<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Anies soal UMKM Pinggir Jalan: Hendak Tawarkan IUMK Malah Dikira Mau Menggusur</title><description>Anies mencoba membuat para pelaku mikro dan ultra mikro tersebut untuk masuk ke aplikasi digital.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/03/24/337/2567313/cerita-anies-soal-umkm-pinggir-jalan-hendak-tawarkan-iumk-malah-dikira-mau-menggusur</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/03/24/337/2567313/cerita-anies-soal-umkm-pinggir-jalan-hendak-tawarkan-iumk-malah-dikira-mau-menggusur"/><item><title>Cerita Anies soal UMKM Pinggir Jalan: Hendak Tawarkan IUMK Malah Dikira Mau Menggusur</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/03/24/337/2567313/cerita-anies-soal-umkm-pinggir-jalan-hendak-tawarkan-iumk-malah-dikira-mau-menggusur</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/03/24/337/2567313/cerita-anies-soal-umkm-pinggir-jalan-hendak-tawarkan-iumk-malah-dikira-mau-menggusur</guid><pubDate>Kamis 24 Maret 2022 17:48 WIB</pubDate><dc:creator>Carlos Roy Fajarta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/03/24/337/2567313/cerita-anies-soal-umkm-pinggir-jalan-hendak-tawarkan-iumk-malah-dikira-mau-menggusur-cnoZf6R26S.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan (Foto: MPI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/03/24/337/2567313/cerita-anies-soal-umkm-pinggir-jalan-hendak-tawarkan-iumk-malah-dikira-mau-menggusur-cnoZf6R26S.JPG</image><title>Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan (Foto: MPI)</title></images><description>JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan membagikan pengalamannya saat hendak mengembangkan ekosistem transformasi digital untuk para pelaku UMKM para penjual makanan yang biasanya muncul menjelang gemerlap malam di ibukota.

&quot;Pelaku usaha mikro dan ultra mikro sering kali tidak bisa langsung masuk ke pasar digital karena legalitas. Misalkan UMKM pedagang warung malam hari yang bikin warung makan di pinggir jalan, mereka selama ini tidak punya legalitas,&quot; ujar Anies Baswedan, Kamis (24/3/2022) dalam webminar March Festival Road to Digital Innovation Awards 2022 yang diselenggarakan MNC Portal.

Ia menyebutkan pihaknya mencoba membuat para pelaku mikro dan ultra mikro tersebut untuk masuk ke aplikasi digital. Bukan hanya soal dagangan mereka ada di aplikasi online namun soal mendapatkan Izin Usaha Mikro Kecil (IUMK) dan NPWP.

&quot;Karena kalau dia tidak punya izin usaha dan NPWP dia tidak bisa partisipasi di pasar digital. Ini yang kemudian kita buat. Apa yang terjadi? Kami juga terkejut,&quot; ucap Anies.

BACA JUGA:Anies Sebut Jakarta Jadi Pusat Talenta Start Up

Pihaknya menawarkan IUMK kepada masyarakat di Jakarta. Kata Anies, di Jakarta itu sebelum pandemi Covid-19 jumlah IUMK sekitar 70 ribu IUMK, namun ketika kebijakan pembagian IUMK diterapkan, ada lebih dari 252 ribu pelaku usaha kecil yang memiliki IUMK.

&quot;Jadi mendadak pelaku-pelaku mikro dan ultra mikro itu pada punya ijin usaha dan NPWP,&quot; jelas Anies Baswedan.

Anies menceritakan saat awal petugasnya mendatangi para pelaku usaha mikro dan ultra mikro tersebut mereka sempat ketakutan karena terbiasa digusur saat petugas mendatangi tempat usaha mereka.


&quot;Walaupun agak unik ini, saat petugas kita mendatangi mereka itu, ketika didatangi mereka langsung defensif, karena mengiranya mau di gusur mau diusir. Karena terbiasa didatangi petugas itu mau digusur,&quot; ungkap Anies Baswedan.

Padahal kata Anies Baswedan petugas yang datang hanya ingin menanyakan apakah para pelaku usaha kecil tersebut memiliki IUMK dan NPWP.

&quot;Padahal didatangi petugas mau ditanyain punya IUMK gak? Terus mereka bilang enggak, nah ini mau diberi. Cuman kalau ditanyain gak punya izin dikira mau digusur, pengalamannya kan digusur. Jadi begitu ditawari IUMK, langsung mau, langsung ngurus, dan apa yang terjadi? Mereka masuk ke pasar digital,&quot; pungkas Anies Baswedan.
</description><content:encoded>JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan membagikan pengalamannya saat hendak mengembangkan ekosistem transformasi digital untuk para pelaku UMKM para penjual makanan yang biasanya muncul menjelang gemerlap malam di ibukota.

&quot;Pelaku usaha mikro dan ultra mikro sering kali tidak bisa langsung masuk ke pasar digital karena legalitas. Misalkan UMKM pedagang warung malam hari yang bikin warung makan di pinggir jalan, mereka selama ini tidak punya legalitas,&quot; ujar Anies Baswedan, Kamis (24/3/2022) dalam webminar March Festival Road to Digital Innovation Awards 2022 yang diselenggarakan MNC Portal.

Ia menyebutkan pihaknya mencoba membuat para pelaku mikro dan ultra mikro tersebut untuk masuk ke aplikasi digital. Bukan hanya soal dagangan mereka ada di aplikasi online namun soal mendapatkan Izin Usaha Mikro Kecil (IUMK) dan NPWP.

&quot;Karena kalau dia tidak punya izin usaha dan NPWP dia tidak bisa partisipasi di pasar digital. Ini yang kemudian kita buat. Apa yang terjadi? Kami juga terkejut,&quot; ucap Anies.

BACA JUGA:Anies Sebut Jakarta Jadi Pusat Talenta Start Up

Pihaknya menawarkan IUMK kepada masyarakat di Jakarta. Kata Anies, di Jakarta itu sebelum pandemi Covid-19 jumlah IUMK sekitar 70 ribu IUMK, namun ketika kebijakan pembagian IUMK diterapkan, ada lebih dari 252 ribu pelaku usaha kecil yang memiliki IUMK.

&quot;Jadi mendadak pelaku-pelaku mikro dan ultra mikro itu pada punya ijin usaha dan NPWP,&quot; jelas Anies Baswedan.

Anies menceritakan saat awal petugasnya mendatangi para pelaku usaha mikro dan ultra mikro tersebut mereka sempat ketakutan karena terbiasa digusur saat petugas mendatangi tempat usaha mereka.


&quot;Walaupun agak unik ini, saat petugas kita mendatangi mereka itu, ketika didatangi mereka langsung defensif, karena mengiranya mau di gusur mau diusir. Karena terbiasa didatangi petugas itu mau digusur,&quot; ungkap Anies Baswedan.

Padahal kata Anies Baswedan petugas yang datang hanya ingin menanyakan apakah para pelaku usaha kecil tersebut memiliki IUMK dan NPWP.

&quot;Padahal didatangi petugas mau ditanyain punya IUMK gak? Terus mereka bilang enggak, nah ini mau diberi. Cuman kalau ditanyain gak punya izin dikira mau digusur, pengalamannya kan digusur. Jadi begitu ditawari IUMK, langsung mau, langsung ngurus, dan apa yang terjadi? Mereka masuk ke pasar digital,&quot; pungkas Anies Baswedan.
</content:encoded></item></channel></rss>
