<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Suami Bunuh Istri Karena Masakan Asin, KDRT di India Seperti Punya Banyak &quot;Pembenaran&quot;</title><description>Polisi di India menangkap seorang pria berusia 46 tahun yang diduga membunuh istrinya hanya karena masakan buatannya terlalu asin</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/05/09/18/2591359/suami-bunuh-istri-karena-masakan-asin-kdrt-di-india-seperti-punya-banyak-pembenaran</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/05/09/18/2591359/suami-bunuh-istri-karena-masakan-asin-kdrt-di-india-seperti-punya-banyak-pembenaran"/><item><title>Suami Bunuh Istri Karena Masakan Asin, KDRT di India Seperti Punya Banyak &quot;Pembenaran&quot;</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/05/09/18/2591359/suami-bunuh-istri-karena-masakan-asin-kdrt-di-india-seperti-punya-banyak-pembenaran</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/05/09/18/2591359/suami-bunuh-istri-karena-masakan-asin-kdrt-di-india-seperti-punya-banyak-pembenaran</guid><pubDate>Senin 09 Mei 2022 19:25 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/05/09/18/2591359/suami-bunuh-istri-karena-masakan-asin-kdrt-di-india-seperti-punya-banyak-pembenaran-8zEvdjBOcD.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/05/09/18/2591359/suami-bunuh-istri-karena-masakan-asin-kdrt-di-india-seperti-punya-banyak-pembenaran-8zEvdjBOcD.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</title></images><description>INDIA - Bulan lalu, polisi di India menangkap seorang pria berusia 46 tahun yang diduga membunuh istrinya hanya karena masakan buatannya terlalu banyak garam.

&quot;Nikesh Ghag, pegawai bank di Thane, di sebelah barat Kota Mumbai, mencekik istrinya yang berusia 40 tahun karena hidangan sabudana khichdi yang dimasak korban sangat asin,&quot; pejabat polisi Milind Desai mengatakan kepada BBC.

Putra pasangan itu yang berusia 12 tahun, yang menyaksikan kejahatan tersebut, mengatakan kepada polisi bahwa ayahnya mengikuti ibunya, Nirmala, ke kamar tidur sambil mengeluh tentang garam dan mulai memukuli korban.

&quot;Anak itu terus menangis dan memohon kepada ayahnya untuk berhenti,&quot; kata Desai, &quot;tetapi tersangka terus memukuli istrinya dan mencekiknya dengan tali.&quot;

BACA JUGA:Suami Pemabuk Aniaya Istri dan Mertuanya Pakai Pisau


Setelah Ghag keluar dari rumah, anak itu memanggil nenek dan pamannya dari pihak ibu.

&quot;Saat kami tiba di tempat kejadian, keluarganya telah membawanya ke rumah sakit, tapi saat itu dia sudah meninggal,&quot; kata Desai.

Tersangka kemudian menyerahkan diri di kantor polisi, dan dia memberi tahu petugas bahwa dia menderita tekanan darah tinggi. Dia lalu dikirim ke penjara.

Keluarga Nirmala mengatakan kepada polisi bahwa Ghag telah bertengkar dengannya karena &quot;masalah rumah tangga&quot; selama 15 hari terakhir. Desai sebelumnya belum menerima laporan apapun tentang hal ini baik dari korban atau keluarganya.

BACA JUGA:Kunjungi Bocah yang Disetrika Ayah Tiri, Ade Yasin: Kalau Melihat Ada KDRT Laporkan!


Pembunuhan atas seorang wanita oleh suaminya, yang dipicu oleh pertengkaran soal makanan, belakangan ini rutin menjadi berita utama di India.

Aktivis gender Madhavi Kuckreja mengatakan &quot;kematian membawa perhatian&quot; tetapi ini semua adalah kasus kekerasan berbasis gender yang sering &quot;tidak terlihat&quot;.

Sebagian besar kasus kekerasan dalam rumah tangga dilaporkan di bawah  istilah hukum &quot;kekejaman oleh suami atau kerabatnya&quot;, dan secara  konsisten menjadi jenis kejahatan atas perempuan yang paling banyak  dilaporkan di India dari tahun ke tahun.

Sebagaimana dilaporkan dalam data kriminalitas terbaru pada 2020,  polisi menerima pengaduan dari 112.292 wanita - yang terbagi menjadi  sekitar satu laporan setiap lima menit.

Kekerasan seperti itu tidak hanya terjadi di India. Menurut  Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), satu dari tiga wanita secara global  menghadapi kekerasan berbasis gender, sebagian besar dilakukan oleh  pasangan korban. Kasus di India menyajikan angka yang serupa.

Para aktivis di India harus berjuang di tengah budaya diam yang  melingkupinya dan - yang mengejutkan - persetujuan yang luar biasa atas  kekerasan semacam itu.

Fakta itu muncul dari angka terbaru hasil Survei Kesehatan Keluarga  Nasional (NFHS5), yaitu survei rumah tangga paling komprehensif atas  masyarakat India oleh pemerintah.

Lebih dari 40% wanita dan 38% pria mengatakan kepada pensurvei dari  pemerintah bahwa boleh saja seorang pria memukuli istrinya jika dia  tidak menghormati mertuanya, mengabaikan rumah atau anak-anaknya, pergi  keluar tanpa memberitahunya, menolak berhubungan seks atau tidak memasak  dengan benar. Di empat negara bagian, lebih dari 77% perempuan  membenarkan pemukulan atas istri.

Di sebagian besar negara bagian, lebih banyak wanita daripada pria  yang membenarkan pemukulan atas istri dan di setiap negara bagian -  satu-satunya pengecualian adalah Karnataka - lebih banyak wanita  daripada pria yang berpikir tidak apa-apa bagi seorang pria untuk  memukuli istrinya jika dia tidak memasak dengan benar.

Jumlahnya telah turun dari survei sebelumnya lima tahun lalu - ketika  52% wanita dan 42% pria membenarkan pemukulan terhadap istri - tetapi  sikapnya tidak berubah, kata Amita Pitre, yang memimpin program keadilan  gender di Oxfam India.

&quot;Kekerasan terhadap perempuan - dan pembenarannya - berakar pada  patriarki. Ada penerimaan yang tinggi terhadap kekerasan berbasis gender  karena di India, perempuan dianggap sebagai gender subordinat,&quot; katanya  kepada BBC.

&quot;Ada gagasan sosial yang permanen tentang bagaimana seorang perempuan  harus berperilaku: dia harus selalu berada di bawah pria, selalu tunduk  dalam pengambilan keputusan, harus melayani dia dan dia harus  berpenghasilan lebih rendah dari pria, di antara banyak hal lainnya.

Dan penerimaan untuk situasi kebalikannya sangat rendah. Jadi, jika  seorang wanita menantangnya, maka tidak apa-apa bagi suami untuk  menunjukkan kepada dia 'posisi yang sepantasnya.'&quot;

Alasan mengapa lebih banyak perempuan membenarkan pemukulan istri,  katanya, adalah karena &quot;patriarki memperkuat norma-norma gender dan  perempuan menyerap gagasan yang sama, keyakinan mereka dibentuk oleh  keluarga dan masyarakat&quot;.

Kuckreja mendirikan Vanangana, sebuah badan amal yang telah bekerja  selama seperempat abad dengan para perempuan yang dianiaya di  Bundelkhand di India utara - salah satu daerah termiskin di negara itu.

Dia mengatakan ada nasihat populer yang diberikan kepada mempelai  perempuan saat baru menikah: &quot;Kamu memasuki rumah tangga dengan tandu,  maka kamu hanya boleh pergi dengan usungan keranda jenazah&quot;.

Jadi kebanyakan perempuan, bahkan yang sering dipukuli, menerima kekerasan sebagai takdir mereka dan tidak melaporkannya.

&quot;Meskipun ada lebih banyak pelaporan dalam dekade terakhir, pemukulan  istri masih sangat kurang dilaporkan di India. Kasus-kasus seperti itu  sulit untuk dilaporkan dan dicatat. Kebanyakan orang masih akan  mengatakan bahwa 'apa yang terjadi di rumah harus tetap di rumah'.

Jadi, perempuan tidak disarankan untuk melapor ke polisi,&quot; kata  Kuckreja. Juga, mereka tidak punya tempat untuk pergi jika meninggalkan  rumah tangga mereka, lanjutnya.

&quot;Orang tua sering tidak menerima mereka karena stigma dan, dalam  banyak kasus, karena mereka miskin dan tidak mampu memberi makanan  tambahan.

Tidak ada sistem pendukung, beberapa rumah penampungan dan kompensasi  yang diberikan kepada wanita terlantar sangat sedikit - seringkali  dalam kisaran 500 hingga 1500 rupee (sekitar Rp284 ribu), yang tidak  cukup bagi seorang wanita untuk bertahan hidup, apalagi memberi makan  anak-anaknya.&quot;

Pushpa Sharma, yang mengepalai Vanangana, memberi tahu saya tentang  dua kasus yang dia terima bulan lalu di mana perempuan dipukuli dan  kemudian ditinggalkan oleh suaminya, bersama dengan anak-anak yang masih  kecil.

&quot;Dalam kedua kasus, suaminya menyeret korban keluar dari rumah dengan  menjambak rambutnya dan menyerangnya di depan para tetangga. Suaminya  mengklaim bahwa dia tidak memasak dengan benar, tetapi itu selalu  menjadi bagian dari serangkaian keluhan. Makanan hanyalah pemicu.&quot;

Seorang wanita, katanya, dapat &quot;dipukuli karena melahirkan anak  perempuan dan bukan 'pewaris laki-laki', atau karena dia berkulit gelap  atau tidak cantik, atau dia tidak membawa mahar yang cukup, atau  suaminya mabuk, atau dia tidak menyajikan makanan atau air dengan cukup  cepat ketika dia kembali ke rumah, atau dia menambahkan lebih banyak  garam ke dalam makanan, atau lupa menambahkannya&quot;.

Vanangana mengelola tempat penampungan bagi para penyintas kekerasan dalam rumah tangga di salah satu daerah termiskin di India

Pada tahun 1997, Vanangana meluncurkan drama jalanan berjudul Mujhe  Jawab Do [Jawab Saya] untuk menyadarkan masyarakat tentang kekerasan  dalam rumah tangga.

&quot;Ini dimulai dengan kalimat, 'Oh tidak ada garam di daal [sup miju-miju],'&quot; kata Kuckreja.

&quot;Setelah 25 tahun kampanye kami, ada sedikit yang berubah. Dan itu  karena pandangan yang kami berikan pada pernikahan. Bahwa kita harus  melakukan segalanya untuk menyelamatkan pernikahan - itu sakral, itu  harus bertahan selamanya.

&quot;Pikiran itu perlu diubah. Kita harus memberdayakan perempuan. Mereka tidak perlu harus tahan diri dipukul,&quot; katanya.

</description><content:encoded>INDIA - Bulan lalu, polisi di India menangkap seorang pria berusia 46 tahun yang diduga membunuh istrinya hanya karena masakan buatannya terlalu banyak garam.

&quot;Nikesh Ghag, pegawai bank di Thane, di sebelah barat Kota Mumbai, mencekik istrinya yang berusia 40 tahun karena hidangan sabudana khichdi yang dimasak korban sangat asin,&quot; pejabat polisi Milind Desai mengatakan kepada BBC.

Putra pasangan itu yang berusia 12 tahun, yang menyaksikan kejahatan tersebut, mengatakan kepada polisi bahwa ayahnya mengikuti ibunya, Nirmala, ke kamar tidur sambil mengeluh tentang garam dan mulai memukuli korban.

&quot;Anak itu terus menangis dan memohon kepada ayahnya untuk berhenti,&quot; kata Desai, &quot;tetapi tersangka terus memukuli istrinya dan mencekiknya dengan tali.&quot;

BACA JUGA:Suami Pemabuk Aniaya Istri dan Mertuanya Pakai Pisau


Setelah Ghag keluar dari rumah, anak itu memanggil nenek dan pamannya dari pihak ibu.

&quot;Saat kami tiba di tempat kejadian, keluarganya telah membawanya ke rumah sakit, tapi saat itu dia sudah meninggal,&quot; kata Desai.

Tersangka kemudian menyerahkan diri di kantor polisi, dan dia memberi tahu petugas bahwa dia menderita tekanan darah tinggi. Dia lalu dikirim ke penjara.

Keluarga Nirmala mengatakan kepada polisi bahwa Ghag telah bertengkar dengannya karena &quot;masalah rumah tangga&quot; selama 15 hari terakhir. Desai sebelumnya belum menerima laporan apapun tentang hal ini baik dari korban atau keluarganya.

BACA JUGA:Kunjungi Bocah yang Disetrika Ayah Tiri, Ade Yasin: Kalau Melihat Ada KDRT Laporkan!


Pembunuhan atas seorang wanita oleh suaminya, yang dipicu oleh pertengkaran soal makanan, belakangan ini rutin menjadi berita utama di India.

Aktivis gender Madhavi Kuckreja mengatakan &quot;kematian membawa perhatian&quot; tetapi ini semua adalah kasus kekerasan berbasis gender yang sering &quot;tidak terlihat&quot;.

Sebagian besar kasus kekerasan dalam rumah tangga dilaporkan di bawah  istilah hukum &quot;kekejaman oleh suami atau kerabatnya&quot;, dan secara  konsisten menjadi jenis kejahatan atas perempuan yang paling banyak  dilaporkan di India dari tahun ke tahun.

Sebagaimana dilaporkan dalam data kriminalitas terbaru pada 2020,  polisi menerima pengaduan dari 112.292 wanita - yang terbagi menjadi  sekitar satu laporan setiap lima menit.

Kekerasan seperti itu tidak hanya terjadi di India. Menurut  Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), satu dari tiga wanita secara global  menghadapi kekerasan berbasis gender, sebagian besar dilakukan oleh  pasangan korban. Kasus di India menyajikan angka yang serupa.

Para aktivis di India harus berjuang di tengah budaya diam yang  melingkupinya dan - yang mengejutkan - persetujuan yang luar biasa atas  kekerasan semacam itu.

Fakta itu muncul dari angka terbaru hasil Survei Kesehatan Keluarga  Nasional (NFHS5), yaitu survei rumah tangga paling komprehensif atas  masyarakat India oleh pemerintah.

Lebih dari 40% wanita dan 38% pria mengatakan kepada pensurvei dari  pemerintah bahwa boleh saja seorang pria memukuli istrinya jika dia  tidak menghormati mertuanya, mengabaikan rumah atau anak-anaknya, pergi  keluar tanpa memberitahunya, menolak berhubungan seks atau tidak memasak  dengan benar. Di empat negara bagian, lebih dari 77% perempuan  membenarkan pemukulan atas istri.

Di sebagian besar negara bagian, lebih banyak wanita daripada pria  yang membenarkan pemukulan atas istri dan di setiap negara bagian -  satu-satunya pengecualian adalah Karnataka - lebih banyak wanita  daripada pria yang berpikir tidak apa-apa bagi seorang pria untuk  memukuli istrinya jika dia tidak memasak dengan benar.

Jumlahnya telah turun dari survei sebelumnya lima tahun lalu - ketika  52% wanita dan 42% pria membenarkan pemukulan terhadap istri - tetapi  sikapnya tidak berubah, kata Amita Pitre, yang memimpin program keadilan  gender di Oxfam India.

&quot;Kekerasan terhadap perempuan - dan pembenarannya - berakar pada  patriarki. Ada penerimaan yang tinggi terhadap kekerasan berbasis gender  karena di India, perempuan dianggap sebagai gender subordinat,&quot; katanya  kepada BBC.

&quot;Ada gagasan sosial yang permanen tentang bagaimana seorang perempuan  harus berperilaku: dia harus selalu berada di bawah pria, selalu tunduk  dalam pengambilan keputusan, harus melayani dia dan dia harus  berpenghasilan lebih rendah dari pria, di antara banyak hal lainnya.

Dan penerimaan untuk situasi kebalikannya sangat rendah. Jadi, jika  seorang wanita menantangnya, maka tidak apa-apa bagi suami untuk  menunjukkan kepada dia 'posisi yang sepantasnya.'&quot;

Alasan mengapa lebih banyak perempuan membenarkan pemukulan istri,  katanya, adalah karena &quot;patriarki memperkuat norma-norma gender dan  perempuan menyerap gagasan yang sama, keyakinan mereka dibentuk oleh  keluarga dan masyarakat&quot;.

Kuckreja mendirikan Vanangana, sebuah badan amal yang telah bekerja  selama seperempat abad dengan para perempuan yang dianiaya di  Bundelkhand di India utara - salah satu daerah termiskin di negara itu.

Dia mengatakan ada nasihat populer yang diberikan kepada mempelai  perempuan saat baru menikah: &quot;Kamu memasuki rumah tangga dengan tandu,  maka kamu hanya boleh pergi dengan usungan keranda jenazah&quot;.

Jadi kebanyakan perempuan, bahkan yang sering dipukuli, menerima kekerasan sebagai takdir mereka dan tidak melaporkannya.

&quot;Meskipun ada lebih banyak pelaporan dalam dekade terakhir, pemukulan  istri masih sangat kurang dilaporkan di India. Kasus-kasus seperti itu  sulit untuk dilaporkan dan dicatat. Kebanyakan orang masih akan  mengatakan bahwa 'apa yang terjadi di rumah harus tetap di rumah'.

Jadi, perempuan tidak disarankan untuk melapor ke polisi,&quot; kata  Kuckreja. Juga, mereka tidak punya tempat untuk pergi jika meninggalkan  rumah tangga mereka, lanjutnya.

&quot;Orang tua sering tidak menerima mereka karena stigma dan, dalam  banyak kasus, karena mereka miskin dan tidak mampu memberi makanan  tambahan.

Tidak ada sistem pendukung, beberapa rumah penampungan dan kompensasi  yang diberikan kepada wanita terlantar sangat sedikit - seringkali  dalam kisaran 500 hingga 1500 rupee (sekitar Rp284 ribu), yang tidak  cukup bagi seorang wanita untuk bertahan hidup, apalagi memberi makan  anak-anaknya.&quot;

Pushpa Sharma, yang mengepalai Vanangana, memberi tahu saya tentang  dua kasus yang dia terima bulan lalu di mana perempuan dipukuli dan  kemudian ditinggalkan oleh suaminya, bersama dengan anak-anak yang masih  kecil.

&quot;Dalam kedua kasus, suaminya menyeret korban keluar dari rumah dengan  menjambak rambutnya dan menyerangnya di depan para tetangga. Suaminya  mengklaim bahwa dia tidak memasak dengan benar, tetapi itu selalu  menjadi bagian dari serangkaian keluhan. Makanan hanyalah pemicu.&quot;

Seorang wanita, katanya, dapat &quot;dipukuli karena melahirkan anak  perempuan dan bukan 'pewaris laki-laki', atau karena dia berkulit gelap  atau tidak cantik, atau dia tidak membawa mahar yang cukup, atau  suaminya mabuk, atau dia tidak menyajikan makanan atau air dengan cukup  cepat ketika dia kembali ke rumah, atau dia menambahkan lebih banyak  garam ke dalam makanan, atau lupa menambahkannya&quot;.

Vanangana mengelola tempat penampungan bagi para penyintas kekerasan dalam rumah tangga di salah satu daerah termiskin di India

Pada tahun 1997, Vanangana meluncurkan drama jalanan berjudul Mujhe  Jawab Do [Jawab Saya] untuk menyadarkan masyarakat tentang kekerasan  dalam rumah tangga.

&quot;Ini dimulai dengan kalimat, 'Oh tidak ada garam di daal [sup miju-miju],'&quot; kata Kuckreja.

&quot;Setelah 25 tahun kampanye kami, ada sedikit yang berubah. Dan itu  karena pandangan yang kami berikan pada pernikahan. Bahwa kita harus  melakukan segalanya untuk menyelamatkan pernikahan - itu sakral, itu  harus bertahan selamanya.

&quot;Pikiran itu perlu diubah. Kita harus memberdayakan perempuan. Mereka tidak perlu harus tahan diri dipukul,&quot; katanya.

</content:encoded></item></channel></rss>
