<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Nyai Solihah Wahid Hasyim, Ibunda Gus Dur yang Dikenal Pemberani Sejak Kecil   </title><description>Di balik sosok Gus Dur, ada sosok ibunya Munawaroh atau Nyai Solihah Wahid Hasyim yang berhasil mendidik Gus Dur menjadi seorang pemimpin.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/04/09/337/2575548/kisah-nyai-solihah-wahid-hasyim-ibunda-gus-dur-yang-dikenal-pemberani-sejak-kecil</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/04/09/337/2575548/kisah-nyai-solihah-wahid-hasyim-ibunda-gus-dur-yang-dikenal-pemberani-sejak-kecil"/><item><title>Kisah Nyai Solihah Wahid Hasyim, Ibunda Gus Dur yang Dikenal Pemberani Sejak Kecil   </title><link>https://news.okezone.com/read/2022/04/09/337/2575548/kisah-nyai-solihah-wahid-hasyim-ibunda-gus-dur-yang-dikenal-pemberani-sejak-kecil</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/04/09/337/2575548/kisah-nyai-solihah-wahid-hasyim-ibunda-gus-dur-yang-dikenal-pemberani-sejak-kecil</guid><pubDate>Sabtu 09 April 2022 04:30 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/04/08/337/2575548/kisah-nyai-solihah-wahid-hasyim-ibunda-gus-dur-yang-dikenal-pemberani-sejak-kecil-8GMzAkpNzK.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gus Dur (Foto: istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/04/08/337/2575548/kisah-nyai-solihah-wahid-hasyim-ibunda-gus-dur-yang-dikenal-pemberani-sejak-kecil-8GMzAkpNzK.jpg</image><title>Gus Dur (Foto: istimewa)</title></images><description>JAKARTA - Peringatan wafatnya atau haul KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur kerap berlangsung di Ciganjur, Jakarta maupun Jombang, Jawa Timur. Acara tersebut dihadiri berbagai kalangan, lintas etnis, agama dan generasi.
Di balik sosok Gus Dur, ada sosok ibunya Munawaroh atau Nyai Solihah Wahid Hasyim yang berhasil mendidik Gus Dur menjadi seorang pemimpin.
Nyai Solihah Wahid Hasyim merupakan anak kelima dari 10 bersaudara putri dari pasangan Kiai Bisri Syansuri (pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Mamba&amp;rsquo;ul Ma&amp;rsquo;arif, Denanyar, Jombang dengan Nyai Chadijah).
Sejak kecil, kehidupan ibunda Gus Dur berada di lingkungan pesantren dengan pengawasan pendidikan yang cukup ketat dari kedua orangtuanya.
Pendidikan awal Nyai Solihah tak lain adalah pendidikan agama serta bahasa Arab sebagai bekal mengajar para santri putri di pesantren yang diasuh ayahnya. Kiai Bisri mendidik putrinya di madrasah diniyah yang dikelolanya dengan materi-materi pendidikan Islam tradisional sebagaimana diajarkan kepada santri. Hanya saja, Kiai Bisri memberikan tambahan pelajaran pribadi selesai sholat dzuhur dan isya kepada putra-putrinya termasuk kepada ibunda Gus Dur.
Baca juga:&amp;nbsp;Kisah Nyai Sholichah Munawwaroh, Teladan Single Parent yang Inspiratif
KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah dalam buku Sama Tapi Berbeda: Potret Keluarga Besar KH A Wahid Hasyim, pendidikan yang diterima ibundanya adalah pendidikan yang kental dan sarat dengan nilai ajaran agama, yang mencapai tingkat setaraf pendidikan menengah pertama (madrasah tsanawiyah).
Baca juga:&amp;nbsp;Gus Dur Ternyata Masih Keturunan Jaka Tingkir, Sultan Kerajaan Pajang yang Pertama&amp;ldquo;Namun, transfer nilai-nilai keislaman dari mbah yai (kakung) dan mbah nyai (putri) kepada ibu berjalan dengan baik terutama terkait keteladanan,&amp;rdquo; katanya.
Kecerdasan intelektual Neng Waroh -sapaan ibunda Gus Dur sewaktu muda- tampak ketika belajar bersama saudara-saudaranya. Dia lebih cepat bisa menyerap pelajaran dan memiliki kemampuan lebih karena kemauan serta rasa ingin tahunya. Semangat belajarnya tinggi, terbukti dengan ketekunan Neng Waroh dalam menuntut ilmu serta mengajarkannya kepada santri.
Pengalaman mengajar santri, membuat Neng Waroh, berpengetahuan luas dan maju meski belum mengenal tulisan latin. Sifat kepemimpinannya sangat menonjol sejak kecil. Layaknya seorang manajer, dia memiliki banyak gagasan dan seringkali mengatur saudara-saudaranya untuk bertugas melakukan pekerjaan. Begitu pula kepada teman-temannya serta santri di pesantren.
Baca juga:&amp;nbsp;Humor Gus Dur: Gaji Presiden yang Diberikan kepada Menterinya, Kok Begitu?
Selain punya jiwa kepemimpinan, keberaniannya juga tampak sejak kecil. Terbukti, Seringkali dia turut serta melihat prosesi pemakaman orang-orang Tionghoa yang meninggal. Hal yang tak lazim dilakukan anak perempuan seusianya pada masa itu. Tak hanya sekadar melihat, bahkan Neng Waroh juga mengambil makanan-makanan yang dibawa para pengiring jenazah yang biasa ditinggalkan di area makam Bong Cino.
Sebenarnya, kedua orangtua Neng Waroh sudah mewanti-wanti agar dia tidak keluar sendirian tanpa seizin Kiai Bisri maupun Nyai Chadijah. Selain itu juga harus ditemani saudara laki-lakinya. Namun larangan itu kerap dilanggar jika memang dirasa dia punya keperluan penting dan merasa tidak ada bahaya yang mengancam.
Baca juga:&amp;nbsp;Humor Gus Dur: Berfikir Keras Mengurai Singkatan Orang Madura, Apa Itu?
Melihat &quot;kenakalan&quot; putrinya, tak lantas membuat Kiai Bisri marah dan langsung menegurnya di depan umum. Sebagai ayah yang bijak, Kiai Bisri menasihati Neng Waroh seorang diri agar sang putri tak merasa malu dan minder.Melawan Penjajahan
Sikap berani mengambil risiko ini pula menjadi bekal Neng Waroh turut serta membantu perjuangan para relawan perang. Di tengah medan perang mempertahankan kemerdekaan, Neng Waroh menyusup sebagai kurir yang bertugas membawa makanan, pesan-pesan rahasia serta obat-obatan ke garis depan pejuang di daerah Mojokerto, Krian (Sidoarjo) dan Jombang.
Meski di tengah kecamuk pertempuran, hal itu tak menyurutkan nyalinya bertugas sebagai kurir. Tugas yang membahayakan keselamatannya itu dilakukan oleh Nyai Solihah Wahid Hasyim. Semuanya demi usaha yang bisa dilakukan seorang perempuan untuk membantu perjuangan melawan penjajahan.
Saat itu, Nyai Solihah yang tak lain adalah ibunda Presiden Keempat RI, Gus Dur masuk dalam jajaran anggota Fujinkai yang merupakan organisasi perempuan bikinan Jepang dan beranggotakan para istri-istri pejabat. Para perempuan pribumi banyak memanfaatkan organisasi ini untuk berjuang serta membantu para pejuang kemerdekaan, sebagaimana yang dilakukan Nyai Sholihah.
Baca juga:&amp;nbsp;KH Wahid Hasyim, Ayah Gus Dur yang Hobi Baca hingga Terpaksa Berkacamata di Usia 15 Tahun
Kisah kegigihan Nyai Solihah ini dituturkan oleh putra ketiganya, KH Salahuddin Wahid, ketika memaparkan perjuangan sang ibunda, Nyai Solihah Wahid pada masa kemerdekaan. &amp;ldquo;Ibu aktif dalam kegiatan dapur umum di Jombang yang bertugas membantu para pejuang kemerdekaan. Termasuk di dalamnya memberi dukungan moral dan menampung berbagai keluhan dari para pejuang dan prajurit,&amp;rdquo; ujarnya.
Baca juga:&amp;nbsp;Cerita Gus Dur Soal Burung-Burung yang Bingung karena Tidak Punya Raja
Tak sebatas itu, perjuangan Nyai Solihah pun berlanjut tidak hanya pra kemerdekaan tapi juga pasca-kemerdekaan dengan perannya berkecimpung di NU dan juga lembaga legislatif mulai terpilih sebagai anggota DPRD hingga DPR RI.
Semasa hidupnya, juga terlibat aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan di antaranya turut serta dalam kepengurusan Yayasan Dana Bantuan (YDB) sejak tahun 1958 sampai akhir hayatnya.


</description><content:encoded>JAKARTA - Peringatan wafatnya atau haul KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur kerap berlangsung di Ciganjur, Jakarta maupun Jombang, Jawa Timur. Acara tersebut dihadiri berbagai kalangan, lintas etnis, agama dan generasi.
Di balik sosok Gus Dur, ada sosok ibunya Munawaroh atau Nyai Solihah Wahid Hasyim yang berhasil mendidik Gus Dur menjadi seorang pemimpin.
Nyai Solihah Wahid Hasyim merupakan anak kelima dari 10 bersaudara putri dari pasangan Kiai Bisri Syansuri (pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Mamba&amp;rsquo;ul Ma&amp;rsquo;arif, Denanyar, Jombang dengan Nyai Chadijah).
Sejak kecil, kehidupan ibunda Gus Dur berada di lingkungan pesantren dengan pengawasan pendidikan yang cukup ketat dari kedua orangtuanya.
Pendidikan awal Nyai Solihah tak lain adalah pendidikan agama serta bahasa Arab sebagai bekal mengajar para santri putri di pesantren yang diasuh ayahnya. Kiai Bisri mendidik putrinya di madrasah diniyah yang dikelolanya dengan materi-materi pendidikan Islam tradisional sebagaimana diajarkan kepada santri. Hanya saja, Kiai Bisri memberikan tambahan pelajaran pribadi selesai sholat dzuhur dan isya kepada putra-putrinya termasuk kepada ibunda Gus Dur.
Baca juga:&amp;nbsp;Kisah Nyai Sholichah Munawwaroh, Teladan Single Parent yang Inspiratif
KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah dalam buku Sama Tapi Berbeda: Potret Keluarga Besar KH A Wahid Hasyim, pendidikan yang diterima ibundanya adalah pendidikan yang kental dan sarat dengan nilai ajaran agama, yang mencapai tingkat setaraf pendidikan menengah pertama (madrasah tsanawiyah).
Baca juga:&amp;nbsp;Gus Dur Ternyata Masih Keturunan Jaka Tingkir, Sultan Kerajaan Pajang yang Pertama&amp;ldquo;Namun, transfer nilai-nilai keislaman dari mbah yai (kakung) dan mbah nyai (putri) kepada ibu berjalan dengan baik terutama terkait keteladanan,&amp;rdquo; katanya.
Kecerdasan intelektual Neng Waroh -sapaan ibunda Gus Dur sewaktu muda- tampak ketika belajar bersama saudara-saudaranya. Dia lebih cepat bisa menyerap pelajaran dan memiliki kemampuan lebih karena kemauan serta rasa ingin tahunya. Semangat belajarnya tinggi, terbukti dengan ketekunan Neng Waroh dalam menuntut ilmu serta mengajarkannya kepada santri.
Pengalaman mengajar santri, membuat Neng Waroh, berpengetahuan luas dan maju meski belum mengenal tulisan latin. Sifat kepemimpinannya sangat menonjol sejak kecil. Layaknya seorang manajer, dia memiliki banyak gagasan dan seringkali mengatur saudara-saudaranya untuk bertugas melakukan pekerjaan. Begitu pula kepada teman-temannya serta santri di pesantren.
Baca juga:&amp;nbsp;Humor Gus Dur: Gaji Presiden yang Diberikan kepada Menterinya, Kok Begitu?
Selain punya jiwa kepemimpinan, keberaniannya juga tampak sejak kecil. Terbukti, Seringkali dia turut serta melihat prosesi pemakaman orang-orang Tionghoa yang meninggal. Hal yang tak lazim dilakukan anak perempuan seusianya pada masa itu. Tak hanya sekadar melihat, bahkan Neng Waroh juga mengambil makanan-makanan yang dibawa para pengiring jenazah yang biasa ditinggalkan di area makam Bong Cino.
Sebenarnya, kedua orangtua Neng Waroh sudah mewanti-wanti agar dia tidak keluar sendirian tanpa seizin Kiai Bisri maupun Nyai Chadijah. Selain itu juga harus ditemani saudara laki-lakinya. Namun larangan itu kerap dilanggar jika memang dirasa dia punya keperluan penting dan merasa tidak ada bahaya yang mengancam.
Baca juga:&amp;nbsp;Humor Gus Dur: Berfikir Keras Mengurai Singkatan Orang Madura, Apa Itu?
Melihat &quot;kenakalan&quot; putrinya, tak lantas membuat Kiai Bisri marah dan langsung menegurnya di depan umum. Sebagai ayah yang bijak, Kiai Bisri menasihati Neng Waroh seorang diri agar sang putri tak merasa malu dan minder.Melawan Penjajahan
Sikap berani mengambil risiko ini pula menjadi bekal Neng Waroh turut serta membantu perjuangan para relawan perang. Di tengah medan perang mempertahankan kemerdekaan, Neng Waroh menyusup sebagai kurir yang bertugas membawa makanan, pesan-pesan rahasia serta obat-obatan ke garis depan pejuang di daerah Mojokerto, Krian (Sidoarjo) dan Jombang.
Meski di tengah kecamuk pertempuran, hal itu tak menyurutkan nyalinya bertugas sebagai kurir. Tugas yang membahayakan keselamatannya itu dilakukan oleh Nyai Solihah Wahid Hasyim. Semuanya demi usaha yang bisa dilakukan seorang perempuan untuk membantu perjuangan melawan penjajahan.
Saat itu, Nyai Solihah yang tak lain adalah ibunda Presiden Keempat RI, Gus Dur masuk dalam jajaran anggota Fujinkai yang merupakan organisasi perempuan bikinan Jepang dan beranggotakan para istri-istri pejabat. Para perempuan pribumi banyak memanfaatkan organisasi ini untuk berjuang serta membantu para pejuang kemerdekaan, sebagaimana yang dilakukan Nyai Sholihah.
Baca juga:&amp;nbsp;KH Wahid Hasyim, Ayah Gus Dur yang Hobi Baca hingga Terpaksa Berkacamata di Usia 15 Tahun
Kisah kegigihan Nyai Solihah ini dituturkan oleh putra ketiganya, KH Salahuddin Wahid, ketika memaparkan perjuangan sang ibunda, Nyai Solihah Wahid pada masa kemerdekaan. &amp;ldquo;Ibu aktif dalam kegiatan dapur umum di Jombang yang bertugas membantu para pejuang kemerdekaan. Termasuk di dalamnya memberi dukungan moral dan menampung berbagai keluhan dari para pejuang dan prajurit,&amp;rdquo; ujarnya.
Baca juga:&amp;nbsp;Cerita Gus Dur Soal Burung-Burung yang Bingung karena Tidak Punya Raja
Tak sebatas itu, perjuangan Nyai Solihah pun berlanjut tidak hanya pra kemerdekaan tapi juga pasca-kemerdekaan dengan perannya berkecimpung di NU dan juga lembaga legislatif mulai terpilih sebagai anggota DPRD hingga DPR RI.
Semasa hidupnya, juga terlibat aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan di antaranya turut serta dalam kepengurusan Yayasan Dana Bantuan (YDB) sejak tahun 1958 sampai akhir hayatnya.


</content:encoded></item></channel></rss>
