<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Idul Fitri Merupakan Kemurahan Allah Atas Ketidakberdayaan Manusia</title><description>Konsep Idul Fitri hampir 100 persen merupakan keputusan kemurahan Allah atas ketidakberdayaan ummat manusia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/05/02/337/2588264/idul-fitri-merupakan-kemurahan-allah-atas-ketidakberdayaan-manusia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/05/02/337/2588264/idul-fitri-merupakan-kemurahan-allah-atas-ketidakberdayaan-manusia"/><item><title>Idul Fitri Merupakan Kemurahan Allah Atas Ketidakberdayaan Manusia</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/05/02/337/2588264/idul-fitri-merupakan-kemurahan-allah-atas-ketidakberdayaan-manusia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/05/02/337/2588264/idul-fitri-merupakan-kemurahan-allah-atas-ketidakberdayaan-manusia</guid><pubDate>Senin 02 Mei 2022 09:09 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/05/01/337/2588264/idul-fitri-merupakan-kemurahan-allah-atas-ketidakberdayaan-manusia-mgQsxNTGhQ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Sholat Idul Fitri (Foto : MPI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/05/01/337/2588264/idul-fitri-merupakan-kemurahan-allah-atas-ketidakberdayaan-manusia-mgQsxNTGhQ.jpg</image><title>Ilustrasi Sholat Idul Fitri (Foto : MPI)</title></images><description>KONSEP Idul Fitri hampir 100 persen merupakan keputusan kemurahan Allah atas ketidakberdayaan ummat manusia, hamba sahaya-Nya di hadapan ide dan formula Idul Fitri.

Hal tersebut dikemukakan cedekiawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun di situs Caknun.com, seperti yang dikutip, Senin (2/5/2022).

Cak Nun mengatakan Allah sangat menghormati dan memuliakan manusia dengan memberi mereka legitimasi dengan semacam sertifikasi tahunan &amp;ldquo;Telah Kembali Sejati&amp;rdquo;&amp;mdash;suatu tahap kualitas rohaniah yang sebenarnya sangat jarang dicapai oleh kebanyakan manusia.

&quot;Karena Allah Maha Rahman dan Maha Rahim, Maha Pecinta Yang Maha Menyayangi makhluk manusia yang diunggulkan-Nya, maka dikenakan pada mereka 'pakaian mewah' Idul Fitri. Allah amat sangat merayakan cinta-Nya kepada manusia, selalu menghiburnya, sangat bersabar dan mengalah, amat arif bijaksana dan Maha Memaklumi sampai batas waktu tertentu,&quot; kata Cak Nun.

BACA JUGA :&amp;nbsp;Pukul Bedug Malam Takbiran di JIS, Anies: Ini Kemenangan Kita Semua

Padahal sejatinya, sambungnya, sekian abad kehidupan ummat manusia sejak Nabi Adam As kakek moyang, sangatlah banyak ketidakpantasan pada manusia untuk dikostumi kemewahan Idul Fitri.

Dalam tulisan yang diunggah pada 11 Juni 2019, itu menyatakan, premis dasar pernyataan tersebut adalah fakta ketidak tahu dirian manusia yang sangat melewati batas terhadap peran dan jasa-jasa Allah Swt, hampir di semua era dan kurun sejarah manusia.&quot;Masa keemasan kecerdasan dan cahaya peradaban masyarakat manusia pernah berlangsung di bawah kepemimpinan Raja Agung Bijaksana Sulaiman As yang oleh Allah Swt sendiri usia beliau dibatasi hanya 62 tahun. Kemudian tak sampai dua dekade Masyarakat Madinah puncak akal budi kemanusiaan dicapai di penghujung usia Kanjeng Nabi Muhammad Saw yang juga hanya 63 tahun,&quot; ujarnya.

Abad 21, menurut Cak Nun bukan Abad Kekufuran. Sebab manusia sangat berhias diri dengan simbol-simbol ke-Tuhan-an, demi memunafiki Allah Swt dan dirinya sendiri. &quot;Abad 21 peradaban manusia adalah Abad Kemunafikan dan Kemusyrikan,&quot; tuturnya.</description><content:encoded>KONSEP Idul Fitri hampir 100 persen merupakan keputusan kemurahan Allah atas ketidakberdayaan ummat manusia, hamba sahaya-Nya di hadapan ide dan formula Idul Fitri.

Hal tersebut dikemukakan cedekiawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun di situs Caknun.com, seperti yang dikutip, Senin (2/5/2022).

Cak Nun mengatakan Allah sangat menghormati dan memuliakan manusia dengan memberi mereka legitimasi dengan semacam sertifikasi tahunan &amp;ldquo;Telah Kembali Sejati&amp;rdquo;&amp;mdash;suatu tahap kualitas rohaniah yang sebenarnya sangat jarang dicapai oleh kebanyakan manusia.

&quot;Karena Allah Maha Rahman dan Maha Rahim, Maha Pecinta Yang Maha Menyayangi makhluk manusia yang diunggulkan-Nya, maka dikenakan pada mereka 'pakaian mewah' Idul Fitri. Allah amat sangat merayakan cinta-Nya kepada manusia, selalu menghiburnya, sangat bersabar dan mengalah, amat arif bijaksana dan Maha Memaklumi sampai batas waktu tertentu,&quot; kata Cak Nun.

BACA JUGA :&amp;nbsp;Pukul Bedug Malam Takbiran di JIS, Anies: Ini Kemenangan Kita Semua

Padahal sejatinya, sambungnya, sekian abad kehidupan ummat manusia sejak Nabi Adam As kakek moyang, sangatlah banyak ketidakpantasan pada manusia untuk dikostumi kemewahan Idul Fitri.

Dalam tulisan yang diunggah pada 11 Juni 2019, itu menyatakan, premis dasar pernyataan tersebut adalah fakta ketidak tahu dirian manusia yang sangat melewati batas terhadap peran dan jasa-jasa Allah Swt, hampir di semua era dan kurun sejarah manusia.&quot;Masa keemasan kecerdasan dan cahaya peradaban masyarakat manusia pernah berlangsung di bawah kepemimpinan Raja Agung Bijaksana Sulaiman As yang oleh Allah Swt sendiri usia beliau dibatasi hanya 62 tahun. Kemudian tak sampai dua dekade Masyarakat Madinah puncak akal budi kemanusiaan dicapai di penghujung usia Kanjeng Nabi Muhammad Saw yang juga hanya 63 tahun,&quot; ujarnya.

Abad 21, menurut Cak Nun bukan Abad Kekufuran. Sebab manusia sangat berhias diri dengan simbol-simbol ke-Tuhan-an, demi memunafiki Allah Swt dan dirinya sendiri. &quot;Abad 21 peradaban manusia adalah Abad Kemunafikan dan Kemusyrikan,&quot; tuturnya.</content:encoded></item></channel></rss>
