<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sejarah Malioboro, Magnet Wisatawan untuk Datang ke Yogyakarta</title><description>Malioboro sendiri merupakan nama sebuah jalan di Yogyakarta yang terkenal dengan para pedagang kakilimanya</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/06/01/337/2603803/sejarah-malioboro-magnet-wisatawan-untuk-datang-ke-yogyakarta</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/06/01/337/2603803/sejarah-malioboro-magnet-wisatawan-untuk-datang-ke-yogyakarta"/><item><title>Sejarah Malioboro, Magnet Wisatawan untuk Datang ke Yogyakarta</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/06/01/337/2603803/sejarah-malioboro-magnet-wisatawan-untuk-datang-ke-yogyakarta</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/06/01/337/2603803/sejarah-malioboro-magnet-wisatawan-untuk-datang-ke-yogyakarta</guid><pubDate>Rabu 01 Juni 2022 16:19 WIB</pubDate><dc:creator>Ajeng Wirachmi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/06/01/337/2603803/sejarah-malioboro-magnet-wisatawan-untuk-datang-ke-yogyakarta-rpcdCkO9Qp.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Suasana Malioboro saat malam hari/ Foto: Instagram @malioboro_insta</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/06/01/337/2603803/sejarah-malioboro-magnet-wisatawan-untuk-datang-ke-yogyakarta-rpcdCkO9Qp.jpg</image><title>Suasana Malioboro saat malam hari/ Foto: Instagram @malioboro_insta</title></images><description>Siapa yang tak kenal dengan kawasan Malioboro di Yogyakarta? Lokasi wisata yang satu ini selalu menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan, baik lokal maupun asing, untuk bertandang ke Kota Gudeg itu.

Malioboro sendiri merupakan nama sebuah jalan di Yogyakarta yang terkenal dengan para pedagang kakilimanya.

BACA JUGA: Pengunjung di Malioboro Diimbau Tetap Pakai Masker, Ini Alasannya


Melansir laman Arsip dan Perpustakaan Kota Yogyakarta, Malioboro berlokasi di antara Keraton Yogyakarta dan Tugu Pal Putih, yang sudah lama menjadi surga bagi para pelancong.


Lantas, bagaimana sebenarnya sejarah Malioboro? Dalam sebuah artikel bertajuk &amp;ldquo;Malioboro Sebagai Pusat Pariwisata Kota Yogyakarta&amp;rdquo; disebutkan bahwa kata Malioboro diambil dari nama seorang warga Inggris, yakni Marlborough.

Ia pernah tinggal di wilayah tersebut di tahun 1811 sampai 1816. Jalan Malioboro sengaja dihadirkan sebagai sumbu imajiner yang berkorelasi dengan Keraton di tengah kota dan Gunung Merapi di bagian utara Yogya, serta Pantai Parangtritis di laut Selatan sebagai simbol supranatural.

Sementara itu, kata Malioboro bermakna karangan bunga dalam bahasa Sansekerta.

Jauh sebelum diberi nama Malioboro, pola perkotaan di sekitar jalan ini sempat terganggu karena pembangunan Benteng Vredeburg pada 1790. Benteng tersebut berada di bagian ujung Jalan Malioboro.

Selain itu, pemerintah kolonial juga membangun Dutch Club, kompleks perumahan pejabat tinggi pemerintahan, bank, dan kantor pos untuk menegaskan dominasi pemerintahan Belanda di Yogyakarta.


Lambat laun, kawasan ini berkembang sebagai sentra perdagangan. Hal tersebut bermula ketika intensnya hubungan dagang antara orang-orang Belanda dengan orang China.

BACA JUGA:Skuter Listrik di Malioboro Dilarang, Ini Kata Dinas Pariwisata DIY


Ditambah, Sultan Yogyakarta kala itu juga membagi sebagian tanah di kawasan Malioboro kepada masyarakat China. Karenanya, salah satu tempat di Malioboro jadi terkenal dengan nama Distrik China.





Beriringan dengan semakin berkembangnya Malioboro sebagai pusat perdagangan dan ekonomi, pemerintah Belanda juga membangun fasilitas lain, seperti stasiun kereta api utama di tahun 1887.

Tak hanya itu, jalan ini juga menjadi saksi bisu perlawanan masyarakat Indonesia di masa pasca kemerdekaan. Masyarakat Yogyakarta berjuang mempertahankan kemerdekaan dan bertempur di sepanjang Jalan Malioboro.


BACA JUGA:Pelajar Yogyakarta Kembali Tewas di Tangan Geng Motor, Baca Selengkapnya



Saat ini, Malioboro terus berkembang menjadi sentra ekonomi yang sangat maju. Selain itu, kawasan ini juga menjadi sejarah perkembangan seni sastra di Nusantara.

Yogyakarta sendiri dikenal sebagai kota para seniman. Sebagian besar senimannya pernah memamerkan karyanya di jalan Malioboro. Ditambah, Malioboro juga menjadi panggung bagi ratusan seniman jalanan.

</description><content:encoded>Siapa yang tak kenal dengan kawasan Malioboro di Yogyakarta? Lokasi wisata yang satu ini selalu menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan, baik lokal maupun asing, untuk bertandang ke Kota Gudeg itu.

Malioboro sendiri merupakan nama sebuah jalan di Yogyakarta yang terkenal dengan para pedagang kakilimanya.

BACA JUGA: Pengunjung di Malioboro Diimbau Tetap Pakai Masker, Ini Alasannya


Melansir laman Arsip dan Perpustakaan Kota Yogyakarta, Malioboro berlokasi di antara Keraton Yogyakarta dan Tugu Pal Putih, yang sudah lama menjadi surga bagi para pelancong.


Lantas, bagaimana sebenarnya sejarah Malioboro? Dalam sebuah artikel bertajuk &amp;ldquo;Malioboro Sebagai Pusat Pariwisata Kota Yogyakarta&amp;rdquo; disebutkan bahwa kata Malioboro diambil dari nama seorang warga Inggris, yakni Marlborough.

Ia pernah tinggal di wilayah tersebut di tahun 1811 sampai 1816. Jalan Malioboro sengaja dihadirkan sebagai sumbu imajiner yang berkorelasi dengan Keraton di tengah kota dan Gunung Merapi di bagian utara Yogya, serta Pantai Parangtritis di laut Selatan sebagai simbol supranatural.

Sementara itu, kata Malioboro bermakna karangan bunga dalam bahasa Sansekerta.

Jauh sebelum diberi nama Malioboro, pola perkotaan di sekitar jalan ini sempat terganggu karena pembangunan Benteng Vredeburg pada 1790. Benteng tersebut berada di bagian ujung Jalan Malioboro.

Selain itu, pemerintah kolonial juga membangun Dutch Club, kompleks perumahan pejabat tinggi pemerintahan, bank, dan kantor pos untuk menegaskan dominasi pemerintahan Belanda di Yogyakarta.


Lambat laun, kawasan ini berkembang sebagai sentra perdagangan. Hal tersebut bermula ketika intensnya hubungan dagang antara orang-orang Belanda dengan orang China.

BACA JUGA:Skuter Listrik di Malioboro Dilarang, Ini Kata Dinas Pariwisata DIY


Ditambah, Sultan Yogyakarta kala itu juga membagi sebagian tanah di kawasan Malioboro kepada masyarakat China. Karenanya, salah satu tempat di Malioboro jadi terkenal dengan nama Distrik China.





Beriringan dengan semakin berkembangnya Malioboro sebagai pusat perdagangan dan ekonomi, pemerintah Belanda juga membangun fasilitas lain, seperti stasiun kereta api utama di tahun 1887.

Tak hanya itu, jalan ini juga menjadi saksi bisu perlawanan masyarakat Indonesia di masa pasca kemerdekaan. Masyarakat Yogyakarta berjuang mempertahankan kemerdekaan dan bertempur di sepanjang Jalan Malioboro.


BACA JUGA:Pelajar Yogyakarta Kembali Tewas di Tangan Geng Motor, Baca Selengkapnya



Saat ini, Malioboro terus berkembang menjadi sentra ekonomi yang sangat maju. Selain itu, kawasan ini juga menjadi sejarah perkembangan seni sastra di Nusantara.

Yogyakarta sendiri dikenal sebagai kota para seniman. Sebagian besar senimannya pernah memamerkan karyanya di jalan Malioboro. Ditambah, Malioboro juga menjadi panggung bagi ratusan seniman jalanan.

</content:encoded></item></channel></rss>
