<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Warga Rusun di Cengkareng 12 Tahun Tanpa Air Bersih, Tiap Bulan Beli Rp300 Ribu</title><description>Warga Rusunami City Garden, Cengkareng, Jakarta Barat mengaku hidup 12 tahun di rusunami tanpa mendapatkan air bersih.
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/04/05/338/2573866/cerita-warga-rusun-di-cengkareng-12-tahun-tanpa-air-bersih-tiap-bulan-beli-rp300-ribu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/04/05/338/2573866/cerita-warga-rusun-di-cengkareng-12-tahun-tanpa-air-bersih-tiap-bulan-beli-rp300-ribu"/><item><title>Cerita Warga Rusun di Cengkareng 12 Tahun Tanpa Air Bersih, Tiap Bulan Beli Rp300 Ribu</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/04/05/338/2573866/cerita-warga-rusun-di-cengkareng-12-tahun-tanpa-air-bersih-tiap-bulan-beli-rp300-ribu</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/04/05/338/2573866/cerita-warga-rusun-di-cengkareng-12-tahun-tanpa-air-bersih-tiap-bulan-beli-rp300-ribu</guid><pubDate>Selasa 05 April 2022 21:31 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Sindonews.com</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/04/05/338/2573866/cerita-warga-rusun-di-cengkareng-12-tahun-tanpa-air-bersih-tiap-bulan-beli-rp300-ribu-X21Igrmrua.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Warga Rusun di Cengkareng membeli air bersih (Foto: Dok. DPRD DKI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/04/05/338/2573866/cerita-warga-rusun-di-cengkareng-12-tahun-tanpa-air-bersih-tiap-bulan-beli-rp300-ribu-X21Igrmrua.jpg</image><title>Warga Rusun di Cengkareng membeli air bersih (Foto: Dok. DPRD DKI)</title></images><description>JAKARTA - Warga Rusunami City Garden, Cengkareng, Jakarta Barat mengaku hidup 12 tahun di rusunami tanpa mendapatkan air bersih.

Oleh karena itu, mereka yang tergabung Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Rusunami City Garden (P3CG) mengadukan masalah krisis air bersih ke Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dengan harapan segera mendapatkan tindak lanjut.

Salah satu penghuni Rusunami City Garden, Rita mengatakan, kasus tersebut terjadi pada 2008, dimana PT Reka Rumanda Agung Abadi (PT RRAA) yang memasarkan Rumah Susun Sederhana Milik City Garden, dan menjanjikan fasilitas sumber air bersih PDAM.

&quot;Tapi sampai saat ini air PDAM sama sekali tidak ada, sehingga ketersediaan air bersih pun menjadi sumber masalah di Rusunami City Garden,&quot; kata Rita dalam keterangannya, Senin (4/4/2022).

BACA JUGA:Wagub Ariza Minta Warga Alami Krisis Air Bersih Lapor Kelurahan


Lalu, sambung Rita, alih-alih menyediakan air bersih PDAM sesuai yang dijanjikan, PT Surya Citra Perdana (PT SCP), selaku pengelola yang ditunjuk oleh PT RRAA, menggunakan air WTP (Water Treatment Pump) yang kualitasnya sangat buruk, dan tidak layak pakai karena sangat bau, kotor, berlumpur dan banyak cacing.

BACA JUGA:Kebutuhan Air Bersih di Pulau Terluar Mendesak, Kemensos Kerja Sama dengan ITS 


&quot;Kami akhirnya pada Oktober 2021, melaporkan WTP di aplikasi JAKI (Jakarta Kini), dan dari Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta datang inspeksi mendadak dan langsung menyegel WTP beserta 3 (tiga) sumur bor air tanah yang semuanya illegal,&quot; tutur Rita.

Dampak dari penyegelan tersebut, sambung Rita, penghuni Rusunami City Garden sampai sekarang, warga terpaksa swadaya menggunakan air mobil tanki dengan biaya kurang lebih Rp300 ribu perbulan tiap unitnya, dan menggunakan sistem buka tutup di pagi dan malam hari.

&quot;Hal ini diperparah dengan adanya RAB dari PALYJA untuk membayar  biaya instalasi air bersih sejumlah Rp. 955.653.908 pada tanggal 6  Desember 2021 ke PT SCP, namun dibebankan kembali kepada para pemilik  unit di Rusunami City Garden karena PT RRAA selaku pengembang dan PT SCP  selaku pengelola tidak mau menanggung biaya tersebut. Berulang kali  kami mencoba negosiasi dengan PT SCP, tidak mendapat konfirmasi yang  positif,&quot; bebernya.

Hingga akhirnya, Rita bersama penghuni lainnya mencoba mengadu ke  DPRD dengan harapan bisa mendapatkan titik terang. Memang respon pada  awalnya sangat cepat, sehingga pada tanggal 18 Maret 2022, perwakilan  melakukan audiensi dengan DPRD DKI Fraksi PDI Perjuangan dan  konfirmasinya akan segera ditindaklanjuti dengan instansi terkait.

&quot;Di audiensi tersebut, kami diarahkan untuk tidak proses PALYJA lagi,  melainkan langsung ke PAM Jaya karena swastanisasi akan berakhir.  Namun, update terakhir yang kami terima, berbeda dengan saat audiensi,  yakni kami tetap harus ke PALYJA karena kontrak baru berakhir di Febuari  2023, sedangkan RAB PALYJA ke PT SCP berakhir tanggal 31 Maret  2022  dan kami sudah hold untuk proses PALYJA sesuai hasil audiensi tersebut,&quot;  tuturnya.

Lalu pengelola menyarankan untuk menggunakan kembali WTP yang sudah  disegel, dengan alih-alih memberikan solusi lain. Dan para penghuni  akhirnya terpaksa membeli air isi ulang dan mendatangkan sendiri air  tanki untuk didistribusikan kepada para lansia dan anak kecil dengan  galon.

&quot;Pengelola sempat diskusi dengan warga untuk mencari solusi air  bersih, tapi karena kondisi memanas hingga akhirnya menyatakan mundur  dari PT SCP dan mengembalikan pengelolaan ke warga. Hal ini  sepengetahuan kami melanggar peraturan karena seharusnya PT SCP  mengembalikan ke PT RRAA, yang menunjuk mereka. Sekarang, para penghuni  menjadi bingung apa yang harus diperbuat? Kehidupan harus terus  berjalan, namun kondisinya menjadi semakin sulit bila terus seperti ini,  dan belum ada pihak pemerintah yang segera tanggap turun tangan  mengurus masalah kami ini,&quot; ketus Rita.

Di tengah kebuntuan tersebut, ada seorang anggota DPRD DKI Jakarta  dari Fraksi PDI Perjuangan Hardiyanto Kenneth yang bersedia membantu  penghuni Rusunami City Garden dalam mandapatkan air bersih.

&quot;Setiap hari ada bantuan dari Pak Kenneth. Sudah tiga hari ini ada  bantuan lima mobil tangki PAM Jaya. Pak Kenneth orangnya baik, suka  membantu warga yang tengah kesulitan,&quot; tutup Rita.

Sementara itu, Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth   mengapresiasi langkah PAM Jaya yang sudah membantu warga Rusunami City   Garden untuk mendapatkan air bersih.

&quot;Saya mengapresiasi kepada PAM Jaya yang sudah mau membantu warga   rusunami city garden untuk mendapatkan air bersih,&quot; kata Kenneth.

Namun, sambung pria yang akrab disapa Kent itu, pengiriman beberapa   tangki air bersih untuk warga Rusunami City Garden bukanlah solusi yang   tepat, karena sifatnya hanya sementara.

&quot;Kalau bentuknya seperti ini (pengiriman tangki air bersih) bukan   solusi, itu sifatnya hanya sementara, seharusnya segera dibangun   infrastruktur air bersih untuk warga agar bisa melayani penghuni   Rusunami City Garden,&quot; ketus Kent.

Oleh karena itu, Kent meminta kepada Gubernur DKI Jakarta Anies   Rasyid Baswedan untuk segera menginstruksikan PAM Jaya untuk segera   membangun infrastruktur air bersih untuk lingkungan Rusunami City   Garden, agar para penghuni bisa berkecukupan air dalam kebutuhan   sehari-hari.

&quot;Pak Anies harus hadir dalam urusan ini dan harus bisa memberikan   solusi untuk warga City Garden, ini menyangkut kebutuhan pokok yakni air   bersih. Penghuni rusun hanya bisa berharap pada pelayanan air pipa PAM   Jaya yang tidak kunjung dipasang hingga saat ini, dan untuk keperluan   sehari-hari, penghuni mau tidak mau harus membeli air galon, dan setiap   bulan harus membayar paling sedikit Rp300 ribu, biaya itu lebih mahal   dari pada berlangganan air dari PAM Jaya, PAM Jaya harus berani   mengambil sikap yang arif terkait permasalahan ini. Saya rasa enggak   perlu lah saya ngajar bebek untuk berenang,&quot; ketus Kepala Badan   Penanggulangan Bencana (BAGUNA) PDI Perjuangan DKI Jakarta itu.

Selain itu, Kent pun menyikapi proyek Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI   Jakarta soal air perpipaan yang dinilai salah satu solusi mengurangi   penggunaan air tanah di Ibu Kota, dengan membangun banyak stasioner   instalasi pengendalian air (IPA).

&quot;Proyek perpipaan hanya bentuk omong kosong sajalah menurut saya,   tapi tidak ada kejelasan hingga saat ini. Katanya IPA dibangun di waduk   Sunter dan Tomang, tapi nyatanya saat ini masih banyak warga Jakarta   belum mendapatkan air bersih secara adil dan merata,&quot; ketus Ketua IKAL   (Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas RI) PPRA Angkatan LXII itu.

Menurut Kent, Pemprov DKI Jakarta harus bisa mencontoh kasus krisis   air bersih yang sudah dilewati oleh warga Kabupaten Blora, Jawa Tengah.   Kini mereka sudah tidak perlu pusing untuk mendapatkan air bersih   setelah adanya bantuan pembangunan tower air bersih yang berasal dari   Embung Kedungsambi yang jaraknya kurang lebih 1,5 km.

&quot;Kasus di Blora Jateng, mereka terbukti berhasil mendapatkan air   bersih yang mengalir ke rumah-rumah warga, jadi mereka sudah perlu tidak   risau lagi dalam mendapatkan air bersih. Perbaikan harus dilakukan   secara bersama-sama dan kolektif. Kita harus benahi bersama-sama mulai   dari masyarakat hingga pembuat kebijakan, pemerintah dalam hal ini Pemda   DKI harus bisa melakukan berani melakukan terobosan terkait teknologi   pengembangan air bersih ini, di balik APBD-nya yang super fantastis,   harus di imbangi dengan pelayanan ke masyarakat yang merata dan   berkeadilan, jangan hanya fokus ke Formula E melulu, &quot; pungkas Kent.
</description><content:encoded>JAKARTA - Warga Rusunami City Garden, Cengkareng, Jakarta Barat mengaku hidup 12 tahun di rusunami tanpa mendapatkan air bersih.

Oleh karena itu, mereka yang tergabung Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Rusunami City Garden (P3CG) mengadukan masalah krisis air bersih ke Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dengan harapan segera mendapatkan tindak lanjut.

Salah satu penghuni Rusunami City Garden, Rita mengatakan, kasus tersebut terjadi pada 2008, dimana PT Reka Rumanda Agung Abadi (PT RRAA) yang memasarkan Rumah Susun Sederhana Milik City Garden, dan menjanjikan fasilitas sumber air bersih PDAM.

&quot;Tapi sampai saat ini air PDAM sama sekali tidak ada, sehingga ketersediaan air bersih pun menjadi sumber masalah di Rusunami City Garden,&quot; kata Rita dalam keterangannya, Senin (4/4/2022).

BACA JUGA:Wagub Ariza Minta Warga Alami Krisis Air Bersih Lapor Kelurahan


Lalu, sambung Rita, alih-alih menyediakan air bersih PDAM sesuai yang dijanjikan, PT Surya Citra Perdana (PT SCP), selaku pengelola yang ditunjuk oleh PT RRAA, menggunakan air WTP (Water Treatment Pump) yang kualitasnya sangat buruk, dan tidak layak pakai karena sangat bau, kotor, berlumpur dan banyak cacing.

BACA JUGA:Kebutuhan Air Bersih di Pulau Terluar Mendesak, Kemensos Kerja Sama dengan ITS 


&quot;Kami akhirnya pada Oktober 2021, melaporkan WTP di aplikasi JAKI (Jakarta Kini), dan dari Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta datang inspeksi mendadak dan langsung menyegel WTP beserta 3 (tiga) sumur bor air tanah yang semuanya illegal,&quot; tutur Rita.

Dampak dari penyegelan tersebut, sambung Rita, penghuni Rusunami City Garden sampai sekarang, warga terpaksa swadaya menggunakan air mobil tanki dengan biaya kurang lebih Rp300 ribu perbulan tiap unitnya, dan menggunakan sistem buka tutup di pagi dan malam hari.

&quot;Hal ini diperparah dengan adanya RAB dari PALYJA untuk membayar  biaya instalasi air bersih sejumlah Rp. 955.653.908 pada tanggal 6  Desember 2021 ke PT SCP, namun dibebankan kembali kepada para pemilik  unit di Rusunami City Garden karena PT RRAA selaku pengembang dan PT SCP  selaku pengelola tidak mau menanggung biaya tersebut. Berulang kali  kami mencoba negosiasi dengan PT SCP, tidak mendapat konfirmasi yang  positif,&quot; bebernya.

Hingga akhirnya, Rita bersama penghuni lainnya mencoba mengadu ke  DPRD dengan harapan bisa mendapatkan titik terang. Memang respon pada  awalnya sangat cepat, sehingga pada tanggal 18 Maret 2022, perwakilan  melakukan audiensi dengan DPRD DKI Fraksi PDI Perjuangan dan  konfirmasinya akan segera ditindaklanjuti dengan instansi terkait.

&quot;Di audiensi tersebut, kami diarahkan untuk tidak proses PALYJA lagi,  melainkan langsung ke PAM Jaya karena swastanisasi akan berakhir.  Namun, update terakhir yang kami terima, berbeda dengan saat audiensi,  yakni kami tetap harus ke PALYJA karena kontrak baru berakhir di Febuari  2023, sedangkan RAB PALYJA ke PT SCP berakhir tanggal 31 Maret  2022  dan kami sudah hold untuk proses PALYJA sesuai hasil audiensi tersebut,&quot;  tuturnya.

Lalu pengelola menyarankan untuk menggunakan kembali WTP yang sudah  disegel, dengan alih-alih memberikan solusi lain. Dan para penghuni  akhirnya terpaksa membeli air isi ulang dan mendatangkan sendiri air  tanki untuk didistribusikan kepada para lansia dan anak kecil dengan  galon.

&quot;Pengelola sempat diskusi dengan warga untuk mencari solusi air  bersih, tapi karena kondisi memanas hingga akhirnya menyatakan mundur  dari PT SCP dan mengembalikan pengelolaan ke warga. Hal ini  sepengetahuan kami melanggar peraturan karena seharusnya PT SCP  mengembalikan ke PT RRAA, yang menunjuk mereka. Sekarang, para penghuni  menjadi bingung apa yang harus diperbuat? Kehidupan harus terus  berjalan, namun kondisinya menjadi semakin sulit bila terus seperti ini,  dan belum ada pihak pemerintah yang segera tanggap turun tangan  mengurus masalah kami ini,&quot; ketus Rita.

Di tengah kebuntuan tersebut, ada seorang anggota DPRD DKI Jakarta  dari Fraksi PDI Perjuangan Hardiyanto Kenneth yang bersedia membantu  penghuni Rusunami City Garden dalam mandapatkan air bersih.

&quot;Setiap hari ada bantuan dari Pak Kenneth. Sudah tiga hari ini ada  bantuan lima mobil tangki PAM Jaya. Pak Kenneth orangnya baik, suka  membantu warga yang tengah kesulitan,&quot; tutup Rita.

Sementara itu, Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth   mengapresiasi langkah PAM Jaya yang sudah membantu warga Rusunami City   Garden untuk mendapatkan air bersih.

&quot;Saya mengapresiasi kepada PAM Jaya yang sudah mau membantu warga   rusunami city garden untuk mendapatkan air bersih,&quot; kata Kenneth.

Namun, sambung pria yang akrab disapa Kent itu, pengiriman beberapa   tangki air bersih untuk warga Rusunami City Garden bukanlah solusi yang   tepat, karena sifatnya hanya sementara.

&quot;Kalau bentuknya seperti ini (pengiriman tangki air bersih) bukan   solusi, itu sifatnya hanya sementara, seharusnya segera dibangun   infrastruktur air bersih untuk warga agar bisa melayani penghuni   Rusunami City Garden,&quot; ketus Kent.

Oleh karena itu, Kent meminta kepada Gubernur DKI Jakarta Anies   Rasyid Baswedan untuk segera menginstruksikan PAM Jaya untuk segera   membangun infrastruktur air bersih untuk lingkungan Rusunami City   Garden, agar para penghuni bisa berkecukupan air dalam kebutuhan   sehari-hari.

&quot;Pak Anies harus hadir dalam urusan ini dan harus bisa memberikan   solusi untuk warga City Garden, ini menyangkut kebutuhan pokok yakni air   bersih. Penghuni rusun hanya bisa berharap pada pelayanan air pipa PAM   Jaya yang tidak kunjung dipasang hingga saat ini, dan untuk keperluan   sehari-hari, penghuni mau tidak mau harus membeli air galon, dan setiap   bulan harus membayar paling sedikit Rp300 ribu, biaya itu lebih mahal   dari pada berlangganan air dari PAM Jaya, PAM Jaya harus berani   mengambil sikap yang arif terkait permasalahan ini. Saya rasa enggak   perlu lah saya ngajar bebek untuk berenang,&quot; ketus Kepala Badan   Penanggulangan Bencana (BAGUNA) PDI Perjuangan DKI Jakarta itu.

Selain itu, Kent pun menyikapi proyek Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI   Jakarta soal air perpipaan yang dinilai salah satu solusi mengurangi   penggunaan air tanah di Ibu Kota, dengan membangun banyak stasioner   instalasi pengendalian air (IPA).

&quot;Proyek perpipaan hanya bentuk omong kosong sajalah menurut saya,   tapi tidak ada kejelasan hingga saat ini. Katanya IPA dibangun di waduk   Sunter dan Tomang, tapi nyatanya saat ini masih banyak warga Jakarta   belum mendapatkan air bersih secara adil dan merata,&quot; ketus Ketua IKAL   (Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas RI) PPRA Angkatan LXII itu.

Menurut Kent, Pemprov DKI Jakarta harus bisa mencontoh kasus krisis   air bersih yang sudah dilewati oleh warga Kabupaten Blora, Jawa Tengah.   Kini mereka sudah tidak perlu pusing untuk mendapatkan air bersih   setelah adanya bantuan pembangunan tower air bersih yang berasal dari   Embung Kedungsambi yang jaraknya kurang lebih 1,5 km.

&quot;Kasus di Blora Jateng, mereka terbukti berhasil mendapatkan air   bersih yang mengalir ke rumah-rumah warga, jadi mereka sudah perlu tidak   risau lagi dalam mendapatkan air bersih. Perbaikan harus dilakukan   secara bersama-sama dan kolektif. Kita harus benahi bersama-sama mulai   dari masyarakat hingga pembuat kebijakan, pemerintah dalam hal ini Pemda   DKI harus bisa melakukan berani melakukan terobosan terkait teknologi   pengembangan air bersih ini, di balik APBD-nya yang super fantastis,   harus di imbangi dengan pelayanan ke masyarakat yang merata dan   berkeadilan, jangan hanya fokus ke Formula E melulu, &quot; pungkas Kent.
</content:encoded></item></channel></rss>
