<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perempuan Aktor Penting untuk Pembiasaan Berpikir Kritis di Masyarakat</title><description>Kartini berhasil merombak pola pikir patriaki masa itu yang berdampak signifikan kepada akses pendidikan kaum perempuan Indonesia.
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/04/22/337/2583686/perempuan-aktor-penting-untuk-pembiasaan-berpikir-kritis-di-masyarakat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/04/22/337/2583686/perempuan-aktor-penting-untuk-pembiasaan-berpikir-kritis-di-masyarakat"/><item><title>Perempuan Aktor Penting untuk Pembiasaan Berpikir Kritis di Masyarakat</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/04/22/337/2583686/perempuan-aktor-penting-untuk-pembiasaan-berpikir-kritis-di-masyarakat</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/04/22/337/2583686/perempuan-aktor-penting-untuk-pembiasaan-berpikir-kritis-di-masyarakat</guid><pubDate>Jum'at 22 April 2022 17:45 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/04/22/337/2583686/perempuan-aktor-penting-untuk-pembiasaan-berpikir-kritis-di-masyarakat-ZIeU7KgDLB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Webinar soal Kartini UIN Sunan Kaljaga (Foto: Tangkap Layar Webinar)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/04/22/337/2583686/perempuan-aktor-penting-untuk-pembiasaan-berpikir-kritis-di-masyarakat-ZIeU7KgDLB.jpg</image><title>Webinar soal Kartini UIN Sunan Kaljaga (Foto: Tangkap Layar Webinar)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Sosok Raden Ajeng (RA) Kartini yang hari kelahirannya diperingati setiap tanggal 21 April telah menunjukkan peran perempuan sebagai aktor penting dalam pembiasaan berpikir kritis di masyarakat.

Lewat surat-suratnya dalam buku berjudul &amp;ldquo;Habis Gelap Terbitlah Terang&amp;rdquo;, Kartini berhasil merombak pola pikir patriaki masa itu yang berdampak signifikan kepada akses pendidikan kaum perempuan Indonesia.

Hal tersebut menjadi intisari dari webinar internasional Hari Kartini bertema &amp;ldquo;Agama, Perempuan, dan Literasi Keagamaan Lintas Budaya&amp;rdquo; yang diadakan oleh Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga dan Institut Leimena, serta didukung oleh Templeton Religion Trust pada Kamis (21/4/2022) malam.

BACA JUGA:Anies Sanjung RA Kartini: Ia Mewakili Perjuangan Melalui Gagasan


&amp;ldquo;Kartini memimpin perubahan bagi perempuan Indonesia, pembebasan perempuan dari belenggu tradisi yang merugikan, membuka cakrawala urgensi pendidikan bagi perempuan,&amp;rdquo; kata Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Dr. Inayah Rohmaniyah.

Inayah mengatakan RA Kartini memiliki keberanian untuk melakukan kritik sosial terhadap budaya atau masyarakatnya sendiri. Kartini berargumen bahwa pendidikan adalah cara untuk meningkatkan kapasitas diri perempuan, melepaskan diri dari perjodohan, bahkan mempersiapkan diri sebagai seorang ibu.

BACA JUGA:Perjuangkan Penghargaan &amp;amp; Kesetaraan, Kartini Perindo: R.A Kartini Berjuang bagi Kemajuan Perempuan 


Menurut Inayah, agama Islam juga mengakomodasi prinsip kesetaraan gender antara lain menyatakan laki-laki dan perempuan sama-sama hamba dan khalifah Allah serta sama-sama menerima perjanjian priomordial, keduanya terlibat aktif dalam persitiwa drama kosmis, dan berpotensi sama dalam meraih prestasi.

Nilai-nilai universal Islam juga memberi ruang atas kesetaraan laki-laki dan perempuan yaitu tauhid, musawa (kesetaraan), ukhuwah (persaudaraan), &amp;lsquo;Adalah (keadilan), dan tawasut (moderat).

&amp;ldquo;Namun, muncul pemahaman yang tidak menyiratkan nilai-nilai dasar tersebut sehingga banyak problem sosial terjadi dalam masyarakat seperti kekerasan seksual, angka kekerasan dalam rumah tangga yang tinggi, kekerasan dan kebijakan diskriminatif atas nama agama, dan pandangan kultur yang diskriminatif dengan justifikasi atau paham agama,&amp;rdquo; kata Inayah.

BACA JUGA:Peringati Hari Kartini, Anies: Kata-Kata Tak Sekadar Senjata Melainkan Penyala


Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho mengatakan pemikiran RA Kartini yang masih muda adalah terobosan besar di tengah konteks masyarakat yang membatasi pendidikan untuk perempuan. Pola pikir kritis RA Kartini tidak dapat dipisahkan dari pergaulan &amp;lsquo;lintas budaya&amp;rsquo; sejak dini.

Hingga usia 12 tahun, Kartini menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Eropa yang diutamakan untuk orang-orang Eropa. Dia menggunakan bahasa Belanda dalam menulis surat kepada para sahabat-sahabat penanya yang juga orang-orang Eropa.

&amp;ldquo;Sangat mungkin surat menyurat yang intens dengan orang-orang berlatar belakang agama dan budaya yang berbeda berpengaruh besar dalam menghasilkan pemikiran-pemikirannya yang maju, terbuka, dan kritis, termasuk dalam pemahaman atau literasi keagamaannya,&amp;rdquo; kata Matius.

Partisipasi Rendah

Wakil Presiden Forum Lintas Agama G20, Dr. Katherine Marshall,  mengatakan partisipasi perempuan dalam agenda global masih sangat rendah  seperti salah satu tinjauan tahun 2019 bahwa hanya 3% mediator, 4%  penandatanganan, dan 13% negosiator merupakan perempuan. &amp;ldquo;Peran  perempuan bagaikan tidak kasat mata karena perempuan juga berkutat juga  dengan berbagai macam ekspektasi sosial budaya,&amp;rdquo; kata Katherine.

Dari sisi pendidikan, aspek kesetaraan dan keadilan juga masih  menjadi persoalan. Tingkat putus sekolah pada perempuan justru meningkat  selama masa pandemi Covid-19. &amp;ldquo;Dari pengalaman kami, kemungkinan besar  perempuan-perempuan yang berhenti sekolah tidak akan melanjutkan sekolah  walaupun pandemi sudah berlalu,&amp;rdquo; ujar Katherine.

Sekjen Asian Muslim Action Network (Aman), Dwi Rubiyanti Kholifah,  mengatakan mengatakan usaha menyebarkan Islam&amp;nbsp;rahmatan  lil&amp;rsquo;alamin&amp;nbsp;dilakukan lewat dua pendekatan penting yaitu perempuan dan  dialog. Menurutnya, perempuan memiliki kodrat unik karena secara efektif  mampu menjadi agen transformasi konflik.

Dia mencontohkan program Sekolah Perempuan Perdamaian yang  dijalankannya bersama Pendeta Roswuri dari Poso dengan memanfaatkan  lahan-lahan tidak produktif untuk pengembangan pertanian organik.  Sekolah tersebut sejauh ini melibatkan lebih dari 4.000 perempuan lintas  iman di 41 desa/kelurahan di Indonesia.

&amp;ldquo;Kebun organik menjadi medium untuk mengurai dendam, prasangka, dan  rasa tidak percaya Muslim dan Kristen yang digagas dan dikelola oleh  masyarakat itu sendiri,&amp;rdquo; kata aktivis perempuan dan perdamaian yang  akrab disapa Ruby Kholifah.

Ruby juga mempopulerkan&amp;nbsp;reflective structured dialogue&amp;nbsp;(RSD) kepada  para ulama perempuan. Metode RSD, yang didapatkannya dari pelatihan di  Romania oleh Mediators Beyond Boarder International, dipakai sebagai  upaya reintegrasi sosial untuk 40 mantan pendukung ISIS. Pada 2018-2019,  Ruby bersama para ulama perempuan dari berbagai mazhab seperti Sunni,  Syiah, Ahmadiyah, Salafi, dan Wahabi juga saling berdialog terhadap  isu-isu kontroversial seperti pernikahan anak, poligami, mengucapkan  salam kepada non-Muslim, dan keberagaman.

&amp;ldquo;Saat ini pendekatan dialog di sebuah kelurahan di Kabupaten Depok  dicoba untuk mendukung proses reintegrasi sosial para pendukung ISIS  yang kembali dari Suriah dan Irak,&amp;rdquo; ujar Ruby.

Ketua Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Pendeta  Mery LY Kolimon, mengatakan Reformasi Protestan (mulai 1517)  merekonstruksi identitas perempuan sebagai setara dengan laki-laki  termasuk kepemimpinan. &amp;ldquo;Jika dalam agama suku, peran keagamaan perempuan  sangat terbatas, maka Kekristenan memberikan sebuah identitas baru  sebagai yang setara untuk berelasi dengan Yang Ilahi,&amp;rdquo; katanya.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr.Phil. Al Makin mengatakan berkah  keragaman Indonesia seharusnya dipahami sebagai modal dasar untuk  mencapai kemajuan. Sementara itu, Senior Research Fellow University of  Washington, Dr. Chris Seiple, mengatakan pelibatan perempuan di area  publik masih sangat minim. Padahal, perempuan memainkan peran penting  dalam keberlanjutan pembangunan dan perdamaian.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Sosok Raden Ajeng (RA) Kartini yang hari kelahirannya diperingati setiap tanggal 21 April telah menunjukkan peran perempuan sebagai aktor penting dalam pembiasaan berpikir kritis di masyarakat.

Lewat surat-suratnya dalam buku berjudul &amp;ldquo;Habis Gelap Terbitlah Terang&amp;rdquo;, Kartini berhasil merombak pola pikir patriaki masa itu yang berdampak signifikan kepada akses pendidikan kaum perempuan Indonesia.

Hal tersebut menjadi intisari dari webinar internasional Hari Kartini bertema &amp;ldquo;Agama, Perempuan, dan Literasi Keagamaan Lintas Budaya&amp;rdquo; yang diadakan oleh Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga dan Institut Leimena, serta didukung oleh Templeton Religion Trust pada Kamis (21/4/2022) malam.

BACA JUGA:Anies Sanjung RA Kartini: Ia Mewakili Perjuangan Melalui Gagasan


&amp;ldquo;Kartini memimpin perubahan bagi perempuan Indonesia, pembebasan perempuan dari belenggu tradisi yang merugikan, membuka cakrawala urgensi pendidikan bagi perempuan,&amp;rdquo; kata Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Dr. Inayah Rohmaniyah.

Inayah mengatakan RA Kartini memiliki keberanian untuk melakukan kritik sosial terhadap budaya atau masyarakatnya sendiri. Kartini berargumen bahwa pendidikan adalah cara untuk meningkatkan kapasitas diri perempuan, melepaskan diri dari perjodohan, bahkan mempersiapkan diri sebagai seorang ibu.

BACA JUGA:Perjuangkan Penghargaan &amp;amp; Kesetaraan, Kartini Perindo: R.A Kartini Berjuang bagi Kemajuan Perempuan 


Menurut Inayah, agama Islam juga mengakomodasi prinsip kesetaraan gender antara lain menyatakan laki-laki dan perempuan sama-sama hamba dan khalifah Allah serta sama-sama menerima perjanjian priomordial, keduanya terlibat aktif dalam persitiwa drama kosmis, dan berpotensi sama dalam meraih prestasi.

Nilai-nilai universal Islam juga memberi ruang atas kesetaraan laki-laki dan perempuan yaitu tauhid, musawa (kesetaraan), ukhuwah (persaudaraan), &amp;lsquo;Adalah (keadilan), dan tawasut (moderat).

&amp;ldquo;Namun, muncul pemahaman yang tidak menyiratkan nilai-nilai dasar tersebut sehingga banyak problem sosial terjadi dalam masyarakat seperti kekerasan seksual, angka kekerasan dalam rumah tangga yang tinggi, kekerasan dan kebijakan diskriminatif atas nama agama, dan pandangan kultur yang diskriminatif dengan justifikasi atau paham agama,&amp;rdquo; kata Inayah.

BACA JUGA:Peringati Hari Kartini, Anies: Kata-Kata Tak Sekadar Senjata Melainkan Penyala


Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho mengatakan pemikiran RA Kartini yang masih muda adalah terobosan besar di tengah konteks masyarakat yang membatasi pendidikan untuk perempuan. Pola pikir kritis RA Kartini tidak dapat dipisahkan dari pergaulan &amp;lsquo;lintas budaya&amp;rsquo; sejak dini.

Hingga usia 12 tahun, Kartini menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Eropa yang diutamakan untuk orang-orang Eropa. Dia menggunakan bahasa Belanda dalam menulis surat kepada para sahabat-sahabat penanya yang juga orang-orang Eropa.

&amp;ldquo;Sangat mungkin surat menyurat yang intens dengan orang-orang berlatar belakang agama dan budaya yang berbeda berpengaruh besar dalam menghasilkan pemikiran-pemikirannya yang maju, terbuka, dan kritis, termasuk dalam pemahaman atau literasi keagamaannya,&amp;rdquo; kata Matius.

Partisipasi Rendah

Wakil Presiden Forum Lintas Agama G20, Dr. Katherine Marshall,  mengatakan partisipasi perempuan dalam agenda global masih sangat rendah  seperti salah satu tinjauan tahun 2019 bahwa hanya 3% mediator, 4%  penandatanganan, dan 13% negosiator merupakan perempuan. &amp;ldquo;Peran  perempuan bagaikan tidak kasat mata karena perempuan juga berkutat juga  dengan berbagai macam ekspektasi sosial budaya,&amp;rdquo; kata Katherine.

Dari sisi pendidikan, aspek kesetaraan dan keadilan juga masih  menjadi persoalan. Tingkat putus sekolah pada perempuan justru meningkat  selama masa pandemi Covid-19. &amp;ldquo;Dari pengalaman kami, kemungkinan besar  perempuan-perempuan yang berhenti sekolah tidak akan melanjutkan sekolah  walaupun pandemi sudah berlalu,&amp;rdquo; ujar Katherine.

Sekjen Asian Muslim Action Network (Aman), Dwi Rubiyanti Kholifah,  mengatakan mengatakan usaha menyebarkan Islam&amp;nbsp;rahmatan  lil&amp;rsquo;alamin&amp;nbsp;dilakukan lewat dua pendekatan penting yaitu perempuan dan  dialog. Menurutnya, perempuan memiliki kodrat unik karena secara efektif  mampu menjadi agen transformasi konflik.

Dia mencontohkan program Sekolah Perempuan Perdamaian yang  dijalankannya bersama Pendeta Roswuri dari Poso dengan memanfaatkan  lahan-lahan tidak produktif untuk pengembangan pertanian organik.  Sekolah tersebut sejauh ini melibatkan lebih dari 4.000 perempuan lintas  iman di 41 desa/kelurahan di Indonesia.

&amp;ldquo;Kebun organik menjadi medium untuk mengurai dendam, prasangka, dan  rasa tidak percaya Muslim dan Kristen yang digagas dan dikelola oleh  masyarakat itu sendiri,&amp;rdquo; kata aktivis perempuan dan perdamaian yang  akrab disapa Ruby Kholifah.

Ruby juga mempopulerkan&amp;nbsp;reflective structured dialogue&amp;nbsp;(RSD) kepada  para ulama perempuan. Metode RSD, yang didapatkannya dari pelatihan di  Romania oleh Mediators Beyond Boarder International, dipakai sebagai  upaya reintegrasi sosial untuk 40 mantan pendukung ISIS. Pada 2018-2019,  Ruby bersama para ulama perempuan dari berbagai mazhab seperti Sunni,  Syiah, Ahmadiyah, Salafi, dan Wahabi juga saling berdialog terhadap  isu-isu kontroversial seperti pernikahan anak, poligami, mengucapkan  salam kepada non-Muslim, dan keberagaman.

&amp;ldquo;Saat ini pendekatan dialog di sebuah kelurahan di Kabupaten Depok  dicoba untuk mendukung proses reintegrasi sosial para pendukung ISIS  yang kembali dari Suriah dan Irak,&amp;rdquo; ujar Ruby.

Ketua Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Pendeta  Mery LY Kolimon, mengatakan Reformasi Protestan (mulai 1517)  merekonstruksi identitas perempuan sebagai setara dengan laki-laki  termasuk kepemimpinan. &amp;ldquo;Jika dalam agama suku, peran keagamaan perempuan  sangat terbatas, maka Kekristenan memberikan sebuah identitas baru  sebagai yang setara untuk berelasi dengan Yang Ilahi,&amp;rdquo; katanya.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr.Phil. Al Makin mengatakan berkah  keragaman Indonesia seharusnya dipahami sebagai modal dasar untuk  mencapai kemajuan. Sementara itu, Senior Research Fellow University of  Washington, Dr. Chris Seiple, mengatakan pelibatan perempuan di area  publik masih sangat minim. Padahal, perempuan memainkan peran penting  dalam keberlanjutan pembangunan dan perdamaian.</content:encoded></item></channel></rss>
