<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pesan Terakhir Raja Singasari untuk Putrinya Gayatri</title><description>Kertanegara meminta para penasihatnya agar sejenak keluar kamar.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/04/30/337/2587577/pesan-terakhir-raja-singasari-untuk-putrinya-gayatri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/04/30/337/2587577/pesan-terakhir-raja-singasari-untuk-putrinya-gayatri"/><item><title>Pesan Terakhir Raja Singasari untuk Putrinya Gayatri</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/04/30/337/2587577/pesan-terakhir-raja-singasari-untuk-putrinya-gayatri</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/04/30/337/2587577/pesan-terakhir-raja-singasari-untuk-putrinya-gayatri</guid><pubDate>Sabtu 30 April 2022 08:46 WIB</pubDate><dc:creator> Alyssa Nazira</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/04/30/337/2587577/pesan-terakhir-raja-singasari-untuk-putrinya-gayatri-NeA6tjvVJg.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tangkapan layar media sosial</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/04/30/337/2587577/pesan-terakhir-raja-singasari-untuk-putrinya-gayatri-NeA6tjvVJg.jpg</image><title>Tangkapan layar media sosial</title></images><description>KERATON Singasari cemas menantikan apa yang akan terjadi. Semua mata tertuju ke pelabuhan, mencari tanda datangnya armada serbu Mongol.
(Baca juga: Gayatri dan Tribhuwana, Putri Raja Singasari yang Mewarisi Kecantikan Ken Dedes)
Putri Gayatri bingung, mengapa sang ayah yang begitu tenang menghadang ancaman ini, tidak bisa meluangkan waktu bersamanya dan malah sibuk dengan para penasihat serta pendeta.
Namun, pernah suatu saat Kertanagara yang sedang sibuk dengan para penasihatnya di kamarnya, menyaksikan Gayatri melintasi kamarnya yang sedang membawa setumpuk naskah lontar untuk belajar.
Melihat itu, Kertanegara meminta para penasihatnya agar sejenak keluar kamar, supaya ia bisa bercengkrama berdua dengan Gayatri. Ia pun akhirnya bercengkrama dengan putri bungsunya itu.
Kertanegara menyatakan kerinduannya akan diskusi mingguan mereka dan berharap agar Gayatri dapat memahami tugas-tugas yang kian membebaninya belakangan ini. Lalu ia melirik ke naskah-naskah lontar yang dibawa Gayatri dan menanyakan apa yang sedang dipelajarinya.

&quot;Enam strategi berganda melawan musuh,&quot; jawab Gayatri melansir Gayatri Rajapatni: Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit karya Earl Drake.

Kertanegara memuji Gayatri karena ia membaca buku yang tepat di saat yang tepat. Sejenak ia terdiam, menatap Gayatri dalam-dalam, lalu mengatakan sesuatu yang takkan pernah dilupakan Gayatri.

&quot;Pelajaranmu kali ini sungguh berguna. Tetapi, murid kecilku untuk tahun-tahun mendatang, janganlah sekadar menguasai pengetahuan demi tujuan-tujuan praktis. Gunakan pengetahuan yang kau miliki untuk mengejar kearifan, terutama untuk meraih kearifan transenden&quot; pesan Kertanegara kepada sang putri.



Memang, waktu itu Gayatri tak paham apa maksud pesan yang diberikan oleh sang ayah. Baru di kemudian hari ia berupaya mengingat sungguh-sungguh apa yang pernah dikatakan Kertanegara, karena rupanya itulah yang menjadi kata-kata terakhir sang ayah untuk Gayatri.



</description><content:encoded>KERATON Singasari cemas menantikan apa yang akan terjadi. Semua mata tertuju ke pelabuhan, mencari tanda datangnya armada serbu Mongol.
(Baca juga: Gayatri dan Tribhuwana, Putri Raja Singasari yang Mewarisi Kecantikan Ken Dedes)
Putri Gayatri bingung, mengapa sang ayah yang begitu tenang menghadang ancaman ini, tidak bisa meluangkan waktu bersamanya dan malah sibuk dengan para penasihat serta pendeta.
Namun, pernah suatu saat Kertanagara yang sedang sibuk dengan para penasihatnya di kamarnya, menyaksikan Gayatri melintasi kamarnya yang sedang membawa setumpuk naskah lontar untuk belajar.
Melihat itu, Kertanegara meminta para penasihatnya agar sejenak keluar kamar, supaya ia bisa bercengkrama berdua dengan Gayatri. Ia pun akhirnya bercengkrama dengan putri bungsunya itu.
Kertanegara menyatakan kerinduannya akan diskusi mingguan mereka dan berharap agar Gayatri dapat memahami tugas-tugas yang kian membebaninya belakangan ini. Lalu ia melirik ke naskah-naskah lontar yang dibawa Gayatri dan menanyakan apa yang sedang dipelajarinya.

&quot;Enam strategi berganda melawan musuh,&quot; jawab Gayatri melansir Gayatri Rajapatni: Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit karya Earl Drake.

Kertanegara memuji Gayatri karena ia membaca buku yang tepat di saat yang tepat. Sejenak ia terdiam, menatap Gayatri dalam-dalam, lalu mengatakan sesuatu yang takkan pernah dilupakan Gayatri.

&quot;Pelajaranmu kali ini sungguh berguna. Tetapi, murid kecilku untuk tahun-tahun mendatang, janganlah sekadar menguasai pengetahuan demi tujuan-tujuan praktis. Gunakan pengetahuan yang kau miliki untuk mengejar kearifan, terutama untuk meraih kearifan transenden&quot; pesan Kertanegara kepada sang putri.



Memang, waktu itu Gayatri tak paham apa maksud pesan yang diberikan oleh sang ayah. Baru di kemudian hari ia berupaya mengingat sungguh-sungguh apa yang pernah dikatakan Kertanegara, karena rupanya itulah yang menjadi kata-kata terakhir sang ayah untuk Gayatri.



</content:encoded></item></channel></rss>
