bakar (Foto; iNews/Zulkifli)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/03/23/340/2566598/gas-3-kilogram-langka-dan-mahal-warga-kalsel-kembali-gunakan-kayu-bakar-0XhqNYJsS1.JPG</image><title>Warga Kalsel kembali gunakan kayu bakar (Foto; iNews/Zulkifli)</title></images><description>PELAIHARI - Distribusi gas bersubsidi Liquified Petroleum Gas (LPG) 3 Kg di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan sampai saat ini belum berjalan dengan baik, sebagian warga di pinggiran Kota Pelaihari masih sering kesulitan mendapatkan gas yang bertuliskan &amp;ldquo;untuk masyarakat miskin&amp;rdquo; itu.

Warga hanya mendapatkan pasokan 1 sampai 2 kali dalam satu bulan dari pangkalan, kalau habis di pangkalan warga terpaksa mencari sampai ke warung-warung yang menjual gas 3 Kg. Harga di warung-warung Rp25.000 sampai Rp30.000, sedangkan HET gas 3 Kg di Tala hanya Rp19.000.

Sering kosong di pangkalan dan mahalnya harga di pengecer, warga di Desa Galam dan Desa Tirta Jaya, Kecamatan Bajuin terpaksa menggunakan kayu bakar untuk memasak.

Warga mengaku sebenarnya mereka sudah nyaman menggunakan gas 3 Kg, karena tidak perlu keluar masuk hutan mencari kayu bakar. Belum lagi kalau musim hujan susah mengeringkan kayu sebelum digunakan untuk memasak.

BACA JUGA:Maman Abdurrahman: Usaha Pemerintah Atasi Kelangkaan Migor Maksimal, Tapi Butuh Dukungan Masyarakat


Hal ini diakui Mahrina Asmawati warga RT 2 Desa Galam, Kecamatan Bajuin yang sudah beberapa bulan terakhir memanfaatkan kayu bakar untuk memasak.

&amp;ldquo;Terpaksa menggunakan kayu bakar, gas di pangkalan sering kosong, sedangkan beli diluaran atau warung Rp25.000 itu pun sering kosong juga,&amp;rdquo; kata Mahrina, Rabu (23/3/2022).

Menurut Mahrina untuk mengurangi asap di dalam rumah ia terpaksa  membuat dapur kecil di samping rumah untuk memasak atau merebus air.

Rustam warga RT 2 Desa Galam lainnya juga mengaku keluarganya sudah  jarang menggunakan gas LPG 3 kg, sejak gas sering menghilang dari  pangkalan, untuk keperluan memasak Rustam mengambil kayu bakar di dalam  hutan tidak jauh dari pemukiman.

&amp;ldquo;Biasanya saya mencari kayu cukup untuk keperluan satu minggu, kayu  tersebut sebelum digunakan terlebih dahulu dikeringkan,&amp;rdquo; ujar Rustam  yang menyimpan kayu bakar di kolong rumahnya.

Sementara itu Tuarti warga RT 3 Desa Tirta Jaya, Kecamatan Bajuin  membenarkan saat ini ia kesulitan mencukupi kebutuhan gas 3 kg untuk  berjualan gorengan, Tuarti mengatakan satu hari ia menghabiskan sampai 2  tabung.

&amp;ldquo;Jatah dipangkalan terdekat hanya dua tabung, sedangkan setiap hari  menghabiskan sampai 2 tabung, jadi sisanya terpaksa membeli di luar  pangkalan, bahkan sampai ke Kota Pelaihari,&amp;rdquo; kata Tuarti.

Tuarti mengaku tidak jarang ia terpaksa tidak berjualan, karena tidak memperoleh gas.

Masih adanya warung yang mengecer gas 3 Kg di luar pangkalan, menjadi  pertanyaan warga, mengingat Pemkab Tala melarang penjualan LPG 3 Kg di  luar pangkalan, bahkan beberapa waktu lalu ada pemilik pangkalan yang  diajukan ke Pengadilan Negeri Tala dan dijatuhi denda belasan juta   bahkan puluhan juta rupiah.

</description><content:encoded>PELAIHARI - Distribusi gas bersubsidi Liquified Petroleum Gas (LPG) 3 Kg di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan sampai saat ini belum berjalan dengan baik, sebagian warga di pinggiran Kota Pelaihari masih sering kesulitan mendapatkan gas yang bertuliskan &amp;ldquo;untuk masyarakat miskin&amp;rdquo; itu.

Warga hanya mendapatkan pasokan 1 sampai 2 kali dalam satu bulan dari pangkalan, kalau habis di pangkalan warga terpaksa mencari sampai ke warung-warung yang menjual gas 3 Kg. Harga di warung-warung Rp25.000 sampai Rp30.000, sedangkan HET gas 3 Kg di Tala hanya Rp19.000.

Sering kosong di pangkalan dan mahalnya harga di pengecer, warga di Desa Galam dan Desa Tirta Jaya, Kecamatan Bajuin terpaksa menggunakan kayu bakar untuk memasak.

Warga mengaku sebenarnya mereka sudah nyaman menggunakan gas 3 Kg, karena tidak perlu keluar masuk hutan mencari kayu bakar. Belum lagi kalau musim hujan susah mengeringkan kayu sebelum digunakan untuk memasak.

BACA JUGA:Maman Abdurrahman: Usaha Pemerintah Atasi Kelangkaan Migor Maksimal, Tapi Butuh Dukungan Masyarakat


Hal ini diakui Mahrina Asmawati warga RT 2 Desa Galam, Kecamatan Bajuin yang sudah beberapa bulan terakhir memanfaatkan kayu bakar untuk memasak.

&amp;ldquo;Terpaksa menggunakan kayu bakar, gas di pangkalan sering kosong, sedangkan beli diluaran atau warung Rp25.000 itu pun sering kosong juga,&amp;rdquo; kata Mahrina, Rabu (23/3/2022).

Menurut Mahrina untuk mengurangi asap di dalam rumah ia terpaksa  membuat dapur kecil di samping rumah untuk memasak atau merebus air.

Rustam warga RT 2 Desa Galam lainnya juga mengaku keluarganya sudah  jarang menggunakan gas LPG 3 kg, sejak gas sering menghilang dari  pangkalan, untuk keperluan memasak Rustam mengambil kayu bakar di dalam  hutan tidak jauh dari pemukiman.

&amp;ldquo;Biasanya saya mencari kayu cukup untuk keperluan satu minggu, kayu  tersebut sebelum digunakan terlebih dahulu dikeringkan,&amp;rdquo; ujar Rustam  yang menyimpan kayu bakar di kolong rumahnya.

Sementara itu Tuarti warga RT 3 Desa Tirta Jaya, Kecamatan Bajuin  membenarkan saat ini ia kesulitan mencukupi kebutuhan gas 3 kg untuk  berjualan gorengan, Tuarti mengatakan satu hari ia menghabiskan sampai 2  tabung.

&amp;ldquo;Jatah dipangkalan terdekat hanya dua tabung, sedangkan setiap hari  menghabiskan sampai 2 tabung, jadi sisanya terpaksa membeli di luar  pangkalan, bahkan sampai ke Kota Pelaihari,&amp;rdquo; kata Tuarti.

Tuarti mengaku tidak jarang ia terpaksa tidak berjualan, karena tidak memperoleh gas.

Masih adanya warung yang mengecer gas 3 Kg di luar pangkalan, menjadi  pertanyaan warga, mengingat Pemkab Tala melarang penjualan LPG 3 Kg di  luar pangkalan, bahkan beberapa waktu lalu ada pemilik pangkalan yang  diajukan ke Pengadilan Negeri Tala dan dijatuhi denda belasan juta   bahkan puluhan juta rupiah.

</content:encoded></item></channel></rss>
