<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>&quot;Di Iran, yang Mereka Pedulikan Hanya Jilbab Anda&quot;</title><description>Sejumlah perempuan Iran memberontak terhadap kewajiban mengenakan jilbab di tempat kerja.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/05/09/18/2591384/di-iran-yang-mereka-pedulikan-hanya-jilbab-anda</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/05/09/18/2591384/di-iran-yang-mereka-pedulikan-hanya-jilbab-anda"/><item><title>&quot;Di Iran, yang Mereka Pedulikan Hanya Jilbab Anda&quot;</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/05/09/18/2591384/di-iran-yang-mereka-pedulikan-hanya-jilbab-anda</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/05/09/18/2591384/di-iran-yang-mereka-pedulikan-hanya-jilbab-anda</guid><pubDate>Senin 09 Mei 2022 20:13 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi DW</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/05/09/18/2591384/di-iran-yang-mereka-pedulikan-hanya-jilbab-anda-wTXYcl6pP6.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: J Saget/Getty Image</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/05/09/18/2591384/di-iran-yang-mereka-pedulikan-hanya-jilbab-anda-wTXYcl6pP6.jpg</image><title>Foto: J Saget/Getty Image</title></images><description>IRAN - Sejumlah perempuan Iran memberontak terhadap kewajiban mengenakan jilbab di tempat kerja. Di beberapa instansi pemerintah, ada juga mandat memakai cadar.

&quot;Kadang saya tidak sengaja melepas jilbab, tapi atasan memberi tahu saya untuk memakainya kembali. Laki-laki bebas memilih apa yang mereka mau, tapi perempuan tidak,&quot; kata Farzana (nama samaran) kepada DW.

Karyawan swasta berusia 22 tahun di Kota Shiraz, Iran, ini menggambarkan situasi tersebut ibarat punya &quot;kehidupan ganda&quot; di tempat kerja.

Di Iran, kewajiban pemakaian jilbab diberlakukan beberapa tahun setelah Revolusi Islam pada 1979. Di bawah undang-undang yang berlaku, perempuan harus menutupi rambut mereka dan mengenakan pakaian longgar di tempat umum, termasuk tempat kerja, di sekolah, dan universitas. Mandat tersebut ditegakkan oleh petugas penjaga moralitas.

Namun, kini terjadi peningkatan penolakan terhadap mandat hijab, khususnya di kalangan generasi muda dan di daerah perkotaan.

Mereka yang menentang memandang peraturan ini sebagai alat paksaan politik yang mengontrol tubuh perempuan. Di Iran telah terjadi gelombang protes terhadap jilbab dalam beberapa tahun terakhir, seperti gerakan White Wednesdays.

Seiring tumbuhnya gerakan ini, bertambah juga tindakan keras terhadap mereka yang melanggar aturan. Sebuah universitas di ibu kota Teheran mengerahkan apa yang disebut sebagai penjaga moralitas di kampus.

Mereka bertugas memastikan bahwa siswa mematuhi aturan hijab, menurut laporan penyiar Internasional Iran yang berbasis di London pada April lalu.

Semakin banyak perempuan seperti Farzana yang melanggar larangan tersebut di tempat kerja dan di tempat lain. Namun, beberapa perempuan mengatakan bahwa memberontak dan menolak aturan itu dapat merugikan karier mereka.

Kepatuhan berhijab bantu karier perempuan?

Mematuhi aturan jilbab berarti bahwa seorang perempuan dapat  menghindari denda atau penangkapan. Selain itu, mengenakannya juga  membawa manfaat lain bagi karier si perempuan tadi.

&quot;Jika Anda berjilbab dengan benar, Anda dapat bekerja di industri ini  dan mendapatkan uang karena pemerintah menghargai hal ini dan  mengalokasikan anggaran,&quot; Anna Amir, pembuat film dokumenter asal Iran,  mengatakan kepada DW.

Perempuan Iran lainnya, berusia 26 tahun, yang meminta namanya  dirahasiakan, menjelaskan bahwa jilbab yang benar adalah prioritas  utama.

&quot;Di Iran, yang mereka pedulikan hanyalah jilbab Anda ... Anda bisa  menjadi mahasiswa top di universitas, tetapi Anda bisa dilarang karena  (tidak mengenakan) jilbab,&quot; ujar perempuan itu. Dia menambahkan bahwa  bekerja dengan kondisi ini, baginya, mengubah tempat kerja ibarat  &quot;penjara&quot;.

Claudia Yaghoobi, Associate Professor dan Direktur Studi Persia di  University of North Carolina-Chapel Hill, membenarkan cerita para  perempuan ini. Mereka yang berjilbab &quot;dengan benar&quot; dapat memiliki  peluang kerja dengan manfaat besar, ujar Yaghoobi kepada DW.

Penegakannya tergantung waktu

Waktu bisa berperan dalam pentingnya berjilbab atau tidak, termasuk  di tempat kerja. Selalu ada fluktuasi yang bermotif politik dalam  tingkat kerasnya penindakan. Dalam beberapa tahun terakhir, ada fokus  baru terkait perdebatan tentang wajib hijab.

Saat pemerintah berfokus pada kebijakan lain, penjaga moralitas  menjadi lemah dan karena itu mengabaikan jilbab yang &quot;tidak pantas&quot;,  ungkap Yaghoobi. &quot;Di lain waktu, jenis penindakan bisa menyerupai  tindakan kemiliteran yang lebih ketat.&quot;

Namun, jenis tempat kerja juga menjadi faktor karena kepatuhan  terhadap aturan wajib hijab yang lebih ketat ada di sektor publik.

Menurut Kourosh Ziabari, koresponden Iran untuk Asia Times, ada  mandat pemakaian cadar yang &quot;lebih ketat di departemen pemerintah.&quot;

Mandat pemakaian cadar

Sementara jilbab dapat membantu kelancaran karier, pembuat film Anna   Amir mengatakan dia menolak manuver untuk &quot;melisensikan&quot; tubuh   perempuan. Ia pun terus bekerja tanpa dukungan pemerintah.

Kerugian lain dari mandat cadar mungkin kurang langsung. Yaghoobi   memandang pengucilan perempuan sekuler dari tempat kerja memiliki dampak   negatif karena mengurangi keragaman suara perempuan.

&quot;Suara-suara perempuan tidak didengar,&quot; katanya. &quot;Dari satu atau dua   tahun lalu, buku anak-anak sekolah dasar hanya memuat gambar perempuan   yang bercadar atau (fotonya) telah dihilangkan,&quot; katanya kepada DW.

Laporan Kesenjangan Gender Global 2021, yang diproduksi oleh Forum   Ekonomi Dunia, menempatkan Iran di peringkat 150 dari 156 untuk   kesetaraan gender, termasuk kesetaraan dalam partisipasi ekonomi.

Apakah perempuan Iran dukung wajib hijab?

Sebuah laporan tahun 2021 yang diterbitkan oleh pemerintah Iran   menunjukkan perpecahan, hampir 50:50 di antara mereka yang mendukung dan   menentang wajib hijab ini. Perempuan dari kalangan yang lebih tua   diyakini lebih mendukung amanat hijab dibandingkan generasi muda.

&quot;Mereka berpakaian konservatif dan menganggap itu sebagai prinsip   Islam mereka ... Mereka mendukung prinsip-prinsip ini di tempat kerja   dan menuntut pemerintah untuk memperkuat aturan jilbab karena   penyelewengan terhadapnya dapat mempromosikan tindakan amoralitas di   masyarakat,&quot; kata Kourosh Ziabari.

DW menghubungi faksi pendukung wajib hijab di Iran, juga ke lembaga   penyiar yang dikelola negara, untuk meminta komentar mereka, tetapi   tidak ada tanggapan hingga laporan ini diturunkan.
</description><content:encoded>IRAN - Sejumlah perempuan Iran memberontak terhadap kewajiban mengenakan jilbab di tempat kerja. Di beberapa instansi pemerintah, ada juga mandat memakai cadar.

&quot;Kadang saya tidak sengaja melepas jilbab, tapi atasan memberi tahu saya untuk memakainya kembali. Laki-laki bebas memilih apa yang mereka mau, tapi perempuan tidak,&quot; kata Farzana (nama samaran) kepada DW.

Karyawan swasta berusia 22 tahun di Kota Shiraz, Iran, ini menggambarkan situasi tersebut ibarat punya &quot;kehidupan ganda&quot; di tempat kerja.

Di Iran, kewajiban pemakaian jilbab diberlakukan beberapa tahun setelah Revolusi Islam pada 1979. Di bawah undang-undang yang berlaku, perempuan harus menutupi rambut mereka dan mengenakan pakaian longgar di tempat umum, termasuk tempat kerja, di sekolah, dan universitas. Mandat tersebut ditegakkan oleh petugas penjaga moralitas.

Namun, kini terjadi peningkatan penolakan terhadap mandat hijab, khususnya di kalangan generasi muda dan di daerah perkotaan.

Mereka yang menentang memandang peraturan ini sebagai alat paksaan politik yang mengontrol tubuh perempuan. Di Iran telah terjadi gelombang protes terhadap jilbab dalam beberapa tahun terakhir, seperti gerakan White Wednesdays.

Seiring tumbuhnya gerakan ini, bertambah juga tindakan keras terhadap mereka yang melanggar aturan. Sebuah universitas di ibu kota Teheran mengerahkan apa yang disebut sebagai penjaga moralitas di kampus.

Mereka bertugas memastikan bahwa siswa mematuhi aturan hijab, menurut laporan penyiar Internasional Iran yang berbasis di London pada April lalu.

Semakin banyak perempuan seperti Farzana yang melanggar larangan tersebut di tempat kerja dan di tempat lain. Namun, beberapa perempuan mengatakan bahwa memberontak dan menolak aturan itu dapat merugikan karier mereka.

Kepatuhan berhijab bantu karier perempuan?

Mematuhi aturan jilbab berarti bahwa seorang perempuan dapat  menghindari denda atau penangkapan. Selain itu, mengenakannya juga  membawa manfaat lain bagi karier si perempuan tadi.

&quot;Jika Anda berjilbab dengan benar, Anda dapat bekerja di industri ini  dan mendapatkan uang karena pemerintah menghargai hal ini dan  mengalokasikan anggaran,&quot; Anna Amir, pembuat film dokumenter asal Iran,  mengatakan kepada DW.

Perempuan Iran lainnya, berusia 26 tahun, yang meminta namanya  dirahasiakan, menjelaskan bahwa jilbab yang benar adalah prioritas  utama.

&quot;Di Iran, yang mereka pedulikan hanyalah jilbab Anda ... Anda bisa  menjadi mahasiswa top di universitas, tetapi Anda bisa dilarang karena  (tidak mengenakan) jilbab,&quot; ujar perempuan itu. Dia menambahkan bahwa  bekerja dengan kondisi ini, baginya, mengubah tempat kerja ibarat  &quot;penjara&quot;.

Claudia Yaghoobi, Associate Professor dan Direktur Studi Persia di  University of North Carolina-Chapel Hill, membenarkan cerita para  perempuan ini. Mereka yang berjilbab &quot;dengan benar&quot; dapat memiliki  peluang kerja dengan manfaat besar, ujar Yaghoobi kepada DW.

Penegakannya tergantung waktu

Waktu bisa berperan dalam pentingnya berjilbab atau tidak, termasuk  di tempat kerja. Selalu ada fluktuasi yang bermotif politik dalam  tingkat kerasnya penindakan. Dalam beberapa tahun terakhir, ada fokus  baru terkait perdebatan tentang wajib hijab.

Saat pemerintah berfokus pada kebijakan lain, penjaga moralitas  menjadi lemah dan karena itu mengabaikan jilbab yang &quot;tidak pantas&quot;,  ungkap Yaghoobi. &quot;Di lain waktu, jenis penindakan bisa menyerupai  tindakan kemiliteran yang lebih ketat.&quot;

Namun, jenis tempat kerja juga menjadi faktor karena kepatuhan  terhadap aturan wajib hijab yang lebih ketat ada di sektor publik.

Menurut Kourosh Ziabari, koresponden Iran untuk Asia Times, ada  mandat pemakaian cadar yang &quot;lebih ketat di departemen pemerintah.&quot;

Mandat pemakaian cadar

Sementara jilbab dapat membantu kelancaran karier, pembuat film Anna   Amir mengatakan dia menolak manuver untuk &quot;melisensikan&quot; tubuh   perempuan. Ia pun terus bekerja tanpa dukungan pemerintah.

Kerugian lain dari mandat cadar mungkin kurang langsung. Yaghoobi   memandang pengucilan perempuan sekuler dari tempat kerja memiliki dampak   negatif karena mengurangi keragaman suara perempuan.

&quot;Suara-suara perempuan tidak didengar,&quot; katanya. &quot;Dari satu atau dua   tahun lalu, buku anak-anak sekolah dasar hanya memuat gambar perempuan   yang bercadar atau (fotonya) telah dihilangkan,&quot; katanya kepada DW.

Laporan Kesenjangan Gender Global 2021, yang diproduksi oleh Forum   Ekonomi Dunia, menempatkan Iran di peringkat 150 dari 156 untuk   kesetaraan gender, termasuk kesetaraan dalam partisipasi ekonomi.

Apakah perempuan Iran dukung wajib hijab?

Sebuah laporan tahun 2021 yang diterbitkan oleh pemerintah Iran   menunjukkan perpecahan, hampir 50:50 di antara mereka yang mendukung dan   menentang wajib hijab ini. Perempuan dari kalangan yang lebih tua   diyakini lebih mendukung amanat hijab dibandingkan generasi muda.

&quot;Mereka berpakaian konservatif dan menganggap itu sebagai prinsip   Islam mereka ... Mereka mendukung prinsip-prinsip ini di tempat kerja   dan menuntut pemerintah untuk memperkuat aturan jilbab karena   penyelewengan terhadapnya dapat mempromosikan tindakan amoralitas di   masyarakat,&quot; kata Kourosh Ziabari.

DW menghubungi faksi pendukung wajib hijab di Iran, juga ke lembaga   penyiar yang dikelola negara, untuk meminta komentar mereka, tetapi   tidak ada tanggapan hingga laporan ini diturunkan.
</content:encoded></item></channel></rss>
