<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kala Kiai Yahya Malang Jinakkan Bom Belanda dengan Rapalan Hizib</title><description>Cerita bom Belanda tak meledak karena rapalan hizib mengiringi kisah perjuangan pengasuh PPMH tersebut.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/04/13/337/2577752/kala-kiai-yahya-malang-jinakkan-bom-belanda-dengan-rapalan-hizib</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/04/13/337/2577752/kala-kiai-yahya-malang-jinakkan-bom-belanda-dengan-rapalan-hizib"/><item><title>Kala Kiai Yahya Malang Jinakkan Bom Belanda dengan Rapalan Hizib</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/04/13/337/2577752/kala-kiai-yahya-malang-jinakkan-bom-belanda-dengan-rapalan-hizib</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/04/13/337/2577752/kala-kiai-yahya-malang-jinakkan-bom-belanda-dengan-rapalan-hizib</guid><pubDate>Rabu 13 April 2022 02:01 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/04/12/337/2577752/kala-kiai-yahya-malang-jinakkan-bom-belanda-dengan-rapalan-hizib-JCd2S3atOt.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kiai Yahya Malang (Foto: Dok PPMH)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/04/12/337/2577752/kala-kiai-yahya-malang-jinakkan-bom-belanda-dengan-rapalan-hizib-JCd2S3atOt.jpg</image><title>Kiai Yahya Malang (Foto: Dok PPMH)</title></images><description>JAKARTA - Sejarah mencatat peran kiai dan ulama ikut berjuang dalam kemerdekaan Indonesia. Salah satu perjuangan kiai yang paling masyhur di antaranya KH Muhammad Yahya Gading, Kota Malang.
Cerita bom Belanda tak meledak karena rapalan hizib mengiringi kisah perjuangan Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) tersebut.
Kiai Yahya adalah putra dari pasangan KH Qoribun dengan Nyai Ratun yang lahir di Desa Jetis, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, tahun 1900 silam. Sejak kecil Kiai Yahya digembleng dengan ilmu agama ala pesantren oleh ayahnya&amp;nbsp;
Kiai Yahya juga belajar kepada pamannya menjadi salah satu Mursyid Thariqah Kholidiyah, KH Abdullah.
Didikan ketat sejak dini itu membuat Kiai Yahya cinta akan ilmu. Ia pun menimba ilmu ke sejumpah pesantren, di antaranya Pesantren Bungkuk Singosari, Pesantren Cempaka Blitar, Pesantren Kuningan Blitar, Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo, dan Pesantren Kiai Asy&amp;rsquo;ari Tulungagung hingga Pesantren Jampes Kediri.
Baca juga:&amp;nbsp;KH Noer Alie, Si Belut Putih Pahlawan Kebanggaan Warga Bekasi
20 tahun menimba ilmu dari pesantren ke pesantren, Kiai Yahya kemudian pulang dan menjadi pengasuh generasi keempat PPMH di Gading, Kota Malang. Ia melepas lajangnya dengan menikahi Nyai Siti Khodijah, putri angkat KH Ismail. Pasangan ini dikarunia sebelas anak.
Baca juga:&amp;nbsp;3 Korban Politik Adu Domba Belanda, dari Sultan Hasanuddin hingga Sultan Ageng Tirtayasa
Kiai Yahya bukan tipologi ulama yang hanya suka berdiam diri di pesantren dengan mengajarkan ilmu agama kepada santrinya. Ia juga ulama yang ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan RI. Ia juga tokoh agama yang bermasyarakat, juga gemar berorganisasi.Itu sebabnya Kiai Yahya juga berada di garis depan bersama laskar Hizbullah-Sabilillah dan BKR ketika berjuang melawan Belanda. Nah, di masa perjuangan inilah cerita bom Belanda tak meledak karena dijinakkan hizib yang dirapal Kiai Yahya kemudian masyhur.
Putra Kiai Yahya, KH Ahmad Muhammad Arif Yahya, mengatakan, pondok pesantren jadi sasaran operasi Belanda di masa kemerdekaan karena menjadi basis perjuangan rakyat.
&amp;ldquo;Sampai dibom tujuh kali (oleh Belanda), tapi tidak ada yang meletus,&amp;rdquo; katanya dlansir dari NU Online, Rabu (12/4/2022).
Cerita berbeda tentang Kiai Yahya pernah didengar Kiai Arif dari ibundanya, Nyai Siti Khodijah. Menurut Nyai Khodijah, selama menjadi pengasuh pesantren, Kiai Yahya tidak pernah pergi ke mana-mana kecuali mengajar saja.
Baca juga:&amp;nbsp;KH Ahmad Dahlan Ulama Pejuang Pelopor Pendidikan Modern di Indonesia
&quot;Abahmu gak nangdi-nangdi, gak tau rono-rono. Nek omah mulang, bengi mesti turu karo aku (Ayahmu tidak ke mana-mana. Di rumah saja mengajar, kalau malam tidur bersama saya),&quot; ujarnya menirukan ucapan ibundanya.
Wakil Kepala Madrasah Diniyah Salafiyah Matholi&amp;rsquo;ul Huda PPMH, Ustadz M Qusyairi menjelaskan, Kiai Yahya adalah yang sangat berjasa. Di tangannyalah PPMH maju pesat. Di masa kepengasuhan Kiai Yahya santri tidak hanya berasal dari Jawa, tapi dari provinsi lain di Indonesia.
Baca juga:&amp;nbsp;Kisah Kiai Subchi Ulama Pejuang Memberikan Kekuatan pada Bambu RuncingSantri Kiai Yahya tidak hanya kalangan muda, tetapi juga orang tua. Dalam membina masyarakat, lanjut Qusyairi, tidak hanya tauhid dan fikih, tapi juga tasawuf.
Kiai Yahya sendiri adalah salah satu Mursyid Thariqah Qadiriyah Wa Naqsabandiyah di Kota Malang pada masa itu.
&quot;Beliau dikenal masyarakat tidak hanya berjuang dari kejauhan, tetapi banyak saksi bahwa beliau juga berada di medan laga,&quot; beber Qusyairi yang juga mengajar di Universitas Negeri Malang tersebut.
Baca juga:&amp;nbsp;Pangeran Diponegoro Menolak Bicara Perang Kepada Belanda Selama Puasa Ramadhan



</description><content:encoded>JAKARTA - Sejarah mencatat peran kiai dan ulama ikut berjuang dalam kemerdekaan Indonesia. Salah satu perjuangan kiai yang paling masyhur di antaranya KH Muhammad Yahya Gading, Kota Malang.
Cerita bom Belanda tak meledak karena rapalan hizib mengiringi kisah perjuangan Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) tersebut.
Kiai Yahya adalah putra dari pasangan KH Qoribun dengan Nyai Ratun yang lahir di Desa Jetis, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, tahun 1900 silam. Sejak kecil Kiai Yahya digembleng dengan ilmu agama ala pesantren oleh ayahnya&amp;nbsp;
Kiai Yahya juga belajar kepada pamannya menjadi salah satu Mursyid Thariqah Kholidiyah, KH Abdullah.
Didikan ketat sejak dini itu membuat Kiai Yahya cinta akan ilmu. Ia pun menimba ilmu ke sejumpah pesantren, di antaranya Pesantren Bungkuk Singosari, Pesantren Cempaka Blitar, Pesantren Kuningan Blitar, Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo, dan Pesantren Kiai Asy&amp;rsquo;ari Tulungagung hingga Pesantren Jampes Kediri.
Baca juga:&amp;nbsp;KH Noer Alie, Si Belut Putih Pahlawan Kebanggaan Warga Bekasi
20 tahun menimba ilmu dari pesantren ke pesantren, Kiai Yahya kemudian pulang dan menjadi pengasuh generasi keempat PPMH di Gading, Kota Malang. Ia melepas lajangnya dengan menikahi Nyai Siti Khodijah, putri angkat KH Ismail. Pasangan ini dikarunia sebelas anak.
Baca juga:&amp;nbsp;3 Korban Politik Adu Domba Belanda, dari Sultan Hasanuddin hingga Sultan Ageng Tirtayasa
Kiai Yahya bukan tipologi ulama yang hanya suka berdiam diri di pesantren dengan mengajarkan ilmu agama kepada santrinya. Ia juga ulama yang ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan RI. Ia juga tokoh agama yang bermasyarakat, juga gemar berorganisasi.Itu sebabnya Kiai Yahya juga berada di garis depan bersama laskar Hizbullah-Sabilillah dan BKR ketika berjuang melawan Belanda. Nah, di masa perjuangan inilah cerita bom Belanda tak meledak karena dijinakkan hizib yang dirapal Kiai Yahya kemudian masyhur.
Putra Kiai Yahya, KH Ahmad Muhammad Arif Yahya, mengatakan, pondok pesantren jadi sasaran operasi Belanda di masa kemerdekaan karena menjadi basis perjuangan rakyat.
&amp;ldquo;Sampai dibom tujuh kali (oleh Belanda), tapi tidak ada yang meletus,&amp;rdquo; katanya dlansir dari NU Online, Rabu (12/4/2022).
Cerita berbeda tentang Kiai Yahya pernah didengar Kiai Arif dari ibundanya, Nyai Siti Khodijah. Menurut Nyai Khodijah, selama menjadi pengasuh pesantren, Kiai Yahya tidak pernah pergi ke mana-mana kecuali mengajar saja.
Baca juga:&amp;nbsp;KH Ahmad Dahlan Ulama Pejuang Pelopor Pendidikan Modern di Indonesia
&quot;Abahmu gak nangdi-nangdi, gak tau rono-rono. Nek omah mulang, bengi mesti turu karo aku (Ayahmu tidak ke mana-mana. Di rumah saja mengajar, kalau malam tidur bersama saya),&quot; ujarnya menirukan ucapan ibundanya.
Wakil Kepala Madrasah Diniyah Salafiyah Matholi&amp;rsquo;ul Huda PPMH, Ustadz M Qusyairi menjelaskan, Kiai Yahya adalah yang sangat berjasa. Di tangannyalah PPMH maju pesat. Di masa kepengasuhan Kiai Yahya santri tidak hanya berasal dari Jawa, tapi dari provinsi lain di Indonesia.
Baca juga:&amp;nbsp;Kisah Kiai Subchi Ulama Pejuang Memberikan Kekuatan pada Bambu RuncingSantri Kiai Yahya tidak hanya kalangan muda, tetapi juga orang tua. Dalam membina masyarakat, lanjut Qusyairi, tidak hanya tauhid dan fikih, tapi juga tasawuf.
Kiai Yahya sendiri adalah salah satu Mursyid Thariqah Qadiriyah Wa Naqsabandiyah di Kota Malang pada masa itu.
&quot;Beliau dikenal masyarakat tidak hanya berjuang dari kejauhan, tetapi banyak saksi bahwa beliau juga berada di medan laga,&quot; beber Qusyairi yang juga mengajar di Universitas Negeri Malang tersebut.
Baca juga:&amp;nbsp;Pangeran Diponegoro Menolak Bicara Perang Kepada Belanda Selama Puasa Ramadhan



</content:encoded></item></channel></rss>
