<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah KH Hasyim Asyari Tanggung Utang Muridnya yang 'Kurang Ajar'</title><description>Sosok yang kemudian dikenal sebagai pendiri NU itu memiliki kiprah demikian mengagumkan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/04/12/337/2577069/kisah-kh-hasyim-asyari-tanggung-utang-muridnya-yang-kurang-ajar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/04/12/337/2577069/kisah-kh-hasyim-asyari-tanggung-utang-muridnya-yang-kurang-ajar"/><item><title>Kisah KH Hasyim Asyari Tanggung Utang Muridnya yang 'Kurang Ajar'</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/04/12/337/2577069/kisah-kh-hasyim-asyari-tanggung-utang-muridnya-yang-kurang-ajar</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/04/12/337/2577069/kisah-kh-hasyim-asyari-tanggung-utang-muridnya-yang-kurang-ajar</guid><pubDate>Selasa 12 April 2022 07:01 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/04/11/337/2577069/kisah-kh-hasyim-asyari-tanggung-utang-muridnya-yang-kurang-ajar-a7fJU5qxTG.jpg" expression="full" type="image/jpeg">KH Hasyim Asy'ari (Foto: NU)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/04/11/337/2577069/kisah-kh-hasyim-asyari-tanggung-utang-muridnya-yang-kurang-ajar-a7fJU5qxTG.jpg</image><title>KH Hasyim Asy'ari (Foto: NU)</title></images><description>KH M Hasyim Asy&amp;rsquo;ari punya sederet kisah suri tauladan yang luar biasa. Sosok yang kemudian dikenal sebagai pendiri NU itu memiliki kiprah demikian mengagumkan.

Di luar itu semua, dalam sebuah kisah disampaikan bahwa KH M Hasyim Asy&amp;rsquo;ari atau Hadratussyekh memiliki seorang santri bernama Sulam Syamsun.

Ia adalah ayah dari Munyati Sulam, penyiar di TVRI yang biasanya disuruh qiraah. Sulam Syamsun ini adalah santri yang tergolong bandel. Saking bandelnya, ia sampai memiliki banyak utang.

Dikutip dari laman NU Online, pada suatu ketika usai hari raya, setelah musim liburan, Sulam tidak berani kembali ke pondok. Ia kemudian berkirim surat kepada kiainya, KH M Hasyim Asy&amp;rsquo;ari yang kurang lebih isinya:  Teruntuk Hadratussyekh Hasyim Asy&amp;rsquo;ari. Ini saya ayahanda Sulam. Mengabarkan, bahwa Sulam tidak bisa kembali ke pondok, karena Sulam telah meninggal dunia. Jika ada salahnya mohon dimaafkan. Jika ada utangnya mohon untuk diikhlasakan.

Mendapat surat seperti itu, Kiai Hasyim menangis (muwun), karena salah satu santrinya meninggal dunia. Kemudian mengumpulkan para santri untuk diajak shalat ghaib (shalat yang dilakukan tatkala seorang muslim meninggal dunia pada tempat yang jauh dan tidak memungkinkan didatangi).

Setelah shalat ghaib, Hadratussyekh mengumumkan: Hadirin sekalian, ini Sulam telah meninggal dunia. Maafkan kesalahannya, ya? Dimaafkan, ya?,&amp;rdquo; pinta Kiai Hasyim, dalam bahasa Jawa. Semua santri menjawab: &amp;ldquo;Nggih...&amp;rdquo; (Iya)

Kemudian yang agak berat, soal utang. &amp;ldquo;Kalau ada utangnya, diikhlaskan, ya?&amp;rdquo;

Karena Kiai Hasyim yang berbicara, semua santri menjawab kompak: &amp;ldquo;nggih...&amp;rdquo;

&amp;ldquo;Halal?&amp;rdquo;

&amp;ldquo;Halal,&amp;rdquo; jawab santri, serempak.

Tak dinyana, tiba-tiba kemudian, dari pintu pondok, Sulam berlari mendekat sambil berteriak: &amp;ldquo;Matur nuwuuun&amp;rdquo; (terima kasih....!)

Melihat kelakuan santrinya yang &amp;ldquo;kurang ajar&amp;rdquo; seperti itu, Kiai Hasyim bukannya marah, malah justru menangis, merangkul Sulam.

&amp;ldquo;Alhamdulillah, Lam, kamu masih hidup. Aku kira meninggal dunia  beneran. Ya sudah, aku sudah terlanjur mengikrarkan: Kamu di sini sudah  tidak punya salah dan tidak punya utang. Adapun yang masih belum ikhlas  dengan utangmu, karena kamu masih hidup, Lam, dan aku sudah berbicara,  aku yang menanggungnya sekarang. Jadi kalau ada yang punya utang di  Sulam, atau yang diutangi Sulam, tagihlah aku,&amp;rdquo; tutur Kiai Hasyim.

Itulah, sekelumit kisah kearifan sosok KH Hasyim Asy&amp;rsquo;ari. Juga salah  satu potret kenyonyolan santri sekaligus keteladanan kiai dalam balutan  kultur pesantren. Kekonyolannya jelas, bahwa Sulam mencari akal agar  bagaimana utangnya bisa lunas dengan caranya yang seorang &amp;lsquo;santri  nakal&amp;rsquo;.

Di sisi lain, kita melihat bagaimana sang pendiri NU, yang kini  ekspansi kulturalnya diekspor ke berbagai negara itu, tak mudah marah.

Kiai Hasyim memperlakukan santri yang nakal di luar batas kewajaran &amp;ndash;  dengan mengaku telah meninggal sekalipun &amp;ndash; dengan penuh kasih sayang  dan cinta.

Membalas kekonyolan dengan harum kebaikan. Ini baru akhlak seorang  ulama Kiai Hasyim Asy'ari, belum Baginda Nabi Muhammad SAW yang  akhlaknya tak ada tandingannya.
</description><content:encoded>KH M Hasyim Asy&amp;rsquo;ari punya sederet kisah suri tauladan yang luar biasa. Sosok yang kemudian dikenal sebagai pendiri NU itu memiliki kiprah demikian mengagumkan.

Di luar itu semua, dalam sebuah kisah disampaikan bahwa KH M Hasyim Asy&amp;rsquo;ari atau Hadratussyekh memiliki seorang santri bernama Sulam Syamsun.

Ia adalah ayah dari Munyati Sulam, penyiar di TVRI yang biasanya disuruh qiraah. Sulam Syamsun ini adalah santri yang tergolong bandel. Saking bandelnya, ia sampai memiliki banyak utang.

Dikutip dari laman NU Online, pada suatu ketika usai hari raya, setelah musim liburan, Sulam tidak berani kembali ke pondok. Ia kemudian berkirim surat kepada kiainya, KH M Hasyim Asy&amp;rsquo;ari yang kurang lebih isinya:  Teruntuk Hadratussyekh Hasyim Asy&amp;rsquo;ari. Ini saya ayahanda Sulam. Mengabarkan, bahwa Sulam tidak bisa kembali ke pondok, karena Sulam telah meninggal dunia. Jika ada salahnya mohon dimaafkan. Jika ada utangnya mohon untuk diikhlasakan.

Mendapat surat seperti itu, Kiai Hasyim menangis (muwun), karena salah satu santrinya meninggal dunia. Kemudian mengumpulkan para santri untuk diajak shalat ghaib (shalat yang dilakukan tatkala seorang muslim meninggal dunia pada tempat yang jauh dan tidak memungkinkan didatangi).

Setelah shalat ghaib, Hadratussyekh mengumumkan: Hadirin sekalian, ini Sulam telah meninggal dunia. Maafkan kesalahannya, ya? Dimaafkan, ya?,&amp;rdquo; pinta Kiai Hasyim, dalam bahasa Jawa. Semua santri menjawab: &amp;ldquo;Nggih...&amp;rdquo; (Iya)

Kemudian yang agak berat, soal utang. &amp;ldquo;Kalau ada utangnya, diikhlaskan, ya?&amp;rdquo;

Karena Kiai Hasyim yang berbicara, semua santri menjawab kompak: &amp;ldquo;nggih...&amp;rdquo;

&amp;ldquo;Halal?&amp;rdquo;

&amp;ldquo;Halal,&amp;rdquo; jawab santri, serempak.

Tak dinyana, tiba-tiba kemudian, dari pintu pondok, Sulam berlari mendekat sambil berteriak: &amp;ldquo;Matur nuwuuun&amp;rdquo; (terima kasih....!)

Melihat kelakuan santrinya yang &amp;ldquo;kurang ajar&amp;rdquo; seperti itu, Kiai Hasyim bukannya marah, malah justru menangis, merangkul Sulam.

&amp;ldquo;Alhamdulillah, Lam, kamu masih hidup. Aku kira meninggal dunia  beneran. Ya sudah, aku sudah terlanjur mengikrarkan: Kamu di sini sudah  tidak punya salah dan tidak punya utang. Adapun yang masih belum ikhlas  dengan utangmu, karena kamu masih hidup, Lam, dan aku sudah berbicara,  aku yang menanggungnya sekarang. Jadi kalau ada yang punya utang di  Sulam, atau yang diutangi Sulam, tagihlah aku,&amp;rdquo; tutur Kiai Hasyim.

Itulah, sekelumit kisah kearifan sosok KH Hasyim Asy&amp;rsquo;ari. Juga salah  satu potret kenyonyolan santri sekaligus keteladanan kiai dalam balutan  kultur pesantren. Kekonyolannya jelas, bahwa Sulam mencari akal agar  bagaimana utangnya bisa lunas dengan caranya yang seorang &amp;lsquo;santri  nakal&amp;rsquo;.

Di sisi lain, kita melihat bagaimana sang pendiri NU, yang kini  ekspansi kulturalnya diekspor ke berbagai negara itu, tak mudah marah.

Kiai Hasyim memperlakukan santri yang nakal di luar batas kewajaran &amp;ndash;  dengan mengaku telah meninggal sekalipun &amp;ndash; dengan penuh kasih sayang  dan cinta.

Membalas kekonyolan dengan harum kebaikan. Ini baru akhlak seorang  ulama Kiai Hasyim Asy'ari, belum Baginda Nabi Muhammad SAW yang  akhlaknya tak ada tandingannya.
</content:encoded></item></channel></rss>
