<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Ahli Tsunami: Harus Belajar dari Kejadian 2018</title><description>Mengingatkan potensi tsunami akibat erupsi Gunung Anak Krakatau seperti tahun 2018 lalu.&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/04/25/337/2585157/gunung-anak-krakatau-berstatus-siaga-ahli-tsunami-harus-belajar-dari-kejadian-2018</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/04/25/337/2585157/gunung-anak-krakatau-berstatus-siaga-ahli-tsunami-harus-belajar-dari-kejadian-2018"/><item><title>Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Ahli Tsunami: Harus Belajar dari Kejadian 2018</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/04/25/337/2585157/gunung-anak-krakatau-berstatus-siaga-ahli-tsunami-harus-belajar-dari-kejadian-2018</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/04/25/337/2585157/gunung-anak-krakatau-berstatus-siaga-ahli-tsunami-harus-belajar-dari-kejadian-2018</guid><pubDate>Senin 25 April 2022 23:14 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/04/25/337/2585157/gunung-anak-krakatau-berstatus-siaga-ahli-tsunami-harus-belajar-dari-kejadian-2018-1HVO3Z2MC8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Illustrasi (foto: dok bmkg)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/04/25/337/2585157/gunung-anak-krakatau-berstatus-siaga-ahli-tsunami-harus-belajar-dari-kejadian-2018-1HVO3Z2MC8.jpg</image><title>Illustrasi (foto: dok bmkg)</title></images><description>

JAKARTA - Ketua Ikatan Ahli Tsunami Indonesia, Gegar S Prasetya mengingatkan potensi tsunami akibat erupsi Gunung Anak Krakatau seperti tahun 2018 lalu. Tsunami Selat Sunda pada tahun 2018 dikarenakan oleh adanya longsor bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Mengingat, saat ini sedang terjadi peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

&amp;ldquo;Mitigasi sebenarnya masyarakat tetap diimbau waspada,&amp;rdquo; kata Gegar saat Konferensi Pers secara virtual, Senin (25/4/2022).
&amp;nbsp;BACA JUGA:Ahli Tsunami Sebut Peningkatan Aktivitas Gunung Anak Krakatau Wajib Diwaspadai
Gegar pun menjelaskan, belajar dari peristiwa tsunami yang terjadi pada tahun 2018 lalu yang memiliki tipikal propagation, maka area-area yang terdampak tsunami juga sama seperti tsunami tahun itu.

&amp;ldquo;Tapi kita belajar dari peristiwa yang terjadi tahun 2018 kemarin, bahwa tipikal tsunami yang terjadi maka tsunami yang terjadi akan memiliki tipikal propagation. Jadi area-area yang memang pernah terdampak hebat pada peristiwa 2018 kemarin, maka jika terjadi tsunami lagi, maka area-area tersebut juga akan mengalami hal yang sama,&amp;rdquo; ungkap Gegar.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Aktivitas Gunung Anak Krakatau Level III, PVMBG: Ini Kewaspadaan Kita
&amp;ldquo;Jadi pesan kami itu aja, jadi dari kami bahwa masyarakat diharapkan waspada untuk area-area yang pernah terlanda tsunami di 2018 kemarin,&amp;rdquo; tambahnya.

Oleh karena itu, Gegar mengatakan langkah mitigasi dalam jangka pendek yang bisa dilakukan salah satunya yakni tidak mengunjungi daerah-daerah yang pernah terdampak tsunami pada tahun 2018 lalu akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

&amp;ldquo;Maka kalau ada terjadi tsunami, kemungkinan terjadi lagi, maka langkah mitigasinya adalah yang berada di area-area yang tahun 2018 kemarin pernah terdampak oleh tsunami dengan hebat. Untuk mitigasi dalam jangka pendeknya, masyarakat diimbau untuk tidak mengunjungi daerah-daerah yang pada tsunami pada tahun 2018 kemarin, kalau terjadi tsunami ya. Ini kan kita masih bicara potensi,&amp;rdquo; pungkasnya.</description><content:encoded>

JAKARTA - Ketua Ikatan Ahli Tsunami Indonesia, Gegar S Prasetya mengingatkan potensi tsunami akibat erupsi Gunung Anak Krakatau seperti tahun 2018 lalu. Tsunami Selat Sunda pada tahun 2018 dikarenakan oleh adanya longsor bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Mengingat, saat ini sedang terjadi peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

&amp;ldquo;Mitigasi sebenarnya masyarakat tetap diimbau waspada,&amp;rdquo; kata Gegar saat Konferensi Pers secara virtual, Senin (25/4/2022).
&amp;nbsp;BACA JUGA:Ahli Tsunami Sebut Peningkatan Aktivitas Gunung Anak Krakatau Wajib Diwaspadai
Gegar pun menjelaskan, belajar dari peristiwa tsunami yang terjadi pada tahun 2018 lalu yang memiliki tipikal propagation, maka area-area yang terdampak tsunami juga sama seperti tsunami tahun itu.

&amp;ldquo;Tapi kita belajar dari peristiwa yang terjadi tahun 2018 kemarin, bahwa tipikal tsunami yang terjadi maka tsunami yang terjadi akan memiliki tipikal propagation. Jadi area-area yang memang pernah terdampak hebat pada peristiwa 2018 kemarin, maka jika terjadi tsunami lagi, maka area-area tersebut juga akan mengalami hal yang sama,&amp;rdquo; ungkap Gegar.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Aktivitas Gunung Anak Krakatau Level III, PVMBG: Ini Kewaspadaan Kita
&amp;ldquo;Jadi pesan kami itu aja, jadi dari kami bahwa masyarakat diharapkan waspada untuk area-area yang pernah terlanda tsunami di 2018 kemarin,&amp;rdquo; tambahnya.

Oleh karena itu, Gegar mengatakan langkah mitigasi dalam jangka pendek yang bisa dilakukan salah satunya yakni tidak mengunjungi daerah-daerah yang pernah terdampak tsunami pada tahun 2018 lalu akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

&amp;ldquo;Maka kalau ada terjadi tsunami, kemungkinan terjadi lagi, maka langkah mitigasinya adalah yang berada di area-area yang tahun 2018 kemarin pernah terdampak oleh tsunami dengan hebat. Untuk mitigasi dalam jangka pendeknya, masyarakat diimbau untuk tidak mengunjungi daerah-daerah yang pada tsunami pada tahun 2018 kemarin, kalau terjadi tsunami ya. Ini kan kita masih bicara potensi,&amp;rdquo; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
